DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 76 - MALAM PERTAMA


__ADS_3

Pukul setengah delapan malam. Kami kembali ke kamar. Suasana rumah juga sudah sepi.


Semua orang beristirahat di kamar masing-masing.


"Lian..."


Suara suamiku terasa menggetarkan jiwa. Aku... sampai dapat mendengarkan bunyi detak jantungnya yang berdegup kencang seperti rebana yang ditabuh.


"Ini..., malam pertama kita ya?"


Aku tersipu.


"Boleh ku...cium bibirmu?"


Dug dug dug dug


Ya ampun, Mas... kamu, kamu sopan sekali. Apa... kamu belum pernah menyosor bibir perempuan?


Dug dug dug dug


Ya Allah... tolong bimbing kami menuju surga-Mu.


Jonathan menyentuh daguku. Mata kami saling bertatapan. Hingga nafas diantara kami begitu jelas hembusannya.


Tangannya meraih jemariku.


Tiada kata meluncur dari bibirnya.


Namun tindakan gentleman-nya mampu membuatku bagaikan bersiap terbang ke surga.


Ya Allah... sweetnya kamu, Mas!


Hidungnya... menyentuh hidungku.


Jantungku berdetak lebih cepat lagi. Bahkan seperti bunyi detik boom yang siap meledak.


"Aku... menyukaimu sejak pandang pertama, Liana! Sekarang...kamu benar-benar jadi milikku!"


Bibirnya...mengec*p bibirku lembut.


Ya Tuhan... Ya Tuhanku...


Dia mengusap sebelah pipiku yang kini telah tirus.


"Liana..." Des*hnya.


"Mas..."


Kupejamkan mata ini. Kubiarkan tubuhku merespons tindakan demi tindakan yang mas Jonathan lakukan.


Kami mengikuti naluri yang meluap-luap. Merasakan cinta dan keinginan hidup bahagia yang membara.


Aku... sayang kamu, Mas!


Mas Jonathan membimbingku ke ranjang tidur pengantin kami yang berwarna merah muda bertaburkan kelopak bunga mawar merah berbentuk hati.


Suasana yang nyaman, segar wangi bunga, membuatku mengikuti semua arahannya.


Walaupun statusku yang pernah menikah sedangkan dia belum, tetapi aku merasa terlihat bodoh hingga bagaikan kerbau dicucuk hidungnya. Menurut dan mengikuti semua tuntunannya.


"Liana... Aku sayang kamu, istriku!"


Mataku terpejam dengan jantung semakin tak karuan tatkala bibir suamiku mendarat di kening, pipi kiri juga kanan lalu pucuk hidungku dan terakhir di atas bibir ranumku.


"Liana..."

__ADS_1


Dia melum*tnya, lembut sekali. Hingga debaran jantungnya terasa di dadaku yang turun naik menahan gejolak asmara ini.


Perlahan intensitasnya kian meningkat.


Mas Jonathan semakin beringas menci*umku. Aku juga terpancing hingga tanpa sadar tangan ini meraih kepalanya. Lalu mengelus-elus tengkuknya dengan jemari bergetar.


"Liana..."


"Mas Jonathan...!"


"I love you..."


"I love you too..."


Malam yang dingin di luar tetapi bagi kami terasa panas membara.


Mas Jonathan semakin pintar dan berani melakukan manuver dengan memepet tubuhku hingga kini kami rebahan. Tubuhnya berada di atas ku. Setengah menindih karena kami sedang asyik berciuman.


"Aku..., lakukan itu ya?" pintanya dengan suara bergetar.


Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk dengan mata mengerjap.


Tangannya masuk ke dalam bluesku.


"Mas...!"


"Liana...!"


Dia semakin beringas. Menci*mi bibir dan leherku dengan penuh semangat.


Dia suamiku. Dan aku harus memberikan yang terbaik untuknya. Tuhan... izinkan aku bahagia bersamanya.


Malam kian larut, kami berdua sibuk dengan kegiatan halal di malam pertama. Tetapi ketika barang berharga milik suamiku masuk ke area vitalku, justru kejadian yang tidak kami mengerti.


Wajahnya pucat. Mas Jonathan terlihat panik dengan bibir bawah digigitnya kuat.


"Ada apa, Mas?"


"Barangku... barangku langsung menciut!" gumamnya bingung.


Aku hanya bisa menatapnya seperti orang linglung.


Kini aku yang harus lebih agresif! Batinku dalam hati.


Aku mengganti posisi. Naik ke atas tubuhnya yang seksi.


"Mas..."


"Liana..., Liana...!"


Kucoba untuk merangs*ngnya. Kini aku yang memancing kembali gairahnya untuk bercinta.


Hampir..., sedikit lagi.


Junior nya kembali menggeliat. Semakin membuatku semangat.


"Liana..."


Namun ketika aku hendak memasukkan ke dalam... tiba-tiba kembali melemah dan...


"Liana, maaf..."


Kuciu*mi bibirnya lagi dan lagi.


Kini aku yang beringas. Kuci*mi tubuhnya perlahan sekali. Sengaja memberinya sentuhan yang paling halus. Bahkan juniornya kembali menegang ketika aku menjil*ti.

__ADS_1


Ayo, kamu bisa, Mas...


Tetapi... kembali menciut ketika ia hendak masuk ke areaku.


Ya Allah... ada apa ini...


Suamiku terlihat frustasi. Keringatnya mengucur deras.


"Liana, maaf...! Sabar dulu ya?"


Kupeluk tubuhnya erat-erat.


"Ada apa denganku ini?" gumamnya semakin panik.


Aku mencoba berdiri dihadapannya dengan tubuh polos. Sengaja memancing kembali libido dan nafsu bir*hinya.


Kami kembali bergulat di atas ranjang. Sampai bibir dan put*ng dua g*nung kembarku terasa panas juga ngilu.


Lagi dan lagi. Namun..., Mas Jonathan gagal menembus dinding vag*naku.


"Liana, maaf..."


Aku tidak menyerah. Suamiku orang yang gagah, kuat dan sehat.


Kugiring dia menuju bathtub. Kami mencoba melakukannya di dalam bak berisi air hangat.


Ternyata tetap tidak bisa.


Malam pertama kami, gagal membuat Mas Jonathan dan aku kecewa dalam diam.


Hanya mandi bersih dengan bibir bungkam satu sama lain.


Aku bingung, aku juga tidak faham hal yang beginian.


Mas Jonathan tidur memunggungiku di malam pertama. Tentu saja aku kecewa. Tapi aku tidak marah hanya karena kejadian itu. Sungguh.


Bagiku pernikahan bukan hanya sekedar penyatuan tubuh di atas ranjang saja.


Kupeluk tubuhnya erat-erat dari belakang.


"Mas..."


"Tidurlah, Liana... Kamu pasti lelah sama seperti aku!"


Aku merasa dirinya menolak pelukanku secara halus.


Aku tahu, harga dirinya tercabik-cabik karena gagal menggagahiku di malam pertama ini.


Tapi aku tidak marah dan kecewa berlebihan.


Lagipula pernikahan kita akan terus berlanjut hingga akhir masa. Bukan hanya untuk malam ini saja.


"Mas..."


"Liana maaf,... izinkan aku tidur di kamar mu dulu ya?"


"Mas?!"


Mataku hanya bisa menatapnya pergi ke luar kamar pengantin kami.


Ya Allah ya Tuhanku. Cobaan apa lagi ini?


Aku hanya bisa tidur dengan wajah telungkup dan perlahan meneteskan air mata.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2