DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
106 - SAKIT PERUT


__ADS_3

Mas Jonathan akhirnya mendatangi rumah sakit tempat Bianca di rawat untuk menjemput kami. Padahal dia baru saja pulang dari luar kota. Tetapi langsung meluncur ke rumah sakit bahkan tanpa berganti pakaian.


Hhh... Apakah aku terlalu cemburu?


Isak tangis Bianca membuat wajah suamiku terlihat tegang.


Tak ada reaksi. Hanya diam tak bergeming mendengar curhatan serta penyesalan-penyesalan di masa lalu.


Aku juga diam menunduk. Tak mau ikut campur urusan pribadi mereka di masa lalu.


Cukup lama hanya jadi pendengar setia, akhirnya kuputuskan keluar kamar rawat inap Bianca.


Agak sedih. Suamiku seperti tidak terlalu memperhatikan diriku yang keluar secara perlahan.


Kukira dia akan menahan atau paling tidak bertanya hendak kemana aku pergi. Secara perut buncitku sudah nyaris memasuki masa persalinan.


Rasa kecewa bercampur dengan kesedihan melihat suami yang sepertinya masih sibuk mengenang masa lalu dengan mantan kekasihnya. Hhh...


Genta rupanya turut mengikutiku. Dia juga hanya diam tak banyak bicara selain menunjukkan kursi panjang di bangsal ruang tunggu.


Kami sama-sama duduk di sana dengan fikiran masing-masing.


Kembali mengingat pernikahan kami yang tiba-tiba terjadi dengan begitu cepatnya. Tanpa pengenalan pribadi satu sama lain lebih dahulu.


Tiada istilah ta'aruf apalagi pacaran. Semua terjadi begitu cepat.


Sampai aku kembali tersadar, benar cintakah suamiku kepada ku? Atau... hanya karena semua kebetulan ini karena adanya 'laba' keuntungan untuk hidup serta masa depannya saja?


Seketika aku menggalau.


Jantungku berdegup kencang. Denyut nadiku berdenyut cepat.


Secepat itukah Ia jatuh cinta padaku?


Apakah iya? Atau... atau sebenarnya Ia memang lelah dengan kesendiriannya setelah ditinggal pergi sang kekasih karena tiada restu orang tua?


Aku, ketika bertemu dia... gendut dan tak terurus.


Wajahku kusam karena kurang perawatan. Badanku bulat karena kupikir Irsyad tak pernah sekalipun menyuruhku untuk melakukan olahraga maupun diet.


Fokusku kala itu hanya membantu suami mencari pundi-pundi uang untuk kita di masa depan.


Setidaknya setelah ada rumah, kendaraan dan juga pekerjaan yang stabil baru kita bisa sedikit bergaya dengan keadaan yang jauh lebih baik.


Itu dulu prinsipku dalam berumah tangga.


Hingga Katliya datang. Hhh...


Itu masa lalu.

__ADS_1


Sekarang,... haruskah pelakor datang juga di pernikahan kedua ku?


Lututku gemetar, telapak tanganku dingin.


Mas Jonathan dan Bianca pernah dua tahun berpacaran. Saling cinta dan saling sayang. Bahkan sampai punya cita-cita menikah setahun setelah itu. Hingga memutuskan dulu bertunangan sebelum tiba waktunya.


Sampai..., sampai pertemuan kedua keluarga. Ternyata, Mama Bianca mantan pacar Suami kedua Mama Tiur mamanya Mas Jonathan.


Betapa dunia ini sempit.


Dendam lama kembali terkuat.


Rasa sakit hati yang kadung mendendam di hati Mamanya Bianca kembali tersulut dan berkobar membara kian besar.


Kembali buhul-buhul itu mereka hembuskan agar keturunan Mama Tiur tidak bahagia selamanya.


Dendam karena sakit hati cinta yang tertolak.


Tidak terbukanya mata serta hati kalau semua itu sudah menjadi ketetapan Allah. Justru semakin emosi dan kian terpelihara menjadi dendam kesumat.


Sayang sekali, padahal ada cinta suci dua anak manusia yang begitu tulus. Berjanji sehidup semati, berharap se-iya se-kata. Namun..., kesakithatian orang tuanya membuat cinta menjadi benci.


Menghasut hingga terasuk kebencian yang mendalam antara satu sama lain.


Dan kini ketika buhul-buhul itu telah hilang dari pandangan, apakah cinta lama yang belum usai itu akan kembali berkembang dan mekar sempurna seperti harapan di awal?


Tuhan! Apakah aku ini hanya akan jadi rumah persinggahan Mas Jonathan saja? Apa... apa semua takdir hidup yang seharusnya membahagiakan Bianca dan Jonathan? Apa cinta sejatinya Mas Jonathan bukan untukku???


Bulir-bulir air mata jatuh perlahan mengaburkan pandangan ini.


Aku bergegas mencari toilet umum di ruangan rumah sakit untuk menghapus kedukaan sebelum Genta yang duduk di sampingku menyadarinya.


Toilet sepi.


Seperti biasa, rumah sakit selalu memiliki aura sisi gelapnya para lelembut yang betah tinggal di sana.


Beberapa pasang mata bahkan terus menatapku tak berkedip dari balik cermin kaca toilet rumah sakit.


Ada gadis cantik berwajah putih pucat, juga nenek-nenek berambut pirang yang duduk di pojokan. Semua kuabaikan karena rasa sedihku lebih besar dari kemisteriusan kisah kematian mereka.


Hampir aku berteriak ketika seorang anak perempuan yang baru masuk menubruk hingga agak sakit perutku.


Hei! Dia bukan anak manusia!


Aku menelan ludah. Anak perempuan itu menghilang setelah menabrakku.


Seketika perasaanku tidak tenang.


Juga perut ini sakit seperti diaduk-aduk.

__ADS_1


"Agh!!! Aduh ya Allah!!!"


Aku meringis kesakitan sambil terus memegangi perut bagian bawah.


Masih agak jauh untuk dari hari perkiraan persalinan. Mana mungkin kontraksi secepat ini. Begitu fikirku.


Bahkan aku su'udzon kalau rasa sakit ini terjadi karena tabrakan makhluk halus yang tiba-tiba muncul begitu saja.


"Ah..., Gen! Genta!!!" teriakku keras memanggil Genta setelah berhasil keluar dari toilet rumah sakit.


Genta menoleh. Ia sangat terkejut melihatku yang berjalan tertatih-tatih.


"Kak Lian! Kenapa?"


"Sakit!!!"


Genta segera memapahku berjalan menuju bangku panjang.


"Duduk dulu, Kak! Biar kupanggilkan Boss Gege!"


"Jangan!!!" pekikku agak kesal.


"Liana kenapa?"


Jordan yang baru datang dan berjalan di lorong rumah sakit menuju ruang inap Bianca berlari menghampiri kami.


"Sakit perutku!" rintihku dengan berurai air mata.


"Gege mana?"


"Di dalam!" jawab Genta.


"Jangan!!!" larangku pada Jordan ketika Ia bergegas ingin masuk memanggil suamiku.


Jangan! Jangan ganggu mereka! Hik hik hiks...


Hatiku sedih. Perutku sakit. Komplit sudah rasanya hari ini membuat tangisanku semakin terdengar jelas.


"Tak mungkin Aku hanya diam memandangimu saja khan, Liana? Ayo, kugendong ke ruangan dokter bersalin!"


Jordan tiba-tiba memangku Liana yang merintih kesakitan. Langkahnya cepat dan tegap mencari ruangan dokter kandungan.


Aku hanya bisa menangis menahan rasa sakit.


Tak lagi ingat rasa malu karena saat ini ada dalam gendongan tangan Jordan.


Genta sendiri sepertinya masuk ke kamar Bianca untuk memberitahukan kepada suamiku tentang keadaanku. Entah. Terserah lah!


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2