
Kisah Maharani berakhir setelah panjang lebar kami curhat sampai lima jam.
Jordan kembali sadar sepenuhnya pukul enam tepat azan Maghrib berkumandang.
Adik ipar ku itu mengeluhkan sakit seluruh badan. Membuat Mama Tiur memanggil seorang tukang urut tuna netra yang biasa dipanggil para sekuriti saat sedang kurang enak badan.
Aku sendiri masuk kamar setelah sholat Maghrib dan seperti biasa, quality time bersama Suamiku di balkon kamar sambil menikmati secangkir cokelat panas buatannya yang kini bahkan menjadi candu.
"Sejujurnya aku cemburu ketika kamu memeluk Jordan erat!"
Aku tersenyum gemas mendengar pengakuannya.
"Itu bukan Jordan, Mas! Hehehe..."
"Tetap saja, tubuhnya adalah tubuh adikku yang mencintaimu sepenuh hati!"
"Hehehe... Maaf! Tapi gadis itu... menyedihkan!"
Suamiku memelukku erat sampai pernafasanku agak sesak.
"Mas..."
"Kalau dengan pria lain kamu seperti itu, hm... Jangan bilang aku kejam nanti ya?" ancamnya pura-pura teramat marah.
Aku tertawa. Suamiku lucu. Walaupun usianya sudah dewasa, 40 tahun.
Ternyata umur yang banyak tidak menjadi jaminan seseorang bisa menahan cemburunya pada pasangan.
Senang rasanya, ada pasangan yang mencintai dan marah ketika kita berlaku sedikit nakal sampai membuatnya khawatir mendua.
"Aku tidak akan pernah menduakanmu, Mas!"
"Beneran?"
"Iyalah. Bodoh kalau aku sampai selingkuhi kamu! Tak akan pernah ada pria yang lebih baik darimu, Mas! Aku beruntung sekali mendapatkanmu!"
Aku senang, senyum suamiku mengembang.
Rasanya, seperti benar-benar mendapat durian runtuh telah mendapatkanmu, Mas!
"Yang!"
"Hm?"
"Tutup matamu, aku punya hadiah!"
Dadaku berdebar. Hadiah? Hadiah apa?
Kuturuti perintahnya.
Dan...
"Ini, untukmu. Untuk kita dan masa depan!"
"Apa ini?"
__ADS_1
Sebuah map coklat besar Suamiku sodorkan dengan wajah sumringah.
"Bukalah!"
Dengan hati tak sabar namun semakin deg-degan aku membuka map besar itu.
Sertifikat pabrik seluas 3 hektar.
Aku melongo. Bibirku menganga lebar.
"Ini rezeki pernikahan kita!" katanya sembari tersenyum manis.
"Ini...,"
"Simpan yang rapi di brankas, Yang!"
Aku hanya bisa berdecak kagum. Sambil mengucap syukur puji syukur alhamdulillah.
Sungguh banyak nikmat dunia ini Allah turunkan pada kami.
Kupeluk suamiku dengan penuh kasih. Rasanya, pencapaiannya semakin tinggi melebihi espektasi.
"Kita akan pindah akhir bulan ke gedung pabrik yang baru! Pabrik ini terlalu sempit untuk menampung mesin-mesin baru dan karyawan baru juga!"
"Rasanya seperti mimpi yang sangat indah, Mas!"
"Kamu pembawa berkah bagiku, Sayang!"
"Kamulah yang bekerja dengan sangat keras, Mas! Aku tidak lakukan apapun bahkan tidak bekerja juga setelah menikah. Akhir-akhir ini kita begitu sibuk mengurus keluargaku. Sampai lupa dengan urusan kamu, Sayang!"
Sebagai imbalannya, Aku buatkan suamiku minuman sehat. segelas jamu yang dicampur madu asli dan dua butir telur ayam kampung.
Aku juga memberikan pijatan lembut ke seluruh tubuh Mas Jonathan.
Dulu aku suka memijat Irsyad ketika kami masih bersama. Setiap bulan setidaknya kulakukan untuk kebugaran tubuhnya.
Tapi, hhh...
Aku tidak ingin mengenang masa lalu yang pahit.
Suamiku sekarang adalah Mas Jonathan. Berpuluh-puluh kali lipat kebaikannya di banding Irsyad.
Tentu saja suamiku sekarang adalah yang terbaik.
Untuk itu aku hanya ingin memanjakan Mas Jonathan dan harus kuhapus ingatan buruk ini demi kebahagiaanku.
Belum juga kami mencapai klim*ks penyatuan, tiba-tiba ponselku berdering.
Kami pura-pura mengabaikannya. Tapi deringnya terus menerus membuat Mas Jonathan mengambil dan memberikannya padaku dengan raut wajah agak kesal.
Aku hanya tersenyum kecut.
Nomor tak dikenal?
__ADS_1
Kubiarkan saja tanpa mengangkat panggilan telepon. Kami kembali sibuk berasyik masyuk.
"Dari siapa?" tanya mas Jonathan.
"Entah, Yang! Abaikan saja, hehehe... tanggung!"
"Boleh kuangkat?" tanyanya karena merasa agak terganggu juga.
"Boleh!"
Diantara kami tidak ada rahasia apapun. Hapeku bebas Mas Jonathan buka. Demikian pula sebaliknya.
"Hallo? Assalamualaikum..."
...[Hallo? Ini ponsel Liana?]...
"Iya. Saya suaminya! Dengan siapa ini?"
...[Saya Katliya, Mas! Boleh saya bicara sebentar dengan Kakak Liana? Ada perlu penting. Tolong!]...
"Hhh... Sayang, Katliya katanya. Mau bicara penting!"
Katliya? Mau apa perempuan itu???
Aku menggelengkan kepala. Menolak bicara dengannya.
"Maaf, Mbak! Istri saya sudah mengantuk. Sebaiknya besok saja Mbak hubungi Liana lagi. Ini jam istirahat kami! Maaf..."
...[Tolong, Mas! Ini penting sekali! Hiks hiks... Suami saya ada dipenjara. Saya juga sedang hamil besar. Tolong bantuannya!]...
"Besok saja telepon lagi. Maaf..."
Aku tahu. Suamiku juga risih karena pelakor suami pertamaku tiba-tiba telepon dan curhat kalau Irsyad kini ada di tahanan.
Urusan apa juga dengan menelponku? Minta tolong? Aku bukan biro yayasan atau pun LSM yang bisa dimintai tolong urusan masyarakat!
"Sayang, ayo kita lanjutkan!" bisik suamiku dengan maksud mengalihkan fikiranku.
Dia tahu, aku adalah orang yang mudah terpengaruh dengan situasi menyedihkan. Siapapun atau masalah apapun, aku memiliki empati yang tinggi untuk ikut campur membereskannya.
Mas Jonathan agak kurang nyaman dengan sifatku yang demikian. Sempat juga Ia mengemukakan pendapatnya agar aku sedikit memikirkan keadaan diri sendiri dibandingkan memikirkan orang lain.
Memang ada benarnya juga. Aku pun kadang suka kesal sendiri dengan sifatku yang ini. Ingin merubah diri, tapi semua butuh proses dan bantuan orang terdekat. Sifat yang terbentuk sedari muda, karena aku pernah merasa sangat tidak enak hidup diabaikan orang.
Kami kembali mencoba melanjutkan kemesraan yang sempat tertunda.
Keharmonisan rumah tangga kami jauh lebih berharga dari apapun berita di luar sana.
Mainset harus kurubah untuk hari esok yang lebih baik lagi.
Malam ini kami meminta pada Allah Ta'ala, agar rumah tangga kami selalu diberikan rahmat dan karunia kebahagiaan agar tetap utuh kedepannya. Aamiin...
Bergelut di atas ranjang dengan dua kali permainan, kurasa sudah cukup bagi kami olahraga di malam hari.
Senyum penuh kepuasan dan keringat yang mengucur deras membuatku bahagia karena Mas Jonathan selalu memuji permainan ku.
__ADS_1
Betapa kebanggaan tak terkira, ketika pasangan mengatakan kita begitu hebat di atas ranjang. Semua kelelahan di siang hari, seolah menguap. Berganti senyuman bahagia sampai tak sadar tertidur pulas.
BERSAMBUNG