
"Dasar Mama kita ya, Kak!? Bercerai dari Papa malah menikah dengan pria beristri. Sekarang suaminya tambah istri lagi. Hhh..." ucap Genta diperjalanan pulang menuju pabrik.
"Jangan seperti itu, Genta!"
"Biar bagaimanapun, Mama adalah Mama kita. Urusan Mama salah pilih pasangan bukan hak kita untuk menyalahkannya. Mungkin dengan kisah hidup Mama, kita jadi bisa berkaca. Lebih berhati-hati dalam hal apapun pastinya!"
Genta menghela nafas panjang.
Aku tahu, Genta seperti kesal karena keadaan kami di masa yang lalu. Terombang-ambing bagaikan anak buangan, tiada yang mau mengurus kami. Bahkan sampai hati dititipkan kerabat saja.
Tapi aku tidak mau men-judge Mama. Begitu pula Papa.
Andai aku di posisi Mama, apakah aku bisa lebih baik dalam mengambil keputusan. Entah.
Tapi yang kutahu kini, setiap individu memiliki hak serta kebebasan dalam menentukan pilihan sendiri. Dan harus siap atas konsekuensi yang akan diterimanya nanti. Seperti Mama kini.
Mama yang menjalani hidup berumah tangga dengan Papa. Masalah berat atau tidak berat cobaan pernikahan mereka, hanya mereka yang tahu. Kita hanya 'orang luar' yang melihatnya dari balik 'pagar'.
Mama menikah lagi dengan Papa Bambang, pasti juga penuh pertimbangan. Itu adalah takdir hidup Beliau.
Aku dan Genta sebagai anak, hanya bisa mendoakan kebahagiaan untuk Mama. Juga Papa pastinya.
................
"Kalian suka sekali pergi berdua tanpa izin dariku, sih?" gerutu Mas Jonathan dengan bibir mencucut. Sepertinya ia mulai kesal dengan tingkahku dan Genta.
"Ada apa, Ge? Liana sudah izin Mami, koq! Iya khan Liana?" Jordan tiba-tiba keluar dari kamar. Sepertinya ia melihat aku masuk gerbang rumah dari jendela kamarnya.
Aku hanya menunduk. Tapi...
"Aku cuma bercanda, Liana!" Tangan kokoh Jonathan mengangkat daguku hingga mata kami beradu pandang.
"Ehem ehem..."
Jordan mendehem beberapa kali. Sontak aku mencoba mengalihkan perhatian dengan mengangkat jinjingan plastik yang kubawa.
"Lihat, aku bawa apa ini?" tanyaku mencoba mencairkan suasana yang agak kaku.
"Apa ini?" tanya Jonathan menunjuk ke arah kantong.
"Apa itu, Liana?"
"Siomay. Satu orang satu kotak ya? Hehehe..."
__ADS_1
"Waah, sudah lama aku tidak beli siomay. Lian, ingat tidak tukang siomay yang suka nongkrong di depan sekolahan SD kita?"
Aku mulai berfikir keras. Maklum, otakku sedikit lemot dan aku juga pelupa. Jadi butuh usaha keras untuk mengingat masa lalu yang sudah 20 tahun lebih itu.
Aku menggelengkan kepala, menyerah karena tidak ingat sama sekali.
"Hahaha... Ya memang depan sekolah kita ga ada tukang siomay nongkrong. Adanya kang cilok!"
Ya ampun Jordan, hahaha...garingnya candamu!
"Hahaha... Dasar kau Jordan! Eh... Kalian mau dengar cerita seram tentang gedung sekolah SMP-ku?"
Jonathan ikutan memberikan cerita.
Kami jadi antusias. Lalu sama-sama bergerak ke ruang tengah dan duduk melingkari meja makan.
"Hm... Serius nih mau dengar?"
"Apa sih, apa Boss? Koq kalian serius sekali? Ada apa? Wah, makan siomay sambil dengar cerita? Aku mau!!!" Citra yang baru datang dari luar langsung bergabung.
"Ini punyamu, Cit!" kata Genta. Keduanya sepertinya sudah begitu akrab sampai saling memanggil nama tanpa embel-embel lagi di depannya.
"Makasih!"
"Lanjut?" tanya Jonathan.
"Eh, tunggu! Cerita horror? Pending, Boss! Citra masih penasaran sama kejadian mistis terbangnya Kak Liana! Kakak... Kamu belum ceritakan soal itu sama Aku! Setelah boss Gege cerita, Kak Lian harus cerita juga bagaimana rasanya terbang ditiup angin kencang yang misterius tempo hari. Oke?"
"Duh, Mbak...! Merinding harus mengingat itu lagi. Hehehe... Yang penting aku sekarang baik-baik saja! Dan alhamdulillah, keadaan kita semua juga baik."
"Aku mau dengar Kak Liana cerita! Aaa..."
"Cerita apa, Mbak Citra? Cerita terbang tiba-tiba kayak superman gitu? Hehehe... Ga mau lagi-lagi deh!" kataku berusaha menutupi kejadian tempo hari.
"Kamu tidak takut gitu?" tanya Citra masih penasaran.
"Ya takut. Makanya aku pingsan setelah itu! Aneh bin ajaib khan? Tapi itulah kuasa Allah. Ada makhluk lain di dunia ini selain kita manusia!"
"Aku batal cerita ya?" sela Jonathan.
"Idiiih, ambekan! Boss Gege kebiasaan deh, kalau kurang diperhatikan suka lebay gitu! Kak Lian, coba dong kasih Boss Gege perhatian! Biar dia tak lagi cemberut model begitu!"
Aku tertawa. Citra memang paling bisa membuat suasana jadi ceria.
__ADS_1
Aku tidak bisa memuji ataupun memperlihatkan perhatianku pada salah seorang kakak beradik itu. Khawatir akan jadi bumerang diriku sendiri. Seperti di awal hingga menimbulkan keresahan bahkan keributan diantara kami.
Citra tidak tahu pada apa yang terjadi di kediaman Mama Tiur. Sehingga ia masih berfikir kalau aku dan Jonathan tidak sedang break karena masalah cinta segitiga yang membingungkan ini.
Bagaimana tidak membuatku bingung. Satu atap dengan dua orang kakak beradik yang sama-sama menginginkan cinta dariku, itu membuat kepalaku pusing tujuh keliling.
Wajah Jordan berubah sendu. Ia pura-pura sibuk dengan kotak siomaynya. Aku juga melirik Jonathan. Sesekali curi-curi pandang menatapku lalu menatap Jordan.
Kenapa semua ini jadi begini? Ya Allah... Tolong aku!
.............
Sore harinya, Mama Tiur mengajakku ke mall lagi. Waktu itu kami sempat pergi, tapi hanya satu jam saja. Benar-benar cuma belanja di supermarket. Ponsel Mama berdering terus. Jordan dan Jonathan bergantian menghubungi karena khawatir kami pergi tanpa mereka.
"Hari ini, Mama tak bawa ponsel. Hehehe...! Gege dan Jordan pasti bakalan menelpon lagi. Padahal, ini waktunya kita me time. Iya khan Liana?"
Aku tertawa kecil.
Mama Tiur aslinya adalah orang yang menyenangkan. Pantas saja, beliau bisa sampai menikah lagi dengan sahabat almarhum suaminya. Pribadinya sangat bagus. Dan aku merasakan sendiri setelah kami menjadi makin akrab.
Mama mengapitku sambil bersenandung riang.
Kami tidak diantar sopir dengan kendaraan sendiri. Tetapi lebih memilih aplikasi taksi online agar bisa bebas hang out menikmati waktu santai tanpa ada yang menunggui.
Mall kota ramai. Maklumlah. Ini hari Minggu dan hari belum terlalu malam.
"Nonton yuk, Lian?"
"Nonton apa, Ma? Terserah. Film yang ringan-ringan saja. Komedi boleh. Biar beban hidup lebih enteng, gitu! Hehehe..."
"Hehehe... Boleh juga tuh, Ma!"
Kami menuju theater bioskop yang ada di lantai 4 mall besar ini. Mencoba melihat poster-poster film yang akan tayang dan sedang viral.
Ini adalah hal yang menyenangkan. Fikiranku menerawang, andai saja Mama kandung yang ada disampingku saat ini. Pasti jauh lebih menyenangkan.
Tapi aku tetap bahagia. Bagaimana bisa, mama orang lain begitu baik hati mengapit lenganku, mengajakku kesana kemari dengan suasana yang menyenangkan. Nikmat manalagi yang kudustai.
Tiba-tiba mataku menangkap dua sosok yang tak asing.
Seorang pria menggandeng mesra seorang wanita hamil.
Irsyad dan Katliya!
__ADS_1
Rupanya pasangan suami istri itu juga sedang antri di loket bioskop.
BERSAMBUNG