
Aku cepat-cepat masuk. Ingin mengetahui keadaan Mas Jo sampai Mama Tiur gugup dan gagap seperti itu.
"Astaghfirullahal'adziim...!"
Aku mengucek-ngucek kedua bola mataku. Mencoba memperjelas pandangan, khawatir kalau aku masih halusinasi setengah sadar karena terbangun dari mimpi.
Sesosok makhluk sedang menindih tubuh Jonathan. Lidah yang berwarna menjulur panjang hingga air liurnya menetesi wajah Mas Jo yang basah penuh keringat.
Secara umum beliau terlihat sesak sulit bernafas. Mungkin Mama melihatnya bagaikan sedang sakaratul maut. Padahal ada makhluk jahat yang sedang menungganginya seperti hendak menelannya hidup-hidup.
"Mama bantu baca ayat kursi!" pekikku langsung berlari menerjang makhluk itu.
Air yang kubawa bahkan sampai tumpah membasahi wajah Mas Jonathan.
"Liana! Kenapa diguyur?" teriak Mama Tiur terkejut karena air dalam gelas yang kubawa seolah sengaja kusiram ke wajah putra sulungnya.
"Mama baca ayat kursi!" teriakku lagi. Kali ini calon mama mertuaku menuruti.
Aku... Sedang berkelahi dengan makhluk jelek itu.
Fisiknya seperti manusia, tetapi kepalanya aneh dan lidah panjangnya itu yang membuatku jijik sekali.
Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz-dzolimiin...
Laa hawla wala quata illa billa hil'ali' hil- adziiim...
Qul a'udzu birobbin-Naas
Malikin-Naas
Ilaahin-Naas
Min sharril was waasil khon-Naas
Al-lazii yuwas wisu fii suduurin-Naas
Minal jinnati wan-Naas
Ya Allah! Hanya kepada Engkau-lah hamba minta pertolongan! Bismillaaah...
Makhluk itu berteriak memekakkan telinga. Hingga aku menyumbat lubang pendengaranku yang sakit mendengar jeritan kencangnya.
Wusss...
Asap putih tebal mengepul dan perlahan makhluk itu menghilang.
Kutiup wajah Mas Jonathan yang masih terpejam namun mulutnya menganga seperti orang yang kesulitan bicara.
__ADS_1
"Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyuuum!!!"
Kuusap wajahnya yang basah kena air doa yang kubawa.
Perlahan wajahnya yang tadi pucat pias berangsur-angsur dialiri lagi darah dan bersemburat pipinya.
"Mas..., Mas! Istighfar, Mas!"
"As...astagh..firullaaahal'adziiim..."
"Alhamdulillaaah!"
"Alhamdulillah!!! Gege, Gege! Hik hik hiks..."
Mama Tiur memeluk tubuh Mas Jonathan. Kemudian merengkuh aku sambil mengucapkan kata terima kasih berkali-kali.
Aku mengambil segelas air putih di atas nakasnya. Dan membantu meminumkannya setelah Beliau bangkit dari tidurnya.
"Minum dulu, Mas! Baca bismillah!"
Aku masih gemetar dan jantungku juga masih berdebar. Pertarungan tadi membuatku masih membayang wajah makhluk buruk rupa itu.
Gila rasanya. Benar-benar gila.
Mataku jadi bisa melihat makhluk-makhluk aneh yang dulu begitu mendengar nama setan, jin dan sebangsanya saja aku paling takut.
Walau begitu, aku tidak ingin siapapun tahu. Termasuk Jonathan, calon suamiku.
Tetapi mata batin seorang ibu yang polos dan suci ternyata bisa melihat kemampuanku dalam mengatasi permasalahan dengan urusan gaib.
Mama Tiur mengucapkan kata terima kasih lagi sebelum aku pergi beranjak dari kamar mas Jonathan.
"Liana, terima kasih!"
"Mama, jangan seperti itu. Liana tidak berbuat apa-apa. Allah yang membantu Liana untuk membuat Mas Jonathan tersadar dari kolaps. Mas Jo adalah calon suami Liana, sudah sepantasnya Liana membantu keadaannya yang sedang sakit!" bisikku untuk menenangkan beliau. Aku tak ingin Mama gembar-gembor ceritakan hal ini pada orang lain. Even itu kepada Jordan ataupun Citra.
Aku kembali ke kamar. Tapi tak melanjutkan tidur, karena tanggung sudah pukul empat pagi. Sebentar lagi masuk waktu subuh.
Ya Allah Yang Maha Suci, berilah aku petunjuk-Mu! Sepertinya aki-aki peyot itu semakin mendesakku untuk mendatanginya! Ya Allah... Aku harus apa? Apa aku harus menemuinya? Atau... Berilah aku jalan untuk bisa bertemu orang tua itu tanpa harus datang ke tempatnya. Aamiin...
Jujur aku takut dan was was. Jika sampai hari H aku belum juga bertemu aki-aki tua renta itu, khawatir hari bahagiaku dia buat jadi hari derita. Naudzubillahimin-dzalik.
Aku memikirkan jalan keluarnya bagaimana. Tapi masih belum ada jawaban juga pencerahan.
Sholat subuhku sengaja kulakukan sendiri dalam kamar untuk privasi ibadahku yang kuperpanjang lewat doa-doa tambahan guna meminta kelancaran hajat niat kami.
Treeet... Treeet... Treeet
__ADS_1
Ponselku berdering beberapa kali.
Ternyata dari Mama Farida.
"Hallo, assalamualaikum, Ma!"
...[Waalaikumsalam... Liana! Mama mau ajak kamu nyekar ke makam Eyang Uti sama Eyang Kung. Kamu mau gak? Ada waktu?]...
"Oh, boleh, Ma! Kapan?"
...[Nanti pukul sepuluh. Jadi dzuhur kamu sudah ada di rumah!]...
"Iya, Ma! Terus gimana ini, Liana jemput Mama di rumah atau..."
...[Liana mau jemput Mama? Boleh. Mama tunggu ya!?]...
"Oke. Liana akan minta antar pak Saleh otewe ke rumah Mama nanti!"
...[Oke. Makasih, Sayang! Sampai ketemu nanti. Assalamualaikum...]...
"Iya, Ma! Waalaikum salam!"
...Klik....
Aku menghela nafas panjang.
Kulirik jam di dinding. Pukul lima tiga puluh menit.
Sepertinya Mbak Citra sudah mulai sibuk membuat sarapan pagi! Gumamku dalam hati.
Citra sudah seperti keluarga sendiri bagi Mama Tiur dan Mas Jonathan. Hanya Jordan saja yang kurang begitu dekat dengan Citra. Entah mengapa. Mungkin diantara mereka ada kisah yang membuat jadi begitu. Aku tidak terlalu ambil pusing. Karena itu bukan urusanku juga.
Setelah membereskan ranjang tidur dan merapikan meja tulis serta sapu lantai kamar, aku beranjak keluar.
Terkesima aku melihat Citra sedang menarik-narik kaos oblong milik Genta yang tampak tertawa-tawa begitu cerahnya.
Kenapa mereka terlihat akrab sekali? Aku agak curiga juga dengan hubungan mereka yang semakin lengket. Tapi..., keduanya single. Tidak jadi masalah, cuma yang kutakutkan kalau Genta sampai kebablasan. Maklum! Jika ada dua orang berlainan jenis terlalu rapat berdekatan, akan ada yang ketiga yaitu setan. Apalagi... Keadaan rumah ini jika siang hari memungkinkan keduanya makin asyik bermesraan. Dan iblis semakin suka menggoda iman dua insan yang sedang di mabuk kepayang. Hm...
"Bikin apa buat sarapan kali ini, Mbak?" tanyaku membuat keduanya tersentak kaget oleh kedatanganku.
Aku hanya bisa tersenyum tipis, karena Citra seperti tahu isi hatiku sehingga ia langsung melepaskan tangannya dari kaos oblong yang dikenakan Genta.
"Ini, Kak! Rencananya mau buat nasi goreng sosis! Hehehe..."
Aku tersenyum menatap Citra. Lalu beralih ke Genta dan hanya mencolek bahunya supaya ia faham arti colekanku.
Cinta memang bisa membutakan mata juga hati penderitanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG