DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 70 - COBAAN APA LAGI INI


__ADS_3

Aku menjemput Mama pukul sepuluh pagi ke rumahnya dengan di antar Pak Saleh.


Kukira Mama sudah selesai berdandan, ternyata belum rapi sama sekali.


Ternyata ada Mamanya Bianca sedang duduk di ruang tamu dan Mamaku duduk dihadapannya.


Ada apa dengan mereka? Wajah Mamaku juga terlihat tegang.


Ketika kuucapkan salam, Tante Mirna bahkan sama sekali tak menjawab. Hanya suara Mama yang kutangkap.


Aku tidak terlalu peduli. Tetapi biar bagaimanapun aku harus hormat pada orangtua itu. Kucium punggung tangannya setelah tangan Mama terlebih dahulu.


Rumah mereka memang tidak berjauhan. Hanya berjarak beberapa puluh meter dan terhalang beberapa rumah.


Mama pernah bilang, kalau beliau tidak menceritakan perihal pernikahanku minggu ini dengan Mas Jonathan pada mereka.


Semua Mama lakukan demi menjaga perasaan serta kelancaran acara pernikahan kami nanti.


Padahal sebenarnya benang merah itu tetaplah terlihat di mata mereka. Aku hanya berpasrah pada Allah Ta'ala saja. Walau setiap hari debaran jantungku semakin kencang menjelang pernikahan, tetapi aku tetap percaya, Allah Maha Segalanya.


Aku hanya berdoa dan berdoa. Allah pasti menjaga kami dari segala hal yang tidak baik.


Mama meninggalkanku duduk berdua dengan Tante Mirna untuk berganti baju.


Tentu saja keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku.


Secara wanita ini disinyalir memiliki sifat, sikap dan tabiat yang temperamen. Terlebih saat aku mengetahui betapa culasnya ia menyuruh Bianca memutuskan tali hubungan tiba-tiba dengan Mas Jo dahulu hanya karena ia masih mendendam.


Cintanya tak bersambut.


Pria idamannya justru memilih menikahi Mama Tiur yang saat itu adalah janda beranak satu. Hm...


Cinta memang gila. Cinta tidak kenal logika.


Tetapi aku kadang bingung memikirkan kenapa sudah setua ini dendam Tante Mirna masih membara.


Bukankah dia juga sudah berkeluarga dan memiliki putri cantik seperti Bianca?


Apa lagi yang membuatnya selalu belingsatan seperti itu?


Tetapi akhirnya kusadari. Jawabannya adalah harta.


Tante Mirna membenci Mama Tiur yang meskipun kehilangan suami karena sakit berkat kirimannya, tetapi masih punya harta berlimpah dan dua putra tampan pekerja keras.


Mungkin seperti itu penilaiannya.


Sementara dia, memang memiliki modal anak yang cantik. Yang bisa dia nikahkan dengan pria kaya raya diluaran sana, tetapi dia lupa...hidup setiap insan sudah ada Yang Maha Mengatur.


Bianca kini justru telah bercerai dari pria pengusaha yang dahulu begitu mencintainya. Mungkin cintanya akibat ajian pelet dan pengasihan buhul-buhul yang dihembuskan si Subur peyot.


Harusnya Tante Mirna sadar, hanya doa dan doa serta usaha yang kuat demi mendapatkan kebahagiaan dari Illahi Robbi.


Sayangnya, usaha yang Tante Mirna lakukan bukanlah usaha yang positif. Tetapi justru kebalikannya. Dia hanya menginginkan kekayaan secara instan. Tanpa kerja keras dan mengeluarkan keringat memeras otak.


Aku duduk disampingnya tanpa mengucapkan kata sepatah pun. Dia juga tidak menyapa apalagi mengajak bicara. Gengsiku juga cukup tinggi untuk memulai percakapan lebih dahulu.

__ADS_1


Padahal sejujurnya dalam hatiku iba juga padanya. Pada Bianca yang pada akhirnya harus menjadi korban keburukan sifat orangtuanya.


"Sudah siap?" tanyaku pada Mama yang baru keluar dari kamar.


"Mbak! Aku pamit dulu ya?" ucap Mama pada Tante Mirna setelah mengangguk padaku.


"Jangan lupa, mampir dulu kesana! Ingat pesanan Mas Bambang!" tukas Tante Mirna.


"Iya. Nanti aku pulang ziarah mampir kesana!"


Aku hanya mencium punggung tangannya yang putih mengkilat walau sudah mulai keriput.


"Assalamualaikum!"


"Hm..."


Hanya deheman yang keluar dari bibirnya tatkala kuucapkan salah.


Dia khan muslimah? Atau... Hhh... Terserah lah!


Aku mengapit lengan Mama. Kami berjalan dengan bibir mengulum senyum menuju mobil yang dikendarai pak Saleh.


Aduh, aku lupa. Semoga saja Tante Mirna tidak mengenali mobilnya Jonathan!


"Pak Saleh, ayo Pak jalan!" kataku agak gemas.


Beruntung Kami segera keluar dari pelataran halaman rumah mamaku dan melaju perlahan meninggalkan halaman.


Huuufffh... Alhamdulillah.


Cuaca pukul setengah dua belas siang. Tetapi terasa sejuk dan tidak panas menyengat.


Alhamdulillah, aku bersyukur pertanda Allah memberiku restu. Untaian doa kepada para ahli kubur tak lupa kupanjatkan dan kubaca dengan buku panduan yang kubawa dari rumah Mas Jonathan.


Setelah ziarah kubur kedua orangtua Mama, kami meluncur niatan pulang.


"Lian, mampir dulu sebentar ya antar Mama?"


"Oh, boleh Ma! Pak Saleh, maaf... Minta antar Mama dulu ya?"


"Boleh, Non! Kemana kita, Bu?"


"Daerah timur ya, Pak Saleh!"


"Oke, siap. Hehehe..."


Betapa terkejutnya aku.


Ternyata... Ini wilayah kediaman orangtua Katliya. Dan...


"Mama turun dulu ya, kamu tunggu saja di sini. Cuma sebentar koq!"


Dadaku berdesir kencang. Mama keluar dari mobil dan berjalan menuju... Rumah orangtuanya Katliya?


Mau apa Mama kesana? Ada perlu apa?

__ADS_1


Aku yang penasaran, akhirnya mengikuti langkah Mama setelah menghilang masuk rumah keluarga Katliya.


Nyeri jantungku mengingat saat terakhir kali meninggalkan rumah luas ini.


Aku...bahkan sampai pergi begitu saja tanpa melap muntahan darah segar yang keluar pada saat itu.


Pintu rumah tak tertutup rapat. Sehingga aku bisa mendorong perlahan daunnya hingga terbuka separuh.


Suasana di dalamnya ternyata sedang ramai. Bahkan...ada isak tangis juga raungan kesedihan terdengar dari kamar.


Mamaku juga sepertinya masuk ke dalam kamar itu. Membuatku bergerak cepat masuk meski agak kurang sopan.


I_ibunya Katliya!!!


Aku menelan saliva, melihat beberapa orang sedang menangisi Ibu kandung Katliya yang terbaring lemah di atas ranjang.


Dan diatasnya,... Ada tiga makhluk menyeramkan. Satu makhluk mencabik dadanya, satu lagi tengah menghirup hawa nafasnya hingga tubuh Ibunya Katliya melemah, dan...


Innalillahi wa inna illaihi rojiuun...


Mataku terbelalak lebih lebar, tatkala satu makhluk buruk rupa berwarna merah menyala dengan dua tanduk bagaikan busur panah di atas kepalanya menatapku tajam.


Astaghfirullahal'adziim


Astaghfirullahal'adziim


Astaghfirullahal'adziim


Ya Allah ya Tuhanku, tolong lindungi aku dari makhluk jahat itu ya Allah!


Kupejamkan mata, tatkala semua orang memekik teriak histeris mengetahui seseorang telah berpulang dan meninggal dunia. Termasuk Mamaku yang rupanya cukup mengenal Ibu Katliya itu.


Aku menghela nafas lega. Mataku terbuka dan tak lagi melihat makhluk-makhluk pemakan roh ibunda Katliya. Mereka telah berhasil mendapatkan jiwanya.


Naudzubillah tsumma naudzubillah.


"Kak Liana?"


Mata kami saling berpandangan.


Katliya dengan perut besar dan juga mata sembabnya menatapku bingung.


"Mama!" seruku pada Mama Farida.


"Liana? Kenapa kemari?" ucap Mamaku membuat Katliya beralih menoleh pada Beliau.


"Kak Liana, putrinya Ibu Farida?" tanyanya tak percaya.


"Iya, Liya. Liana itu putri pertama saya!"


Pucat pasi wajah Katliya seketika. Dan...


Gubrak.


Dia pingsan tepat dihadapanku.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2