DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 26 - HARI MINGGU CERIA


__ADS_3

"Kita kesini, Boss?"


"Ya. Kamu perlu beli baju yang lebih bagus!"


Aku tercengang. Sebuah butik ternama dengan merk-merk baju branded di dalamnya.


"Boss! Bagaimana bisa saya beli baju mahal ini sedangkan uangnya tidak,"


"Sst... Beli satu. Yang paling bagus! Perusahaan yang bayar!"


Aku terpaksa menuruti perintah Boss Gege.


"Yang ini, cocok untuk asisten pribadi Saya!"


Hari itu aku merasa 'bukan diriku'. Boss Gege Jonathan benar-benar mempermakku habis-habisan. Berpakaian indah, rapi, juga berharga mahal. Lalu berdandan cantik dengan style salon terkenal pula.




"Kau terlihat elegan, Liana!" puji Boss Gege membuatku tersipu malu.


Ia juga kini telah rapi memakai jas lengkapnya.


Kami pun berangkat ketempat yang dituju. Boss Gege menyetir sendiri kendaraannya tanpa supir seperti kemarin. Sepertinya Ia memang tidak mempekerjakan sopir karena bisa menyetir. Mungkin.


Setelah beberapa belas menit kemudian, mereka memasuki kawasan wisma gedung elite.


"Ayo!"


"Saya...agak gugup, Boss!"


"Rileks saja. Ada aku! Kamu cuma duduk dan mendampingiku saja! Tak perlu banyak bicara!"


Aku mengangguk pelan.


Grep.


Tiba-tiba Boss Gege menggenggam jemariku dengan kepalan tangannya yang erat. Seketika aliran darahku menghangat dan jantungku berdebar tak karuan.


Sebuah cafe dan resto ternyata juga di dalam gedung wisma. Kukira gedung perkantoran itu hanya khusus kantor-kantor saja. Ternyata di lantai paling atas ada juga tempat cozy seperti bar dan juga kamar-kamar VVIP untuk hiburan serta tempat rehat para CEO high class.


Aku dan Boss Gege duduk ditemoat yang disediakan seorang waitres berpakaian mini.


"Silakan, Pak, Bu!"


Kami menunggu beberapa saat sambil menikmati semangkuk havermut dan jus buah tanpa gula dengan diiringi musik lembut. Membuatku jadi sedikit mengantuk.


"Selamat pagi, Pak Jonathan! Maaf, kalau kedatanganku agak ngaret!"


"Selamat pagi, Pak Jacky! Tidak, tidak. Saya juga baru tiba beberapa menit yang lalu. Silakan, Pak, Bu!"


Seorang pria tinggi besar datang bersama seorang perempuan cantik. Tangan mereka bergandengan, mesra sekali.


Sepertinya perempuan itu bukan sekretarisnya. Mungkin...pasangannya.


Kami saling mengulurkan tangan dan berjabatan.


"Apa kabar Jo? Lama tak jumpa!"


"Baik, Nyonya Bianca! Senang bisa bertemu Anda juga!" timpal Boss Gege membuatku mulai menerka.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku saat ini sedang mendampingi suamiku! Semoga kerja sama usaha kalian berjalan lancar. Bukan begitu, honey?"


"Tentu, My sweet wife!"


Oh romantisnya!


"Siapa wanita ini? Asisten barumu, Pak Jo?" tanya Pak Jacky ramah sambil tersenyum memandangku.


"Oh, perkenalkan! Ini Liana, kami... Hmm... Pasti Bapak bisa menebak sendiri. Hehehe... Ini me time kami, tapi ternyata Pak Jacky mengajak teken kontrak kerja dihari libur. Otomatis, untuk menyingkat waktu, Saya bawa Liana serta. Apa tidak akan mengganggu diskusi serius kita?"


Hah? Boss Gege mengenalkanku sebagai apa?


"Hahaha... Tentu tidak, Pak Jonathan! Saya juga membawa istri yang sangat ribut sejak kemarin ingin ikut serta!"


"Hehehe... Terima kasih atas pengertiannya!"


"Wah... Ternyata calon istrinya Boss Jonathan! Cantik juga. Walau...agak sehat! Hehehe..."


Aku menggigit bibir bawahku. Tersenyum miris menimpali candaan istri dari Pak Jacky yang agak...


"Jangan gigit bibir bawahmu kalau sedang gugup, Liana! Tingkahmu itu justru membuatku makin gemas dan ingin mel*matnya segera!"


Deg.


Apa? A_apa yang Boss Gege katakan padaku?


Pak Jacky dan istrinya tertawa. Mereka semakin intens melakukan gerakan yang membuatku kikuk juga.


Walaupun cafe ini sepi, tapi setidaknya Pak Jacky dan istri harusnya bisa menjaga sikap. Hiks! Aku takut sekali kalau Boss Gege dan aku semakin sulit berakting.


"Kapan kalian akan meresmikan hubungan dan naik pelaminan?" tanya Nyonya Bianca, istri Pak Boss Jacky.


"Jangan patah semangat! Perempuan itu akan luluh oleh perhatian dan kerja keras pria dalam mengejarnya. Berikan yang terbaik, pasti akan dapat yang terbaik pula!"


"Terima kasih dukungan, Pak Jacky! Bagaimana kalau sekarang kita langsung teken kontraknya? Saya...masih harus mengajak Liana hari mingguan!"


"Hahaha... Tentu, tentu Pak Jo! Mari..., saya sudah siapkan berkasnya. Mana, Sayang, surat perjanjian kerjanya?"


Pak Jacky mengambil map yang disodorkan istrinya.


Ia terlebih dahulu menandatangani surat perjanjian kerja perusahaannya dengan perusahaan Boss Gege diatas meja. Lalu mendorongnya ke arah Kami.


"Silakan! Setelah kerjasama ini terikat, dalam waktu kurang dari sepuluh hari, maka bank akan langsung mentransfer nominal uang sesuai perjanjian ke rekening perusahaan Anda!"


Boss Gege mengambil kacamata bacanya dari balik saku jasnya. Dan membaca poin demi poin yang tertera dengan serius. Kemudian tanpa banyak kata langsung membubuhkan tanda tangannya juga.


"Terima kasih, Pak Jacky! Semoga kerja sama dua perusahaan akan membawa dampak yang baik untuk kita semua."


"Aamiin! Saya harap begitu. Ada wacana pembangunan pabrik baru disekitar area pabrik Pak Jo. Istri saya sebenarnya yang punya ide karena telah membeli lahan luas di sekitaran pabrik Anda!"


"Oh iya? Saya baru tahu. Selamat kalau begitu, Pak Jacky, Nyonya Bianca!"


"Hehehe... Baru wacana! Semoga dalam waktu cepat bisa terealisasi! Hm... Begitulah sweetheart saya ini. Kalau ada maunya, dia akan gigih berjuang untuk mendapatkannya!"


"Perempuan hebat! Begitu juga Liana! Makanya Saya tergila-gila dengan gadis Saya ini. Semoga Saya bisa cepat membawanya ke pelaminan!"


"Saya dukung sepenuhnya! Hehehe..."


"Tapi aku koq ragu ya, Jo? Liana sangat jauh dari kriteria wanita idamanmu! Kamu itu suka perempuan yang bertubuh ideal. Memang Liana cantik, tapi... Menurut pandanganku agak aneh saja. Secara aku cukup faham karaktermu di masa lalu!" sela Nyonya Bianca semakin membuatku curiga.


"Saya kini tidak punya kriteria wanita idaman, Nyonya! Karena semuanya ada dalam diri Liana. Hatinya baik, itu sudah cukup. Apalah artinya tubuh dan fisik yang proporsional tetapi tidak dibarengi hati yang baik!"

__ADS_1


Ada sesuatu sepertinya diantara mereka! Tebakku dalam hati.


"Sudah, Sayang! Jangan menggoda Pak Jo terus! Mari kita pergi. Bukankah kamu mau lihat-lihat kapal pesiar yang baru di dermaga?"


"OMG, aku lupa, Sayang! Ayo, ayo! Lihat, Jo! Betapa suamiku sangat mencintai dan memanjakanku dengan barang-barang mewah! Hehehe... Kuharap kau pun akan melakukan hal yang sama pada Liana!"


"Jangan bicara seperti itu, Baby! Hehehe... Maafkan istri saya tersayang, Oke, Pak Jo? Kami pamit permisi. Selamat bersenang-senang!"


"Hehehe... Terima kasih, Pak Jacky! Have anice day and have fun!"


Kedua pasutri hot itu keluar dengan tubuh saling menempel erat. Membuatku dan Boss Gege menghela nafas kompak setelah keduanya menghilang di balik pintu cafe.


"Hhh...!!!"


"Hahaha... Kenapa terasa beban berat baru saja terangkat? Ayo, ayo kita rayakan keberhasilan proyek ini!"


Aku dan Boss Gege tertawa.


"Mau kemana kita?" tanyaku kikuk mendapati lagi jemariku digenggam dia.


"Ah, maaf... Soal yang tadi juga! Hm... Aku sudah lama tidak menikmati hari minggu ceria seperti ini. Boleh aku mengajakmu nonton?"


Nonton di bioskop? Beneran?


Mataku mengerjap tanda setuju.


Boss Gege membawaku ke sebuah mall mega besar. Kami langsung naik elevator menuju lantai tempat gedung bioskop berada.


Lama sekali aku tak menjejakkan kaki di gedung teater. Menonton film lewat layar putih di dalam teater besar bersama ribuan orang yang tak kukenal.


"Nonton film apa ya?"


"Terserah, Boss! Saya sudah delapan tahun tidak pernah nonton film di bioskop!" bisikku malu membuat Boss Gege tertawa renyah.


"Kamu unbreakable! Hehehe..."


"Apa itu, Boss?"


"Kamu itu luar biasa! Terima kasih sudah menjadi partnerku hari ini! Maaf, aku tidak sempat menceritakan dahulu rencanaku yang tadi spontanitas itu! Kamu pasti bingung, ya Liana! Hehehe..."


"Ya. Saya sangat bingung, Boss! Tapi... Saya tidak marah, karena Boss pasti punya alasan dibalik semua hal yang tadi Boss katakan pada Pak Jacky dan istrinya!"


"Hm... Begitulah, Liana! Ayo... Teater satu sudah dibuka! Ya ampun, ini film remaja kah? Kenapa banyak sekali muda-mudi berpasangan yang mau nonton film ini?"


"Hahaha... Bisa jadi! Anggap saja kita juga muda-mudi bagian dari mereka!" timpalku mulai berani menggoda Dia.


"Hahaha... Muda-mudi kadaluarsa! Hiks... Umurku mau 40 tahun, Liana! Kemungkinan juga bapak mereka ada yang seumuran denganku!"


Aku tersenyum lebar. Boss Gege menepuk dahinya satu tangannya lagi menarik tanganku setelah matanya mencari-cari angka kursi duduk kami.


Kami duduk di kursi gedung teater satu sesuai nomor kursi. Sambil menunggu tiba waktu pemutaran film.


"Mau popcorn? Minuman?" bisik Boss Gege mendekat ke telingaku ketika seorang gadis penjaja makanan menawarkan dagangannya di nampan pada kami.


"Terserah, Boss!"


"Dari tadi terserah melulu! Punya prinsip, dong!"


Hahaha... Prinsip, ya? Aku lagi-lagi teringat pada sikap, sikap dan temperamenku dimasa lalu. Aku... Selalu mengatur Bang Irsyad jadi seperti yang kumau. Tapi nyatanya, tetap saja aku yang salah. Aku dinilai egois dan mau menang sendiri. Mengakibatkan suamiku itu jadi lelah hingga serong dan selingkuh dibelakangku. Hhh...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2