
Jordan pingsan!?!
Kami sekeluarga di buat panik mendengar teriakan Mas Jo kalau adik satu-satunya itu semaput tak sadarkan diri.
Lagi-lagi aku hanya bisa mengelus dada. Ternyata ada sesosok makhluk berjenis kelamin perempuan yang berhasil melarikan diri dari cipratan air doaku dan terperangkap ke dalam tubuh Jordan yang sedang kurang fit kondisinya.
Saat ini Jordan memang terlihat sedang pingsan.
Matanya terpejam, bibirnya mengatup. Tapi dari pandangan batinku, perempuan itu justru hanya inginkan tempat yang nyaman dan hanya tertidur tenang.
Sesekali matanya menatapku malu-malu.
"Hhh... Keluarlah! Jangan menempati jasad manusia sesuka hati!" gumamku membuat Mas Jonathan mulai menyadari, kalau adiknya bukan pingsan, melainkan kerasukan.
"Yang!?" ujar Mas Jonathan seraya menggenggam jemariku yang mengepal.
Jujur aku memang gemas. Bisa-bisanya makhluk itu tidak mau hengkang dan justru memasuki raga Jordan yang memang memiliki tulang wangi atau iga renggang.
Aku baru menyadari Jordan memiliki kelebihan satu itu setelah sempat beberapa kali mengamati dirinya yang mempunyai kepekaan lebih dalam menyikapi hal ghaib yang pernah terjadi beberapa kali.
Ia memang tidak pernah menceritakan sesuatu tentang hal ghaib yang diketahui. Tapi dari gerak-geriknya serta keingintahuan yang besar hingga seringkali memepet almarhum Wak Hardi untuk menanyakan ini-itu semakin membuatku yakin.
Jordan bangun dan tersadar dari pingsannya. Tetapi aku melihat makhluk astral itu masih menguasai tubuh Jordan hingga aku mencoba menjentikkan keningnya tapi ternyata di tangkis Jordan.
"Liana?"
Aku bingung. Mas Jo, Mama dan yang lainnya turut memperhatikanku.
"Jordan, istighfar!" kataku mencoba memanggil roh Jordan agar lebih dominan ketimbang roh perempuan yang merasuknya.
"Astaghfirullahal'adziiim!!!"
Semua kembali memperhatikanku. Membuat aku jadi jengkel dan mencoba menarik urat besar yang ada di bagian bawah lutut Jordan.
"Aaarrrgggh!!! Sakit, bodoh!"
Semua kembali terkejut. Jordan tidak pernah berkata kasar. Terlebih lagi kepadaku.
"Jangan begitu, Ratu! Kalau kau memang jago, bantu aku, bukan menyiksaku!!!" kata Jordan dengan suara keras.
Mama Tiur, Jonathan dan semua yang ada akhirnya mengerti kenapa aku agak kasar pada Jordan.
"Siapa kamu? Kenapa memasuki raga saudaraku?"
"Cih! Ratu jahat! Pria ini sama sepertiku! Memendam rasa cinta sampai frustasi dan akhirnya aku nekad bunuh diri!"
"Astaghfirullahal'adziiim!!!"
"Jordan tidak sama denganmu. Kalian berbeda alam!"
"Aku mencintai Jordan sedari muda! Aku...sangat mencintainya tetapi dia tidak pernah meresponku! Katanya, ada perempuan lain dihatinya. Yaitu adalah Ratu! Tapi Ratu malah memilih kakaknya dan kini terkesan mengabaikannya!"
"Kamu salah! Kami semakin akrab dan erat karena sudah menjadi keluarga!"
__ADS_1
"Bohong!!!"
"Keluarlah! Pergilah ke alammu!"
"Aku akan pergi, sampai Jordan mau ikut serta denganku. Dan kami akan jadi pasangan abadi di dunia lain!"
"Kalian beda alam! Kalian tidak bisa bersama!"
"Ratu tidak bisa menolong perasaannya yang sedih karena ditinggal dan dikecewakan olehmu sendiri! Aku... yang akan menolongnya!"
"Tidak! Jordan adalah keluargaku. Kau tidak bisa menolongnya apalagi membawanya! Pergilah! Atau aku akan memberimu pelajaran!"
"Hm! Aku tahu Ratu sakti. Tapi, kekuatan cintaku pada Jordan jauh lebih hebat karena hati yang tulus murni cinta sampai mati!"
Mata kami saling bertatapan.
Rasa jengkel yang membludak perlahan membuatku jadi iba.
Perempuan ini menyebalkan. Tapi kenapa kehidupannya sangat menyedihkan?
Samar-samar aku mulai masuk melihat kehidupan masa lalunya lewat pancaran mata sayu di wajah Jordan.
Perempuan yang cantik juga sederhana. Berumur lima tahun di bawah Jordan dan sangat terobsesi pada adik iparku yang ternyata adalah guru les privatenya.
Hm. Jordan rupanya pernah mengajar anak-anak SMA setelah menyandang gelar sarjana pendidikan Bahasa Inggris.
Gadis itu bernama Maharani. Kala itu usianya baru 15 tahun dan kelas satu SMA.
Usia yang sangat muda! Tapi kenapa dengan mudahnya mengambil keputusan meloncat dari lantai dua belas gedung apartemen milik keluarganya? Sangat disayangkan...
Aku hanya menghela nafas.
Perempuan yang menempati jasad Jordan terus berkoar-koar.
"Ayo, ayo Ratu lihat sendiri betapa Jordanku terobsesi denganmu!"
"Jangan mempermalukan pemilik tubuh yang sedang kau tempati, dasar perempuan tak punya hati!" umpatku sengaja menahannya untuk tidak lebih jauh membuka aib Jordan di depan Kakak serta Maminya itu.
Aku tahu perasaan Jordan. Tapi aku sudah memutuskan memilih Jonathan. Otomatis tidak boleh kepo apalagi mengasihani Jordan hanya karena belum bisa move on dariku sampai saat ini.
Melihat semua rahasianya adalah perbuatan yang kurang etis. Setidaknya jangan sampai Jordan jadi malu setelah dirinya sadar dan perempuan bernama Maharani itu pergi meninggalkan jasad Jordan.
"Kenapa kamu bunuh diri, Maharani?"
"Kamu tahu namaku, Ratu? Aha! Aku lupa, kau sakti mandraguna! Hehehe..."
Iya terkekeh. Dan kini semua orang tersadar, kalau suara tawa itu memang bukan tawanya Jordan.
"Sudah kukatakan, aku terlalu mendamba kak Jordan!"
"Bohong! Cinta suci bukan yang membebani. Cinta suci justru akan membiarkan cinta pergi mencari kebahagiaannya sendiri. Dan selalu mendoakan kebahagiaan tanpa rasa mendendam! Jordan sudah di fase itu, Maharani!"
Jordan yang terasuk itu menangis.
__ADS_1
Isakannya terdengar pilu, memang. Karena kehidupan sang pemilik roh ini begitu menyedihkan.
Sedari kecil dituntut lebih oleh kedua orang tuanya. Walaupun hidup serba berkecukupan, tinggal di rumah mewah. Tetapi tidak menjamin seseorang hidup bahagia.
Kedua orang tuanya adalah orang-orang yang memiliki integritas tinggi dalam hidup. Mereka adalah pasangan doktor dan profesor. Otak mereka diatas rata-rata.
Sementara sang putri yang anak ketiga dari empat bersaudara itu ternyata memiliki batas kemampuan dibawah standar harapan mereka. Berbeda dengan saudaranya yang lain. Maharani sedikit kesulitan untuk mengimbangi keluarga mereka yang memang menuntutnya terus dan terus mengembangkan kemampuan.
Kuusap bahu Jordan. Tetapi suamiku menarik jemari ini agar tidak melanjutkan perhatianku pada adiknya.
Akhirnya Mas Jonathan memperlihatkan kecemburuannya setelah beberapa bulan kami bersama sebagai suami istri.
Jujur aku senang. Tetapi saat ini tubuh yang dihadapanku bukanlah Jordan yang asli. Melainkan seorang gadis yang butuh penghiburan.
"Kamu cinta Jordan! Biarkan Jordan bahagia. Kalau bisa, mintalah pada Allah Ta'ala untuk kebaikan Jordan. Itulah cinta sejati, Maha!"
"Ratu tahu panggilan kak Jordan padaku? Hik hik hiks... Aku rindu kak Jordan memanggilku dengan sebutan itu."
"Jordan selalu mengingatmu!"
"Bohong! Kak Jordan bahkan tidak pernah sekalipun mengunjungi makamku!"
"Itu karena Jordan tidak tahu!"
"Hik hiks... Kami berbeda keyakinan! Kakak Jordan tidak merespon cintaku! Dia mengabaikan perasaanku, tapi tetap baik mengajari segala hal."
"Jordan selalu baik pada siapapun! Bahkan padaku yang dulu selalu membully-nya."
Aku termenung mengingat kembali masa lalu.
"Ratu... tolong sampaikan padanya, aku rindu Kak Jordan yang baik hati dan dewasa setiap kali mengajarkan mata pelajaran bahasa Inggris padaku yang akan kuliah di UK!"
"Akan ku sampaikan, Maha! Aku juga akan bilang padanya untuk menyambangi kuburanmu di daerah Rancamaya."
"Iya! Aku sedih, ketika harus mengakhiri pelajaran karena Mas Jonathan melanjutkan kuliah S2 nya. Katanya dia tidak bisa mengajariku lagi. Sibuk persiapan kuliah di kampus baru. Nomor kontaknya juga berganti, aku tidak bisa menghubunginya lagi. Itu yang buat kusedih. Hik hik hiks..."
"Jordan pasti punya alasan saat mengganti nomor ponselnya, Maha! Kemungkinan hapenya ada yang curi. Itu bisa saja terjadi bukan?"
"Aku depresi, tidak bisa menghubunginya. Aku juga stress Papiku menyuruhku menaikkan nilai akademisku sesuai harapan mereka. Aku..., aku nekad naik ke jendela apartemen. Kukira akan ada bahagia, Kak Jordan datang menghiburku. Tapi..., itu hanya ada dalam novel percintaan dan drama sinetron saja. Sampai aku benar-benar nekad terjun, tidak ada siapapun yang datang menolong!"
Hhh...
Hanya hembusan nafas panjang yang bisa kulakukan.
Kupeluk tubuh Jordan erat.
Aku dan roh Maharani menangis sesegukan.
Betapa hidup ini begitu keras dan kejam bagi orang-orang yang lemah seperti kami.
"Kamu salah mengambil keputusan, Maha! Hiks hiks... Minta ampunlah pada Allah Ta'ala. Minta pengampunan-Nya! Tunjukkan jalan kebenaran dan hidup bahagia di alam yang sudah Allah tentukan untukmu, Maha! Aku yakin, kau akan lebih bahagia! Percayalah, Allah Maha Baik!"
"Hiks hiks...! Tolong doakan aku, Ratu! Aku kesepian. Aku kedinginan! Aku tidak bisa hidup tenang bahkan sampai menjadi pengikut manusia bernama Subur dengan janji kebahagiaan, tetap tidak bisa kudapatkan. Sekarang Subur sudah hancur. Hidupnya pun bagai mati segan hidup tak mau. Keluarganya sendiri mulai mengabaikan karena kerjanya berteriak-teriak membuat pusing juga kesal mereka! Kami semua tidak lagi terurus dan akhirnya pergi mencari tempat persinggahan lainnya."
__ADS_1
Hm... Ternyata seperti itu. Para makhluk halus ini dibiarkan tanpa pengurusan lagi sehingga kabur dan pergi mencari manusia durjana lain yang ingin bersekutu dengan mereka.
BERSAMBUNG