DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 94 - KEDATANGAN AIRLANGGA


__ADS_3

"Kakak..., ya ampun! Aku mencarimu kemana-mana, ternyata ada disini! Masuk, Kak! Anginnya kurang bersahabat!"


Citra memanggilku.


Dia datang dan langsung mengapit. Dituntunnya Aku masuk kembali ke rumah.


Makhluk berambut panjang itu hanya menatap dengan ekor matanya yang berwarna merah.


Lain kali kita lanjutkan! Kataku dalam hati.


...Namaku Stella, Nyai. Rumah keluargaku di jalan Jambu Raya Blok C RT 021 RW 04 nomor 67. Ayahku bernama Gilang Ramadhan dan ibuku Sofia. Tolong, Nyai......


Hanya keterangan itu yang kudengar keluar di tengah rintihan serta cekikikannya yang membuat sakit kepala.


Hhh...


PR baru bagiku. Walaupun tak kuberikan kepastian untuk menolongnya, tetapi kami kadung berinteraksi dan mendengarkan curahan hatinya.


Citra berceloteh kalau dirinya baru saja membuat seblak kerupuk. Sengaja dibuat tidak terlalu pedas agar aku bisa ikutan memakannya.


Hm... Aromanya benar-benar menggugah selera.


Baru saja satu suapan tetapi tiba-tiba suamiku sudah duduk dihadapan dan menarik pinggan berisi seblak itu.


"Ini makanan apa, Citra? Jangan kasih Liana makan sembarangan!" katanya dengan suara tegas.


"Ini aku buat sendiri, Boss Gege! Murni buatan tanganku. Bukan beli dan jajan sembarangan! Ish... Jangan larang-larang makan ini itu terlalu berlebihan! Nanti dede utun pilih-pilih makanan pas besarnya nanti!"


"Dede utun? Siapa lagi itu?"


"Panggilan kesayangan janin Kak Liana! Hihihi..."


"No! Kenapa harus dipanggil dede utun? Ish kau nih!"


Begitulah Citra dan suamiku. Atasan dan bawahan yang tidak biasa. Membuat pipiku sakit menahan tawa.


"Sayang! Aku baru coba satu suapan. Kata Dokter boleh makan apa saja!" rajukku dengan netra mengerjap.


"Makan apa saja tapi yang bergizi, Sayangku Liana!" tepisnya mengingatkan.


"Iya. Tapi makanan ini justru tidak membuatku mual! Please, okey?"


"Dua suap kecil saja ya? Setelah itu jangan jejali buah hatiku makanan aneh ini lagi. Hm?"


Negosiasi yang tidak menguntungkan.


Aku tersenyum tanpa menjawab.


"Hei, makanan aneh? Bukannya si sushi jauh lebih aneh? Dimakan mentah-mentah terus dicocol arak cuka, hm... Ditraktir pun aku ogah, Boss makan dua kali!"


Lagi-lagi Citra meradang membuatku tertawa dengan kepala mengangguk-angguk.


"Bukan arak cuka, tapi kecap asin! Seleramu berarti itu yang cupu, Citra!" timpal Boss besarnya yang rasa saudara bagi Citra. Semakin membuatku terpingkal-pingkal.


"Makanan orang kaya memang aneh!" cibir Citra dengan bibir mencucut. Kali ini suamiku tidak menjawabnya. Hanya tertawa mendengar argumentasi ART kesayangannya itu.


"Kudoakan kau jadi orang kaya, Cit! Biar bisa makan makanan begituan setiap hari! Hehehe..."


"Huekkk!" balas Citra seperti ingin muntah.


"Hahaha..."

__ADS_1


"Aku ikut aminkan ya Citra! Hahaha..." tambahku membuat Citra ikutan tertawa pasrah.


Doa jadi orang kaya, semua orang pasti bercita-cita seperti itu.


Tak lama, azan Ashar berkumandang dari speaker besar di masjid sekitar pabrik.


Kami semua bangkit satu persatu meninggalkan ruang tengah dan bersiap sholat berjamaah.


"Sayang!"


"Ya, Mas?"


"Aku sholat di masjid ya?" kata suamiku.


Aku mengangguk dan tersenyum kecil.


Kakiku ikut melangkah mengantar Mas Jonathan sampai keluar pintu rumah.


Namun tiba-tiba...


"Mas, awas!!!"


Teriakanku terlambat. Suamiku terjatuh karena ada sosok hitam yang berdiri di depan pintu mendorongnya dengan satu telapak tangan amat besar.


Aku berlari melesat menghampiri Mas Jonathan yang terjungkal sampai bawah lantai menggelinding melewati beberapa anak tangga sampai teras rumah.


"Mas!!!"


"Tidak apa-apa, Sayang! Jangan berlari seperti tadi! Bahaya buat calon anak kita!"


Aku menghela nafas. Bisa-bisanya suamiku lebih memikirkan calon bayi yang ada di rahimku ketimbang luka-luka di tubuhnya akibat terjatuh tadi.


Aku geram melirik makhluk hitam tinggi besar yang termangu melihatku dan suami.


Perhatian apa? Nih, perhatian!


Brakkk.


Sengaja kudorong pintu rumah dengan kekuatan batin yang cukup besar.


"Yang? Kenapa?"


"Kesal sama pintu yang membuatmu jatuh, Mas! Hehehe..." selorohku dengan kalimat ngasal.


Makhluk hitam itu mengerang kesakitan. Telapak tanganku membekas di dada berbulunya yang lebat bahkan sampai mengeluarkan asap putih saking panasnya.


Berani kau lukai orang-orang kesayanganku, jangan bilang aku kejam dan tak punya perasaan! Pergi kau dari sini kalau tidak mau kujual ke pabrik blau!


Makhluk itu mendelik dengan mimik wajah ketakutan.


Entah mengapa, pabrik blau selalu jadi momok menakutkan bagi para lelembut. Apakah ada sejarah buruk di balik pabrik blau? Wallahu a'lam.


Makhluk itu langsung menghilang tanpa perlawanan.


Kubantu suamiku membersihkan sarungnya khawatir ada kotoran yang menempel.


"Ayang, Aku sudah wudhu!" selorohnya dengan senyuman lebar.


"Maaf..."


Dia mulai iseng menarik daguku hingga mendekat ke wajahnya.

__ADS_1


Cup.


"Ish! Dasar..." tukasku sambil mencubit pinggangnya.


"Sholat dulu ya?" katanya seraya melambaikan tangan dan berlalu dengan senyuman.


Ah, senangnya! Impianku mengantarkan suami sampai pintu untuk pergi ibadah kini jadi kenyataan. Alhamdulillah ya Allah.


"Hei kamu! Makhluk jelek! Kenapa masih berada di sekitar sini?" kataku setelah menoleh ke kanan dan ke kiri dan meyakini kalau keadaan rumah sepi.


...Maaf, Nyai......


Maaf, maaf! Seenaknya Kau buat suamiku jatuh! Sini kau! Biar kuhajar sekalian!


Dua sosok hitam tinggi besar dan makhluk perempuan berambut panjang muncul dari balik pintu.


"Nyai..."


"Kau lagi?"


"Guru yang memperkosaku ternyata melakukan hal yang sama lagi! Korbannya tidak hanya aku seorang! Bahkan ada salah satunya kini harus dirawat di RSJ Ibukota!"


"Ya Allah ya Karim! Manusia itu ya?!" umpatku terpancing emosi.


"Tolong, Nyai Ratu! Jika manusia dajjal itu dibiarkan begitu saja, akan banyak jatuh korban lagi dan lagi!"


"Aku yakin, Allah Maha Adil! Keadilan Tuhan adalah yang terbaik."


"Namun harus berapa banyak lagi korban-korban berjatuhan?"


"Aku tidak bisa bergerak sendiri! Aku juga sedang hamil!"


"Kakak,... Aku bisa membantu!"


Suara seorang pria.


"Airlangga!?!"


Aku senang, adik tiriku datang. Dia adalah putra Papa dari istri kedua. Dan Airlangga salah seorang yang memiliki kemampuan seperti Aku.


"Masuklah! Urusan ini nanti kita bicarakan lagi! Ayo! Sholat dulu!"


Aku mengajak masuk Airlangga dan menatap tajam ke arah makhluk-makhluk yang menatapku penuh pengharapan.


Jangan ikut masuk! Kalau kalian membangkang, Aku tidak segan memercikkan air doa pada kalian!


...Baik, Nyai Ratu. Tapi kumohon, bantuanmu!...


"Kita lihat nanti!"


Airlangga dan Aku masuk ke dalam. Kami bercengkrama dengan Mama Tiur dan Citra juga. Adikku yang ini memang jauh lebih pendiam. Mungkin masih canggung juga dekat denganku dan keluarga suami.


Airlangga ikut sholat Ashar berjamaah dengan kami dan pak Saleh menjadi imam shalat kami.


"Angga, ini kamarmu! Istirahat lah dahulu. Nanti Maghrib kita ketemu lagi dan baru kumpul bersama yang lain!" kataku setelah mengantarkan Airlangga ke kamar tamu yang terletak di lantai dua.


"Kakak, terima kasih!"


"Jangan sungkan, Ngga! Kamar kakak ada di lantai satu. Itu kamar Bang Genta dan yang itu kamar mas Jordan! Kalau butuh sesuatu, bilang. Jangan diam saja. Oke?"


"Iya kak. Terima kasih banyak!"

__ADS_1


Aku hanya mengangguk. Dia adikku satu-satunya beda ibu yang tersisa. Dua adikku dari Mama telah tiada. Jadi kini aku harus menjaga dua adik laki-lakiku.


BERSAMBUNG


__ADS_2