DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 20 - TEKAD MENGUBAH NASIB


__ADS_3

Aku dan Genta keluar dari kontrakan malam itu juga. Kami pergi meninggalkan kisah hidup yang pahit.


Berusaha mencoba bertahan menghadapi kerasnya kehidupan. Kembali semangat untuk memulai hidup baru dan suasana yang baru pula.


Melipir ke pinggiran kota Jakarta. Mencoba peruntungan hidup yang lebih baik lagi.


Genta sendiri kusuruh membuang kartu GSM serta kartu CDMA hapenya. Sekalian jual hapenya juga.


Hidupnya harus berubah. Harus.


Untuk bisa merubah kegetiran menjadu bahagia, ada masa dan cara yang harus kita ganti. Baik itu gaya hidup, passion, juga karakter serta sifat-sifat buruk yang selama ini melekat dalam jiwa kita.


Kemungkinan kesombongan yang selama ini kita kukuhkan menjadi bumerang dan awal mula kegetiran hidup berawal.


Bukan karma, tapi itu adalah hasil dari benih sikap serta sikap kita yang jauh dari kata terpuji. Tanpa sadar, kita dengan mudahnya menyakiti hati orang lain yang kita anggap lebih rendah.


Baru kusadar, bahwa Tuhan mengijabah setiap doa hamba yang teraniaya.


Baru tersadar, mungkin dulu Jordan begitu sedih dan terluka hatinya oleh ucapan-ucapan kasarku serta ledekan yang menyakitkan. Dan Tuhan memberinya konfensasi, membuatku kini tersadar akan artinya kesombongan yang berbalik arah menjadi senjata diri sendiri.


Aku juga teringat ucapan Bang Irsyad kemarin siang. Katanya, aku adalah perempuan egois yang mau menang sendiri. Aku angkuh juga sombong. Meskipun sangat marah dengan tuduhan-tuduhan ngasalnya, tetapi aku berusaha mengingat saat kapan aku tanpa sadar menyakitinya.


Aku baru tersadar. Aku pernah marah besar dan ngambek dua hari ketika Dia membelikanku hadiah ulang tahun sebuah baju seharga satu juta rupiah. Baju mahal, tetapi model pilihannya sangat tidak kusuka.


Bukannya senang dengan hadiahnya, aku justru marah dan mencak-mencak sembari menunjuk-nunjuk wajahnya mengatakan pemborosan.


Aku bahkan melempar uang seratus ribuan lima lembar yang diberinya saat itu sebagai ganti untukku beli sendiri hadiah sesuai seleraku.

__ADS_1


Mungkinkah sifat burukku itu bisa dikategorikan egois, sombong dan angkuh? Bukankah harusnya aku bahagia, suamiku begitu perhatian memberiku surprise hadiah ulang tahun walaupun kadonya tidak kusuka?


Lalu aku jadi ingat, aku pernah marah sewaktu dia pulang kerja dan membeli sayur lauk pauk kesukaannya di jalan. Aku marah padahal sudah masak banyak. Aku dengan kasar memarahinya yang tak punya rasa simpati menghargai jerih payahku memasak untuknya makan setelah pulang kerja. Hhh...


Otakku merewind semuanya.


Seolah kilas balik masa laluku menjadikan pendewasaan bagi diri ini. Betapa menyebalkannya mungkin aku dimata Bang Irsyad kala itu.


Setiap orang memiliki sisi baik dan sisi buruk. Aku sadar, sisi burukku ternyata jauh lebih banyak dari sisi baikku. Mungkin. Dan kini aku bertekad ingin menjadi pribadi yang baik.


Cobaan hidup yang pahit dan juga ujiannya yang bertubi-tubi pada akhirnya bisa kuterima dengan lapang dada walau sangat sakit rasanya.


Aku percaya, Tuhan beri cobaan, pasti Dia-pun akan beri satu hadiah keberkahan. Terlebih jika kita bisa mengambil pelajaran dari setiap permasalahan yang kita dapatkan. Aku meyakininya. Tuhan ambil satu, pasti Tuhan juga menggantinya nanti.


Buskota yang kami tumpangi dari terminal TP menuju pinggiran Jakarta masih melaju di jalan bebas hambatan.


Kupejamkan mata sesaat untuk rehat karena otak dan tubuhku yang penat.


Dadaku tersengal dan nafasku sesak.


Tiba-tiba sesosok wajah yang kutakuti berada tepat di hadapanku. Matanya yang merah dan sedikit berair karena faktor usia tuanya semakin membuat tubuhku gemetar.


Eyang Subur!


"Sudah kukatakan, pergi, pergilah! Aku sudah menyuruhmu pergi dan jangan ganggu Irsyad Katliya lagi! Dasar kau, perempuan gendut!... Aku bisa saja mencabut nyawamu, tetapi ternyata ada kekuatan lain yang menjagamu rupanya hingga kau aman dari sihirku. Aku juga tidak mau berurusan dengan khodam keturunanmu karena kengeyelanmu! Sudahi semua, kecuali kau mau para peliharaanku menghabisiku!"


Aku mendelik takut. Terlihat berbaris hewan-hewan menyeramkan seperti menunggu perintah si Eyang Subur untuk menghabisiku.

__ADS_1


Gila!!! Ini gila!!! Ini benar-benar gila!!!


"Kak, Kak Lian! Bangun, Kak! Kita sudah sampai di terminal!"


Genta mengguncangkan tubuhku.


Syukurlah, alhamdulillah.


Aku terbangun dan sadar kalau mimpi buruk itu telah berakhir.


Hei Eyang Subur! Aku juga tidak ingin berurusan denganmu, pengabdi setan dan pemuja ilmu hitam! Aku sudah putuskan untuk menjauh dari orang-orang yang menjadi pengikutmu! Jangan ganggu hidupku! Urus saja itu anak buahmu! Jangan urusi diriku, karena aku punya Allah Ta'ala!


Aku menggenggam jemari Genta. Kami membawa tas besar masing-masing satu. Turun dari bis dan mencari penginapan terdekat sebelum memulai hidup baru di tempat baru.


.............


Daerah Cibinong jadi pilihanku dan Genta. Selain luasnya masih berskala kecil, cukup aman untuk kami bersembunyi dari segala macam.


Pagi-pagi sekali kami keluar dari motel dekat terminal. Mencari kontrakan juga pekerjaan yang bisa kami tempati.


Lokasi yang dekat pasar tumpah, membuat kami percaya diri bisa bekerja mencari nafkah di daerah kecil ini.


Kami mencoba bertanya pada tim keamanan pasar siapa tahu ada lowongan pekerjaan di toko-toko sekitar atau apa saja.


Ternyata kami beruntung. Sebuah restoran baru membutuhkan karyawan.


Tentu saja kesempatan itu tak kami sia-siakan. Hari itu juga aku dan Genta bekerja di bagian dapur.

__ADS_1


Terima kasih ya Tuhan! Kau beri kami kemudahan!


BERSAMBUNG


__ADS_2