
"Liana! Ratu Liana Wulandari!"
"Wak? Wak Hardi?"
"Bangunlah, Nak! Perjalananmu masih panjang, Liana. Kembalilah pada kehidupanmu yang penuh bahagia! Putrimu masih teramat muda. Ratu Beby Aprillia masih sangat membutuhkan bimbinganmu. Begitu juga dengan Airlangga. Anak itu belum begitu dewasa. Dia seringkali membahayakan dirinya sendiri demi menolong makhluk-makhluk yang selalu mendatanginya minta bantuan."
"Wak Hardi..."
Liana mengangguk satu kali.
Digapainya tangan hangat sang Paman yang sudah seperti orang tua kandung bagi Liana.
Mereka kembali berjalan beriringan. Tersenyum lalu tertawa bahagia, sambil berjalan dan Wak Hardi bercerita.
"Kau tahu, Liana? Kita lahir ke dunia telah membawa buku suratan perjanjian dengan Allah Ta'ala. Suratan takdir namanya. Kita memang tidak diberi memori ingatan oleh Sang Pencipta tentang apa saja perjanjian yang kita sepakati dengan Tuhan Azza Wajalla. Makanya kita diberi raport bayangan yang bernama nasib. Kamu pasti tahu, raport bayangan bisa berubah setiap saat. Seiring dengan langkah dan tekad diri untuk merubah ke arah yang lebih baik. Takdirmu, adalah keturunan Tubagus Wetan. Dan nasibmu, adalah membantu sesama yang membutuhkan. Berjuanglah terus untuk nasib baikmu, Nak! Jangan pernah lupakan kebaikan Allah Ta'ala pada dirimu. Jangan pernah ingkari Dia Yang Maha Kuasa. Jangan tinggalkan sholat, karena dengan selalu menjaga hubungan batinmu pada si Empunya Kehidupan, maka hidupmu tetap akan lurus dan terarah. Meski terkadang ujian dan cobaan berat menerjang. Kamu akan bisa bangkit dan fight kembali!"
Liana menatap wajah Wak Hardi. Ia sangat menjunjung tinggi ilmu hidup serta wejangan nasehat Wak nya yang masuk ke dalam sanubarinya.
"Iya, Wak!"
Senyum Wak Hardi mengembang.
"Aku pulang, ya? Tugasku di dunia sudah usai. Tetap doakan selalu Aku yang menunggu datangnya hari pembalasan. Aku butuh selalu doa kalian, untuk meringankan dosa-dosa selama di dunia."
"Wak..."
"Assalamualaikum, Ratu Liana!"
"Waalaikum salam, Wak Hardi!"
Liana sedih melepaskan genggaman erat tangan Wak Hardi yang hangat.
Tapi Ia tidak boleh melawan takdir.
Wak Hardi telah berbeda alam dengannya. Dan dia tahu, ada tempat yang berbeda pastinya untuk para almarhum dan almarhumah.
Matanya hanya bisa menatap Waknya hingga menjauh dari pandangan dan menghilang.
"Wak Hardi!"
Liana terbangun di pukul tiga dini hari.
Dia bangkit dari tidurnya. Tersengal dengan keringat mengucur tapi hatinya menghangat bahagia.
Air matanya menetes perlahan.
Ditengoknya wajah pulas Sang suami yang terlelap di sampingku dengan wajah menyamping.
__ADS_1
Liana mengusap pipi Jonathan pelan sekali.
"Mas Jonathan..." lirihnya dengan suara berbisik.
Liana membungkukkan tubuhnya, kini ia bisa bergerak kembali.
Memori ingatannya juga telah pulih seperti sedia kala.
Cintanya pada sang suami semakin besar mengingat betapa Jonathan begitu menjaga dan mengurusnya telaten selama koma satu tahun lamanya.
Bukan waktu yang sebentar.
Terlebih Jonathan juga masih berumur empat puluh enam tahun. Belum terlalu tua apalagi manula. Pasti masih sangat tinggi hasrat biologisnya menggapai puncak kenikmatan surga dunia.
Tapi Jonathan justru memilih mundur dari semua kehidupan realitanya demi mengurus Liana yang terbaring koma. Yang padahal hidupnya sendiri sudah tidak ada harapan. Dan para medis mulai berkasak-kusuk memberikan opini agar Jonathan mencabut selang pernafasan bantuan di tubuh Liana.
Itulah mukjizat Allah Ta'ala.
Tiada yang tidak mungkin di dunia ini. Semua kembali pada Kehendak-Nya.
...Subhanallah Walhamdulillah Walailahaillallah Wallahu Akbar...
Liana mencoba turun dari ranjang tidurnya.
Dijejakkannya kaki jenjangnya ke lantai rumah sakit.
Semua hilang, sirna berganti gerakan yang lenturkan tubuhnya.
Liana berjalan perlahan ke kamar mandi.
Mencuci wajahnya, menggosok gigi lalu berwudhu.
Lama sekali Liana tidak menyentuh sajadah dan pakaian sholatnya.
Matanya mencari dua benda itu. Dan ternyata ada.
Sebuah sajadah panjang berwarna biru juga mukena putih ada di laci bawah lemari.
Dua raka'at sholat sunah tahajjud pertamanya setelah tiga hari tersadar dari koma dengan memori ingatan yang hilang separuh. Liana sujud syukur pada Allah Ta'ala.
Menangis sesegukan di hamparan sajadah pukul tiga lebih menjelang pagi.
Subhanallah. Maha Suci Allah Yang telah menciptakan seluruh alam dan isinya.
Jonathan yang samar-samar mendengar suara isak tangis perlahan bangun dari tidurnya.
Ia tersentak melihat ranjang Liana telah kosong.
__ADS_1
Jonathan langsung menoleh ke arah seseorang yang sedang duduk bersimpuh menghadap kiblat dan menangis pelan.
Liana? Apakah benar itu Liana Wulandari istriku?
Jonathan mengucek-ucek kedua matanya. Tak percaya tapi nyata.
Liana sedang sholat di lantai samping ranjang tidur besinya.
Seketika Jonathan yang membatu meneteskan air mata. Tapi kesadarannya dengan cepat menyergap.
Jonathan langsung mengambil wudhu.
Ia segera ambil tempat di samping kanan Sang istri. Turut sholat sunah dua raka'at sebagai sujud syukur kebahagiaan karena istrinya kini telah sembuh total.
Selesai sholat tahajud keduanya menangis dan berpelukan erat.
"Aku mencintaimu, Mas Jonathan! Aku sangat mencintaimu, suamiku sayang! Hik hik hiks..."
"Terima kasih istriku! Terima kasih ya Allah! Hik hik hiks..."
Jonathan menangis bahagia.
Lega hatinya, istrinya telah kembali mengingat dirinya.
Ia sampai sujud syukur lagi dan lagi dengan air mata berurai.
"Kamu adalah jodoh terbaikku yang Tuhan kirimkan untukku di dunia ini, Mas! Aku mohon pada Allah Ta'ala, semoga di akhirat nanti Allah menjodohkan Aku denganmu lagi. Aku tidak ingin yang lain. Hanya ingin dirimu seorang, Mas Jonathan!"
"Hik hik hiks... Liana! Liana Sayang! Maafkan Aku yang telah mengatakan hal-hal yang tidak baik setahun lalu. Maafkan Aku yang begitu lemah hingga tega menyakiti hatimu, wahai istriku!"
Jonathan bersimpuh di pangkuan Liana. Meminta maaf dengan penuh ketulusan perihal ucapannya menjelang detik-detik Liana pingsan dan koma selama setahun.
Liana menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Mas! Kamu tidak salah. Kita ini hanyalah manusia biasa. Yang kadang kala merasa ingin berhenti memutuskan tali kesedihan yang mendera hidup kita. Dan saat itu, Jordan memang sedang membutuhkan penghiburan dari mu. Karena kamu adalah Kakak laki-lakinya. Saudara Jordan seorang. Aku tidak menyalahkan mu, Mas!"
"Aku telah menerima karma kesalahanku. Kamu menghilang dariku. Membawa pergi cintamu, dan Aku tidak siap untuk kau tinggalkan seperti itu. Aku mencintaimu, Liana! Bahkan terlalu mencintaimu hingga Allah cemburu dan mengambilnya dariku. Selama setahun aku meminta pengampunan itu dari Tuhan. Merawat tubuhmu yang terbaring koma adalah salah satu kebaikan Allah untuk menebus kesalahanku. Dan puncaknya adalah ketika kamu sadar tapi justru tidak mengingat Aku. Ya Allah... sedih hati ini, Liana. Tapi Aku bahagia, Liana-ku telah kembali pulang meski butuh waktu lama untuk bisa membuatnya seperti semula."
"Hik hik hiks... Ini semua adalah buah kesabaranmu, Mas! Buah dari doa-doa yang kamu panjatkan setiap hari di sujud lima waktu dan sunnah-sunnahmu, Mas!"
"Yang paling menyedihkan adalah ketika tiba-tiba Jordan berubah jadi orang yang paling menyebalkan. Berkata bahwa dia kini sejajar kedudukannya dengan ku. Katanya Aku secara tidak langsung sudah mentalakmu padahal tidak. Tidak akan pernah. Dan istriku cuma satu, Liana Wulandari seorang. Dan tak akan pernah kuceraikan istriku demi apapun juga. Hik hik hiks..."
Liana memeluk erat tubuh Jonathan.
Mereka kembali menangis bersama.
Tangisan kebahagiaan.
__ADS_1
BERSAMBUNG