DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 93 - Kisah Perempuan Berambut Panjang


__ADS_3

Kabar gembira ini tentunya menyebar dengan cepat seperti virus di lingkungan pabrik dan rekan perusahaan suamiku.


Karangan bunga ucapan selamat bahkan sampai memenuhi halaman teras rumah kami.


Membuatku berkaca-kaca, terharu serta gugup juga menerima ucapan yang terlalu dini ini.


Usia kehamilanku masih teramat muda.


Masih enam minggu.


Bahkan dokter wanti-wanti agar aku tidak terlalu lelah baik jasmani maupun rohani.


Semua orang memperlakukan diriku bak putri raja.


Tidak boleh turun naik tangga. Tidak boleh membawa jinjingan meskipun hanya tutebag minimarket yang isinya cemilan ringan yang sedang ingin ku makan.


Semua penghuni rumah ini begitu hebohnya menjaga dan merawatku.


"Kakak mau apa? Biar Citra yang buatkan!" tanya Citra antusias sekali.


Kini Citra jauh lebih terbuka padaku soal hubungannya dengan Genta.


Mereka sudah merencanakan pernikahan di tahun depan. Bahkan tanpa diskusi dahulu denganku, Genta sudah mendatangi famili Citra yang di ibukota dan minta izin restunya.


Citra sendiri adalah gadis yatim piatu. Usianya lebih muda setahun dari Aku. Sekitar 33 tahun kini dan memang belum menikah.


Genta adikku berumur 29 tahun ini.


Aku tidak mempermasalahkan perbedaan umur keduanya selama mereka yang berniat menjalani hubungan ini dengan kedewasaan kedua belah pihak.


Rumah tangga tidak hanya berpatokan pada umur. Tingkat kedewasaan seseorang tidak diukur dari banyaknya umur juga. Karena banyak diluar sana orang yang berusia tua tetapi berkelakuan layaknya bocah.


Aku percaya, Citra bisa menjadi belahan jiwa adikku, Genta.


Selama ini kuperhatikan pula sifat dan karakter Citra yang santai mampu membawa Genta ke arah yang lebih baik.


Harapan ku semoga mereka sampai pada satu titik tujuan yang membahagiakan.


Jordan sendiri seperti biasa. Agak tertutup walaupun kini aura wajahnya terlihat jauh lebih cerah karena ada Habibah.


Pria mana yang tidak tertarik pada kecantikan alami gadis manis itu.


Bahkan suamiku sendiri spontanitas mengatakan kalau Habibah adalah gadis cantik. Hm. Tiba-tiba saja aku diliputi rasa cemburu.


"Kakak!?"


Aku tersentak dari lamunan. Tersenyum simpul menatap wajah Citra yang kini ginclong karena rajin skincare-an.


Cinta memang membuat seseorang menjadi jauh lebih baik.


"Terima kasih, Citra! Hari ini perutku sedang tidak enak. Juga tidak mau apapun!" kataku menjawab pertanyaannya barusan.


"Segelas susu coklat hangat? Mau?" tanyanya lagi.


Aku menggelengkan kepala.


"Nanti kalau mau apa-apa miscall Aku ya? Jangan turun kebawah. Biar Aku yang naik ke atas. Oke?"


"Siap, hehehe..."

__ADS_1


Rasanya diri ini bagaikan putri raja. Apa-apa tinggal bilang. Semua akan disiapkan.


Sepertinya suamiku sudah memerintahkan semua orang untuk menuruti keinginanku.


Bahkan Jordan sampai menchatku kalau sedang di luar. Ini pertama kalinya ia lakukan itu lagi setelah kejadian ter-gep nya kami di masa lalu.


Aku juga menceritakan tentang chatting Jordan pada mas Jonathan yang mengatakan kalau mau apa-apa tinggal bilang seandainya Ia sedang dinas keluar kota.


Suamiku akhirnya mengalah. Dengan catatan Aku tidak boleh meresponnya secara berlebihan.


Tentu saja aku tertawa. Cemburu Mas Jonathan lucu sekali. Bahkan dengan adik kandungnya sendiri, Ia tidak ingin aku chat panjang lebar. Secukupnya saja. Begitu pesannya.


Tapi Aku senang. Ini adalah hubungan yang memang seharusnya. Ada batasan antara istri kakak ipar dengan adik ipar lelaki. Karena kami memang bukan muhrim juga.


Krek krek krek


Aku menoleh pada suara yang berasal dari grendel jendela kaca kamar.


Agak lemah jantungku akhir-akhir ini.


Sepasang mata tengah menatapku tak berkedip.


"Astaghfirullahal'adziiim... Please jangan bikin kaget orang, kenapa sih?!" umpatku seorang diri.


Tawa cekikikannya membuat perutku mulas ingin ke kamar mandi.


Dingin sekali menyelimuti seluruh tubuh. Membuatku merapatkan Hoodie sweater yang kupakai.


"Ratu..., Ratu! Ratu Liana!"


Sayup-sayup suara memanggil seiring angin sepoi menerpa wajah hingga poni rambutku berayun-ayun pelan.


"Ratu..., aku ingin pulang! Hiks hiks..."


Suara cekikikan berubah menjadi isak tangis yang menyayat hati.


Hhh... Aku tidak bisa membantumu!


"Tolong Ratu! Tolong! Tolooong!!!" katanya dengan suara mengiba.


Hhh...


Lagi-lagi aku menghela nafas panjang.


Aku tidak bisa terus mengabaikannya. Secara perempuan berambut panjang selantai itu semakin sering mendekatiku.


Janin dalam perutku butuh istirahat.


Pelan-pelan kakiku melangkah keluar kamar. Lalu berjalan melipir keluar rumah tanpa seorang pun tahu.


Ini pukul dua siang. Pabrik masih dengan aktifitasnya dan semua orang sibuk.


Di rumah, Mama sedang istirahat siang di kamar. Sementara Citra sibuk di dapur. Beberapa asisten rumah tangga yang lain juga sedang mengerjakan tugasnya masing-masing sehingga tidak memperhatikanku yang keluar sendirian.


Darimana asalmu?


"Aku dari bangunan pabrik yang ada di sebelah, Nyai Ratu!"


Mataku menerawang pada bangunan yang dia tunjuk.

__ADS_1



Hm... Bangunan bekas pabrik yang terbengkalai rupanya.


Aku menutup hidungku. Aroma darah makhluk itu begitu menyengat hingga aku mau muntah.


"Apa maumu?" tanyaku pelan.


Makhluk berjubah putih itu terbang mengitariku. Kemudian meliuk-liuk dan nangkring duduk di atas dahan pohon mahoni yang tumbuh tepat di samping kamarku.


"Jangan main akrobat! Pusing kepalaku melihatmu! Kalau kau terus begitu, aku akan kembali ke kamar!" ancamku membuatnya kembali terisak.


"Jangan! Kumohon bantuan, Nyai!"


"Apa?" bentakku kasar.


"Aku tidak bisa tenang di dunia ini!"


"Tentu saja! Kau seharusnya tidak lagi tinggal di dunia ini!"


"Aku... Mati karena dibunuh dan diperkosa lima laki-laki biadab di bangunan bekas pabrik itu, Nyai!"


Aku terpana. Matanya merah dan melelehkan air yang seperti darah. Seketika aku melengos karena ngeri dan bergidik melihat wajahnya yang rusak bercampur darah yang mengering.


"Jenazahmu? Masih di situ?" tanyaku tanpa melihat lagi ke arahnya.


"Sudah ditemukan aparat kepolisian setahun lalu. Tapi orang-orang yang membuatku begini bahkan sampai kini masih melenggang bebas! Hik hiks..."


"Maaf...! Aku bukan dukun spiritual atau paranormal seperti yang kau kira. Aku hanyalah perempuan biasa yang berstatus ibu rumah tangga! Carilah orang yang bisa membantumu dalam hal ini, Mbak!"


"Nyai! Kumohon bantuanmu!"


Kedua tangannya disatukan. Dan dia kini duduk berlutut seperti menyembah.


"Jangan! Jangan menyembahku seperti itu! Tapi sembahlah Allah Ta'ala karena Dia-lah Tuhan Pencipta kita dan alam seisinya!"


Dia menangis. Kembali dengan tingkahnya berpindah-pindah tempat dan posisi.


"Apa keluargamu tahu keadaanmu? Sudahkah mereka mendoakanmu?" tanyaku, kembali kalah dengan rasa iba yang menyeruak melihat kesedihannya.


Mati karena diperkosa beramai-ramai lalu dibunuh begitu saja, itu adalah perbuatan biadab. Terlebih dari ceritanya ternyata lima orang pria bermoral bejad itu justru masih berkeliaran bebas menikmati hidup tanpa rasa bersalah atau mendapat karmanya. Benar-benar membuat hati kesal.


"Keluargaku sudah mendoakanku, Ratu! Tetapi nafsuku untuk menghabisi orang-orang biadab itu menghalangiku masuk alam kubur!"


"Kenapa tidak kau hantui mereka terus-menerus?"


"Masalahnya aku tidak bisa pergi jauh dan hanya tinggal di sekitar sini saja sampai ada orang baik yang menolongku! Ratu adalah orang baik. Aku sangat bergantung padamu, Nyai Ratu!"


"Bergantunglah kepada Allah! Bukan pada makhluk apalagi manusia!"


"Nyai...!"


"Apa kau tahu orang-orang yang memperkosamu? Atau kenal mereka setidaknya salah seorang dari mereka?"


"Satu yang kukenal! Dialah yang mengenalkanku pada keempat temannya dan mencekokiku minuman keras di malam itu! Dia adalah... Guru sekolahku, Nyai Ratu!"


"Astaghfirullahal'adziiim..."


Mirisnya dunia. Betapa akhlak manusia-manusia kini begitu bobroknya hingga sering terjadi kekacauan juga bencana alam. Padahal semua itu adalah peringatan bagi kita untuk sadar dan mawas diri serta menjauhi prilaku-prilaku yang menyerupai setan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2