DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 109 - Terpaksa Melakukan Hal Gila


__ADS_3

"Jordan!?!"


"Kenapa? Marah? Kesal karena Aku memeluk Liana? Apa bedanya Liana melihat Gege perhatian pada Bianca?"


Aku menoleh ke arah wajah Jordan yang sedang menatap tajam Kakak kandungnya.


Mas Jonathan terlihat pucat pias dengan mata menatap Jordan tak berkedip.


Ada sesuatu! Aku melihat sesuatu yang menghalangi pandangan normal suamiku.


Ya! Kini baru kusadari!


Ternyata Bianca memang masih menggunakan cara-cara kotor untuk melakukan tipu muslihat.


Bianca tidak mungkin bertindak seorang diri! Aku baru menyadari kalau semua konspirasi ini adalah kerjaan beberapa orang syirik!


Semenjak kehamilanku semakin besar memang ibadahku sedikit berkurang.


Selain fikiran yang terbagi serta kondisi tubuh yang kurang fit, aku memang sengaja mencoba mengabaikan ajian-ajian yang biasa kudawam selepas shalat wajib dan setelah dzikir Asmaul Husna.


Aku hanya ingin jadi manusia biasa yang tidak terlalu tenggelam di dalam sisi dunia lain. Tetapi ternyata, mau tidak mau harus kuperhatikan juga keseimbangannya.


Jordan merangkul bahuku dengan berjalan keluar rumah menuju mobil pribadinya.


Dia kemudian menatapku dan membukakan pintu.


"Masuklah! Aku yang akan mengantarmu periksa kandungan!"


Aku tak bergeming.


Aku memang kesal dengan suamiku sendiri. Sedang sebal lebih tepatnya.


Tetapi Jordan juga tidak berhak untuk kurepotkan mengantarku ke dokter kandungan.


"Liana! Jordan!"


Mama tergopoh-gopoh menghampiri kami.


"Mama ikut!"


"Liana tidak jadi pergi, Ma!" jawabku kembali masuk ke dalam rumah.


Aku kini harus melakukan sesuatu sebelum Bianca datang dan mulai tinggal bersama sore hari ini.

__ADS_1


"Sayang!"


Mas Jonathan berjalan mendekat melihatku kembali masuk ke dalam. Kucing gembul Persia yang tadi digendongannya telah ia berikan kepada Citra.


"Ayo, kita ambil wudhu, Mas!" ajakku masih dengan nada ketus.


Tetapi aku tiba-tiba teringat sesuatu.


Segera kutarik tangan suamiku dan berjalan ke arah luar.


"Mau kemana kita, Lian?"


Kuabaikan pertanyaannya. Bahkan dua pasang mata milik Jordan serta Mama Tiur ikut menatapku bingung melihat langkah yang tergesa-gesa keluar gerbang rumah dan melipir melewati pabrik.


"Mas! Tolong aku!"


Aku lebih dahulu menuruni selokan yang ada di pinggir jalan. Mas Jonathan membantuku turun dengan bertanya, "Liana mau apa?"


"Ayo, mas sekarang turun!" pintaku sedikit memerintah.


"Liana?"


"Ayo, Mas!"


Akhirnya ia menuruti juga permintaanku dengan wajah bingung.


Aku lebih dulu mengambil dengan kedua telapak tangan. Berdawam dalam hati meminta keberkahan Allah Ta'ala agar mengubah air kotor selokan menjadi air yang berkhasiat menghilangkan semua kotoran di pandangan kasat.


"Liana, jangan! Itu kan air kotor!" pekik Mas Jonathan keras padaku.


"Kamu juga harus lakukan, Mas!"


Dia menatapku kebingungan.


"Ini air kotor! Selokan, got! Berwudhu itu harus dengan air suci mensucikan, Liana!" serunya masih tak mau melakukan apa yang kuminta.


Bahkan kini suamiku berusaha naik ke atas tembok ingin keluar dari selokan.


Tapi tekadku sudah bulat.


Kutarik tangan suamiku keras sambil mengucap basmalah.


Byurrr

__ADS_1


"Liana!?!"


Aku segera meraup air selokan dan mengusapkannya cepat ke wajahnya.


Spontan Mas Jonathan berteriak kesal.


"Liana!!!"


Mama dan Jordan yang berlarian menghampiri kami turut berseru memintaku istighfar.


"Liana, istighfar Liana! Kenapa kamu,"


"Mama turunlah! Turun, Ma!" seruku juga pada beliau.


"Ya Allah, Liana! Ayo naik!"


"Hahaha... Keren, Liana! Kalau mau main air, ajak suami ke waterboom jangan ke selokan! Tapi idemu boleh juga biar Gege tersadar kalau matanya sedang tertutup pelet Bianca! Hahaha..."


Jordan saja tahu yang sebenarnya!


"Liana!? Ada apa sampai kamu melakukan hal gila seperti ini?" lirih suamiku setelah mulai bisa mengendalikan emosi kesalnya karena sikapku yang unbreakable.


"Bukankah aku unbreakable, Mas? Hehehe...! Dulu kamu selalu bilang, aku ini unbreakable. Artinya, orang yang tidak bisa dipecahkan alias tidak bisa diprediksi."


Mas Jonathan tersenyum juga pada akhirnya.


"Tapi ini air kotor, Sayangku! Aku takut kuman dan virus membuatmu sakit! Ayo, lekas naik, Sayang!"


"Mama, cobalah!" pintaku sopan untuk membuat Mama Tiur juga mencuci wajahnya dengan air selokan.


Tapi Mama hanya menatapku dengan pandangan ambigu.


Aku spontanitas melakukan hal yang sama.


Maaf, Mama! Mungkin dimatamu aku ini adalah menantu kurang ajar. Berani sekali mencipratkan air kotor ke wajah bersih Sang Mertua. Aku tidak mau memikirkan imbasnya. Tapi yang kupikirkan adalah jangka panjang jika semua ini kubiarkan. Air selokan mampu menjadi media untuk menghilangkan jampi-jampi pelet dan pengasih. Wallahu a'lam.


Aku hanya melakukannya karena dorongan insting. Padahal jiwaku sendiri tidak mengerti mengapa aku melakukan semua tindakan gila itu.


Aku tertawa. Pura-pura bercanda gila dan kerasukan untuk membuat Mama memaklumi kekurang-ajaranku pada Beliau.


Untungnya Airlangga yang sudah tiga hari tidak pulang karena sedang ditempatkan di kantor pusat oleh Jordan datang dan turut membantuku.


Kami semua akhirnya masuk rumah dan pastinya mandi bersih sampai azan Dzuhur berkumandang dari toa masjid.

__ADS_1


Alhamdulillah...


BERSAMBUNG


__ADS_2