DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 77 - HARI KEDUA BERUMAH TANGGA


__ADS_3

...Sudah kukatakan bukan? Bahwa hanya aku laki-laki perkasa yang bisa membuatmu bahagia, Nyai Ratu... Hahaha... Hahaha......


Aku tersentak. Terbangun dari tidur yang memang tak nyenyak karena tidur pisah ranjang dengan suami di malam pertama.


Suara aki-aki gila itu! Rupanya... rupanya dia penyebab semua ini! Ya Allah..., sepertinya aku memang harus bertindak. Ini tidak bisa kubiarkan begitu saja. Aku harus melakukan sesuatu!


Pukul empat lewat, aku pergi keluar kamar. Menuju ruang ibadah yang berada di lantai bawah.


Ternyata kami berpapasan. Aku... dan Mas Jonathan.


Mata kami saling memandang penuh derai air mata.


"Mas!"


Dia memelukku erat. Kami berangkulan sampai membatalkan wudhu.


"Maafkan aku, istriku! Maaf..." isaknya penuh penyesalan.


Aku faham.


Sangat faham dengan keadaannya semalam.


Mas Jonathan pasti sangat malu. Dia seperti hilang muka karena tidak berhasil melakukan hubungan intim denganku. Tapi sungguh aku tak mempermasalahkannya. Sungguh.


Bagiku dia menjadi pendamping hidup itu sudah suatu anugerah.


Aku bahagia.

__ADS_1


Terlebih setelah aku merasa ada yang tak beres dan ini adalah perbuatan lirik seseorang yang sengaja ingin hubungan rumah tangga kami hancur kacau balau.


"Mas... aku yakin sekali, ini perbuatan orang-orang yang tidak menyukai pernikahan kita!"


"Aku tidak seperti biasanya, Liana! Semalam aku frustasi dan depresi! Makanya aku... berbuat kekanak-kanakan meninggalkanmu tidur sendirian di kamar!"


"Apa? Ada apa sampai kamu pergi tinggalkan Liana sendirian tidur di kamar?"


Ternyata Jordan berdiri di belakang kami.


"Tidak ada apa-apa, Jordan!" jawabku meredam suasana menjelang subuh yang agak panas.


"Sudah kukatakan, Gege! Kalau kau tidak berniat sungguh-sungguh pada Liana, aku akan merebutnya darimu!" kata Jordan tegas.


"Aku adikmu. Tapi aku juga katakan, aku mencintai Liana! Kau tahu itu, Gege! Ketika kau menyakiti hatinya, seketika itu juga aku akan menggapai hatinya lagi untukku!"


Jonathan langsung menangkap tubuhku ke dalam dekapannya.


"Jordan kamu salah faham! Aku datang bulan, jadi... Mas Jonathan kabur pisah kamar takut tidak bisa menahan keinginan untuk..., kau pasti tahu maksudnya!"


Aku berbohong. Jelas-jelas kebohonganku hingga membuat suamiku menatapku lama.


Azan subuh berkumandang.


"Mas..., sholat-lah dahulu. Aku menunggu di kamar!"


"Ya, istriku. Terima kasih..., kamu membuatku,"

__ADS_1


"Ssttt...! Ayo sana! Ibadah dulu!"


Aku meninggalkan kakak beradik itu dengan tergesa-gesa.


"Ada apa dengan Liana?" Samar-samar kudengar suara Wak Hardi bertanya.


Aku malu. Masih sangat malu mengingat betapa gragasnya aku semalam melakukan hal-hal yang diluar batas demi untuk membuat Mas Jonathan mampu melakukan itu. Hhh...


Aku terpaksa harus subuhan di kamar sendirian. Tidak ikut berjama'ah karena berdusta.


Mama mengetuk pintu kamarku setelah selesai sholat.


Beliau pamit pulang ke rumah suaminya beserta Intan dan Nadia.


Aku sudah menyiapkan tiga kantung tutebag untuk Mama, Intan juga Nadia.


"Mama... Terima kasih banyak atas semuanya. Terima kasih, Mama dan adik-adik sudah lelah membantu pesta pernikahanku sampai selesai. Maaf, Liana tidak bisa memberi apa-apa selain cinderamata alakadarnya buat kalian. Sering-sering tengok Liana, ya? Jangan sungkan, Liana senang sekali jika Mama dan kalian sering main ke sini!"


"Iya, Kak! Kami juga senang sekali, Kakak menerima kami seperti saudara kandung sendiri!"


"Intan, Nadia... Kalian itu adik kandung Kakak! Maafkan perbuatan Kakak di masa lalu ya? Mulai sekarang, kalau kalian butuh saran, nasehat juga bantuan, Kakak ada untuk kalian! Ya?"


Aku senang, juga terharu. Satu persatu mereka memelukku penuh kasih sayang.


Luruh sudah kesedihanku di masa lalu. Lepas semua kekecewaanku yang dahulu. Semua sirna tak berbekas lagi.


Mama... Aku sayang padamu. Tetaplah berjuang selalu demi kebahagiaan dan pilihanmu. Doaku selalu, Allah bahagiakan dirimu di sisa akhir hidupmu sampai ajal datang menjemput.

__ADS_1


Tuhanku... Panjangkanlah umur Mamaku. Aku ingin Mama bahagia. Seperti Papa yang kini telah bahagia di Sisi-Mu.


BERSAMBUNG


__ADS_2