DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 117 - Saudara Kelima Pemilik Ilmu Karuhun


__ADS_3

Keluarga besar ku dan keluarga Mas Jonathan kini berkumpul dalam satu ruangan aula yang besar.


Hari ini tepat seminggu hari kelahiran Aprilia Jovanca Harvest.


Kami mengadakan tasyakuran akekah potong kambing sebagai bentuk rasa syukur. Suasana hangat penuh kegembiraan.


Acara pengajian yang dihadiri warga sekitar dan juga murid-murid dari yayasan panti asuhan tempat kami biasa berdonasi. Membuat rumah besar kami menjadi ramai penuh dengan lantunan doa serta puji-pujian asmaul husna.


Alhamdulillah.


Jumanta dan Teh Neyna akan kembali pulang ke kota Banten esok hari.


Aku sebenarnya ingin sekali melarang mereka pulang. Ingin selalu bersama dengan kehangatan serta kenyamanan kumpul keluarga seperti ini.


Rasanya begitu tentram dan aman.


Ada keempat keturunan Abah Tubagus yang berkumpul bersama seperti pesan Wak Hardi sebelum beliau wafat.


Keluarga adalah 'rumah' yang selalu membuat kita nyaman. Dan kini aku merasakan hal itu. Benar-benar rasa yang menyenangkan.


Apalagi Genta juga mengundang keluarga jauh Citra yaitu keluarga dari pihak almarhum ayah. Ibu dan Ayah Citra telah tiada. Citra sepintas memang mirip kami. Kehidupannya tak jauh beda dengan Aku dan Genta. Itu sebabnya Ia bisa begitu cepat membuka hati hingga bisa saling jatuh cinta.


Aku, hanya bisa mendoakan kebaikan untuk keduanya.


InshaaAllah jika tiada halangan, akhir bulan Juli keduanya akan menikah di kediaman Wak Citra. Dua bulanan lagi.


Aku lega. Genta sudah ada yang akan mengurusnya. Lahir batinnya.


Alhamdulillah.


Tanggung jawabku sebagai seorang kakak agak sedikit berkurang nantinya. Bukan beban, tapi hanya kecemasan dan kekhawatiran seorang kakak saja.


Seperti halnya kini, aku yang diam-diam mencemaskan Jordan juga. Kuyakin Mas Jo pasti lebih memikirkan lagi dalam hatinya.



Jordan Ardian, jodohnya belum berhasil ditemukan.

__ADS_1


Jordan padahal pria tampan yang baik hatinya. Dia tidak pernah terlihat tegas apalagi keras seperti kakaknya.


Justru Jordan memiliki hati yang sangat lembut pada setiap wanita yang pernah jadi kekasihnya.


Dia, terlalu manut hingga kadang aku begitu iba dan ingin sekali mencarikannya jodoh.


"Hei, Lian...! Kenapa kamu yang pusing memikirkan jodohku? Aku sendiri santai-santai saja tuh! Apalagi kini aku punya mainan baru, Beby Aprilia... dia adalah anak ku!"


"Sembarangan, ngaku-ngaku!" semprot Suamiku dengan raut wajah tegasnya yang menyeramkan.


Seketika kami tertawa bersama.


Aku hanya bisa menatap Jordan sepintas.


Usianya seumur denganku. Tiga puluh tiga tahun kini. Sementara Genta dua puluh sembilan tahun dan akan menikahi Citra yang tiga tahun lebih tua darinya.


Jodoh memang tiada yang tahu.


Walaupun aku memiliki kemampuan istimewa dibanding orang lain pada umumnya, tetapi tetap aku bukanlah 'Tuhan'.


Seperti yang Wak Hardi pernah bilang, aku bisa saja memperdalam ilmuku dengan ikut masuk paguyuban para pemilik indera ke-enam dan belajar lebih dalam lagi mengasah kemampuan serta kepekaanku. Tapi...aku tidak inginkan itu.


Melihat hal-hal gaib dan mistis yang tiba-tiba saja muncul dihadapanku sudah sangat merepotkan, apalagi bila aku harus menggeluti dan menerima keistimewaan ini sebagai 'jasa' dalam tanda kutip. Aku menolak.


Suamiku juga tidak menginginkanku menjadi seperti itu. Karena dia seringkali mengingatkanku ketika berada dalam musholla rumah dan beribadah yang berlebihan seperti zikir sampai tengah malam.


Seperti malam ini.


Karena besok pagi kedua saudaraku itu akan kembali pulang, aku merasa tiada salahnya mengaji yassinan berempat dengan Aprillia ikut berbaring di dalam musholla rumah yang luas.


Aprillia sudah terlelap dalam kasur busa mininya yang bisa dibawa kemana-mana. Dan kami berempat mengaji bersama dengan suara lantunan yang lembut saja.


Kami memang sengaja menyiapkan seteko air putih yang untuk diminum setelah selesai mengaji.


Tiba-tiba,... teko porselen yang ukurannya lumayan besar itu bergerak. Bergerak dan... perlahan terangkat naik ke atas.


Seperti ada seseorang yang mengangkatnya tetapi tidak terlihat sama sekali.

__ADS_1


Aku yang pertama kali melihatnya agak sedikit shock. Karena tidak terlihat makhluk gaib lain yang ikut bergabung diantara riungan kami berempat. Berlima dengan baby Aprillia.


Satu persatu berhenti sejenak dari membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Hanya Teh Neyna yang terus membaca tanpa jeda walaupun matanya ikut menatap ke teko porselen yang melayang di hadapan kami.


Masya Allah, Subhanallah...


Aku terkejut, mendengar suara imut dari bibir mungil Aprillia.


Ternyata putriku tidak sedang tertidur. Tetapi seperti sedang senang mendengarkan suara kami mengaji bersamaan Qur'an surat Al-Mulk ayat 1 sampai 30.


Masya Allah...


Sesekali Aprilia tertawa kecil sembari menurunkan tangannya keatas kadang ke bawah.


Pu putriku memiliki kelebihan? Apa...Putriku Aprillia yang menggerakkan teko porselen itu dengan kekuatan indera keenamnya? Apa... apa ini hanya halusinasiku saja?


"Lanjutkan, jangan berhenti!" kilah Teh Neyna membuat kami kembali pada kegiatan awal.


Q.S Al-Mulk ayat 14


Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.


Q.S Al-Mulk ayat 15


Dia-lah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.


Lantunan ayat suci yang semakin jelas dan semakin menggema membuat teko porselen terus melayang dan kian tenang tanpa menumpahkan isinya yang penuh.


Masya Allah, Masya Allah...


Air mataku menetes perlahan.


Ternyata, saudara kelima kami yang memiliki kemampuan untuk meneruskan ilmu leluhur adalah putri kandung ku sendiri. Aprilia Jovanca Harvest.


Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan bumi beserta isinya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2