DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 23 - ADA LAGI KEJADIAN MENGERIKAN


__ADS_3

Tok tok tok


"Kak Lian! Sudah jam lima, ditunggu Boss Gege di bawah!"


Suara Genta sayup terdengar dari balik pintu kamarku.


"Iya, Gen!"


...[Siapa?]...


"Adikku Genta. Kami harus turun karena sudah dipanggil atasan, Jor!"


...[Oh, oke. Semangat ya Lian! Aku akan chat kamu pukul delapan malam. Boleh?]...


"Tentu saja boleh. Aku akan senang sekali karena punya teman mengobrol sekarang! Hehehe... Aku matikan sambungannya ya?"


...[Iya. Have anice day, Liana! Assalamualaikum...]...


"Waalaikum salam!"


...Klik...


Percakapan kami membuat naik kembali semangatku. Senyum mengembang di sudut bibirku. Aku senang, kini perlahan fikiran kacau tak lagi terlalu semrawut karena ada pengalihan.


Jordan dan Aku adalah insan kesepian. Sama-sama Tuhan pertemukan untuk saling memberi support serta dukungan. Mungkin.


Aku percaya, Tuhan Maha Baik.


Tuhan kirimkan seorang teman masa lalu yang kini jadi sahabat tempat curhat dan saling beri nasehat. Tetapi yang kubutuhkan saat ini adalah kenyamanan berteman. Sehingga diantara kami tulus murni saling memberi perhatian tanpa meminta balasan.


...........


Boss Jonathan Harvest sudah duduk di teras rumahnya yang besar. Genta juga sudah berada di hadapannya. Aku yang baru datang, mengangguk dan duduk setelah Boss Jo persilakan.


Citra keluar dengan baki berisi tiga cangkir berisi air teh yang masih mengepul.


"Terima kasih, Citra!"


"Sama-sama, Boss Gege!"


Aku turut menganggukkan kepala dan mengucap terima kasih pada Mbak Citra.


"Silakan!" kata Mas Jo membuatku mengangguk hormat.


"Sebelum kalian bekerja besok, aku ingin mewawancarai kalian terlebih dahulu sebagai perkenalan!"


Aku dan Genta menegakkan badan. Bersiap menerima pertanyaan demi pertanyaan.


"Kalian saudara kandung?" tanyanya tegas. Kompak kami mengangguk.


"Oke. Kamu sudah menikah, Liana? Sudah punya anak?"


Aku menggeleng lemah.


"Alamat tinggal kalian dimana? Kartu identitasnya boleh kulihat?"


Aku membuka dompet kecilku, begitu juga dengan Genta.


"Kalian saudara yang kompak. Jarang sekali aku lihat ada saudara seperti kalian!"

__ADS_1


Aku menatap Boss Jo. Lalu menunduk.


"Kami sedang ada masalah sebenarnya! Kami sedang bersembunyi!" ucapku dengan wajah tunduk ke lantai marmer rumah.


"Hhh... Apa..., kalian saling jatuh cinta? Ada hubungan terlarang sampai melarikan diri seperti ini?"


"Bukan, Boss! Bukan seperti itu! Sebenarnya Saya-lah yang membawa masalah. Bukan Kakak saya. Saya... Buronan pinjaman online!"


Jonathan menatap wajahku dan Genta bergantian.


Dia menggelengkan kepalanya.


"Pinjaman online memang meresahkan! Sepertinya kasus itu akan terus jadi perbincangan panas di negeri ini!" gumamnya seolah berbicara pada dirinya sendiri.


Aku dan Genta menunduk malu.


"Aku salut, Liana sampai membacking Kamu, Genta! Padahal Kakakmu ini punya keluarga. Punya suami."


"Sudah cerai, Boss!" selaku pelan.


"Cerai koq bangga?"


Aku menelan saliva. Menunduk semakin dalam.


Siapa pula yang bangga memiliki status cerai? Boss ini baik, tapi kadang kata-katanya nyelekit.


Wusss


Prak prang


Angin besar tiba-tiba datang tanpa diduga. Menghembus kencang dan langsung menghantam teras rumah hingga beterbangan kursi kayu yang tak kami duduki hingga menghantam kaca jendela.


Jantungku serasa copot. Angin besar laksana puyuh mengelilingi teras dan...


Prak prak prak


Blarrr


Suara menggelegar petir padahal cuaca sore itu cukup cerah.


Ada apa ini? Padahal tidak hujan, tapi kenapa tiba-tiba ada angin?


"Ya Allah Gusti Yang Maha Agung! Kupasrahkan semua pada Kehendak-Mu Illahi Robbi!"


Aku terkejut, Bossku mengatakan kalimat yang membuatku tercengang.


Dia seorang muslim?


Aku masih gemetar. Dadaku juga bergetar kencang. Lutut serasa mau copot dari persendian. Sementara angin di luar masih berputar-putar dan perlahan menghilang tanpa jejak.


"Boss! Boss!!!"


Citra berteriak dari balik pintu ruang tengah dengan berlari terbopoh-gopoh.


"Ada apa, Citra?"


"Plavon dapur ambruk, Boss!" katanya membuat kami saling berpandangan.


"Hhh... Ini pasti pertama kali kalian lihat angin ****** beliung masuk rumah di saat cuaca cerah bukan?"

__ADS_1


Aku dan Genta terpaku dengan mata menatap Boss Jonathan.


"Kekuatan setan, tak akan bisa mengalahkan kekuatan Tuhan!" katanya lagi sembari tersenyum tipis.


"Kekuatan setan?"


"Sudah tiga tahun, keluargaku dihantam badai ilmu hitam. Mereka pikir bisa menghancurkan kami meskipun sudah bersekutu dengan iblis. Hm! Maaf, aku jadi curhat! Ini pertama kalinya aku bisa mengungkapkan isi hati dan keadaan keluarga kami pada orang lain!"


Aku dan Genta berpandangan.


"Duduklah dulu! Jangan panik tapi tetap waspada!"


Ada apa? Ada apa dengan semua ini dan juga perkataan menakutkan dari bibir Mas Jonathan?


Aku mengikuti perintahnya dan duduk di kursi tamu. Tapi Genta justru tetap mengekornya dari belakang.


"Mau kemana, Genta?"


"Saya ikut Boss! Siapa tahu Boss membutuhkan tenaga Saya di dapur!"


Boss Jonathan mengangguk pelan. Ia, Genta dan Citra menuju dapur. Melihat kondisi plavon dapur rumahnya yang ambrol tepat di tengah-tengah berbentuk lingkaran.


Aku yang tadinya duduk pun jadi ikut menyusul mereka. Takut juga duduk sendirian. Dan hawa panas serta udara dingin yang menyelimuti tengkukku membuatku bergidik.


Ada kekuatan sihir yang menguasai rumah ini, ternyata. Kekuatan jahat supranatural. Sama seperti rumahku dahulu yang kini dikuasai Katliya.


Aku menutup mulutku dengan tangan kanan. Mengapa akhir-akhir ini aku merasa hidup dengan melihat hal-hal aneh yang tak bisa dicerna oleh akal sehat dan logika.


Dari kehidupan rumah tanggaku, berpindah hatinya Irsyad tanpa sebab dan menjatuhkan talak cerainya begitu saja padaku. Ada Katliya berperan membantunya. Atau mungkin sepenuhnya gadis itu yang bermain menyem-menyem menggunakan ilmu hitam serta sihir.


Lalu kini ternyata kehidupan Boss Jonathan juga. Dia bahkan berkata sudah tiga tahun keluarganya di teror oleh makhluk tak kasat mata.


Sungguh aneh tapi nyata.


Di zaman teknologi canggih dan modernisasi seperti sekarang ini, ternyata ilmu hitam, santet, guna-guna juga pelet masih digunakan orang-orang picik untuk mencapai tujuan. Sungguh tidak masuk akal.


Aku melongo melihat sendiri plavon dapur rumah Boss Jo yang bolong bulat besar sangat rapi seperti digergaji oleh seseorang.


"Kenapa bentuknya bulat sempurna seperti itu ya? Aneh!" gumamku membuat Citra mengangguk.


"Ini yang ketiga kali, Mbak! Dua bulan lalu plavon kamar Boss Gege juga sama persis seperti itu! Bahkan Boss sedang tidur nyenyak di atas ranjang dan potongannya tepat mengenai badan Boss!" cerita Citra membuatku bergidik.


"Mungkinkah ada orang yang sengaja memakai ilmu hitam untuk mencelakai Boss? Atau... memang niatan ingin membunuh boss?"


Aku menepuk bahu Genta yang berkata asal.


Mata kami saling membulat tapi bibir terdiam.


Menakutkan dan menyeramkan.


"Sudah bukan rahasia umum juga persaingan bisnis sangat sengit, Kak!" bisik Citra yang membuatku jadi faham.


Untungnya hari belum gelap. Dan Boss Jo masih bisa menelpon orang-orang dari dinas pekerjaan umum untuk langsung membenahi jendela depan serta plavon dapurnya yang bolong.


Maghrib menjelang dan kami sholat berjamaah di gazebo musholla taman.


Boss Jonathan ternyata seorang muslim. Bahkan beliau menjadi imam kami memimpin sholat Maghrib, pengajian dan lanjut sholat Isya. Suaranya juga merdu sekali. Sungguh tidak kuduga sama sekali.


Kukira dia non muslim, karena wajahnya indo kebarat-baratan yang tampan, berkulit bersih dan manik bola matanya indah berwarna coklat terang. Tubuhnya juga dipenuhi bulu-bulu yang membuatnya semakin menggemaskan. Ternyata... Hm! Respekku makin besar padanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2