DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 28 - KEMBALI MELAYANG KARENA JORDAN


__ADS_3

Selesai sholat, aku baru mulai aktifkan kembali handphone. Sengaja kumatikan karena untuk saat ini nomor ponselku masih nomor lama.


Aku tidak mau ada nomor-nomor aneh yang masuk meneror kehidupanku dan bersinggungan dengan kehidupan Genta juga yang sedang jadi buronan pinjaman online.


Tring


Tring


Tring


Tring


Banyak pesan masuk satu persatu. Ada pesan dari Airlangga, adik tiriku dari Papa. Katanya Papa sakit dan aku diminta untuk mengunjunginya di bagian selatan Ibukota.


Kemudian ada nomor tak dikenal. Menanyakan keberadaan Genta yang masih berhutang banyak. Aku mulai mengenali ketikannya. Dan menerka itu adalah pesan dari Irsyad.


Jordan juga menchatku. Menanyakan kenapa ponselku mati dan mengapa sibuk sekali di hari libur padahal baru besok senin aku mulai bekerja.


Aku tersenyum membaca pesan Jordan yang terdengar manis dan imut itu.


Jordan! Kenapa aku merasa kangen sama kamu padahal baru semalam kita chattan?


Hampir aku meloncat saking kagetnya ponselku berdering.


...Jordan is calling...


"Hallo? Jordan?"


...[Liana! Kamu kemana saja? Kenapa hapemu baru aktif seharian ini? Kamu baik-baik saja khan? Kamu masih di mess pabrik CV. JAVA FOOD HARVEST?]...


"Iya, Jordan, iya! Hehehe... Maaf! Aku baru pulang dari mengantar pak Boss!"


...[Mengantar Pak Boss? Memangnya kenapa Boss-mu itu? Sakit? Perlu diantar ke rumah sakit?]...


"Bukan Jordan! Kami tadi habis ketemu boss besar lainnya. Kamu tahu gak? Hari ini... Aku merasa seperti Nona Kaya Raya karena memakai dress seharga satu juta tiga ratus ribu, Jordan! Sumpah ya, ini seumur-umur aku pakai baju semahal itu! Dulu pernah Bang Irsyad belikan gaun seharga satu juta. Tapi bajunya belum pernah kupakai karena ternyata ukurannya yang kekecilan."


...[Hallo, Liana? Baju mahal? Siapa yang belikan? Kamu khan... Maaf, tidak punya uang untuk beli pakaian? Apa...]...


"Ya Boss aku-lah yang belikan, Jordan! Mana mampu aku beli sendiri? Kalaupun ada uang, aku pasti akan pikir-pikir dulu buat beli baju semahal itu walaupun bajunya bagus sekali! Kata Boss, aku pembawa keberuntungan! Hehehe...!


...[Apa maksudmu, Liana? Pembawa keberuntungan? Apa... Boss-mu berbuat kurang ajar sama kamu? Apa dia orang yang mesum yang sedang mencoba mendekati kamu? Apa kamu termasuk tipe wanita kesukaannya?]...

__ADS_1


"Husss, Jordan! Jangan ber-su'udzon begitu! Bukan seperti itu, hehehe...! Hari ini kamu koq agak aneh hahaha... Mirip pacar yang jelous tingkat tinggi! Upss...maaf, aku hanya,"


...[Kamu harus hati-hati! Harus jaga diri! Jangan lupa kunci pintu kamarmu! Jangan sampai Boss mu itu masuk tiba-tiba ke kamarmu! Jangan ceritakan soal status jandamu sama dia! Jangan,]...


"Jordan! Jordan, please dengar aku! Tidak seperti yang kamu bayangkan, Jordan! Boss ku itu adalah orang baik. Dia sangat profesional. Bisa membedakan mana urusan pribadi, mana urusan pekerjaan! Jangan khawatir, Jordan!"


...[Liana! Jangan mudah terpengaruh kata-kata manis laki-laki. Itu cuma rayuan belaka. Aku tahu, Boss mu itu pasti pandai berkata-kata yang membuatmu terbuai! Ingat ya Liana! Ingat selalu ucapanku ini!]...


"Hehehe... Iya, Jordan! Terima kasih atas perhatianmu!"


Manisnya! Perkataan Jordan membuat hatiku kebat-kebit. Jordan! Kamu memang teman yang baik. Kamu pasti takut aku sedih dan hancur lagi seperti beberapa waktu lalu.


Jordan! Tidak mungkin Boss melakukan hal seperti yang kamu khawatirkan. Walau dia bujangan diusia yang sudah cukup matang, tapi aku rasa dia pasti akan berfikir panjang dan banyak untuk melirik perempuan seperti aku. Aku ini seorang janda. Bertubuh bulat dan juga bodoh serta tak punya harta. Untuk apa Boss menggodaku? Mana nafsu Boss melihat tubuh buntalku. Hehehe...


...[Liana? Hallo? Liana! Aku ganti mode on video ya? Please...]...


"Hahaha... Ya ampun Jordan! Aku belum pakai bedak ini. Baru selesai sholat Ashar. Malu, Jordan!"


Tetap saja ucapanku tak Jordan hiraukan.


Segera kuganti panggilan telepon menjadi video call. Kini wajah manisnya yang kiyut terlihat di layar handphoneku.



"Jordan? Mau kemana? Kamu sedang ada di dalam mobil?"


...[Iya. Aku sekarang mulai ikut terapi lagi. Sedang dalam perjalanan pulang ke rumah setelah selesai terapi. Aku... Ingin sembuh, Liana!]...


Aku membulatkan kedua bola mataku. Lalu mengerjap tanda bahagia.


"Syukurlah. Aku turut senang mendengarnya. Semoga kamu bisa kembali berjalan normal, Jordan!"


...[Untuk ke arah itu aku tidak tahu. Tapi setidaknya aku masih punya kesempatan memakai penopang kaki palsu supaya bisa terlihat normal dan bisa berjalan lagi!]...


"Jordan? Bolehkah aku bertanya, kenapa kakimu jadi seperti itu?"


...[Hm... Entahlah, Liana! Aku...tidak ingat kejadiannya. Kata Mami, aku koma selama satu bulan. Dan terbangun dalam keadaan kaki tak bisa lagi digerakkan.]...


"Apa kamu kecelakaan lalu lintas?"


...[Tidak, Liana! Ini terjadi tiga tahun lalu. Berawal dari sakit demam panas tinggi. Hhh... Aku..., sempat depresi karena keadaanku ini. Aku takut sekali menampakkan diriku pada orang lain. Apalagi Kakakku juga sangat mem-protect]...

__ADS_1


"Tuhan Maha Baik, Jordan! Pasti kamu akan sembuh kembali seperti sedia kala!"


...[Aamiin! Terima kasih doanya, Liana! Berkat kamu, aku jadi semangat lagi dalam menjalani hidup!]...


"Syukurlah. Aku juga sama. Karena kamu juga aku jadi banyak berubah. Pemikiranku juga kini jauh lebih dewasa dan bijaksana."


...[Berarti... Berteman denganku yang tua, kamu ikutan tua. Gitu ya, maksudnya?]...


"Hahaha... Apaan sih, Jordan?! Bukan, bukan begitu. Maksudku, kamu bisa merubahku kearah yang positif. Menjadi lebih baik. Terima kasih, suhu!"


...[Hahaha... Kalau aku suhu, kamu termometer-nya dong! Termometer khan alat pengukur suhu!]...


"Hahaha..."


Kami tertawa bersama.


"Kamu tahu, Jordan? Aku iri sama kamu!"


...[Iri? Kenapa?]...


"wajahmu itu lho! Koq makin tampan makin awet muda. Sementara aku..."


...[Kamu juga kepingin jadi tampan, Liana?]...


"Jiaaah ha ha ha...! Masa' aku jadi tampan? Bahaya dong! Nanti jeruk makan jeruk. Cuco' dong kita! Hahaha..."


Jordan tertawa. Manis sekali.


Ah, Jordan, Jordan! Kamu... Membuat aku seperti mundur menjadi gadis remaja lagi. Kamu... Membuat hatiku kembali merasakan debaran halus bagaikan gadis yang baru pertama mengenal cinta.


Mata kami saling menatap. Walau terhalang jarak dan waktu, ternyata teknologi yang canggih masih bisa membuat kita seperti ini. Wajahku merah merona. Aku hanya bisa tertunduk malu.


...[Liana? Kenapa?]...


"Tidak, Jordan! Aku hanya sedang berterima kasih pada Tuhan. Karena telah mempertemukan aku kembali denganmu."


...[Aku juga, Liana! Aku... Aku selalu ingin mengobrol denganmu. Aku... Selalu merasa kangen dan kangen bila tidak menchat-mu. Hhh... Sampai-sampai kepalaku jadi pusing jika belum telepon kamu!]...


Jordan? Benarkah?


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2