DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 52 - MELARIKAN DIRI


__ADS_3

Adzan Subuh berkumandang. Aku dan Mama bangun berbarengan.


Entah apakah tangisanku semalam membuat Mama Tiur jadi merasa bersalah, yang pasti pagi ini Beliau jauh lebih ramah.


Mungkin karena sebentar lagi kedua putranya akan bangun dan melihat wajah kami yang masih suntuk.


Ternyata Mas Jo dan Jordan telah lebih dahulu bangun dari tidur. Mereka bahkan telah siap dengan koko dan sarung yang makin mempertampan keduanya.


Aku kini menyadari, ternyata tampan dan fisik bukan pula segalanya jika hati terganjal banyak hal.


"Selamat pagi, istriku Liana!"


Hidup bagaikan dalam sekam kembali kurasakan.


Aku tak menjawab salam dari Jordan. Hanya menunduk dengan hati lelah padahal baru saja bangun dari tidur.


Jordan! Aku rindu dirimu yang dulu. Yang selalu manis tulus memberiku semangat untuk menapak kehidupan! Jordan...! Bisakah kita kembali ke masa di mana kau hanya menchatku dengan kata-kata penghiburan? Jordan... Aku sayang kamu. Tapi aku tak tahu, harus apa jika melihat kondisimu jadi seperti ini!


Kami sholat berjamaah dalam keadaan hati luka. Semua orang hatinya luka. Dan aku yakin Jordan juga. Itu sebabnya ia sampai jadi seperti ini. Itu salahku!


Aku adalah biang keladi dari kehancuran keluarga ini.


Merasa jumawa membawa berkah bagi kehidupan keluarga Jonathan, ternyata justru kenyataan pahit yang harus mereka telan.


Dalam usaha bisnis, mungkin Jonathan kini kembali bisa berjaya. Katanya, karena aku membawa keberuntungan.


Nyatanya, aku justru membawa kesialan lebih fatal untuk mereka sekeluarga.


Apakah aku memang membawa sial bagi semua orang yang berada di dekatku?


Apakah aku ini begitu membawa dampak buruk bagi keadaan orang-orang yang kusayang?


Irsyad... Hancur karena aku.


Jordan, Jonathan... Sepertinya juga mulai diambang kehancuran oleh kesialanku.


Apakah ini benar?

__ADS_1


Aku deg-degan menahan emosi jiwa yang bergejolak di dalam dada.


Subuhku tidak terlalu khusu'. Setan-setan bergentayangan menghasut fikiranku untuk ini dan itu.


Aku goyah untuk sesaat. Aku lelah. Aku mulai memikirkan caranya aku lepaskan semua ini.


Aku menangis dalam setelah selesai sholat. Sesegukan. Tak bisa menahan emosi lagi dan pecah air mataku membanjiri pipi.


"Liana?"


Mama Tiur menoleh ke arahku. Beliau baru saja selesai panjatkan doa usai sholat.


Jonathan yang menjadi imam subuh itu pun telah selesai menengadahkan tangan meminta segala keinginan pada Sang Kholiq.


Aku berusaha menahan isak agar tidak terdengar telinga dua pria yang duduk di shaf depan.


Mama Tiur merangkul bahuku. Mengusap pelan hingga terasa olehku getaran tangannya yang juga menyimpan kesedihan.


"Mama, Lian mau ke kamar kecil dahulu!" bisikku seraya bangkit bergegas keluar ruang musholla rumahnya yang indah.


Genta masih berada dalam ruang musholla. Masih duduk di samping Jordan dan masih terpekur menunduk diam dalam doa.


Jika aku pergi dari kehidupan mereka, setidaknya keadaan tidak akan jadi tambah ruwet dan makin semrawut.


Aku tak bisa ada di antara dua pria kakak beradik yang sama-sama menginginkan diriku dengan penuh cinta. Tidak.


Aku tidak bisa menyakiti salah satu diantaranya. Juga tak bisa menghancurkan harapan serta perasaan seorang Ibu yang begitu mencintai anak-anaknya.


Aku... Akan kabur dari rumah ini.


Tas, handphone, dan dompet sudah ada ditangan setelah masuk kamar Mama dan keluar kembali dengan cepat.


Aku juga sudah membuka mukena-ku. Lalu dengan gerakan cepat sebab tubuhku sudah jauh lebih menyusut berat badannya, aku keluar rumah diam-diam.


Pak Saleh yang baru saja pulang dari masjid menatapku bingung ketika aku memberinya kode dengan satu jari telunjuk di atas bibir.


Aku tak peduli lagi. Tekadku sudah bulat.

__ADS_1


Pukul lima lebih, aku keluar pintu pagar rumah besar keluarga Jonathan.


Suasana sekitar yang masih gelap memudahkanku untuk berjalan cepat menuju gerbang utama.


Makin cepat dan makin kuayunkan kaki ini hingga berlari meninggalkan bayangan kokoh rumah yang bagiku jadi menakutkan.


Airmata terus jatuh dan sesekali kuusap karena mengaburkan pandangan.


Sebuah taksi kosong akhirnya lewat dan membawaku keluar dari perumahan mewah di bilangan utara Ibukota.


"Kemana, Bu?" tanya sang sopir sopan.


"Jalan saja terus!"


Aku menangis menutupi wajahku yang penuh air mata.


Ya Allah ya Tuhanku! Bantu aku, tolong aku keluar dari permasalahan yang selalu membelengguku ini! Tolong, ya Allah!


Ponselku berdering. Terus berdering tiada henti. Aku langsung mengambilnya dari dalam tas, kemudian menekan tombol kecil disamping hingga tak lagi terdengar deringannya. Ponsel kumatikan. Dan kini hidupku jauh lebih tenang.


"Kemana kita, Mbak?"


Aku tersadar. Tujuanku tidak jelas. Hendak kemana kaki ini melangkah.


"Terminal bis antar kota, Pak!"


"Hm... Terminal sekitar sini?"


"Terserah. Yang penting terminal yang bisa membawa saya ke Banten!"


"Oh Kampung Rambutan, ya?"


"Ya!"


Tujuanku, menemui Wak Hardi. Beliau-lah orang yang tepat yang bisa memberiku nasehat saat ini. Otakku langsung terkonek kepada Beliau, kakak tertua almarhum Papa.


Selain memiliki ilmu kebatinan yang mumpuni, Wak Hardi sepertinya bisa memberiku solusi untuk permasalahanku ini.

__ADS_1


Pagi menjelang siang, aku berjibaku melawan waktu. Pergi menuju kampung halaman almarhum Papaku dengan hati yang penuh kebingungan.


BERSAMBUNG


__ADS_2