DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 123 - Sesion 2 (Jordan Ardian)


__ADS_3

Jordan menatap satu persatu gambar Liana mulai dari masih sebelum jadi Nyonya Jonathan.


Bahkan ketika tubuh Liana masih gemoy menggemaskan, Jordan diam-diam sudah mengkoleksi foto gambar diri perempuan itu.


Cinta memang gila.


Cinta tak pakai logika.


Itu yang Ia rasakan sedari masih berusia sebelas tahun.


"Hei, kamu anak baru ya? Rambut kamu lucu, mirip permen gulali yang dijual Bu Soimah di kantin sekolah! Hehehe..."


Seorang gadis imut, mungil yang cantik menghampiri kursi duduknya dan tanpa malu-malu menegurnya yang murid pindahan dari Melbourne, Australia.


Kosakata bahasa Indonesia Jordan dahulu sangat minim. Dipaksa pindah dan langsung dimasukkan ke sekolah pemerintah yang muridnya aneh semua membuat Jordan Ardian pusing kepala setiap pulang sekolah.


"Hei, siapa namamu?"


"Jordan Ardian."


"Jordan? Ardian? Ardilles kali'? Sepatu Michael Jordan memangnya Ardiless ya? Hei Berto, Sepatu Michael Jordan merknya apa sih?" kata perempuan mungil itu sambil memamerkan deretan gigi putihnya.


"Sepatu Jordan itu, Nike! Nike Ardila! Hahaha..." tambahnya lagi membuat Jordan mengernyitkan dahi.


"Are you stupid girl?"


"Hah?!? Sumpit girl? Mana ada gadis sumpit? Hahaha... Ya ampun, walaupun kamu orang luar negeri, gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar, Paman Bear! Ini di Indonesia! Hehehe..."


"Paman...Bear?"


Sontak Jordan menyalak emosi. Dia dipanggil gadis mungil itu dengan sebutan 'Paman Bear'.


Jordan tersenyum mengenang masa kecilnya dahulu pertama kali mengenal Liana.


Gadis kecil, imut dan cantik.


Membuat Jordan jadi emosi, kesal tapi tidak bisa melampiaskannya karena kendala bahasa yang berbeda.


Sejak Liana kecil hadir dan selalu membullynya dengan perkataan-perkataan yang nyeleneh sampai buat Jordan berfikir keras, membuat ia ambil les privat bahasa Indonesia demi bisa membalas bullyan gadis imut itu.


Jordan sampai mencari makanan permen gulali pertama kali Liana mengatai rambutnya yang ikal.


"This one? Ini permen gulali? Rambutku disamakan dengan permen ini? O my Gosh! Ck... Crazy girl!"



Begitulah Liana.


Imut, tapi mengesalkan bagi Jordan di awal kenal.


"Hei, Bule Buntal! Kalau jalan jangan diseret! Apa bodimu terlalu berat sampai harus berjalan seperti itu?"

__ADS_1


Jordan menoleh. Maulana Berto, si juara kelas tapi sombong tingkat dewa meledek fisiknya.


Hari masih pagi tapi celotehan pedasnya sudah seperti seblak mercon di kantin sekolah yang telah dilarang penjualannya.


Dia mulai main fisik dan body shaming ini!


"Eh Berto! Kenapa?"


Jordan menoleh lagi ke arah suara khas yang selalu terngiang-ngiang di kepalanya.


"Ini, si bule bego! Hehehe...! Hari ini Liana cantik sekali. Rambutnya diikat pita warna-warni. Manisnya!"


Hm... Rayuan model apaan itu? Batin Jordan lagi, dalam hati.


"Berto! Jangan bully dia! Cukup Liana saja yang boleh bully Jordan! Yang lain jangan. Okey? Hei pak ketua kelas, tolong bilang sama yang lain, Jordan si gendut ini hanya boleh di bully olehku!"


"Wah, koq...! Iya deh! Oke, hehehe..."


Kenapa begitu? Kenapa orang lain dilarang bully? Kenapa dia sendiri boleh menyakiti hatiku? Ck. Cewek kurang waras ini. Fix.


Jordan tersenyum menyeringai. Liana kecil kembali ada diingatannya.


Setiap hari, setiap saat, gadis itu selalu mengatakan hal-hal yang membuat Jordan sakit hati.


Kenaikan kelas tiba.


Jordan yang sedari awal kesulitan berbaur karena bahasa semakin terpojok karena nilai mata pelajarannya semua dibawah rata-rata.


Jordan yang kesal semakin merasa jengkel hingga tak sadar mengeluarkan air mata tanpa suara.


"Hei ayo, ayo gendut! Ikut aku!"


Liana menarik tangan Jordan sampai nyaris terjatuh karena tersandung sepatu sendiri.


"Tuh, lihat deh! Ini tempat rahasiaku! Jangan bilang siapa-siapa ya, ini tempatku mojok kalau sedang sedih. Eh, gendut! Nilaimu jelek semua ya? Ini, kukasih pinjam buku rangkuman jawaban yang kupunya untuk semua nilai remedial-mu tiga hari lagi. Sudah ya, jangan bilang siapa-siapa! Oke?"


Sejak itu, rasa bencinya pada Liana perlahan mencair. Lalu menghilang berganti menjadi rasa kekaguman.


Gadis imut, mungil nan cantik dan bersinar. Selalu dikagumi banyak teman terutama cowok-cowok keren yang berotak encer dan juga terkenal.


Jordan mengagumi Liana hanya dari kejauhan.


Hhh...


Tubuh Jordan gemetar.


Kepalanya kembali pusing hingga ia mengambil botol beling berisi obat penenang yang dibeli bebas di apotik tanpa resep dokter.


...Jangan bunuh diri ya Om...


Tersentak Jordan. Suara imut keponakannya seketika membuyarkan lamunan.

__ADS_1


"Bisa-bisanya anak itu bilang begitu! Hhh..." gumamnya pada diri sendiri.


Dua tablet lagi untuk mengobati rasa sakit kepalanya yang tiba-tiba datang menyerang.


Treeet... Treeet ... Treeet


Treeet... Treeet... Treeet


Handphonenya berdering beberapa kali.


Jordan malas mengangkat.


Ia hanya menoleh dan memperhatikan nakas tempat hapenya ditaruh tanpa ada keinginan mengangkat telpon.


Pasti dari Felix. Malam-malam begini masih tanyakan pekerjaan. Hhh... Malas aku!


Jordan kembali pada bilik rahasianya.



Foto-foto Liana ketika Ia kembali bertemu setelah sekian tahun tak melihatnya lagi.


Liana! Kau tahu? Putrimu benar, dulu aku sehari sebelum bertemu denganmu sudah bertekad ingin bunuh diri. Bahkan aku sudah menulis surat wasiat sebagai permintaan maaf pada Mami dan Gege. Tapi... Ternyata Allah Maha Pemurah. Kau datang bersama Mami masuk rumah kami. Kau yang dulu, berbeda sekali dengan kau yang sekarang. Dulu kau begitu bersinar terang bahkan cahayamu sangat menyilaukan. Ternyata, sepuluh tahun tidak melihat kehidupan telah merubahmu menjadi perempuan anggun yang tambah mempesona meski tubuhmu kala itu padat berisi.


Jordan merasakan debaran jantungnya yang kian sesak.


...Om, Om Didi! Jangan minum vitamin suplemen dan obat tidur itu lagi!...


Aprillia? Kenapa suara bocah itu terus terdengar membuat kepalaku semakin pening?



Liana... Kenapa semakin kemari kau semakin cantik? Dan aku... Aku tidak akan pernah bunuh diri karena kau sudah ada didekatku walau tidak berhasil jadi milikku.


Jordan melihat jam di dinding kamarnya.


Pukul satu malam.


Waktu bergulir tanpa terasa jika Ia menghabiskan waktu di bilik rahasia bersama Liana.


Jordan kembali menutup pintu ruangan rahasianya. Lalu minum dua butir obat tidur untuk membantu istirahatnya barang sejam dua jam.


"Bismillahirrohmanirrohiim... Bismika Allahumma ahya wa bismika amuut!"


Direbahkannya tubuhnya yang mulai terasa penat. Lalu memejamkan mata dengan hembusan nafas yang panjang.


Tapi tiba-tiba...


Dadanya sesak. Nafasnya tersedak.


Malam itu, malam kamis yang redup, gelap tanpa bintang. Jordan mengalami serangan jantung dan sesak nafas tanpa ada siapapun yang mengetahuinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2