DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 40 - JANTUNGKU BERDEGUB KENCANG


__ADS_3

Aku mencoba memakai pakaian gym yang Mbak Citra beri dari Mas Jonathan. sejujurnya agak kurang nyaman karena terlalu melekat di tubuh. Sehingga tampak jelas lekuk tubuhku yang agak besar.


"Wah, Kak Liana seksi sekali!" seru Mbak Citra membuat Mas Jonathan langsung menunduk.


"Liana! Mmm... Maaf! Ganti pakaiannya, boleh? Maaf! Aku tidak suka, ceplakan auratmu terumbar begitu!"


Aku tersenyum senang.


Akhirnya dia sendiri yang bilang seperti itu. Syukurlah. Tadinya aku memang enggan memakai. Tetapi takut menolak karena tidak etis seolah tidak menghargai pemberiannya.


Dengan hati tenang aku pun berganti pakaian training biasa dipadupadankan dengan kaos oblong.


"Timbang berat badanmu dulu, Lian!" katanya membuatku malu.


Waduh! Please jangan pelototin angka timbanganku, Mas! Gumamku dalam hati.


"Delapan puluh tiga kilo! It's okay. Itu tidak terlalu besar koq!" ujar Mas Jo membuatku merenung sejenak.


Turun enam kilo! Ternyata efek dari perselingkuhan Irsyad sampai perceraian ini benar-benar membuat bobot tubuhku berkurang banyak. Padahal selama ini aku diet selalu gagal. Turun dua kilo, tetapi kemudian naik tiga kilo. Begitu terus selama ini. Sampai aku malas diet lagi kecuali lakukan puasa senin kamis.


"Hm... Melamun lagi!"


Aku mencubit kecil pergelangan tangannya.


Citra tergelak melihat interaksi Aku dan Mas Jo yang makin akrab. Sepertinya dia makin yakin kalau kami memang ada apa-apa.


"Apakah, Aku salah menilai?" tebak Citra dengan mata berbinar menatap kami silih berganti.


"Apa?" tanyaku pura-pura tak faham maksudnya.


"Kalian... Sedang masa penjajakan?" bisiknya menerka lagi.


"Kenapa? Apakah kamu tidak setuju, Citra?" Mas Jonathan balik bertanya membuatku langsung mendekap mulutnya.


"Hahaha... Kenapa tidak setuju? Justru sejak awal Citra seperti melihat Kak Liana adalah versi ceweknya Boss Gege! Kalian itu mirip. Beneran! Malah tadinya aku ingin buat rencana menjodohkan kalian. Ternyata, hahaha... Alhamdulillah ya Allah! Nyonya Mami dan Boss Didi pasti sangat bahagia! Mereka sudah lama ingin melihat Boss Gege naik pelaminan!"


Mas Jonathan menarik tanganku. Bergaya seolah hendak menggigit jari-jariku yang mengakibatkan aku memekik pelan.


"Maasss!!!"


"Hahaha..., engga' koq! Ish penakut juga rupanya!"


"Iya. Takut bablas jadi KDRT!" tukasku membuat Mas Jo menatapku dengan sorot mata sayup.


"Maaf, maaf Lian!"


"Yaela... Gigit enak itu! Nanti Kak Liana pasti bakal jadi biasa. Hihihi..."


Memerah wajahku. Terlebih saat ini Mas Jonathan masih terlihat menggenggam jemariku dan perlahan pun ia lepaskan.


"Tidak boleh KDRT. Jangan dibiasakan. Itu tidak baik, Citra. Umurmu sudah 26 tahun. Kamu juga nanti akan menikah. Usahakan kalau ribut jangan main tangan, main kekerasan."


"Siap, Pak Ustadz! Hehehe..."


Begitulah Citra dan Mas Gege. Secara sepintas tampak bagaikan saudara kandung. Padahal statusnya adalah atasan dan bawahan. Tetapi kedekatan mereka tidak bisa dipungkiri dan diragukan.


Aku tersenyum melihat keduanya saling lempar candaan.

__ADS_1


Sayup-sayup adzan maghrib berkumandang dari masjid depan.


"Ayo, bubar! Waktunya sholat!"


"Mas mau berjamaah?" tanyaku pada pria tampan dewasa yang menggemaskan itu.


"Aku mau ke mesjid, Liana! Maaf ya? Tidak apa-apa khan kalau kalian sholat sendiri-sendiri dulu?"


"Iya, Mas! Tak apa!"


Olah raga kami hanya beberapa puluh menit saja. Selebihnya mengobrol dan bercanda. Sampai maghrib tiba, akhirnya semua bubar masuk kamar kecuali mas Jonathan.


Aku mandi dengan cepat. Lalu berpakaian, berwudhu dan sholat wajib tiga rakaat.


Berkat Mas Jonathan, sholatku jadi selalu full dan tak lagi bolong-bolong. Walaupun secapek apapun tubuh ini, tetapi rasa ingin terus dan terus menghadap Sang Kholiq bagai menjadi candu kini. Alhamdulillah.


Dulu, sholatku tak se-intens ini. Masih sering up and down dalam beribadah. Sering lalai sampai berulangkali banyak alasan yang dibuat-buat. Bang Irsyad suamiku pun sebelas dua belas. Membuat kami kadang jauh dari Tuhan.


Melihat ketaatan Mas Jonathan, aku malu sendiri. Ia mualaf tujuh tahun lalu, tetapi tak berani lupakan sholat. Takut kena azab katanya. Dan dia sering mengingatkan orang-orang disekelilingnya untuk ibadah tepat waktu. Katanya pahalanya masih full beda dengan sholat menjelang akhir.


Bahkan sering aku berfikir, kalau ilmu agamanya jauh lebih tinggi dari aku saking fahamnya dia dengan hukum-hukum Islam. Semakin membuatku kagum dan yakin, pria seperti Mas Jonathan-lah yang tepat untuk membimbingku yang labil.


Tetapi saat aku membuka layar ponsel, kegalauan kembali melanda.


Bisa-bisanya aku melupakan teman priaku, Jordan Ardian! Bodohnya kau, Liana! Dasar Si Pentium 1, seperti yang biasa Irsyad katakan. Bagaimana mungkin kau tiba-tiba lupa pada teman yang tiga mingguan ini selalu menchatmu bahkan setiap malam. Bagaimana bisa kamu tidak memikirkan perasaan Jordan setelah tahu kalau kau sedang PDKT dengan boss tampanmu yang seorang bujangan meski berusia delapan tahun lebih tua darimu? Bagaimana bisa, Liana?


Panjang umur. Pria yang sedang ada difikiranku menchat seperti biasa.


...Liana, sudah sholat Maghrib? Sudah makan?...


Pertanyaan standar. Tapi mampu membuatku tersipu karena rasanya seperti muda belia lagi laksana gadis usia tujuh belasan yang gede rasa diberi perhatian.


Padahal aku belum makan. Aku bohong Seharusnya setelah sholat aku pergi ke dapur membantu Citra menyiapkan makan malam. Tapi setelah melihat hape, justru malah asyik membalas chatmu, Jordan!


...Hehehe... Ini balas chattan sambil makan...


Ya ampuuun!


...Jordan! Berasa ga sih kita tuh jadi mirip bocil-bocil bandel yang suka banget bikin mama marah-marah? (emoji tertawa)...


...Hahaha... Iya...


Treeet... Treeet... Treeet


"Dasar deh! Malah telepon, tau lagi makan!" semprotku dibalas serangan tawa renyah Jordan dari sebrang sana.


...[Kangen dengar suaramu, Liana! Tadi siang suaramu penuh emosi dan kesedihan. Tapi kali ini, power full banget deh! Hehehe... Aku senang dengarnya. Alhamdulillah]...


"Makan dulu, nanti keselek!" tukasku lagi-lagi dibalas tawa indah.


...[Tapi daripada chattan, mending ngobrol. Atau, aku VC deh ya?]...


Kuganti panggilan teleponnya menjadi video call.


Kini wajah Jordan tampak manis di depan meja makan.


__ADS_1


"Wah, menu istimewa!"


...[Iya. Ayo sini makan bareng aku! Masakan spesial untuk orang istimewa. Tapi tamunya malah tak jadi datang. Akhirnya Mami kirim ke teman-temannya!]...


"Koq bisa? Tamunya batal datang?"


...[Katanya tamu istimewa itu belum siap ketemu kita. Kata Mami, kemungkinan dua bulan lagi baru bisa dipertemukan. Hm... Kutanya siapa, Mami malah cuma senyum-senyum. Rahasia katanya! Hadeuh!]...


"Bagaimana keadaan Mami? Apa...pengobatannya lancar?"


...[Ya. Mami itu orang yang menjaga sekali kesehatannya. Katanya, dua jagoannya belum menikah. Jadi Mami harus kuat dan sehat. Tidak boleh sakit apalagi mati. Karena dua bujang gantengnya belum ada yang mengurus padahal sudah matang-matang usianya]...


"Hhh..."


Aku hanya menghela nafas.


Ada sedih, juga resah. Mami Jordan adalah perempuan super hebat. Bisa mengurus kedua anaknya sedari muda sampai kini separuh baya.


...[Kamu mau tahu, apa yang sebulan lebih ini Mami lakukan?]...


"Apa?"


...[Mami sering keluar rumah. Nongkrong di halte dan mencoba menarik simpati gadis-gadis yang menunggu di halte. Tujuannya mau tahu?]...


"Apa???" tanyaku makin penasaran.


...[Mami ingin cari calon menantunya di halte bis. Kata orang pintar yang pernah menerawang keadaan kami yang jomblo, jodoh salah satu dari kami akan Mami temukan di halte bis!]...


"Hah?!? Ya ampun! Yang benar, Jordan? Hahaha... Eh? Ini ngarang ya?"


...[Beneran. Suwer! Makanya, pas aku ingat-ingat, kamu bertemu Mami di halte...aku langsung berfikir. Apakah... Kamu adalah calon menantu Mami yang dikirim Tuhan untuk putranya?]...


"Aih?!?"


...[Hahaha... Lucu khan? Hahaha... Hahaha...]...


"Jordan! Iiih, dasar ya kamu! Pasti lagi bikin novel di noveltoon ya? Menghalu, mengarang bebas!?"


...[Hahaha... Ini betulan, Liana! Mana bisa aku menulis novel! Hahaha...!]...


"Hahaha... Dasar ya kamu!"


...[Mami sangat terobsesi mencari gadis-gadis sesuai kriterianya untuk dijodohkan pada Kakak dan juga aku. Mami bilang siapa saja boleh lebih dulu menikah. Aku duluan juga tidak masalah. Barangkali, kalau aku menikah... Gege mulai tertarik dengan pernikahan juga... Liana! Boleh aku...mmm... suka dan tertarik padamu?]...


"Hei, hei... Sebentar sebentar! Aku baru ingat! Mami menolak kutolong waktu di halte! Mungkin, aku bukan kriteria menantu idaman Mami! Hehehe... Aku bukan calon menantu Mami, Jordan!"


...[Hm... Iyakah? Tapi... Akhir-akhir ini Mami sering bahas kamu. Sering tanya kapan kamu mau main lagi ke rumah ini! Malah, Mami bilang padaku,...menikahlah, Jordan! Cari perempuan yang bisa menerima kekuranganmu! Yang bisa membahagiakan hatimu! Yang baik dan selalu setia mendampingimu sampai kapanpun! Dan kamu tahu, Liana? Aku punya kabar istimewa!]...


"Iyakah? Apa itu, Jordan? Ayo cerita padaku kabar istimewanya!"


...[Nanti. Pasti aku akan ceritakan semuanya. Yang pasti, sejak aku ketemu kamu, hari-hariku kian berubah. semua jadi lebih indah. Dan aku sudah putuskan, akan bekerja bersama Kakakku mengurus perusahaan. Karena aku ingin...menikah!]...


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Ya Allah! Kenapa jantungku berdegub kencang sekali? Apa... Apa mungkin Jordan juga punya niatan serius padaku?

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2