
"Mami, Gege...! Bagaimana? Apa aku sudah boleh pulang hari ini? Aku...kangen istriku, hehehe... Kalian jangan sirik!"
Aku hanya bisa menghela nafas.
Ternyata selama ini Jordan berhalusinasi memperistri aku! Ya Allah Gusti! Sampai sebegitunya kah Jordan memikirkan aku? Dan kini Mas Jonathan pun tahu.
"Iya, kita sudah diperbolehkan pulang. Ayo, kita beres-beres dahulu!"
............
Kini semua telah berubah.
Entah harus bagaimana dan bakalan jadi seperti apa.
Aku dan keluarga Jordan termasuk Mas Jo hanya mengikuti saran dokter. Menjaga perasaan serta mental Jordan agar stabil dan bisa berfikir normal.
Walau keadaan ini jadi begitu menyiksa kami semua.
Mamaku ternyata adalah teman Mama Jonathan. Mereka pernah bersahabat namun terputus karena sesuatu.
Entahlah, keduanya bungkam tak buka suara soal sebab musabab renggangnya tali persahabatan. Mereka justru kini terlihat canggung satu sama lain walaupun tidak ada debat atau keributan.
Mama kembali ke tempat tinggalnya dengan menitipkan aku pada Jonathan dan juga Mama Tiur. Sementara aku, kini harus berperan sebagai 'istri' dari Jordan Ardian.
"Kalian tidak boleh tidur satu kamar!" ucap Mama Tiur dengan suara lembut pada putra bungsunya itu.
"Kenapa, Ma? Bukankah kami ini suami istri? Bukankah kami juga sudah biasa tidur bersama?"
Ya Allah, Jordan... Ternyata delusimu sudah sedemikian jauhnya.
Mas Jonathan hanya bisa menghela nafas. Ia mengusap raut wajahnya yang terlihat lelah sembari melirik ke arahku.
"Liana!..." seru Mas Jonathan dengan suara lembutnya.
"Gege! Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan Liana! Dia istriku. Kumohon hargailah aku sebagai suaminya, Ge! Walaupun kau Kakak Iparnya, tetapi bukan berarti bisa memanggil nama istriku dengan suara lembut begitu!" sungut Jordan semakin membuat kepalaku pusing tak karuan.
Genta hanya diam melihat interaksi kami semua yang seperti sedang main sandiwara.
Lucu memang. Seperti bocah usia lima-enam tahun. Kami melakonkan permainan kecil yang kekanak-kanakkan.
__ADS_1
Mama menuntun Jordan agar masuk kamar.
"Istirahat ya, biar cepat pulih dan sehat kembali!"
"Mami...! Biar Jordan diurus Liana saja. Sudah saatnya Mami duduk tenang. Jordan sudah punya istri yang akan merawat. Hehehe... Mami tak perlu kuatir!"
Ini sungguh bagaikan hidup dalam dua dunia.
Satu sisi aku harus menghargai Mas Jonathan yang adalah calon suamiku. Tapi disisi lain aku harus mengikuti aturan Jordan yang jadi 'sakit' karena kecelakaan lalu lintas bersamaku.
"Liana!"
Aku menatap bingung Mas Jonathan dan Mamanya. Haruskah ikuti permintaan Jordan untuk masuk ke dalam kamarnya juga? Atau...
"Didi! Bolehkah Gege yang temani kamu tidur malam ini? Boleh ya? Kita sudah lama tidak pernah tidur berdua. Bahkan sepertinya sudah belasan tahun. Ada yang mau Gege katakan padamu!"
"Iya. Aku juga, ada unek-unek tentang Gege! Baiklah. Malam ini Aku tidur bareng Gege! Biar istriku tidur sama Mami. Tidak mengapa khan, Sayang?"
"I_iya." Aku tergagap menjawab pertanyaan Jordan.
Sungguh dilema yang membuatku teramat sangat tertekan.
Mama menggandengku sembari tersenyum pada Jonathan dan Jordan.
Rumah megah, perabotan mewah, tak serta merta membuat hatiku bahagia.
Begini ternyata hidup bagai terkurung dalam sangkar emas.
Mama Tiur yang kukira akan memperlakukanku dengan baik, ternyata tidak juga.
Di belakang ke dua putra kesayangannya, beliau justru membuat hidupku makin tertekan menderita.
Walau tidak nyerocos seperti kebanyakan Mertua Kejam lainnya, tetapi pandangan mata serta ucapan dinginnya malah semakin membuatku tak tahan.
Ya Allah ya Tuhanku... Mengapa nasib buruk kembali menghantuiku. Tolonglah hamba-Mu ini ya Tuhan!
Aku tahu, Mama Tiur shock dan sangat kecewa padaku.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terlanjur. Apa mau dikata. Aku tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Aku tidur dengan tubuh terlentang menengadahkan wajah ke langit-langit kamar Mama yang besar.
Sementara Mama tidur menyamping memunggungiku. Seolah tidak ingin kami tidur bersama.
"Tidurlah! Jangan melamun!"
Aku terperanjat. Mama Tiur menegurku setelah sekian lama bungkam. Kukira beliau sudah tidur, ternyata...
"Mama juga belum tidur? Mama juga pasti banyak fikiran!" tebakku dengan suara pelan.
Mama Tiur diam tak menjawab.
Aku ingin akrab dengannya. Seperti di awal jumpa walau ada sedikit kekeliruan yang sampai kini mengganjal dihati.
"Ma...!"
"Hm..."
"Mama pasti kecewa ketika Mas Jonathan mengenalkan aku pada Mama. Iya khan? Dan kutahu, Mama lebih kecewa lagi... Jordan juga ternyata... Hhh... Semua begitu cepat bagaikan kilat!"
"Tidurlah. Aku tidak menyalahkanmu seratus persen, Liana!"
"Tapi aku tahu Mama kecewa!"
"Diamlah! Jangan bicara yang bikin kepalaku pusing!"
"Ma...! Sedari awal aku bukan perempuan idaman Mama bukan? Bahkan Mama menolakku keinginanku membantu karena aku bukan wanita kriteriamu yang pantas dijadikan menantu. Mama meminta tolong kepada perempuan-perempuan cantik saja. Tapi ketika aku ingin menolong, Mama justru bilang tidak ingin aku tolong!"
"Ternyata firasatku tidak salah! Aku tidak ingin kamu bantu karena ternyata, kau pandai menjerat hati kedua putraku!"
Damn...
Aku terdiam. Tertohok oleh perkataan dingin Mama Tiur yang langsung to the point.
"Mama...! Liana tidak menjerat siapa-siapa. Demi Allah, Liana juga tidak tahu kenapa semua jadi begini!"
"Sudahlah. Sudah malam. Hentikan ocehanmu!"
Aku memiringkan tubuhku. Menangis menahan isak sambil memunggungi tubuh belakang Mama Tiur.
__ADS_1
Aku hanya ingin dicinta. Aku hanya ingin disayang. Salahkah jika aku menginginkannya, Ma?
BERSAMBUNG