DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 103 - SUAMIKU LUAR BIASA


__ADS_3

Dalam bisnis, untung rugi adalah hal yang biasa terjadi.


Kegagalan dalam proyek, musibah yang tidak pernah diprediksi, atau bahkan gangguan dari sesama pebisnis yang tidak suka dengan pencapaian kita, itu bisa saja ada.


Seperti saat ini. Ternyata kebakaran pabrik dipicu oleh amarah seseorang yang besar hingga menimbulkan sifat sirik, iri hati bahkan dengki.


Akhirnya dengan berbagai cara melakukan sabotase untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.


Ditambah lagi ternyata pebisnis itu masih memiliki hubungan dekat dengan Anggota Dewan yang putranya masuk penjara karena kasus Stella dan gadis-gadis di bawah umur. Jadilah kasus ini berkepanjangan dan merembet ke mana-mana.


Untungnya suamiku adalah orang yang kuat dalam usaha.


Mas Jonathan justru menguatkan kami semua untuk tidak putus asa dan kita kembali mulai dari awal.


Kebakaran pabrik tentu saja membawa dampak yang besar bagi kami khususnya Mas Jonathan dan Jordan.


Kerugian fantastis sampai ratusan juta bahkan nyaris mencapai satu miliar itu bukan perkara mudah.


Belum lagi wanprestasi yang harus kami bayar karena tidak bisa memasok barang produksi kepada rekanan bisnis sesuai perjanjian.


Untungnya para pengusaha itu mengerti keadaan kami dan tidak menuntut lebih apalagi sampai jalur hukum ke pengadilan.


Kami juga mengadakan tahlilan Pak Thamrin serta memberikan santunan yang layak kepada istri dan tiga anaknya.


Pak Thamrin meninggal dunia insyaAllah dalam keadaan husnul khatimah karena sedang bekerja.


Seminggu setelah kejadian kebakaran, Aku mendengar pembicaraan suamiku dengan adiknya, Jordan. Obrolan itu menurutku lumayan serius karena Mas Jonathan mengatakan opsi untuk ajukan pinjaman ke bank.


Selama ini dia adalah orang yang tidak suka melakukan hubungan dengan riba atau bunga bank.


Tetapi demi kelangsungan hajat hidup orang banyak yaitu para karyawannya, dia rela pindah modal dari bank dengan jaminan sertifikat pabrik dan aset lainnya.


"Mas..."


"Iya, Sayang?"


"Pakailah berlian ini untuk tambahan modal pabrik!"


Raut wajah Mas Jonathan seketika menegang.


"Maaf! Bukan maksudku mengecilkan dirimu! Bukan, Mas! Kumohon jangan tersinggung!"


"Ini adalah maharku menikahi kamu, Liana! Tidak! Aku tidak terima jika,"


"Ini hanyalah benda. Ini cuma benda yang dijadikan patokan pernikahan, Mas! Hatiku sepenuhnya milikmu. Jiwa ragaku ini sudah seutuhnya milikmu termasuk janin yang ada dalam kandunganku ini. Aku ingin membantu Suamiku selain doa."


"Terima kasih. Aku senang sekali karena memiliki istri yang begitu pengertian. Tapi tidak. Saranmu untuk menggunakan berlian mahar pernikahan kita untuk modal usaha tidak kuterima. Aku masih mampu melakukan jalan lain, Liana! Jangan khawatir, Sayang! Keuangan perusahaan tidak se-pailit yang kamu bayangkan! Kita tidak bangkrut. Aku masih punya banyak aset. Begitu juga Jordan. Pinjaman ke bank cuma untuk jangka pendek dalam keadaan darurat. Aku dan Jordan sudah memperhitungkan."


Aku yang mendengar penjelasannya hanya bisa termangu menelaah. Ternyata jalan pikirannya begitu jauh ke depan.


Ternyata pengusaha itu pemikirannya harus lima tahun ke depan bukan lagi memikirkan esok bagaimana.

__ADS_1


"Simpan harta kita baik-baik, Sayang! Suatu saat aku butuh bantuanmu, aku pasti akan minta tolong dengan sangat padamu, sayang!"


Begitulah suamiku. Keren dan luar biasa.


.............


Seperti yang Mas Jonathan kata. Perusahaan dalam keadaan baik-baik saja walaupun mengalami kerugian akibat kebakaran pabrik besar.


Semua orang berjibaku dengan kemampuan masing-masing. Hanya aku seorang saja yang seolah tidak punya andil selain berdoa dan berdoa semua kembali seperti semula.


Ibadah kutingkatkan.


Daripada aku jenuh di rumah sendirian dan hanya sesekali mengobrol santai dengan Citra dan Mama. Itupun dikala mereka berdua sedang senggang.


Sholat sunah Dhuha, membaca Alquran juga kini mulai kubiasakan. Surat Al-Waqiah, Surat Yusuf dan surat Maryam paling sering kubaca selain surat Al-Quran yang lainnya.


Aku juga melanjutkan hafalan surat-surat pendek yang dulu sewaktu kecil kupelajari lewat guru mengaji privat yang Papa datangkan dari pesantren.


Aku kurang pandai mengaji. Hanya tahu huruf dan sedikit harakat panjang pendek. Lewat Al-Qur'an digital yang kini banyak dijual dipasaran, aku mempelajari perlahan-lahan sebelum memanggil guru dari luar.


Mama Tiur juga sudah membicarakan akan belajar mengaji lagi setiap Minggu dengan mengundang ustazah ke rumah kami.


Tetapi saat ini beliau sedang bolak-balik Jakarta-Medan karena ada kerabat yang sedang sakit. Mama Tiur memang wanita yang hebat luar biasa. Walau usianya tak lagi muda, tapi kekuatan fisik serta psikologinya benar-benar membuatku sangat respek.


Beliau sangat dermawan meski di awal kenal orang akan salah menilai. Seperti aku dahulu.


Senyumku selalu mengembang ketika ingat perjumpaan awal kami dulu.


Aku bisa bertemu Jordan pun berkat Mama Tiur. Di depan halte bis, beliau berpura-pura sakit dan minta pertolongan pada gadis-gadis cantik untuk diseleksi menjadi calon menantu.


Walaupun tidak sepenuhnya percaya seratus persen karena hanya kepada Allah sajalah kita wajib percaya, terbukti penglihatannya itu kini jadi kenyataan.


Aku, wanita yang sedang kebingungan kala itu. Didzolimi suami sampai fikiran kalut dan tak tahu harus bagaimana lagi. Hingga bertemu Mas Jonathan untuk pertama kalinya di jalan dan dia yang sedang terburu-buru langsung menenteng tubuh gemukku ke pinggir karena mengganggu lalu lintas.


Jodoh yang tidak disangka-sangka.


Malu hati juga membuatku tertawa sendiri. Hingga tanpa sadar ada sepasang mata yang memperhatikan sedari tadi.


"Duh, bumil semakin manis senyumannya!"


"Jordan? Hehehe... Dasar deh, gak boleh lihat orang senang!"


"Hehehe...! Justru aku dari tadi membiarkanmu senang sendirian! Bagi-bagi dong senangnya!" selorohnya langsung menarik kursi yang ada di sampingku. Ia duduk dengan tenang dan wajah senang.


"Mas Jonathan mana?" tanyaku membuatnya merengut.


"Yang ditanya pasti selalu Gege! Kapan aku yang diperlakukan seperti itu?" timpalnya membuatku terbahak-bahak.


"Ish, ngaco! Ya iyalah. Mas Jonathan khan suamiku. Kamu itu pasti ditanyanya sama Habibah. Ayo dong, cepetan lamar biar bisa seperti kami! Nikah itu enak lho!?"


"Dih? Dia malah manas-manasin macam kompor meleduk!"

__ADS_1


"Hahaha...! Ya iya. Kamu khan laki-laki. Cewek itu kalau diberi kebahagiaan dan dilamar sang pujaan pasti bakalan menerima. Habibah pasti juga sama."


"Justru dia minta waktu sampai usianya 25 tahun, Lian!"


"Iya juga sih! Bibah masih 24 tahun umurnya. Sepertinya masih punya banyak impian untuk masa depannya."


"Itulah. Ketika perempuan lebih memikirkan karir di masa depan, laki-laki bisa apa. Hanya mendoakan yang terbaik saja untuknya."


"Hm... Sepertinya keputusan Habibah kurang kamu sukai ya, Jordan?"


"Sejujurnya aku ingin perempuan yang seperti kamu, Liana!"


"Sstt! Didengar Mas Jonathan nanti. Tidak boleh menyamaratakan. Semua orang punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Aku juga tidak sesempurna yang kamu bayangkan. Hehehe...! Bisa jadi kamu akan lebih kesal dan menyesal mendapatkan Aku. Allah Maha Tahu. Dan Allah Mengatur. Mungkin saat ini jodohmu sedang Allah persiapkan, Jordan!"


"Aku tidak menikah pun tidak apa-apa. Asalkan bisa selalu dekat dengan kamu. Cinta tidak harus memiliki, bukan?"


"Husss!!! Jangan bicara sembarangan! Nanti bisa jadi doa. Jangan pesimis! Jangan marah pada Tuhan, Jordan! Dan aku ini adalah kakak iparmu! Kamu tidak boleh bicara seperti itu padaku!"


"Iya Kakak ipar! Hehehe...! Rumah sepi sekali. Apa kamu tidak kesepian? Mau jalan-jalan? Biar kutemani!"


Hhh... Tentu aku kesepian. Tentu aku jenuh dengan rutinitas yang begini-begini terus setiap hari. Tapi untuk merespon ajakan Jordan, tentu saja tidak boleh. Suamiku cemburuan. Dan aku tidak akan pernah ingin melakukan kesalahan dua kali.


"Aku senang di rumah. Terima kasih, Jordan! Aku mengantuk. Citra sebentar lagi juga akan pulang dari pasar! Mama besok juga kembali dari Medan! Kalau kamu santai, lebih baik ke pabrik. Survei saja!"


"Jiaah haha... Aku di usir secara halus oleh istrimu, Gee! Hahaha..."


"Gege? Mana?"


Sontak aku menoleh ke kanan dan ke kiri juga pintu ruang tamu.


Menyembul wajah tampan suamiku.


"Mas! Iih... Koq bisa-bisanya aku kalian prank!"


"Tuh, lihat suami kesayanganmu itu, Liana! Lima toko pakaian bayi dia ubek-ubek. Katanya mumpung senggang, dia borong semua isi toko. Buat calon anaknya yang padahal baru lima bulan di kandungan. Ck! Hot Daddy khan?"


Mataku membulat, ternyata di ruang tamu banyak barang belanjaan Mas Jonathan khusus untuk calon anak kami.


"Mas! Kita kan belum tahu jenis kelamin bayi kita. Kenapa belanja sebanyak ini?" pekikku girang.


"Aku belinya warna netral, Sayang! Warna putih dan kuning, hijau muda juga. Hehehe... Kebetulan tadi kami rapat di resto mall. Tak sengaja disampingnya ada toko-toko pakaian khusus anak. Sekalian mampir dan ternyata bagus-bagus barangnya. Jadi kuputuskan beli, hehehe..."


"Huaaa...! Aku khan juga kepengen ke mall. Ikutan milih, Mas!" rengekku membuat Jordan tertawa keras.


"Maaf, Sayang maaf! Ya sudah, nanti sore kita ke mall. Tapi tidak boleh lama-lama. Khawatir kakimu bengkak karena jalan terlalu banyak!"


"Ish! Orang hamil justru harus banyak gerak!"


"Hahaha...! Khan kan? Tadi kukatakan juga apa! Tanya dulu istrimu, Gege! Biar tidak ada salah faham! Hahaha..."


"Maaf Sayangku Liana!"

__ADS_1


Aku merengut pura-pura kesal padahal bahagia memiliki suami yang luar biasa.


BERSAMBUNG


__ADS_2