DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 14 - MASALAH YANG MENGGUNUNG


__ADS_3

Aku pulang ke kontrakan Genta.


Fikiranku melayang. Menerawang tentang kejadian demi kejadian.


Tadi di rumah Orangtua Katliya, aku memang takut luar biasa. Terutama dengan intimidasi yang Eyang Subur lakukan padaku.


Sungguh sangat menyeramkan. Rasanya nyawaku berada di ujung tanduk kala itu. Begitu takut sekali apalagi setelah orangtua yang sepertinya berumur sekitar 80-85 tahun itu berhasil membuat aku muntah darah tiba-tiba.


Seumur-umur aku hidup, baru kali ini melihat langsung dan merasakan sendiri serangan ilmu gaib yang tidak kufahami secara logika.


Disitulah aku baru menyadari. Kalau ternyata Katliya bukanlah gadis sederhana nan lugu yang selama ini aku acungi jempol.


Rupanya, selama ini ia menyimpan hasrat pada Bang Irsyad. Diam-diam Katliya menyukai suamiku dan perlahan menyusup memasuki selimut rumah tanggaku sebagai musuh.


Hhh...


Katliya! Ternyata selama ini aku telah memandang enteng padamu! Gadis polos nan pendiam serta baik perangainya itu ternyata menyimpan bara dan kini membakar hangus rumah tanggaku dengan Bang Irsyad. Bahkan dengan santainya kau kini masuk ke rumahku. Menguasai harta-hartaku setelah berhasil mendapatkan suamiku. Katliya! Setega itu ternyata kau padaku, wahai gadis licik! Aku yang memberimu pekerjaan ketika kau keliling perkantoran di sekitar kota hingga empat tahun kau bekerja di toko online-ku dengan kepercayaan penuh kuserahkan kepadamu. Ck ck ck... Katliya! Betapa naifnya diriku yang selalu iba dan kasihan melihat hidupmu. Kau..., bagaikan ular betina yang diam-diam menabur racun untuk membunuhku! Katliya...


"Kakak dari mana?"


Genta yang cemas melihatku pergi tanpa pamit dari kontrakannya langsung memeluk erat tubuhku.


"Genta!"


"Jangan seperti itu! Jangan pergi sembunyi-sembunyi dariku! Biar aku antar jika Kakak butuh teman!"


"Aku tahu kamu juga sedang pusing dengan masalahmu, Genta! Jangan khawatirkan aku! Kini aku bisa berfikir jernih dan keadaanku jauh lebih tenang!"


"Kakak dari mana?" tanyanya lagi, mengulang pertanyaan.


"Aku dari rumah Katliya! Dia... Memakai ilmu pelet untuk mendapatkan Bang Irsyad. Aku sedari awal sudah mencurigainya, Genta!"


"Kakak sudahlah! Terimalah nasibmu yang kini sudah menjadi janda!"


"Genta! Sadarlah! Kau juga dalam pengaruh sihirnya!"


"Sihir apa, Kak? Kau yang harus sadar! Bang Irsyad sudah menceraikanmu, Kak! Move on lah! Jangan buat dirimu semakin terhina oleh tingkahmu yang terus mengejar dia. Lupakan dia! Dia sudah pergi dari hidupmu, Kak Lian!"

__ADS_1


Aku termangu.


Betul katamu, Genta! Apa yang kau katakan sepenuhnya betul. Tapi tindakanku ini semuanya juga tiada salah. Aku, berjuang mendapatkan kembali semua milikku! Yang telah dirampas orang dengan begitu enaknya dan tanpa perasaan, Genta! Dan orang itu adalah Katliya! Orang yang kutolong empat tahun lalu. Dan orang itu kini seperti hewan buas yang tak punya otak, fikiran serta perasaan. Aku tidak terima, tidak ridho juga tidak ikhlas. Tuhan melihat dan tahu betapa sakit hatiku, Genta! Bahkan kau sendiri, adik kandungku sendiri, terlihat tidak peduli dan cuek dengan keadaanku saat ini. Semua bukan yang kukenal dahulu!


Malam ini seperti biasa sejak Bang Irsyad berubah. Fikiranku selalu melanglang buana. Menerawang jauh ke depan, melayang membumbung tinggi. Tak habis-habis fikiranku melamunkan nasib diri yang tragis ini.


Selama ini aku menjalankan tugasku dengan baik sebagai seorang istri.


Aku hanyalah ibu rumah tangga biasa. Duduk manis di rumah setelah selesai menjalankan tugas layaknya para wanita berkeluarga. Melayani suami, membuatkan sarapan pagi, mencuci pakaian, cuci piring hingga mengepel lantai. Semua bagiku adalah rutinitas yang sudah selayaknya kukerjakan.


Siang hari menjelang sore, aku bisa main hape. Mencoba menawarkan barang dagangan lewat jejaring sosial via status What'sApp, FB, IG serta akun tiktok-ku.


Tak ada yang istimewa. Begitu terus dari hari ke hari. Aku juga mengurangi akses pertemananku dengan sibuk berjualan online.


Semuanya kulakukan dengan penuh kesadaran tinggi, kalau aku adalah wanita bersuami. Yang tak pantas wara-wiri haha-hihi meski sekedar berkomunikasi via online dengan teman-teman terutama kaum Adam.


Aku, menjunjung tinggi kesucian ijab kabul yang sakral dan hikmad. Pertanda wanita yang telah dinikahi wajib menjaga harkat serta martabat diri dan suami.


Aku menjalin komunikasi dengan teman yang memang tertarik pada barang daganganku dan punya niatan membeli hingga terjadilah kesepakatan jual beli.


Selepas itu, Aku nyaris menjauh dari kehidupanku bersosial.


Sehingga selama sepuluh tahun menikah, aku benar-benar berubah dan hanya Bang Irsyad sahabat sekaligus teman dekatku curhat juga berbagi cerita.


Sekarang, semua seolah lenyap dari rutinitasku yang biasanya.


Bang! Tidakkah kau rindu padaku, Bang? Tidakkah kau kangen pada semua perlakuanku padamu? Kau, bertahun-tahun tergantung sepenuhnya padaku. Dari makan, pakaian bahkan sampai urusan ranjang pun... Kau tinggal terima beres. Aku yang mengurus semua printilan.


Bang! Apa kau tidak menyadari kekeliruanmu yang tidak pada tempatnya ini?


Aku menangis dan hanya menangis.


Benar-benar cengeng juga rapuh. Sampai lupa bahwa diriku juga perlu perhatian. Apalagi penampilanku kini kian hancur berantakan dengan tubuh tak terurus hampir satu mingguan.


Aku ingin menyelesaikan semuanya! Aku harus menyelesaikan semuanya! Setidaknya, aku harus pulang dulu ke rumahku. Mengemasi pakaian serta perlengkapanku yang masih tertinggal di rumah itu. Kalaupun jodohku dengan Bang Irsyad memang hanya sampai disini. Setidaknya aku harus mendapatkan sebagian harta gono-gini. Bukan hanya sekedar janji-janji.


Aku sudah kuatkan tekad. Aku harus ke rumah yang sudah tujuh tahun kami tempati bersama. Dalam suka maupun duka, dalam susah juga senang. Bahkan saat-saat awal dimana aku sendiri yang memulai bisnis online dengan izin dari suamiku tentunya.

__ADS_1


Sekarang, usahaku itu justru diambil alih Bang Irsyad dengan istri barunya.


Benar-benar enak sekali hidupnya.


Aku yang susah payah, dia dan istri mudanya yang tinggal menikmati hasilnya. Dasar manusia-manusia licik! Dan aku malah disuruh diam dan menerima nasib begitu saja setelah apa yang telah mereka lakukan padaku?


Aku polos, memang. Aku bodoh, iya. Tapi aku tidak sepolos dan sebodoh itu juga. Hak-ku atas separuh harta hasil rumah tanggaku dengan Irsyad tentu saja juga ada di sana.


Dan apakah aku salah, jika aku menginginkan semua itu dibagi adil apalagi perceraian ini justru karena orang ketiga yang Irsyad lakukan di belakangku.


Secara hukum aku bisa menggugat dia. Melaporkannya pada pihak yang berwajib karena menelantarkan istri dan selingkuh terang-terangan. Irsyad juga melakukan KDRT. Sayangnya aku tidak mengambil barang bukti lewat foto atau laporan visum pihak rumah sakit karena Aku tak mau suamiku itu mendapatkan hujatan dari orang luar. Karena aku begitu mencintainya yang sudah mencintaiku juga selama ini.


Kupikir, dengan aku menunjukkan rasa kukuhku mempertahankan rumah tangga ini maka Irsyad akan sadar dan meminta maaf atas kekhilafannya. Nyatanya, mata serta hatinya sudah buta. Jiwa serta perasaannya seperti hilang dan menguap entah kemana. Dimataku, suamiku itu sudah sangat berubah. Sangat jauh berbeda, dengan Irsyad yang biasanya kukenal.


Sepertinya sihir buhul dan guna-guna pelet Katliya dengan bantuan Eyang Subur rupanya telah menyatu dengan jiwa raga Irsyad bahkan juga kedua orangtuanya. Mereka semua telah berubah. Berubah menjadi orang yang berbeda. Orang yang tidak kukenali perangainya.


............


Aku terkejut, Genta terlihat memiliki setumpuk uang.


"Genta!?"


Wajahnya pucat pasi. Seolah malu tergep aku, ia segera merapikan lembaran uang kertas seratus ribuan di atas ranjang kasurnya.


"Kak Liana?"


"Kau bilang kau sedang ada masalah dengan pinjaman online. Kau punya uang segitu banyak dari mana?" tanyaku ingin tahu.


"I_ini..., mmm... Ini boleh pinjam, Kak!" jawabnya terdengar gugup.


"Pinjam dari mana lagi? Berapa itu semuanya? Kenapa kau tak berkaca pada kejadian pinjaman online yang menjeratmu jadi buronan, Genta!?"


"Kakak! Sebaiknya kau tak perlu ikut campur urusanku! Sejak dulu aku tak pernah menyusahkanmu! Aku tak pernah meminta apapun darimu termasuk minta uang! Jadi, jangan sok tua menasehatiku padahal kau sendiri juga butuh nasehat!"


Deg


Kata-kata Genta membuatku semakin sedih.

__ADS_1


Genta! Aku tak ingin melihatmu lebih hancur lagi karena hutang piutang. Aku khawatir sekali padamu, Genta! Kumohon, jangan salah faham!


BERSAMBUNG


__ADS_2