
Maghriban kembali bersama. Kali ini formasi keluarga lengkap sholat berjamaah karena di luar hujan deras. Jadi para pria memilih sholat di musholla rumah.
Airlangga juga ada di antara kami.
Percakapan santai usai sholat sembari menunggu koki rumah kami selesai memasak makan malam terdengar menyenangkan.
Perlahan Airlangga mulai bisa menebarkan senyumnya walau masih malu-malu.
Pemuda itu kini telah tamat sekolah kejuruannya. Niatan datang ke sini adalah silaturahmi juga ingin mencari pekerjaan sebagai pengalaman pertamanya tak lagi berstatus pelajar.
"Kalau kamu mau, kamu bisa ikut Aku di Ibukota, Ngga!" kata Jordan yang langsung merespon keinginan Angga bekerja.
"Angga sih terserah dimana saja ditempatkan. Cuma...mohon maaf, Bang! Angga belum faham sama sekali dunia kerja. Jadi, kemungkinan agak lola dan sedikit lamban nanti ketika kerja."
Anak itu pintar mengambil hati. Dia sopan dan mengerti cara berbicara yang baik. Tentu saja semakin membuat suamiku dan keluarganya senang dengan hadirnya Airlangga.
Obrolan berlanjut sampai di depan meja makan. Saling bercerita tentang kegiatan sehari-hari dan lanjut Isya berjamaah.
"Mas...!"
"Iya, Sayang?"
"Boleh ya, Angga tinggal dengan kita saja?" kataku setelah kami kembali ke kamar pukul delapan malam.
"Hm? Kenapa tadi kamu tidak katakan itu dihadapan semua orang, Sayang?"
"Aku... menjaga perasaan semua orang. Jordan sepertinya tertarik untuk mengajak Airlangga kerja di kantor pusatnya. Aku sendiri juga butuh Angga saat hamil seperti ini, Mas!"
"Butuh Airlangga? Kenapa? Bukannya..."
Aku mengerti, suamiku memiliki kecurigaan yang sedikit berlebih. Tetapi kenyataannya aku memang membutuhkan Airlangga jauh lebih besar karena kami 'sama'. Juga karena saat ini ada makhluk yang sedang menempel padaku minta bantuan supranatural.
Aku tidak mau ambil resiko.
Kehamilanku teramat berharga setelah sekian lama aku memimpikannya.
Tatapan luluh membuat Mas Jonathan kalah juga pada akhirnya.
Menceritakan detail alasannya aku mempertahankan adik tiriku untuk tinggal di sini pastinya hanya akan membuat Suamiku makin khawatir.
Jadi, selagi tidak terlalu urgent aku hanya akan menutup mulut membeberkan yang sebenarnya.
Kretek... kretek
__ADS_1
Lagi-lagi makhluk berambut panjang bernama Stella itu membuat keributan yang memekakkan telinga.
"Kenapa, Lian?" tanya Mas Jonathan yang kaget melihat kedua tanganku menutupi lubang telinga.
"Seperti biasa."
Dia hanya berdecak. Kembali kesal dan sebal ketika keadaanku kembali paranoid seperti ini.
Helaan nafasnya sangat jelas terdengar.
"Itu sebabnya aku ingin Airlangga ada di sini, Mas! Dia bisa menjagaku juga!"
"Genta?" tanyanya berfikir agak aneh.
"Genta tidak memiliki kemampuan lebih seperti kami."
"I see... Hm... Rupanya seperti itu! Oke, aku mulai faham!"
Suamiku tersenyum gemas mendengar pengakuan yang terlontar dari bibirku.
Aku memang sedikit sulit mengungkapkan perasaan dan seringkali banyak berfikir efek samping setelah menceritakan hal-hal yang sekiranya justru menambah beban Mas Jonathan.
Tetapi lain halnya dengan suamiku itu. Dia merasa lebih dihargai sebagai seorang suami karena aku melibatkannya serta.
Mengurus perusahaan serta hajat hidup orang banyak bukanlah hal yang mudah.
Fikirannya juga harus bisa dibagi seimbang untuk menetralisir keadaan.
Aku khawatir jika Suamiku terlalu lelah dan banyak fikiran akan berimbas pada kesehatannya.
Mas Jonathan harus selalu sehat. Dia adalah segalanya bagiku. Selain usia suami yang sudah tidak muda lagi, faktor keturunan yang rata-rata mati muda juga membuatku jauh lebih fokuskan pada kesehatan jiwa raganya.
Apalagi kini aku sedang mengandung buah cinta kami.
Pelukan hangat Mas Jonathan memenangkan hati walau diluar sana para makhluk berbuat keonaran mencari perhatian.
Samar-samar kudengar suara batin Airlangga. Ada interaksi antara dia dan para makhluk halus itu rupanya walaupun aku tidak bisa mendengar dengan jelas.
Biarlah..., adikku itu bisa belajar mengatasi masalah aneh dari kisah para roh yang bergentayangan di luar sana.
Apakah setan itu benar-benar arwah penasaran? Atau para jin yang mengambil ribuan bahkan jutaan nafsu roh manusia yang dicuri dan dimanipulasi untuk mengecoh manusia? Wallahu a'lam bishowaf.
Aku bukan dukun. Bukan paranormal dan juga bukan orang pintar ahli agama. Entah bagaimana bisa Wak Hardi memberikan ilmu-ilmu leluhur dengan mentransfer lewat kebatinan tirakat yang kulakukan selama lima hari.
__ADS_1
Kadang aku pun masih merasa tak percaya pada kemampuanku ini. Masih gamang dan bingung menyikapinya jika ada makhluk yang sengaja mendekati demi minta pertolongan.
Aku hanya berusaha untuk selalu kuatkan iman dan taqwa. Walaupun kenyataannya terkadang fluktuasinya masih turun naik karena ilmu agamaku yang minim.
Menyesal dahulu di masa kanak-kanak aku kurang mempelajari rahasia Allah lewat Al-Qur'an dan hadits.
Maha Suci Allah dengan segala firman-Nya.
Kini aku mulai belajar lagi membuka kitab dan menelaah isinya lewat arti terjemahan.
Seharusnya memang mengambil guru agama. Itu jauh lebih baik. Tetapi di zaman sekarang ini, orang pintar banyak sekali. Tapi mencari orang bijak yang pandai menyikapi dunia lewat ilmu agamanya yang benar-benar matang itu butuh proses.
Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami.
Aku tidak bisa berguru dengan sembarang orang juga.
.............
Malam berlalu dengan tenang.
Tidurku nyenyak dalam pelukan suami yang begitu mencintai dan kucintai.
Biarlah Allah yang menyatukan tali dua hati semakin erat. Aku hanya berharap dan berdoa. Selebihnya menjaga cinta serta perasaan ini dengan perbuatan layaknya istri terhadap suami.
Kini hidupku jauh lebih terkontrol. Dalam segala apapun.
Cinta sewajarnya cinta. Tetapi melakukan tugas dan kewajiban dengan hati ikhlas untuk mendapatkan kebarokahan Allah Ta'ala. Ternyata justru membuatku jauh lebih tenang dalam menjalani hidup.
Tidak seperti pernikahan terdahulu. Dimana cinta bagiku adalah segalanya. Pelayanan maksimal hingga melewati batas demi menyenangkan pasangan.
Bahkan jika tidak mendapatkan sambutan serta cinta timbal balik yang sama, amarah akan membuncah. Emosi muncul membuat diri berubah menjadi gahar. Akhirnya timbullah keributan dalam rumah tangga karena rasa kecewa tidak sesuai ekspektasi.
Kini, semua benar-benar berbeda.
Mas Jonathan orang yang cuek untuk urusan rayu merayu. Lebih santai dan kalem menyikapi keadaan yang kadang memanas dan memancing kita untuk saling serang lewat ocehan. Ternyata, justru itu taktik dirinya menyikapi suasana rumah tangga kami yang kadang tenteram namun terkadang beriak dihantam rasa cemburu serta kecurigaan yang timbul dari kedua belah pihak. Padahal untuk pengalaman, Aku jauh lebih banyak ketimbang dia yang seorang bujangan.
Tapi setidaknya, kedewasaanku kini jauh lebih baik dari yang dulu. Berkat bantuan suamiku tercinta.
Aku pernah gagal, niatku menikah lagi dengan harapan pernikahan kali ini adalah yang terakhir dan semoga langgeng sampai akhir hayat. Aamiin...
Jodoh, rezeki dan umur... hanya Allah Yang Maha Mengatur. Manusia bisa berharap, tapi Tuhan Maha Berkehendak.
BERSAMBUNG
__ADS_1