DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 38 - DEFINISI CINTA BAGIKU DAN MAS JONATHAN


__ADS_3

"Mas!"


"Liana! Ish, bikin aku cemas, koq ke toilet sampai sejam kurang!?"


"Hehehe... Maaf!"


"Sayangnya Pak Tampubolon sudah pergi. Beliau buru-buru karena ada jadwal pertemuan lagi. Orang hebat, super sibuk beliau. Tadinya aku ingin mengenalkanmu pada beliau. Akhirnya cuma salam saja darinya buatmu!"


"Duh! Padahal kesempatan besar ya buatku kenalan sama orang hebat!" gumamku sedih membuat Mas Jo tersenyum.


"Masih banyak kesempatan! Nanti kita pasti bisa ketemu orang-orang hebat lainnya!" tuturnya membesarkan hatiku.


Kami kembali melanjutkan perjalanan. Pekerjaan Mas Jonathan ternyata sangat banyak dan jadwalnya sudah terkonsep rapi di buku notes yang Bu Febri buat sebelumnya. Aku, tinggal mengikuti langkah boss besar saja.


Ternyata jadi orang penting, CEO dan pengusaha terkenal itu rutinitas kerjanya tak main-main. Tak ada waktu ongkang-ongkang kaki hanya sekedar memantau dari balik layar. Tidak juga. Bahkan pekerjaan mereka sudah diatur jauh-jauh hari dengan melobi perusahaan lain dan rapat sana-sini.


Ternyata jadi karyawan biasa itu jauh lebih enak rupanya. Kerja masuk pagi, pulang sore akhir bulan terima gaji. Walau kerjaan numpuk, mumet otak dan harus mendapat teguran karena kerjaan yang error, itu masih lebih baik.


Para CEO ternyata harus melesat cepat berjalan setengah berlari mengejar tender dan kontrak perjanjian kerja sana-sini guna meningkatkan perkapita perusahaan mereka. Harus pintar mengatur keuangan juga agar gaji para karyawan aman bahkan sampai enam bulan kedepan.


Otak mereka benar-benar diperas bekerja 24 jam. Super salut. Bahkan banyak diantara mereka yang tak sempat memikirkan lagi keluarga apalagi diri sendiri. Lembur dan lembur baik di kantor serta di rumah.


Baru kusadari, pencapaian mereka akhirnya sebanding juga dengan kerja kerasnya.

__ADS_1


Makanya rata-rata para pengusaha kelas atas tidak terlalu memikirkan masalah keluarga layaknya masyarakat biasa.


Mereka cari uang untuk masa depan tujuh turunan. Tak pusing soal keuangan dan hidup keluarga karena sibuk menumpuk harta. Tak peduli asupan kasih sayang yang sangat kurang karena punya tabungan berlimpah. Jadi madesu atau masa depan suram jauh dari hidup anak cucu mereka. Tetapi minim akhlak dan minus cinta serta kasih sayang.


Aku dan Mas Jo melipir Dzuhuran dahulu di masjid dekat gedung serba guna sebelum kembali meluncur meninggalkan Ibukota.


"Kenapa melihatku seperti itu? Apa... Wajahku semakin terlihat kerutannya?"


Aku tersadar ketika Mas Jonathan menjawil batang hidungku.


"Ah, hehehe... Sedang melamun!"


"Kenapa? Apa yang Liana lamunkan?"


"Dulu kupikir jadi pengusaha hebat itu sangatlah enak, Mas! Ternyata... Hidupnya sudah dischedule bahkan nafas pun sepertinya harus diatur ya?!"


"Ish! Diledek malah ngerayu! Aku malu kalau Mas terus-terusan puji aku. Dulu aku merasa jumawa, suamiku cinta mati padaku karena seringnya dia melontarkan pujian yang bahkan kadang lebay berlebihan. Tapi ternyata, cintanya tak sekokoh batu karang di lautan. Malah kini aku sadar... Setiap orang bisa berubah kapan saja dari cinta menjadi benci! Hhh... Dari dulu yang bucin akut sampai kini setiap perkataannya bagaikan silet yang menyayat hati!"


"Itulah kehidupan. Kita ini hanya sementara tinggal di dunia. Akhirat-lah yang kekal abadi!"


Aku senang, respon Mas Jo menenangkan hati serta fikiranku yang kembali panas membakar kepada dan hati mengingat pertengkaran tadi bersama pria yang pernah kucintai sepenuh hati itu.


"Apa arti cinta bagi, Mas?" tanyaku ingin tahu.

__ADS_1


Mas Jonathan tersenyum. Tetapi matanya tetap fokus ke depan dan sesekali melirik kaca spion mobilnya kiri kanan.


"Cinta? Kamu bertanya padaku apa itu arti cinta?"


Aku mengangguk. Mencoba menelaah isi hatinya. Apakah visi misi kami sama dalam menterjemahkan arti cinta. itu membuatku penasaran.


"Aku sudah berumur delapan tahun ketika kamu baru saja melihat dunia, Liana! Hehehe... Hm, cinta menurutku adalah dedikasi pada keluarga. Menjadi yang terdepan dalam urusan keluarga. Karena keluarga adalah yang terpenting dalam hidupku. Aku, bahkan pernah menjual buku-buku bekas pelajaran sekolah SMP-ku disaat adikku menangis minta jajan!"


"Iyakah? Kalian khan orang kaya? Mana pernah merasakan itu?"


"Kata siapa? Hidup kami penuh warna, Liana! Dan usia 40 tahun bagiku cukup untuk merasakan asam garam pahit manisnya kehidupan!"


Wow, dalamnya perkataan Mas Jonathan.


"Usiaku 15 tahun dan adikku 7 tahun kala itu. Papi sakit keras, Mama membawanya berobat kesana-kemari demi kesembuhannya. Tabungan makin menipis sampai kami tak sanggup membayar pengasuh lagi di rumah dan Mama hanya bisa membayar pekerja cuci gosok saja sehingga untuk urusan kami berdua, mau tidak mau kami harus bisa mandiri. Waktu itu, kami hanya berdua di rumah. Dan adikku menangis ingin jajan di minimarket dekat rumah kami. Lalu tiba-tiba aku mendengar suara tukang abu gosok yang berteriak "tukang rongsokan". Hehehe... Mengingat itu, aku kangen Didi adikku! Hhh... Saat ini aku memang sedang menjauhkan Mama dan adikku demi tidak terkontaminasi lagi hal-hal mistis yang meneror selama ini. Aku tidak mau keluargaku kenapa-kenapa. Tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka lagi. Jadi, aku akan berjuang demi mereka. Karena aku cinta mereka!"


Aku tertegun mendengar ceritanya yang panjang.


Dalam hal kecintaan pada keluarga, kami punya kemiripan. Aku dan dia, rela berjuang demi keluarga terutama adik tercinta.


Adikku saat ini sedang dirundung masalah hutang piutang online. Benar hutang wajib dibayar. Dan aku rela berjuang demi untuk memperbaiki masa depan adikku Genta.


Darah lebih kental dari air.

__ADS_1


Pasangan bisa jadi bekas. Istri atau suami bisa jadi mantan. Tetapi saudara kandung, sampai kapanpun tetap saudara. Tidak ada bekasnya meskipun terjadi kesalahfahaman antar saudara. Begitulah adanya.


BERSAMBUNG


__ADS_2