
Mataku basah, banjir air mata.
Sesosok tubuh mungil berukuran 2700 gram kini berada dalam dekapanku.
Kuperhatikan wajahnya lekat-lekat.
Matanya terpejam dengan bulu mata panjang lentik, begitu cantik. Hidungnya..., mungil. Alisnya berwarna pink kemerahan. Pipinya chubby gemoy walaupun mukanya tampak secomot. Bibirnya merah dan kecil, tapi padat berisi.
"Subhanallah... cantiknya Putri Ibu!" gumamku tanpa bisa menahan keharuan yang timbul dari dalam hati.
"Sangat cantik! Sayang mau dipanggil 'Ibu'?" sela suamiku yang duduk di sampingku dengan wajah sumringah.
Tangannya sesekali menghapus air mataku agar tidak menetes ke tubuh putri cantik kami.
Aku mengangguk.
"Kenapa tidak Mama? Mami mungkin?"
Aku tertawa menyeringai.
"Ibu. Sepertinya panggilan yang sangat manis dari si cantik Aprilia Jovanca Harvest."
Mas Jonathan mengangguk, mengiyakan.
"Berarti Aku 'Ayah'? Hm? Iya Ibu Sayang?" gumamnya menggodaku dengan lirikan mautnya.
"Iya, Ayah Sayang!" jawabku dengan senyuman termanis.
Mas Jonathan..., terima kasih banyak. Terima kasih telah kau jadikan aku sebagai perempuan yang sempurna di dunia ini. Terima kasih sekali.
Menetes lagi air mataku.
Mengapa hatiku begitu melankolis. Keharuan ini membuat rasa syukurku bertambah dan terus bertambah.
Terima kasih ya Allah! Terima kasih banyak atas semua kebaikan dan kasih sayang-Mu padaku. Allah Maha Baik. Allah Maha Pengasih. Puji syukurku untuk semua rahmat-Nya pada keluarga kecilku.
Aprilia menangis. Dia sepertinya haus dan ingin minum susu.
Wajah Mas Jonathan memerah. Tangannya grogi ketika membantuku membuka tali Br* yang terkait untuk memudahkan bayi kami menyusu di pay*daraku.
"Oa oa oaaa... Oa oa oaaa..."
"Sabar ya Sayang! Cup cup cup... Bismillahirrahmanirrahim..."
Alhamdulillah air susuku tidak butuh waktu lama untuk keluar dari wadahnya. Ini berkat bantuan Mas Jonathan yang sering melakukan pijat laktasi dan pijat oksitosin.
Mataku seolah tak mau beranjak pergi dari si kecil imut nan menggemaskan.
__ADS_1
Rasanya benar-benar luar biasa, mendapati kenyataan kalau seorang bayi perempuan semalam telah hadir disini setelah sembilan bulan lebih berkembang dan hidup dalam rahimku.
Mama Tiur, Citra, Jordan, Genta dan juga Angga telah pulang semalam.
Mereka menemani kami hingga pukul dua belas. Dan baru beranjak pulang ketika sekuriti rumah sakit memberikan peringatan untuk yang kesekian kalinya agar pengunjung segera pulang.
Tapi untuk yang pertama kali keluarga besar kami seperti bandel dan tidak mengindahkan peraturan rumah sakit.
Kami semua terpukau dengan bidadari cantik yang baru saja masuk ke dalam keluarga besar Harvest.
Aprilia Jovanca kembali tertidur pulas.
Wajahnya begitu merah pertanda jika besar nanti kulitnya pasti putih susu seperti Ayahnya.
Mas Jonathan membantuku menggendong Aprillia dan menaruhnya kembali di box bayi.
Suamiku memijat pelan punggungku setelah mengolesi setetes minyak telon hingga tubuh ini kembali segar.
"Minumnya, Sayang!"
Aku mengerjapkan mata. Bahagia rasanya tak terkira.
Suamiku hebat. Suami siaga idaman setiap wanita.
Kukecup sebelah pipinya. Membuatnya tersipu sambil berbisik, "Hei, hei... Jangan mancing-mancing! Aku harus puasa sampai waktu nifas mu habis, Sayang!"
"Hehehe..." seringaiku malu hati sendiri.
Tangannya melap wajahku dengan tissue yang tersedia di meja. Sangat telaten dan sabar sekali pembawaannya.
"Mas..., Aku cinta padamu!" gumamku dengan suara bergetar. Dan suamiku langsung merangkulku erat.
"Terima kasih, Sayang! Terima kasih!"
"Aku yang harusnya berterima kasih, Mas! Aku sangat bahagia!"
"Aku juga. Sangat sangat bahagia! Sampai setiap kali sujud airmataku tak bisa kutahan.. Betapa Aku sangat bahagia, Liana! Terima kasih banyak!"
Kami saling bertatapan.
Ada doa yang sama yang keluar dari relung hati ini.
Semoga Allah menjadikan rumah tangga kami senantiasa bahagia, sakinah mawadah warohmah. Selalu bersama dalam kondisi dan keadaan apapun juga. Selalu bisa saling berpegangan dan mengatasi setiap permasalahan yang ada. Aamiin...
"Ish! Pasutri ini selalu saja bikin hatiku panas, gerah dan emosi!"
Kami terkejut. Jordan datang dengan mulut mencucut. Seketika Aku dan Mas Jonathan tertawa berbarengan.
Rupanya Jordan datang bersama Habibah.
__ADS_1
Gadis cantik itu membawa sebuah bungkusan kado berwarna merah muda dengan pita emas dipinggirannya.
"Wah, Aprilia kedatangan Tante cantik!" seruku berusaha ramah.
Tapi tiba-tiba Aprilia menangis keras. Putriku membuat kamar ruang inap VVIP yang Suamiku booking seketika ramai suara tangisannya yang agak mengkhawatirkan.
"Sayang, sayang! Cup cup cup! Ada apa, Nak? Sini, sini... Ibu gendong ya?"
Suamiku ikutan panik. Dia langsung berlari menuju ruang suster jaga. Dan kembali dengan seorang perawat yang masih begitu muda. Mungkin perawat magang di rumah sakit itu.
"Saya bawa debaynya ya Bu Liana!?"
"Kemana, Sus?" tanyaku agak bingung. Biasanya suster memeriksa tanpa perlu membawa bayi keluar ruangan. Apalagi tanpa pengawasan dokter yang menangani.
"Tunggu, Sus! Kenapa tidak diperiksa dan diganti pakaiannya disini? Ada apa dengan putri saya?" tanyaku bingung.
"Baby Aprilia mau digantikan pakaiannya. Bukankah Ibu akan pulang siang ini setelah Ibu Tiur menjemput?"
"Oh iya. Benar juga!" gumamku baru menyadari.
Entah mengapa, hati ini merasakan sesuatu yang tidak enak. Seperti..., akan ada sesuatu.
Ah, tidak. Aku tidak boleh berfikir buruk selalu. Aku harus selalu husnudzon. Tidak baik untuk kesehatan mentalku juga jika terlalu main perasaan.
"Baiklah!"
"Suster bagaimana sih? Saya baru mau lihat keponakan, tapi malah dibawa ke ruang bayi. Sebentar, Sus! Saya mau ambil gambarnya dulu! Padahal mau gendong, tapi... nanti setelah dari ruang perawatan bayi deh!"
Jordan seperti enggan membiarkan putriku berlalu dibawa suster perawat yang kuperkirakan sekitar berumur 23-24 tahunan. Sekilas sepantaran Habibah, kekasihnya Jordan.
Akhirnya aku mengikhlaskan Aprilia di bawa pergi suster perawat menuju ruang khusus bayi.
Berbincang santai dengan pasangan beda usia lumayan jauh itu tak serta merta fikiranku lepas dari Aprilia.
Ini sudah sekitar dua puluh menit. Tapi kenapa suster perawat itu belum juga kembali membawa putriku?
"Mas!"
"Ya, Sayang?"
"Coba Mas tengok ruang bayi. Kenapa Aprillia belum juga balik? Aku koq...?"
Jantungku berdebar. Meskipun Habibah menggoda dengan mengatakan kalau Aprilia sedang kenalan dengan bayi-bayi cowok di ruang bayi, tapi tidak membuat kecemasanku berkurang.
Suamiku langsung bergegas menuju ruang bayi.
Dan tiba-tiba terdengar suara keributan yang makin mendebarkan.
Ada apa? Ada ribut-ribut apa diluar sana?
__ADS_1
Jordan bahkan sampai keluar kamar untuk memastikan ada masalah apa di luar ruang rawat inapku.
BERSAMBUNG