
Kami tiba kembali ke pabrik pukul tiga sore. Mas Jonathan langsung mendatangi kantor pabrik dan membahas hasil kinerjanya hari ini dengan Bu Febri sekretaris pribadinya.
Aku sendiri mendapat tugas membenahi buku laporan kehadiran para karyawan pabrik dan menggantinya dengan metode baru bebas sesuai dengan styleku, kata Mas Jonathan.
Aku senang menggambar. Maka aku akan membuat buku kehadiran menjadi arena imajinasiku dalam menuangkan kemampuanku menggambar. Itu fantasi khayalanku.
Genta sendiri di tempatkan di bagian pengemasan produksi pabrik. Dia sendiri yang ingin di tempatkan di bagian itu karena tertarik dengan mesin pres canggihnya.
Kami kembali sibuk bekerja dengan tugas masing-masing sampai azan Ashar berkumandang.
"Ayo, sholat dulu bergantian!"
Aku benar-benar takjub pada Mas Jo. Mata ini terpukau melihatnya penuh dengan hal fantastis luar biasa sebagai seorang pria.
"Hei, jangan diliatin terus! Nanti yang diliatin ge'er lho!"
Aku tersentak kaget ketika Bu Febri mendekati meja kerjaku dan siap dengan tas mukenanya menuju pabrik. Membuatku tersipu karena malu.
Ish, bu Febri ini! Bikin aku jantungan saja!
"Ayo, sholat dulu!"
"Iya. Hehehe..."
Begitulah kharisma Mas Jonathan. Mampu membuat hatiku melemah dan mulai ada rasa.
Benarkah ini rasa suka mengarah jadi cinta? Wajar saja aku suka pria tampan mempesona yang ada di depanku itu. Dia perfect, sempurna sebagai seorang pria. Siapapun wanita yang memandangnya terus, pasti akan jatuh cinta. Justru aneh rasanya jika tidak terpesona. Dia bujangan tampan, pengusaha mapan, baik hati juga sopan. Talenta berbisnisnya luar biasa. Siapalah orang yang tidak suka padanya. Hm...
Sholat Ashar-ku kali ini jauh lebih khusu' walaupun dilakukan di musholla pabrik. Dan memang benar Mas Jo sangat mengagungkan agama yang dianutnya. Sampai-sampai musholla pabrik pun di sulap bak tempat ibadah indah di puncak pass sana. Membuat semua orang yang sholat menjadi betah berlama-lama.
Benar-benar pengusaha yang unik dan berbeda sendiri.
Waktu muda aku pernah bekerja di pabrik boneka. Pabrik besar di daerah Cikarang. Tetapi musholla pabrik justru hanyalah sebuah ruangan kecil yang gelap dan pengap yang hanya bisa menampung sepuluh sampai lima belas orang karyawan pabrik yang ratusan. Belum lagi ubin dan temboknya yang lembab mengundang kecoa untuk menetap serta beranak pinak di sana. Hhh...
"Sudah Ashar, Liana?"
__ADS_1
"Sudah, Boss!"
Mas Jo mencucutkan bibir seksinya. Memancingku untuk tertawa melihat manjanya yang teramat manis.
Apakah cinta datang karena terbiasa? Jadi seperti ini mungkin Katliya jatuh cinta pada suamiku dulu, mantan suamiku maksudnya. Pasti gadis itu terpesona oleh pesona Irsyad tanpa kusadari. Hm... Katliya! Kamu salah menaruh hati, Nona! Kau serampangan dan sembarangan memberinya pada pria yang telah beristri. Kenapa bodoh, padahal dunia ini luas dan banyak pria-pria single rupawan seperti Mas Jonathan yang jauh lebih berkualitas dalam segalanya di banding Irsyad. Kasihan! Kau terlalu takut lama menyandang gelar perawan tua hingga tanpa pikir panjang mengambil hak milik orang lain.
"Liana?"
"Ah, ya?"
"Kenapa senang sekali melamun?"
Aku tertunduk malu mendengar pertanyaan Mas Jo yang pelan tapi mengusik hati.
"Hanya bingung. Kenapa hidupku seperti ini!" jawabku pelan sambil membereskan alat tulis kerjaku dan memasukkan dalam box lalu menaruhnya di laci meja.
"Apa yang buatmu bingung, Lian? Pasrahkan semua pada Illahi Robbi! Yakinlah pada semua Ketetapan-Nya!"
Kutatap bola matanya yang coklat terang menakjubkan. Mas Jonathan, adalah sosok yang bisa membawaku ke arah positif menjalani hidup ke depannya.
Entah mengapa, aku sudah bisa mengambil keputusan sebelum tiba waktunya.
Aku... yakin untuk menikah dengannya. Karena kedewasaan Mas Jonathan yang kuyakin mampu membimbing dunia akhiratku. Amin...
............
Pulang ke rumahnya yang berada di belakang pabrik membuatku merasa lega. Dan terbayang dalam waktu beberapa bulan ke depan, mungkin statusku akan berubah menjadi istri si pemilik rumah.
Aku sendiri masih menyimpan keputusanku dalam hati. Masih cukup diriku saja yang meyakininya.
Bukan karena Mas Jo pria berharta dan bertahta. Bukan.
Aku faham jika nanti orang-orang akan berfikir buruk tentang aku bila tiba waktunya mas Jo mempersuntingku.
Semua pasti menilaiku salah. Tapi biarlah. Cukup aku, Mas Jo dan pastinya Tuhan sajalah yang tahu keadaan sebenarnya.
__ADS_1
Walau aku masih tak percaya pada apa yang terjadi padaku kini. Sungguh bagaikan mimpi. Dan bila pernikahanku dengan Mas Jonathan sampai terjadi, mungkin itu sudah jalan-Nya. Takdir memilihku. Jodoh, rezeki, maut, semua adalah Kekuasaan-Nya.
"Liana! Lihat!"
Aku terkesima. Ruangan membaca disulap Mas Jonathan menjadi ruang gym.
"Katanya baru besok atau lusa alat-alat kebugaran ini datang, Mas?" tanyaku takjub dengan mata berbinar. Terlebih lagi Mbak Citra yang senyum-senyum penuh arti padaku sambil mencoba alat treat mill model terbaru yang bisa dilipat dan sedang laris manis di pasar online terkemuka.
"Siapa dulu, dong yang pesan, Kak! Boss Gege gitu loh! Apalagi pesanan ini spesial untuk seseorang yang istimewa di hati Boss! Uhhuy!"
Aku tertawa. Malu sekaligus senang.
Taman hatiku tumbuh kuncup-kuncup tunas bunga. Tinggal menunggu waktunya merekah.
"Asik asik, joss!"
Mbak Citra semakin suka menggodaku dan Mas Jonathan. Kurasa dia sudah mendengar sendiri pengakuan hati atasan tampannya.
Dan sang CEO yang adalah atasannya hanya tersenyum malu-malu dengan ekor mata sesekali melirik ke arahku.
"Ayo, Kak! Waktunya olga, olah raga!"
"Iya. Aku ganti pakaian dulu, Mbak!"
"Istirahat dulu. Olah raganya nanti saja jam lima, Liana!"
"Idiiih, koq Citra gak disuruh istirahat, Boss? Tapi Kak Liana malah diperhatikan segitunya!" sungut Citra cemburu sosial membuatku tertawa dan merengkuh bahunya merasa tak enak hati.
"Iya nih, Boss pilih kasih ya Mbak? Hehehe..." timpalku mencandainya.
Aku senang Citra membalas rengkuhanku. Dia berbisik di telingaku, "Aku suka godain Boss Gege, Kak! Kami ini sudah seperti saudara! Hihihi... Jadi jangan cemburu kalau aku terlihat berani dan kurang ajar sama Boss Gege ya Kak?"
Ah, Mbak Citra! Mana mungkin aku cemburu pada orang-orang yang sudah sangat berjasa pada Mas Jonathan. Kalian punya kisah tersendiri. Dan aku hanyalah orang baru yang masuk di kehidupan kalian. Dengan kalian menerimaku tulus saja, aku sudah sangat berterima kasih. Alhamdulillah, jalanku Allah mudahkan.
__ADS_1
Mas Jonathan tertawa kecil dengan kepala digeleng-geleng pelan. Ia masuk kamarnya dan kami tergelak melihat kekikukannya digoda dua wanita.
BERSAMBUNG