DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 36 - MENIMBA ILMU DARI MAS JONATHAN


__ADS_3

"Ayo Liana, sudah jam sepuluh. Kita harus berangkat sekarang, khawatir terjebak macet di jalanan Ibukota!"



Aku mengangguk.


Perjalanan kerja bagaikan taman wisata bagiku. Selalu antusias karena akan banyak memberiku pengalaman dan pelajaran hidup.


Mas Jonathan sudah siap dengan stelan jas resminya. Terlihat semakin berwibawa dan berkharisma. Berbeda sekali dengan ketika ia memakai kaos oblong tadi. Tampak seperti usia 30-an.


Seperti biasa, Boss-ku itu menyetir mobilnya sendiri. Aku mulai mengamati setiap pergerakan Mas Jonathan dan menghafal kebiasaan-kebiasaannya ketika mengemudi.


Eh? Kenapa aku jadi terkesan ingin mengenalnya lebih jauh? Apakah aku yakin dengan perasaanku untuk menerima lamarannya dua bulan lagi? Haish, Liana! Berhenti berfikir terlalu jauh. Jangan mengkhayal terlalu tinggi. Kau akan sangat sakit ketika jatuh nanti.


Aku harus sadar diri. Duduk di samping Mas Jonathan yang tampan, cool terasa jomplang bagiku. Walau kini penampilanku terlihat jauh lebih baik dengan balutan pakaian mahal dan juga make up profesional, tetap saja aku minder.


Badanku yang lebar, betisku yang besar, juga dada membusung membuatku terlihat paling mencolok.


Bagaimana bisa Mas Jo nyaman menentengku kesana kemari dengan tubuh subur begini? Apa dia tidak malu? Apa dia tidak takut pada pandangan rekan bisnisnya nanti? Apakah aku semenarik hatinya untuk dibawa-bawa?


Aku jadi teringat pada mantan suamiku yang kadang seperti risih membawaku serta meski itu undangan ke tempat hajatan.


Motor Irsyad yang besar katanya bisa cepat rusak jika harus membonceng tubuhku yang ekstra large meski hanya candaan. Padahal di surat undangan tertera namanya ditambah istri. Tetapi Irsyad lebih suka naik motor gedenya ketimbang naik mobil bersamaku. Itupun kami jarang undangan berbarengan. Alasannya, toko online tak bisa ditinggal kosong. Jadi kami bergantian pergi ke undangan.


Mengingat masa itu membuat perutku mual dan kepala jadi pusing.


"Kenapa? Apa AC-nya terlalu dingin? Apa,"


"Tidak, Mas! Tidak apa-apa, Saya hanya merasa tidak percaya diri berada di samping Mas Jonathan!"


Cekiiit!!!


Mas Jo menghentikan mobilnya tiba-tiba kepinggir jalan raya. Ia menghela nafas pendek dan mata menatap lurus ke depan.


"Kamu...canggung jalan denganku karena usia kita terpaut jauh delapan tahun? Apa aku terlihat tua berjalan bersamamu, Liana?"


Aku termangu. Tak menyangka kalau Mas Jo bisa kekanak-kanakan juga. Ia cemberut dengan bibir mencucut. Manis juga tingkahnya. Gumam hati kecilku jadi ingin tertawa geli.


"Katanya kita harus tepat waktu tiba di tujuan?" tanyaku berusaha mengalihkan perhatian.


"Aku sedang bahas masalah perbedaan umur, Lian! Please jangan abaikan aku!"


Sontak aku melongo. Sungguh tak kuduga. Mas Jo ternyata bisa manja juga.


"Maaf, Mas! Terpaut delapan tahun itu tidak terlalu jauh juga, Mas! Justru wajah dan badan Saya ini terlihat lebih tua dari Mas. Masa' sih Mas tak memperhatikan keseluruhan fisik saya ini? Bu Bianca pernah bilang, tipe wanita idaman Mas itu gadis cantik bertubuh ramping. Bukan yang bulat seperti saya ini!"


"Aku sudah pesan alat-alat kebugaran via toko online. Kemungkinan lusa tiba di rumah. Kita bisa nge-gym bareng. Tak perlu pergi ke fitness center. Hm?"


Aku lagi-lagi tertegun dengan langkah yang diambil Mas Jonathan. Sangat cepat secepat kilat.

__ADS_1


Beli alat-alat kebugaran? Untuk menurunkan berat badanku yang gendut ini?


"Maaf, Lian! Tadinya aku ingin berikan surprise. Tapi...kamu terlalu rendah diri dengan tubuhmu yang sebenarnya tidak terlalu gemuk juga! Aku sudah berjanji, akan jadi trainermu menurunkan berat badan. Dan aku bukan orang yang mudah melupakan ucapanku sendiri."


Seperti itu. Rupanya demi untuk menurunkan berat badanku, Mas Jonathan sampai memperlakukanku sedemikian.


"Apa... Mas malu jalan sama saya yang gendut ini?" tanyaku sedikit kecewa.


"Sudah kubilang, kamu tidak terlalu gemuk, Liana! Kamu cantik, menarik dan memiliki aura luar biasa dibanding perempuan lain. Tapi kamu tidak percaya diri dengan penampilanmu sendiri karena berat badan yang berlebih. Iya khan? Dan aku, ingin membuatmu nyaman serta jadi insan yang bahagia dalam menjalani hidup!"


Aku melamun membayangkan tubuhku langsing kembali seperti masa muda dulu.


"Adikku juga pernah kutraining. Butuh waktu enam bulan untuknya memiliki badan ideal sesuai keinginannya. Didi bahkan kini memiliki dada bidang dengan perut six pack kotak-kotak walau dari luar terlihat ramping. Apa... Kamu mau perutmu kotak-kotak juga?"


"Ish! Mas!!!"


"Hahaha... Akhirnya, kamu membuatku tertawa lagi. Hm, ayo kita lanjut jalan. Janji jangan berkata yang merendahkan diri sendiri, Liana! Oke?"


Aku senang. Mas Jonathan memang memiliki hati yang hangat khas pria dewasa bijaksana. Rupanya dia tidak suka dengan sikapku yang rendah diri dan tak bisa menerima keadaan sesuai yang Tuhan beri.


Kami kembali melanjutkan perjalanan dinas.


Menuju sebuah gedung pertemuan tak jauh dari balai kota, mengingatkanku kalau dulu pernah beberapa kali ke tempat ini ketika perusahaan percetakan Bang Irsyad mengadakan family gathering.


Kala itu, bobot tubuhku belum sebesar ini. Masih bisa berjoget ria bersama Irsyad mengikuti irama musik arti pendukung acara yang dibooking perusahaan.


Hhh...


Langkah kakiku agak oleng, hingga kaki ini salah melangkah lalu terpeleset dan nyaris terjungkal.


Namun,


Set.


Seseorang yang berjalan di belakangku langsung menahan tubuhku. Refleks aku berdiri tegak, membungkuk dan mengucapkan terima kasih atas pertolongannya.


"Liana?"


Mata kami saling bertemu.


"Bang Irsyad?"


Matanya terus menatapku tak berkedip.


"Liana? Kamu tidak apa-apa?"


Mas Jonathan yang berada di depan menoleh dan langsung menarik pergelangan tanganku agar mendekat ke arahnya.


Kami, seperti membentuk bangun segitiga. Dan saling pandang.

__ADS_1


"Liana, apa kabar?" tanya Irsyad membuatku mendesis sebal.


"Baik."


"Liana, siapa,"


"Mantan suamiku!"


Mata Mas Jonathan membulat. Kini ia ikut menatap tajam Irsyad.


"Permisi, kami buru-buru!" tukas Mas Jo sembari merangkul bahuku erat.


Kubiarkan Irsyad melongo dan bermain dengan fikirannya yang bebas.


Selamat bersu'udzon ria! Sungutku dalam hati.


Kami ternyata memasuki sebuah ruangan. Dan... Sebuah aula besar penuh audiens. Tentu saja membuatku agak gugup melihat banyaknya pasang mata langsung menatap kami.


"Duduklah di kursi tamu kehormatan, Lian! Aku harus jadi moderator dulu di seminar ini!" bisik Mas Jo sembari menuntunku ke kursi tamu paling depan.


Aku berusaha seprofresional mungkin. Kapasitasku disini adalah asisten pribadinya, bukan calon istri. Jadi aku tidak boleh melakukan kesalahan besar.


Kukeluarkan handphone hadiah Mas Jo tadi pagi juga hape jadulku sendiri. Berhubung hape mas Jonathan jauh lebih canggih dan pasti resolusi gambar kameranya jauh lebih bagus, maka aku akan mengambil rekaman video lewat ponsel baru itu.


Sementara ponselku kugunakan untuk merekam suara Mas Jonathan. Aku membutuhkan perbandingan dari keduanya untuk kupelajari hasilnya nanti.


Mas Jonathan benar-benar hebat.


Selain sebagai pengusaha handal, ia juga seorang moderator atau pembawa acara yang keren. Ia mampu membawa suasana seminar menjadi lebih berkelas dan tidak monoton lewat joke-joke segar serta mampu menjadi perantara yang diandalkan bagi peserta seminar dan para narasumber itu sendiri.


Aku benar-benar kagum pada Mas Jo dan ikut bertepuk tangan memberinya standing applause di akhir acara.


Aku harus banyak belajar juga menimba ilmu dari pria yang kini sedang mendekatiku itu. Bukan memanfaatkan kebaikannya yang terus-terusan memberiku kenyamanan serta fasiltas. Tekadku dalam hati.


............


"Mas keren sekali!" pujiku dengan suara pelan padanya setelah acara usai. Ia hanya tersenyum sembari menggenggam jemariku.


Ternyata aku baru sadar, kalau genggaman hangatnya ini adalah cara dia menyalurkan rasa percaya dirinya yang tinggi padaku. Karena kini aku menyadari betapa ia suka menggenggamku setiap habis pertemuan. Baik ketika penandatanganan kontrak kerja tempo hari dan juga hari ini.


Kami berjalan menuju ruang kafe tak jauh dari aula seminar. Para pengisi acara seminar dijamu istimewa oleh panitia. Termasuk Mas Jonathan dan aku.


Bincang-bincang santai membuatku membuka mata, betapa dunia ini luas dan tak hanya selebar daun kelor.


Ternyata banyak diantara para pengusaha serta praktisi bisnis perempuan yang sudah menikah tapi tetap melakukan aktifitas diluar kapasitasnya sebagai seorang ibu rumah tangga.


Dari obrolan mereka aku berkaca, ternyata selama ini aku kurang bisa menempatkan diri sebagai seorang istri.


Seseorang pernah mengatakan, istri itu harus berdiri di samping suami. Bukan berjalan di belakang dan hanya mengekor menjadi bayang-bayang. Istri juga harus berkembang seiring berkembangnya pola pikir dan tata cara hidup suami sehingga tidak monoton dan ngoyo dalam menjalani kehidupan rumah tangga hingga timbul kebosanan yang memicu keretakan. Memancing WIL dan PIL untuk masuk merusak segalanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2