DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 54 - MEMBUKA KISAH MASA LALU


__ADS_3

Seketika hawa panas menyergap sedangkan keringat dingin merembes keluar dari pori-pori kulitku. Aku menggigil ketakutan. Apalagi telinga sebelah kiriku mendengar suara er*ngan yang membuat jantungku nyaris copot.


Suara auman pelan seekor harimau putih yang membuatku merinding loncat menubruk Wak Hardi yang tertawa kecil.


"Jangan takut, Liana! Mereka tidak akan menerkam. Justru mereka selama ini melindungi anak cucu Abah Kyai Tubagus dari hal-hal buruk yang orang lain tebarkan!"


"Wak!"


"Duduklah kembali di tempatmu, Liana! Mereka sudah pergi!"


"Uwak bisa melihat mereka?" tanyaku gemetar tapi penasaran.


Wak Hardi tersenyum tipis lalu mengangguk.


"Mereka adalah pengikut setia abah Anom."


"Apa mereka sebangsa jin? Setan?" Aku makin gugup ketakutan.


"Dulunya mereka adalah manusia. Mereka adalah kakak beradik anak-anakan Abah yang dirawat sejak masih balita. Mereka anak penurut dan selalu mengikuti kemana pun Abah Anom pergi."


"Lalu?"


"Menurut kisah yang diceritakan para orangtua terdahulu, Ki Jalu dan Ki Maung adalah anak yang polos. Seringkali dihina orang karena keadaan fisik yang kurus kering serta kulit hitam setengah gosong. Kedua orangtua mereka malu sehingga tega membuang ke tengah hutan karena terus menerus menerima cemoohan para warga sekitarnya."


Aku mendengarkan cerita Wak Hardi dengan seksama. Seketika aku lupa pada kesedihan hidupku yang sedang kualami. Fokus sampai tanpa terasa azan maghrib berkumandang.


"Sholat dulu, Liana! Nanti Wak lanjut lagi!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Wak Wati, istri Wak Hardi membuka pintu rumah setengah bilik mereka.


"Ada tamu rupanya!" serunya dengan senyum sumringah.


Aku langsung mencium punggung tangannya. Memeluk beliau sembari cium pipi kanan cium pipi kiri.


"Wak, apa kabar Wak?"


"Sehat, Neng! Alhamdulillah, kapan datang?"

__ADS_1


"Belum ada satu jam!"


"Sudah basa-basinya. Pergi ke walungan (kali) sebelum hari semakin gelap!" kata Wak Hardi tegas.


Satu hal yang aku suka dari beliau adalah kharisma ketegasannya. Aura kepemimpinan beliau sangat terasa. Pantas saja, karena beliau adalah pendiri padepokan yang memiliki ratusan santri pengikut setia di kampung kelahiran Papa yang berbeda desa dengan rumah Wak Hardi.


Aku sendiri baru dua kali main ke rumah Wak sebelum menikah. Jadi, agak samar dan lupa-lupa ingat rute jalannya. Tapi entah hari ini seolah ada yang menuntunku. Sehingga aku tiba di rumah Wak Hardi tanpa nyasar padahal hampir jalan yang kutapaki berubah setelah belasan tahun.


Aku dan Wak Wati saling menuntun.


Berjalan pelan menyusuri pematang yang tidak terlalu licin karena belum musim penghujan.


Suara gemericik air sungai mulai terdengar karena memang jarak sungai dari rumah Wak tak terlalu jauh. Hanya sedikit menuruni perbukitan semak rumpun bambu.


"Husss... Mengagetkan saja!"


Aku kaget. Wak Wati terpekik tapi dengan suara pelan.


"Ada apa, Wak?"


"Hehehe... Tidak ada apa-apa, Liana! Ayo, jalan saja terus. Jangan menoleh ke belakang!"


Aku gugup. Kembali teringat kisah yang tadi Wak ceritakan tapi masih menggantung karena masuk waktu Maghrib.


Alangkah terkejutnya aku ketika melihat Wak Hardi sudah lebih dahulu tiba di sungai.


Bagaimana bisa Wak Hardi tiba lebih dulu padahal aku dan Wak Wati berjalan paling depan?


Kami semua tak bersuara. Demikian pula aku. Meskipun ada pertanyaan tertanam dibenak dan ingin sekali kulontarkan saat itu juga, namun aku mengingat pantangan-pantangan kala kita menginjak bumi Banten yang masih kental dijaga para warganya terutama pendatang baru seperti aku.


Ada adab-adab tata krama yang harus kita jaga ketika memasuki wilayah baru karena bisa jadi menyinggung leluhur tanpa sengaja.


Sholat Maghribku terasa jauh lebih nikmat karena khusu' tanpa ada gangguan suara alat elektronik karena memang terpencil.


Walaupun sudah ada penerangan aliran listrik, tetapi hanya lampu bohlam saja. Sehingga cahaya yang didapatkan hanya temaram.


Pukul tujuh kurang, setelah sekian lama aku baru membuka kembali Al-Qur'an dan membaca salah satu surat yakni surat Yasin dengan panduan Wak Hardi dan Wak Wati yang kutujukan wabil khusus kepada Papaku almarhum, Tubagus Arya Wardana.


Dulu aku sama sekali tidak tahu, kalau Tubagus itu termasuk nama gelar. Kupikir itu hanyalah sebuah nama. Namun ternyata ada beban nama keluarga kerajaan Banten yang Papa sandang.


Namaku sendiri adalah Liana Wulandari. Lalu adikku, Genta Muhammad Wardana.

__ADS_1


Kami dulu keluarga modern. Tidak pernah melakukan hal-hal aneh atau ritual. Papa Mamaku juga seperti masyarakat pada umumnya. Walaupun kami muslim, tapi tidak termasuk muslim yang taat beribadah. Bahkan kadang gaya hidup kami agak kebarat-baratan karena Papa pengusaha dan Mama bisa dikatakan ibu-ibu pejabat sosialita. Dulu. Dulu ketika kehidupan kami masih makmur. Ketika aku dan Genta masih kecil.


Sepiring singkong rebus masih mengepul mengeluarkan hawa panas, begitupun kopi Wak Hardi serta teh tubruk dua gelas untukku dan Wak Wati.


Rasanya, sudah lama sekali aku tidak makan singkong kukus yang legit dan nikmat karena di masak di atas bara api kompor tungku di dapur wak Wati yang sederhana tapi sangat bersih itu.


"Wak! Liana sedang ada masalah!" kataku kembali membuka pembicaraan.


Kini hatiku jauh lebih tenang. Sehingga satu persatu masalah kuceritakan secara teratur dari pernikahanku yang gagal hingga permasalahan baru, dua kakak beradik yang tiba-tiba menginginkanku jadi istri mereka.


Juga kuceritakan keadaan Jordan yang kini tidak baik-baik saja.


Semua kuceritakan tanpa ada yang kurahasiakan karena aku ingin masalahku selesai tanpa menyakiti hati siapapun.


Wak Hardi dan Wak Wati mendengar ceritaku dengan serius.


"Liana!... Sejak awal kamu menikah dengan Irsyad, Wak sudah mengatakan pada Papamu, kalau kalian tidak cocok terlihat dari hari dan tanggal lahir kalian. Tetapi Papamu memarahiku dan menuduhku memberi doa buruk dihari pertama kau menyandang status istri."


"Papa?"


"Kamu tahu, Liana? Arya memang terlihat cuek pada kalian, kau dan Genta. Adikku itu memang sengaja ingin memberi kesan tak peduli bahkan jahat dimata kalian! Itu karena ancaman Mamamu, Farida setelah palu hakim mengetuk dan pernikahan mereka selesai."


"Mama? Kenapa Mama sampai melarang Papa untuk berbuat baik pada Liana dan Genta? Bukankah kami ini anaknya? Darah daging asli Papa dan Mama? Sudah sewajarnya mereka memberi kami kasih sayang utuh walaupun kenyataan rumah tangga mereka tidak lagi bisa dipertahankan?"


"Hhh... Ada kekecewaan yang teramat dalam yang membuat Mamamu melakukan itu! Wak tidak sepenuhnya menyalahkan Mamamu! Mungkin sudah jalan-Nya untuk mereka melewati semua ini walau terlihat kekanakkan!"


"Tentu saja. Bagi Lian Mama dan Papa sangat kekanakkan! Tak sedikitpun memikirkan perasaan kami yang terluka karena perpisahan mereka. Harus ditambah lagi dengan ketidakpedulian keduanya, dengan tidak mau membawa dan mengurus kami padahal saat itu Liana juga Genta masih belum dewasa dan masih butuh kasih sayang keduanya!"


"Mamamu takut kalian menjadi korban kiriman santet keluarga besar kami yang saat itu sedang bertikai!"


Apa??? Kiriman santet? Apalagi ini? Di jaman modernisasi seperti ini dan di kota metropolitan tempat kami tinggal? Apakah itu masuk akal?


"Itu sebabnya kalian dititipkan di tempat yang jauh dan tidak berani Arga tengok karena khawatir kiriman jarak jauh itu bisa mengenai kalian berdua!"


Lagi-lagi aku hanya bisa bengong termangu mendapati lagi kenyataan yang sebenarnya tentang hidupku di masa lalu.


"Ketahuilah, Liana! Orangtua melakukan sesuatu itu pasti ada dasar, sebab musabab dan maksud serta tujuan. Mereka pasti sudah mempertimbangkan terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu, tentunya demi masa depan anak-anak yang mereka cintai."


Aku menunduk terpekur seorang diri.


"Tapi terkadang daya pemikiran seorang anak belum sampai pada pengertian itu, Wak! Hanya kekecewaan dan kesedihan serta penyesalan mengapa sampai hati mereka meninggalkan kami seperti anak yang tak punya orang tua! Hik hik hiks..."

__ADS_1


Aku menangis. Tetapi kini jauh lebih mengerti mengapa Papa dan Mamaku tidak membawa kami serta, namun dititipkan pada Wak Darmawan kakak Mama yang paling besar.


BERSAMBUNG


__ADS_2