DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 56 - LIMA HARI TIRAKAT


__ADS_3

Ternyata cobaan yang datang ketika melakukan tirakat juga lumayan berat.


Halusinasi serta godaan memikirkan masa lalu yang indah pun merupakan tantangan terberat bagiku.


Semua, bagaikan slice demi slice film kehidupanku yang Allah pertontonkan. Dari kebahagiaan sampai penderitaan, semua menguras emosiku untuk terus memikirkannya lagi.


Tapi teringat kembali niatan awalku melakukan semua ini. Mengembalikan jiwa Jordan yang saat ini sedang berada di alam lain atas kiriman perbuatan seseorang.


Bahkan di hari ke-tiga tirakatku, mata batinku yang telah dibuka oleh Wak Hardi mulai melihat sisi lain makhluk-makhluk tak kasat mata yang bergentayangan seliweran. Bahkan jumlahnya sangat tidak terhitung.


Begitulah rupanya alam dunia ini. Bukan hanya manusia saja. Tapi Allah ciptakan makhluk lain sebangsa jin, setan dan iblis yang paling jahanam.


Penampakan demi penampakan itu membuat fisikku melemah. Kekuatanku berkurang jauh dibanding hari pertama dan kedua. Bahkan tubuhku menggigil kedinginan seperti meriang walau bibir dan hati terus menerus mendawamkan kalam Illahi. Ada sebuah buku tulis usang yang berisikan doa-doa jampi lainnya yang juga Wak berikan sebelum aku tirakat di ruangan tertutup.


"Liana! Liana!..."


Aku terbangun dari tidurku yang dikarenakan hypotermia ringan.


Ada seorang kakek-kakek berjubah putih, ditangan kanannya ada gelas bening berisi air putih.


"Minumlah! Baca basmallah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Menguasai Segala Ilmu di jagat raya!"


"Liana sedang berpuasa, Mbah!" kataku baru teringat kalau aku sedang tirakat.


"Tidak apa, walau hanya seteguk saja. Ini adalah air doa!"


Aku yang tampak lemah, bahkan susah sekali mengangkat tubuh saking lemasnya pun mencoba mengambil gelas berisi air. Namun tiba-tiba, gelas itu melesat lepas. Dan tumpah menyiram wajahku.


Rasa segar terasa membasahi seluruh wajah.


"Mbah, maaf... Liana tidak punya tenaga memegang gelasnya karena lemas!"


"Tidak apa. Usapkan wajahmu dengan hati tawaddu pada Allah. Dia-lah Tuhan Penguasa Seluruh Alam Raya. Mintalah apapun itu hanya kepada Allah saja. Jangan kepada gunung, batu ataupun pohon besar. Itu musyrik namanya!"


Aku mengangguk. Memejamkan mata seraya mengusap raut wajahku yang kuyup kena air satu gelas.


Ya Allah ya Tuhanku... Aku ingin bahagia. Dunia akhirat. Aku ingin Jordan sembuh seperti sedia kala, dan Jonathan bisa menerima keadaan kami apapun itu. Baik jika kami memang berjodoh maupun tidak. Aku juga tidak ingin Irsyad dan Katliya terus-terusan membenci aku. Jikalau dia memang mengirimkan sesuatu yang buruk kepadaku dan sanak keluarga juga orang-orang terdekatku, tolong lindungi kami! Kembalikan apa yang mereka kirim. Jauhkanlah keluargaku dari hal-hal buruk, bencana juga musibah marabahaya. Aamiin...


Seperti mimpi, tapi tidak tidur. Seperti di alam nyata, tapi seolah aku berada di alam dunia belahan lain. Banyak sekali wanita cantik dan pria tampan yang sedang bermain-main riang gembira.


Seperti sedang berada dalam taman indah penuh aneka bunga warna-warni. Sangat memanjakan mata.


Namun tiba-tiba bumi meredup. Lalu gelap seketika. Wajah-wajah cantik tampan rupawan itu seketika berubah bermacam-macam wujud dan rupanya. Ada yang kepalanya berubah menjadi kepala ular. Ada juga tubuhnya menjadi seperti hewan berkaki empat namun kepala tetap manusia, tetapi wajah buruk rupa. Semua berubah. Membuat tubuhku bergidik ketakutan sampai dingin kembali melanda.


Samar-samar otak dikepalaku seperti mendengar suara sendiri.

__ADS_1


Inilah dunia. Penuh tipu daya dan hanya fatamorgana. Semua keindahan itu hanyalah sesaat. Semua yang sempurna tiada cacat, perlahan berubah seiring bertambahnya usia dunia dan para penghuninya. Hanya orang-orang yang berhati teguh saja yang tetap bertahan dari godaan duniawi. Ini hanyalah perumpamaan semata.


Aku merasa dadaku sesak. Mataku melotot, mulutku terasa sangat pahit.


Seperti ada beban berat yang menindih membuatku tergagap hendak berteriak meminta tolong.


"U...u_uwak...! To_to_tolong!"


Rasanya sangat sulit untuk mengeluarkan sepatah dua patah kata lagi. Seperti ada sepasang tangan berkuku yang terus memanjang mencekik leherku.


Astaghfirullahal'adziim...


Astaghfirullahal'adziim...


Ya Allah ya Tuhanku! Aku hanya takut padamu! Aku hanya takut pada-Mu, ya Allah! Tidak takut pada apapun selain hanya kepada-Mu!


Lagi-lagi sebuah kepala tanpa tubuh seperti melayang pelan di hadapanku. Dan...


Kepala buntung itu tiba-tiba berhenti tepat sepuluh sentimeter di depan wajahku.


Astaghfirullahal'adziiim...


Keringat dingin mengucur dari seluruh pori-pori. Dua pasang mata besar merah itu melotot sampai terlihat urat-uratnya. Dan lagi-lagi aku berusaha tetap tegak menyebut asma Allah Penciptaku.


Ya Allah ya Karim! Lindungilah aku dari syetan yang terkutuk!


Demi Allah, hatiku sebenarnya sangat takut. Tapi aku tidak boleh takut karena setan itu tak lebih mulia dibandingkan aku! Tidak! Aku hanya takut Allah! Hanya takut Allah!


Seperti ada yang hendak keluar dari lubang dub*rku karena rasa takut yang alami. Tetapi segera kuhentakkan tubuh ini.


Tidak, tidak! Aku tidak boleh batal wudhu! Aku harus segera abdas, ambil wudhu lagi!


Segera kuayunkan kaki ke ruang belakang yang gelap gulita dan hanya lampu pelita kecil yang menyala.


Suara tawa perempuan cekikikan, membuat bulu kudukku meremang. Takut, tapi tidak boleh takut. Mereka sama, ciptaan Allah Ta'ala. Mereka bahkan kedudukannya tidak sejajar denganku yang seorang manusia. Yang Allah ciptakan dengan predikat makhluk paling sempurna dibanding makhluk ciptaan-Nya yang lain.


Maha Suci Allah Yang telah menciptakan bumi dengan segala isinya.


Aku buang air kecil, kemudian kembali berwudhu demi menjaga kebersihan hatiku.


Entah sudah berapa hari aku berada dalam ruangan untuk tirakat ini. Sampai lupakan semuanya. Hanya selalu mengingat Allah dan Allah saja.


.............


Aku membuka kelopak mataku perlahan karena ada sinar cahaya matahari yang menyorot. Kehangatannya yang lembut dan suci sampai menembus ke dalam kulit wajahku.

__ADS_1


"Liana..."


Aku menoleh pada suara berat penuh kharisma dari sosok yang duduk di hadapanku.


"Wak..."


"Alhamdulillahirrobbil'alamiin! Terima kasih ya Allah, putriku sudah kembali siuman!"


"Wak, apakah aku sudah menyelesaikan tirakatku dengan sempurna?"


"Sudah selesai, Liana! Sudah tidak perlu kamu lanjutkan!"


"Ini hari ke berapa? Apa aku gagal? Aku ingin melanjutkannya kembali!"


Entah mengapa, keinginanku kini sangat kuat untuk terus melanjutkan puasa tujuh hari tujuh malamku. Dan melakukan ritual itu sampai tuntas seperti yang Wak ku mau.


"Wak sudah mendapatkan amanat, kamu tidak apa-apa tidak melanjutkannya pun, Liana!"


"Kenapa begitu, Wak? Ada apa? Bukankah di awal justru Wak-lah yang menyuruhku untuk melanjutkan tongkat estafet ilmu warisan keluarga yang turun temurun ini?"


"Liana! Abah Anom Kyai ternyata mendatangiku dalam mimpi. Papamu adalah keturunan yang terakhir. Dan aku tidak bisa melanjutkan lagi menggemblengmu!"


"Kenapa, Wak?"


"Kamu ternyata perempuan tangguh yang bisa mengharumkan nama kampung leluhur kita, tetapi juga bisa menghancurkannya dalam sekejap. Kamu adalah titisan terakhir yang luar biasa. Dan Wak tidak boleh menggunakanmu sebagai tameng bagi negeri leluhur ini!"


"Wak! Ini sudah separuh jalan. Liana siap melanjutkan tirakat. Liana mohon, Wak!"


Wak Hardi menatap mataku tak percaya. Mungkin beliau terkejut melihat nyaliku yang kini memuncah dan tak lagi menggigil ketakutan.


"Assalamualaikum Ki Jali, Ki Maung! Terima kasih, telah menjaga keturunan Kyai Tubagus Wetan sampai saat ini! Terima kasih banyak, Liana haturkan!"


Aku bisa melihat dua sosok hewan besar berwarna putih dengan bulu-bulu halusnya yang tebal sedang berdiri di samping Wak Hardi.


Agak terkejut juga, karena kedua macan putih jelmaan itu tiba-tiba duduk mendepa.


"Nyai Ratu Liana Wulandari, sembah haturku pada Nyai!"


Aku terkesiap. Wak Hardi pun turut duduk di lantai seolah sedang sungkem padaku.


"Wak Hardi, jangan seperti ini! Liana mohon, bangunlah!"


Aku tidak tahu, apa yang terjadi. Tapi kurasakan tubuhku begitu ringan dan jiwaku terasa tenang tanpa ada ketakutan selain takut kepada Allah Ta'ala.


Ada apa denganku? Apakah... Aku kini telah menjadi orang yang berbeda?

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2