DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 97 - ADA APA DENGAN AIRLANGGA (2)


__ADS_3

Tok tok tok...


"Angga! Angga!?..."


Tiada jawaban.


Hm. Kemana anak itu? Apa...dia masih tidur pulas?


Makin penasaran.


Kuketuk pintu kamarnya sekali lagi.


Tok tok tok...


Sepi


Krieeet... Ternyata pintu kamarnya tidak dikunci.


"Angga? Kamu masih tidur? Ini sudah jam dua!" kataku dengan suara agak dipelankan.


Lah? Kosong? kemana Angga???


Aku tidak menemukan adik tiriku di dalam kamar. Rupanya dia tidak sedang tidur karena ranjang masih rapi keadaannya.


Jantungku berdegup kencang. Teringat kembali peristiwa berdarahnya tangan Airlangga tadi pagi pukul sepuluh.


"Kemana anak itu?" gumamku pada diri sendiri.


Tujuanku selanjutnya adalah Citra.


"Citra..."


"Ya, Kak?" balasnya yang sedang menonton televisi di ruang istirahat.


"Kamu lihat Angga?"


Citra menggeleng cepat.


"Bukannya di pabrik ya?"


"Tidak ada. Kata mbak Febri sudah pulang sejak pukul sebelas lewat. Izin setengah hari malahan!"


"Lha? Apa tangannya masih sakit ya?"


"Itulah. Bikin aku cemas jadinya!"


"Sstt... Jangan dibuat cemas. Angga itu anak laki-laki. Mungkin dia ingin keluar cari udara segar. Punya teman kenalan baru mungkin. Nanti kakak kena tegur Boss Gege kalau terlalu banyak fikiran. Ini Dede utun bisa ikutan galau! Hehehe..."


"Hehehe... iya. Aku lupa kalau sedang hamil!"


Hari ini kenyataan membuatku tersadar. Aku sedang hamil muda. Masih rawan juga untuk kesana-kemari seperti biasa.


Lagipula Airlangga juga sudah dewasa. Sudah memiliki KTP dan SIM juga. Aku tidak perlu terlalu mencemaskan keadaannya.


Akhirnya hanya bisa mendoakan kebaikan Airlangga di mana pun dia berada. Dan berharap anak itu segera pulang. Setidaknya rasa was-was di hati ini segera hilang.


.............


Azan Ashar sudah berkumandang.


Aku yang hanya duduk leyeh-leyeh segera beranjak ke musholla rumah untuk ibadah.


Mama Tiur dan Citra belum pulang. Sempat chat juga kalau mereka akan mampir ke supermarket untuk belanja bulanan.


Tinggal aku sendiri dan hanya ditemani beberapa orang asisten rumah tangga.


Deg deg deg deg...

__ADS_1


Deg deg deg deg...


Entah mengapa, jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat. Ada desiran halus menjalari perasaanku.


A ada apa ya? Kenapa rasanya dadaku bergemuruh begini?


Kucoba menelpon Mas Jonathan, untuk menanyakan keberadaannya. Suamiku langsung mengangkat panggilan telepon dan mengabarkan kalau sedang di perjalanan. Kucoba tiupkan doa-doa dalam hati lewat obrolan agar Allah menjaganya dari segala marabahaya.


Aku yakin dan percaya, doa seorang istri yang tulus tentu saja Allah kabulkan.


Sementara Jordan dan Genta berada satu mobil dengan Mas Jonathan. Untuk mereka, aku kini jauh lebih tenang.


Airlangga! Kemana itu anak? Hapenya juga tidak bisa dihubungi. Ck... Benar-benar anak muda yang 'semau gue' rupanya.


"Astaghfirullahal'adziiim!!!"


Aku memekik melihat rambut panjang menjuntai di balik jendela kaca kamar dengan mata menatap ke arahku.


Ya Allah!!! Stella!!!


Dasar setan! Aku mengumpat dalam hati. Dengan kesal kulangkahkan kaki keluar kamar dan berjalan menuju halaman samping rumah tempat setan Stella sering mengintipku.


"Ampun, Nyai!"


Dia tertawa cekikikan sambil terbang kesana-kemari membuatku makin jengkel dan mendawamkan doa agar setan itu pergi jauh-jauh dari sini.


"Ampun, Nyai Ratu! A ampun!!!" teriaknya dengan tubuh mengeluarkan asap putih tebal kepanasan.


"Enyah Kau dari sini!!!"


"Ratu! Ratu!!! Adikmu dalam bahaya!!! Adikmu Airlangga..., Ratu!!!"


Aku terdiam sejenak.


Airlangga?


"Benar. Aku tidak bohong!!!"


"Dimana Airlangga?"


"Dia pergi mengunjungi rumah keluargaku dan katanya juga ingin mengunjungi anak yang jadi korban guru cabul itu!!!"


"Apa???"


Aku melotot tajam. Kini doaku semakin kuat dan...


"Ratu hik hiks...! Sakit...! Aku tidak bohong! Bisa jadi Airlangga sedang ada masalah saat ini!"


"Kau pasti telah memprovokasi adikku, bukan?"


"Iya. Aku... mengganggunya setiap kali. Aku buat Airlangga pusing dan menuruti permohonanku untuk membuka kedok guru biadab itu! Hik hik hiks..."


Aku termangu. Lalu meminta alamat rumah makhluk halus yang bernama Stella itu.


"Pak Kadir, tolong antar saya ke alamat ini!"


Aku bergegas pergi setelah berganti pakaian dengan minta antar sopir pabrik.


"Siap, Bu!"


Sore itu juga, aku mendatangi alamat kediaman keluarga almarhumah Stella.


Ternyata benar. Baru beberapa jam lalu seorang pemuda datang bertamu, kata Mamanya Stella. Pemuda itu tidak katakan nama. Tetapi banyak bertanya tentang kematian putri pertama mereka yang meninggal dunia dalam keadaan tragis.


Bahkan sampai kini kasus kematiannya terkesan ditutupi begitu saja tanpa ada kabar dan kejelasan.


Aku tidak bisa menceritakan tentang Stella pada perempuan paruh baya itu. Selain akan membuatnya kaget setengah mati, bisa jadi masalah yang ada akan tambah besar nantinya.

__ADS_1


Aku kemudian bertanya, kemana lagi pemuda itu pergi.


Kata Mama Stella pemuda itu tidak memberi tahukan hendak kemana lagi. Tetapi dia menanyakan alamat sekolah menengah atas Stella.


Apakah Airlangga pergi mencari guru cabul yang memperkosa dan membunuh Stella?


Akhirnya keputusanku jatuh untuk mendatangi alamat sekolah Stella seperti arahan Mamanya. Aku yakin, Airlangga juga sedang ada di sana.


Sepertinya anak itu gemas sekali geregetan ingin masalah Stella segera tuntas.


............


Gedung sekolah menengah atas favorit rupanya. Meskipun gedung itu terlihat klasik karena berupa bangunan tua yang masih dijaga ke-ontentik-kannya, tetapi fasilitas di sekolah itu terbaik dari SMA lain di wilayah itu.


Sepi.


Bahkan gerbangnya pun sudah tertutup rapat dan digembok.


Digembok???


Seingatku ini baru pukul lima. Dan pastinya murid-murid belum sepenuhnya bubar karena mereka kadang ada kegiatan ekstrakurikuler. Tapi... kenapa di gembok?


Pikiranku dipenuhi banyak pertanyaan.


Kucoba melipir. Biasanya gedung sekolah di samping kiri kanan ada warung atau tempat tongkrongan anak-anak sekolah.


Ada warung bakso. Aku mencoba mencari tahu dengan bertanya pada si pemilik warung.


"Permisi, Mas! Maaf numpang tanya! Sekolah koq sudah digembok pagarnya ya? Apa sudah tidak ada murid di dalam?"


"Oh, sudah dua hari ini sekolah libur, Mbak Cantik! Kelas tiga sedang studi tour ke Bali. Jadi untuk kelas satu dan dua diliburkan dahulu karena guru-guru seluruhnya ikut juga."


"Oh, begitu ya Mas!? Tapi..., apa memang gerbang di gembok sejak kemarin gitu?"


"Iya. Sekolah di tutup dulu sampai lusa, Mbak!"


Berarti, Airlangga tidak bisa masuk ke gedung sekolah Stella. Kira-kira kemana lagi anak itu ya?


"Mas! Kalau guru bernama Hari Diarto apa ikut juga ke Bali?"


"Oh, Pak Hari? Sepertinya tidak. Tadi pagi ada koq kayaknya. Hm... Pak Hari khan guru kepercayaan kepala sekolah. Beliau juga pegang seluruh kunci sekolah. Rumah dinas nya khan ada di belakang gedung."


Akhirnya... ada sedikit bayangan!


"Dibelakang gedung sekolah ini? Jalan mana, Mas?" tanyaku pada tukang bakso itu.


"Itu, Mbak! Ada gang kecil. Tinggal masuk saja."


"Oh, baik terimakasih Mas! Kebetulan saya ada perlu dengan beliau soal nilai adik saya." Aku berbohong demi menjaga kerahasiaanku datang ke mari.


"Di rumah dinas apa pak Hari tinggal bersama keluarganya?"


"Oh, beliau masih bujangan, Mbak! Belum berkeluarga. Hehehe... padahal lumayan tampan. Tapi kurang faham saya. Mungkin kriteria gadis idamannya lumayan tinggi. Hehehe..."


"Hehehe...! Kalau begitu, saya minta tolong, Mas... sekiranya saya tidak keluar dari rumah dinas pak Hari dalam waktu setengah jam, tolong Mas datangi rumah Pak Hari ya? Ini... uang untuk Mas! Saya minta tolong ya?"


Ini caraku untuk keamanan. Menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.


Entah mengapa, aku gugup juga untuk menemui lelaki baj*ngan yang memperkosa dan membunuh Stella yang tak lain adalah muridnya.


Hhh...


Dengan menggunakan taktik pengamanan diri lewat tukang bakso itu, aku mencoba menjalankan misi menemui guru cabul itu.


Bismillah ya Allah... Kumohon, lindungilah aku! Semoga Aku bertemu Airlangga juga di sana!


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2