
"Mas, aku ke toilet dulu ya?" kataku pada Mas Jonathan disela sesi bincang santai para pengusaha.
"Iya. Apa mau kuantar?"
"Ga usah, Mas! Aku bisa sendiri!"
"Hehehe... Akhirnya. Kamu bisa juga mengobrol santai tanpa kalimat baku padaku!"
Aku hanya tersipu mendapati Mas Jo menggodaku. Aku butuh waktu cukup lama untuk bisa berkata dengan kalimat santai pada seseorang, terutama pria.
Kuharap hubungan sehat ini bisa membawaku berubah ke arah kebaikan.
"Liana!"
Kaget sekali aku ketika seseorang menarik pergelangan tanganku setelah keluar dari toilet gedung theatre serba guna.
"Bang Irsyad?"
"Hm... Kamu sangat berbeda, Liana!"
Dia menatapku lekat membuatku melengos memalingkan wajah. Muak rasanya terus-terusan melihat wajah tampan Irsyad yang tengil.
"Pakaianmu, dandananmu! Akhirnya aku tahu, kemana saja kau selama sebulan ini. Rupanya sudah jadi simpanan om-om kaya raya!"
Plak!!!
Kutampar mulut Irsyad yang kurang ajar menilaiku.
"Untung sekali aku menceraikanmu! Kau tak lebih dari perempuan murahan yang mudah mencari cinta lain bahkan sebelum bubar iddah!"
Emosiku menaik sampai di ubun-ubun.
Jahatnya pria tengil dihadapanku ini, ya Tuhan! Andai aku boleh menyumpahinya, kuingin dia menyesal berkali-kali lipat karena telah menceraikanku demi perempuan sederhana tapi berbisa itu.
"Kau yang punya simpanan, tapi kau yang kebakaran jenggot melihatku bahagia. Situ sehat? Masih waras? Atau sudah stres tahap depresi karena menyesal menikahi papan penggilesan yang tipis dan berdesis seperti ular itu? Hm?..."
Aku berusaha menahan amarah dan berbalik menyerangnya dengan elegan.
Jangan sampai buat malu diri sendiri karena posisi kami ada di ruang publik. Tepatnya di depan pintu masuk toilet perempuan.
Banyak orang hilir mudik keluar masuk kedalamnya dan aku disini bersama Mas Jonathan, seorang pengusaha muda hebat. Aku harus bisa menjaga nama baik Mas Jo dan jangan sampai membuat keributan fatal.
Aku lebih memilih pergi meninggalkan Irsyad. Namun sepertinya pria itu masih belum puas.
__ADS_1
"Liana! Mau kemana kamu? Menemui kekasihmu? Hehehe... Atau, teman tidurmu? Tapi aku salut padamu. Kukira kau tidak akan secepat ini move on dan mendapatkan pengganti pria lain. Ternyata, kamu buaya betina juga. Dan mangsamu bukan pria sembarangan. Blasteran tampan yang 'barang'nya sudah pasti besar!"
Ya Tuhan! Mulut pejantan sakit ini ternyata berbisa juga!
Aku terkekeh. Terpancing dan mengikuti kegilaan Irsyad itu adalah keinginannya.
"Hehehe... Kau sadar juga kalau 'barang'mu itu kecil, suami siri Katliya?"
"Hei! Kau memang bukan perempuan yang tepat untuk sperm* ku! Kau tak lebih dari perempuan penikmat se* saja! Karena kau bukan wanita sempurna! Kau tidak akan pernah bisa hamil!"
"Daripada kau banyak bacot mengurusiku yang bukan urusanmu lagi, lebih kau urus berkas akta perceraian kita supaya anak yang dikandung selingkuhanmu bisa langsung bikin akta lahir nanti!"
"Bilang adikmu Genta, bayar semua hutangnya padaku! Hutang wajib dibayar!"
"Hei! Uang yang Genta pakai itu adalah uangku juga! Harta gono-gini yang belum clear kau urus dan bagikan padaku. Seenak dengkulmu kau pakai dengan gundik polosmu itu! Jadi jangan pernah kau berkata kasar tentang adikku yang justru kau mamfaatkan keadaannya!"
Aku pergi keluar mencari udara segar. Halaman samping gedung cukup sepi untukku mengeluarkan air mata tanpa ada yang melihat.
"Hik hik hiks... Ya Allah ya Tuhanku! Jahatnya bajingan itu! Hik hik hiks... Tolong angkat kesedihanku ya Allah! Ambil rasa sakitku ini ya Allah! Gantikan dengan kebahagiaan yang berlipat ganda!"
Doaku dalam gumaman dan hati kecil.
Mentalku kembali ambruk. Hatiku terluka parah dan lagi-lagi berdarah- darah. Aku... Merasa dunia sangat kejam hingga memalu tubuh serta jiwaku menjadi manusia paling rendah juga hina.
Treeet... Treeet... Treeet
...Boss Gege is calling...
Kuusap segera air mata di pipi ini. Mencoba menetralisasi semua perasaan sedih yang berkecambuk di dalam hati. Lalu mengangkat panggilannya.
...[Liana! Kamu ada di mana? Apa masih di dalam toilet? Kamu tidak salah jalan khan? Toilet ada di samping kantin gedung, Lian!]...
"Hehehe iya, Mas! Sempat keder mencari toilet. Aku masih di toiletnya! Maaf, menunggu lama ya!?"
...[Ayo cepat kembali, Lian! Ada seseorang yang mau kukenalkan! Beliau adalah rektor almamater kampusku dulu!]...
"Iya, Mas! Maaf, aku masih lama!"
^^^Klik^^^
Kumatikan panggilan telepon Mas Jo dengan helaan nafas panjang.
Mataku melihat pesan masuk dari Jordan Ardian.
__ADS_1
Jordan! Jordan! Aku kangen kamu!
...Liana, semangat! Ini sudah pukul satu. Jangan lupa makan siang biar hari pertamamu kerja di pabrik tak ada kendala....
Ah, Jordan!... Kau selalu bisa membuatku kembali sadar kalau aku hidup di dunia nyata.
...Jordan... Aku... Aku sedang sedih...
Kubalas chattannya. Dan...
Treeet... Treeet... Treeet
...[Assalamualaikum, Liana!]...
"Jordan! Jordan hik hik hiks..."
...[Kenapa Liana? Kamu ada apa? Kenapa menangis?]...
"Aku..., aku bertemu suamiku dan bertengkar dengannya di tempat umum! Hik hiks..."
...[Abaikan pria karung goni itu! Jangan hiraukan! Dia hanya sedang panas itu melihat kamu bisa hidup tanpa dia! Dia akan menyesal beribu kali penyesalan nanti! Catat kata-kataku ini! Dia pasti akan sangat menyesal nanti, Liana!]...
"Iya."
...[Liana! Jangan bersedih. Tersenyumlah. Kau berhak bahagia. Kau akan bahagia. Allah pasti akan mengganti kesedihanmu dengan kebahagiaan yang banyak!]...
"Terima kasih Jordan! Aku kembali kerja ya? Maaf... Aku selalu memberi kabar buruk padamu. Bukannya kabar baik!"
...[Tidak apa, Liana! Aku senang kamu mau menceritakan apapun itu padaku! Aku mendukungmu! Kalau perlu, jotos wajahnya kalau dia terus-terusan melecehkan dan menghinamu. Aku penasaran, setampan apa dia berani-beraninya menyakiti hati kamu?]...
Dia tak lebih tampan darimu, Jordan. Beda denganmu yang tampan luar dalam.
"Jordan, kamu sudah makan?"
...[Sudah, Liana! Hari ini Mami masak banyak. Mami mau menyambut tamu agung katanya. Tapi Mami tidak bilang padaku siapa tamu agung itu! Hhh... Tapi sampai sekarang tamu agung itu belum muncul juga! Hehehe... Semangat, Liana! Ingat, di atas langit ada langit. Bajingan sombong itu akan menangis gelindingan melihatmu lebih bahagia berpisah darinya!]...
"Iya. Terima kasih supportnya, Jordan! Sampaikan salamku pada Mami! Aku kangen kalian!"
...[Aku juga, Liana! Suatu hari nanti, aku akan datang menemuimu. Memberimu surprise yang pasti tak kamu sangka-sangka! Hehehe...]...
Mendengar tawa renyah Jordan yang membuat candu, aku tersenyum sendirian. Lalu pamit menutup panggilan teleponnya karena merasa sudah terlalu lama meninggalkan Mas Jonathan.
BERSAMBUNG
__ADS_1