DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 32 - KISAH HIDUP JONATHAN HARVEST DAN LAMARAN TIBA-TIBANYA


__ADS_3

"Mama Saya pertama kali menikah dengan Papa dan memiliki satu anak, yaitu Saya. Setelah tiga tahun kemudian, Papa meninggal dunia. Mama menikah lagi dengan sahabat karib almarhum Papa. Saya pun menyetujuinya karena memang Papi juga orang yang baik dan penyabar. Sayangnya, ada perempuan lain yang tidak menerima pernikahan Papi dengan janda beranak satu. Dia adalah tante Mirna, mantan pacar Papi. Sepertinya aroma-aroma mistis dan kiriman-kiriman itu sudah berlangsung pada saat itu. Hingga Papi sakit-sakitan setelah menikah dengan Mama. Dan puncaknya, Papi meninggal dunia ketika adik Saya baru berusia tiga tahun. Sejak saat itu saya belajar menjadi dewasa. Menjaga Mama dan adik lelaki satu-satunya. Mengurus perusahaan walaupun masih diambil alih sementara oleh keluarga Mama. Diusia Saya ke-25 tahun dan adik saya ke-17 tahun, kami mulai mendapatkan kepercayaan penuh mengurus dua perusahaan Papa juga Papi. Awalnya semua berjalan lancar. Usaha kami juga maju pesat sampai sempat membangun pabrik baru di daerah Cikarang."


Boss Gege berhenti cerita sesaat. Terlihat ia menelan salivanya guna mengatur pernafasan.


"Hingga kemudian, Saya... Jatuh cinta pada seorang wanita. Bianca namanya. Kami, bahkan sempat memiliki angan dan cita-cita menikah dua tahun kedepan. Ternyata, setelah dua keluarga dipertemukan, bukan kebahagiaan dan kesepakatan melanjutkan rencana pernikahan. Tetapi, justru bara api dendam yang sempat padam bertahun-tahun lamanya justru kembali berkobar. Bahkan jauh lebih besar dan semakin besar api kesumatnya. Bianca ternyata adalah putri Tante Mirna. Dan disitulah permusuhan lama kembali terjadi. Tante Mirna menghasut Bianca hingga hubungan kami putus begitu saja. Bahkan sampai melakukan hal-hal gila dengan niat kuat menghancurkan kami sekeluarga."


Boss Gege kembali terdiam. Sampai Wak Hardi menyodorkan air minum yang tadi kubawa dari dapur.


"Kami..., bisa bertahan berkat bantuan pak Kiyai Hasan guru mengaji Mama dan Saya. Kebetulan di usia saya yang menginjak 33 tahun, Saya mendapat hidayah serta keberkahan dengan mengucap dua kalimat syahadat. Mama juga adik saya turut serta mengikuti agama baru saya. Kami mualaf tujuh tahun lalu!"


Aku menatap haru wajah Boss Gege. Sangat terharu sampai meneteskan air mata.


"Tiga tahun yang lalu, Kiyai Hasan meninggal dunia. Saya pikir, keadaan sudah aman tak ada lagi dendam dan kesalahfahaman. Karena itu semua sebenarnya hanya berasal dari perasaan cinta yang tak tersalurkan. Toh Papi saya pun sudah tiada. Dan Tante Mirna juga telah menikah juga. Tapi ternyata, kebencian sudah tertanam dan mengakar kuat di sanubari. Mereka bangkrut dan iri melihat perusahaan kami maju. Mereka...bertemu dengan orang pintar yang cukup kuat. Sampai suatu ketika, hujan angin tiba-tiba menghantam rumah kami dan adik saya jatuh pingsan. Didi koma selama satu bulan. Perusahaan juga perlahan mendapat guncangan. Dua pabrik kami bahkan terpaksa ditutup hingga dioper alih kepemilikannya karena nyaris bangkrut. Saya, berusaha bertahan sekuat mungkin demi Mama juga adik saya. Allah menjaga kami sampai hari ini. Keberuntungan Saya bisa berbincang dengan Wak Hardi adalah berkat Liana. Saya sangat bersyukur, Allah pertemukan Saya dengan Liana dan juga Genta!"


Boss Gege terisak di hadapan Wak Hardi. Aku dan Genta menunduk, ikut terharu.


"Jonathan! Mulai detik ini, kamu sudah terbebas dari jerat tali setan yang membelenggu kalian selama ini. Tetap ber-husnudzon. Tingkatkan ibadah lima waktu kalian, dan percayalah pada Kekuatan Allah Ta'ala. Bahwa kejahatan serta kebatilan pasti akan kalah oleh Kebesaran dan Kuasa Allah Subhana WaTa'ala. Saya sangat respek mendengar kisah hidupmu yang menginspirasi. Tetap semangat, wahai saudara seiman! Jangan sungkan denganku. Sering-seringlah kesini, tengok kami dan jalin silaturahim dimasa senggangmu!"


"Wak! Terima kasih banyak! Terima kasih telah membantu Saya dan keluarga keluar dari permasalahan pelik kami selama ini. Saya... Saya tidak akan pernah melupakan jasa baik Wak Hardi, seumur hidup saya, bahkan sampai saya mati. Wak! Sebelum saya pamit... Izinkan Saya meminta sesuatu. Saya..., Saya... Ingin melamar Liana setelah masa iddahnya dua bulan lagi selesai. Saya tidak akan memaksakan kehendak. Saya menghargai jawaban Liana, menerima atau menolaknya. Tetapi saya ingin mengatakan niat Saya pada Wak sebagai wali dari Liana dan juga Genta!"


Aku... Tentu saja sangat kaget mendengar perkataan serius Boss Gege. Bahkan... Sampai gemetar saking tak percaya mendapatkan pengakuan lamaran yang tiba-tiba. Dari Boss Gege yang paling kuhormati pula.


"Jonathan! Aku salut dengan keberanianmu langsung membicarakan hal yang kuanggap bukan main-main ini. Tapi satu hal yang ingin kutanyakan juga. Apa kamu menikahi Liana karena ada maksud tertentu? Karena ingin mendapatkan perlindungan sebab Liana memiliki darah suci keturunan putra Banten?"

__ADS_1


"Tidak. Tidak, Wak! Saya hanya merasa yakin, kalau kami memiliki kesamaan sifat, sikap dan juga pemikiran. Saya... Sayang Liana! Masalah jodoh, saya pasrahkan pada Allah. Biar Liana yang menentukan sendiri, apa akan menerima lamaran saya atau tidak. Dan Saya akan bersabar menunggu sampai dua bulan ke depan!"


"Baiklah! Aku menghargai perasaanmu serta kebesaran hatimu, Jo! Aku akan datang ke tempatmu dua bulan setelah ini, untuk menagih janjimu. Tapi sebelum itu, tentu saja aku harus berdiskusi dahulu dengan Liana. Apakah putriku itu menerima atau menolaknya!"


"Iya, Wak! Saya akan bersabar menunggu waktu itu tiba!"


Aku, Genta dan Boss Gege kembali pulang pada pukul lima sore. Setelah meminta maaf pada Ibu tiriku dan juga Airlangga serta Wak Hardi karena tidak dapat mengikuti prosesi tahlilan sampai tujuh harian almarhum Papa.


Sepanjang perjalanan pulang, aku lebih banyak diam dan menunduk malu.


Bukan apa-apa. Aku beneran malu dan tak pernah menduga sama sekali. Boss Gege memintaku langsung pada Wak Hardi. Dan dengan suara tegas laki-laki yang memiliki keseriusan tinggi ingin mempersunting.


Ini adalah kali kedua aku mendapatkan lamaran dari seorang pria.


Kala itu, aku bagaikan upik abu yang dilamar seorang pangeran tampan. Kuumpamakan Irsyad laksana sultan kerajaan yang begitu jantan menyunting diriku yang hanyalah pekerja pabrik boneka pada saat itu.


Hhh...


Aku menggelengkan kepala. Berusaha menghilangkan kenangan yang memenuhi benakku.


"Kenapa, Liana? Apa...kamu sakit?" tanya Boss Gege membuatku langsung menjawab 'tidak'.


"Maaf... Jika ucapanku tadi pada Wak Hardi jadi mengusik kehidupanmu yang baru. Aku pikir, itu adalah kesempatanku untuk meminta izin serta restu beliau jika sudah habis masa iddahmu. Aku...memang punya keinginan bisa menikah denganmu sejak mengenalmu lebih jauh."

__ADS_1


"Saya...bukannya sok jual mahal atau,"


"Aku mengerti perasaanmu! Maaf!"


"Jangan bilang maaf, Boss! Saya justru makin merasa sungkan karena kebaikan boss. Saya... Saya tidak pernah berfikir kalau boss, hhh... Ini seperti mimpi! Saya...bingung!"


"Iya. Aku faham, Liana! Sudahlah, cukup kita berserah pada Allah saja. Apakah jalan untukku bisa bersamamu akan Allah mudahkan atau tidak. Aku tidak akan mengusikmu dulu sampai kamu bisa mendapatkan jawaban dari hatimu yang murni. Anggap saja aku belum mengatakan apa-apa!"


Genta sepertinya juga ikut shock mendengar perkataan Boss Gege. Adikku hanya diam sedari tadi, tapi raut wajah serta matanya tampak begitu cerah dan bersinar.


Sedikit banyak kutebak, kalau dia sangat suka dan setuju pada keinginan Boss menikah denganku.


Ya iyalah, Genta! Aku...dilamar boss tampan, bujangan dan kaya raya pula! Siapa yang tidak senang? Tapi aku takut. Takut sekali kalau aku jumawa, tiba-tiba bangun dari mimpi dan merasakan rasa sakit yang menyakitkan.


Pernikahan bukanlah untuk dipermainkan. Pernikahan diusahakan sekali saja dalam seumur hidup. Itu harapanku yang ternyata tinggal asa semata.


Bagaimana mungkin aku menikah dengan CEO tampan, kaya raya? Rasanya, seperti hidup dalam dongeng ataupun novel percintaan yang bisa tidak masuk akal.


Cowok sekelas Irsyad saja yang tampannya hanya cukup saja, telah begitu tega menyakitiku sampai membekas dan meninggalkan rasa trauma untuk tidak mau lagi mengenal cinta. Bagaimana nanti dengan Boss Gege yang tampannya melebihi pria-pria tampan lainnya?


Aku punya kekurangan. Rahimku...tidak bermasalah. Tetapi belum bisa dibuahi layaknya perempuan yang berbahagia diluar sana. Tubuhku juga membengkak, karena pernah mengkonsumsi obat-obatan keras guna mematikan sel cancer pada waktu itu. Aku..., anak broken home yang tak punya apa-apa. Bahkan kepercayaan diriku pun telah musnah hilang ketika mengetahui suamiku selingkuh dengan orang kepercayaanku. Hhh...


__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2