DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 42 - NASEHAT GENTA


__ADS_3

"Hati-hati, Liana! Tanganmu bisa terluka kena pecahan belingnya!" kata Mas Jonathan, lembut sekali.


"Maaf. Tadi gelasnya tersenggol tangan dan jatuh pecah di lantai!" kataku dengan wajah tertunduk malu. Malu karena akhirnya jadi berbohong.


"Bukan soal gelasnya. Tapi pecahannya berbahaya. Takut terinjak kaki dan menancap di telapaknya. Hehehe... Tidak apa. Namanya juga tidak sengaja! Jangan panik dan jadi takut begitu, Liana!"


Mas Jonathan menyentuh daguku. Tapi segera ia lepaskan setelah tersadar kalau kami bukan muhrim.


"Ya Allah! Mengapa aku selalu ingin menyentuhmu setiap saat? Waduh! Kamu seperti umpan yang membuatku terpancing!"


"Memangnya Mas ikan?"


"Hahaha..."


Kami tertawa bersama setelah membersihkan remahan beling di lantai dan membuang di tempat sampah setelah memasukkannya ke dalam kantong plastik.


Keseriusannya kembali berubah jadi canda. Membuat keteganganku sirna dan wajahku kembali ceria.


"Kita duduk di teras yuk? Kelamaan di kamar, bisa membuatku jadi monster nanti!"


Aku tersenyum kecil. Cukup mengerti apa maksud perkataannya.


Kami duduk di teras balkon pukul sembilan malam. Seperti biasa, Mas Jo melayaniku dengan membuatkan segelas coklat panas dan dia secangkir kopi.


"Terima kasih, Mas!" kataku seraya menerima uluran cangkir gerabah warna putih berisi seduhan coklat panas yang nikmat.


""Aku sudah mengabari Mamaku tentang dirimu!"


Deg.


Jantungku berdebar-debar. Khawatir sekali dengan tanggapan Mamanya soal diriku.


"Mama senang sekali kalau aku sudah mendapatkan calon pendamping. Mama ingin mengenalmu, Liana! Tapi aku bilang, belum saatnya. Karena aku sudah memegang janji. Menunggu masa iddahmu berakhir dan surat cerai dari Irsyad telah kamu dapatkan. Bukan begitu, Liana?"


Aku mengangguk pelan.


Mas Jonathan memang pria gentlement. Tentu saja sangat jauh berbeda dengan Irsyad si keparat itu. Yang membuatku sampai emosi dan langsung melempar gelas yang ada di atas nakas.


Tapi apakah Mas Jo akan melakukan hal yang sama seperti Irsyad jika tahu kalau aku akan sulit memberinya anak? Bukankah dulu Irsyad juga manis di awal namun pahit di akhir? Apakah Mamanya mau menerima kenyataan kalau putranya tidak bisa memiliki keturunan karena istrinya kurang subur kandungannya?

__ADS_1


Lagi-lagi galau melanda sanubariku hingga hanya terdiam menunduk memikirkan nasib diriku kedepannya.


"Liana? Ada apa? Kenapa agak murung? Apa...kamu sakit?"


Aku mendongakkan wajah dan mendapati riak netranya yang indah berpendar bak bintang jatuh.


"Mas..."


Jonathan menunggu kalimat terusan meluncur dari bibirku.


Aku sepertinya harus jujur lebih dahulu sebelum rasa ini berkembang semakin jauh dan kesakitan lebih parah jika harus membatalkan niat untuk menikah.


"Aku...tidak sempurna. Seperti wanita lainnya! Aku...pernah ada kista di dinding rahimku sehingga kemungkinan agak sulit punya anak, Mas!..."


Aku menunduk lemas. Malu, takut tapi pasrah pada kenyataannya. Secara Mas Jonathan adalah pria yang nyaris sempurna. Tak ada sedikitpun celah kekurangan dirinya di mataku. Sementara aku... Hhh...


Aku terkejut ketika tangannya menangkap jemariku. Digenggamnya erat, membuat dadaku berdebar kencang.


"Kalaupun kita tidak dikaruniai anak, kita bisa adopsi. Banyak anak di luar sana yang memerlukan kasih sayang kita, Liana! Tidak masalah. Jangan cemaskan soal itu!"


"Tapi Mama Mas? Pasti beliau sangat ingin memangku cucu."


"Mama tidak akan mempermasalahkan itu. Aku yakin, Liana! Mama mungkin akan sedikit bereaksi, tapi hanya sementara karena Mama lebih menginginkan kebahagiaan kami pastinya!"


"Liana! Apapun yang terjadi dengan kita nanti, kuingin kita tetap berpegangan tangan seperti ini. Komunikasi dengan baik, sehingga tidak menimbulkan masalah karena salah faham. Aku...menyukaimu dan sudut pandangmu menyikapi hidup. Aku kagum pada kekuatan serta caramu merapikan masalah."


Aku tidak dapat menyimak kata-katanya yang banyak. Hati ini kadung bangga karena bisa menakhlukan pria tampan yang ada dihadapan.


Betapa Tuhan Maha Baik. Dia kirimkan seseorang yang berkharisma dan penuh cinta kasih dalam mengatasi kelemahanku.


Semoga Mas Jonathan akan selalu menjadi pria yang bisa kuandalkan nantinya. Aamiin...


Kami masuk kamar pukul sebelas malam. Setelah cukup lama mengobrol ngalor-ngidul tak jelas arah omongan.


"Selamat tidur, Liana! Have anice dream!"


Mas Jo mengelus pucuk rambutku. Ia tersenyum manis membuat jantungku seperti mau meledak.


__ADS_1


Ia juga melambaikan tangan serta mengantarku sampai depan pintu kamar.


Aku mengangguk hormat padanya. Membuka pintu lalu masuk dan berdiri lemas menempel dibalik pintu yang kututup rapat.


Ya Allah ya Tuhanku! Semoga kebahagiaanku ini bukan sekedar fatamorgana semata. Semoga bahagia ini sungguh untukku. Betapa Mas Jo membuatku semakin sulit menahan diri?


............


Hari demi hari berhasil kulalui tanpa banyak kendala.


Pekerjaanku kian baik, kata Mas Jonathan dan juga bu Febri. Bahkan Mas Jo semakin terbuka menceritakan kekagumannya tentangku pada bu Febri. Ia menjulukiku batu permata bernilai tinggi yang paling ia sayangi.


Sejujurnya aku tidak begitu suka disamakan dengan batu permata, perhiasan yang dikagumi hampir semua wanita dan juga pria.


Tetapi aku tak ingin mematahkan rasa yang tumbuh dan juga penilaiannya tentang aku.


Itu adalah hak preogratif Mas Jo.


Aku juga masih intens chatting setiap malam dengan Jordan karena sudah kecanduan.


Sehari tak mengobrol dengan Jordan bagaikan ada sesuatu yang hilang. Hingga suatu malam Genta mengetuk pintu kamarku dan menasehatiku seolah aku ini adiknya, bukan kakaknya.


"Kak... Siapa lelaki yang sering teleponan denganmu itu?" tanya Genta kala itu.


Tentu saja aku jadi gugup dan tergagap menjawabnya.


"Teman kecilku."


"Kak! Kamarku tepat disamping kamarmu. Aku juga sering keluar masuk dan mendengar suara obrolanmu ditelepon. Aku...mengkhawatirkan dirimu!"


Aku menundukkan kepala. Malu juga dengar nasehat adikku yang benar adanya.


"Jangan merespon pria lain ketika kamu sedang ada hubungan dengan seseorang. Itu perbuatan jahat, Kak! Kakak sama saja seperti bang Irsyad jatuhnya. Sama-sama memanfaatkan momen yang seharusnya dihindari dalam suatu hubungan. Cuma bedanya bang Irsyad jauh lebih jahat karena sudah menikah. Sedangkan Kakak memang belum menikah."


Aku diam tak menjawab. Menyimak serius ucapan Genta dan berfikir keras untuk bisa menuruti nasehatnya.


Aku juga bingung, Genta! Di satu sisi aku sudah memilih Mas Jo untuk menjadi pendampingku nanti. Tapi di sisi lain, aku takut kehilangan Jordan. Aku...sangat takut bila nanti akan menimbulkan riak kebencian baru dihati Jordan karena tidak memilihnya. Jordan pasti berfikir aku menyepelekan perasaannya karena dia cacat fisik. Padahal tidak seperti itu. Aku memilih Mas Jo karena dia jauh lebih dewasa dan ngemong ketimbang Jordan yang seumuran denganku. Begitu pemikiranku.


"Sudahi hubungan yang tak jelas, Kak! Jangan balas dendam kejahatan Bang Irsyad pada pria lain. Itu tidak akan membuat Kakak bahagia nantinya!" kata Genta dengan langkah kaki berlalu dari kamarku.

__ADS_1


Aku benar-benar merasa sesak dan tertohok oleh ucapan Genta. Tapi aku tak bisa marah padanya. Bahkan menyela serta membantah omongannya pun aku tak berani. Karena aku salah dalam hal ini. Aku bersalah.


BERSAMBUNG


__ADS_2