
"Ada korban meninggal satu orang!!!"
"Ko korban?!?"
"Yang sembilan belas lagi dimana?" tanya Mas Jo panik sekali. Wajahnya kalut juga kusut. Kejadian ini benar-benar tidak ia prediksi.
"Dua puluh orang terjebak di kamar mandi, selamat!!!"
"Selamat? Alhamdulillah!!!"
"Yang meninggal siapa???" pekikku kembali teringat pada Angga.
"Thamrin, Bu! Dia... Dia tewas!"
"Thamrin?"
Suasana perlahan mulai kondusif, seiring api yang telah padam berkat kerja keras tiga mobil pemadam kebakaran yang datang tepat waktu.
Sementara dua puluh karyawan yang terjebak diantaranya termasuk Angga, rupanya masing-masing memegang tabung gas pemadam kebakaran.
Tabung gas pemadam kebakaran sebanyak dua puluh buah?
"Aku... Sepertinya tidak memiliki gas pemadam sebanyak itu!?" gumam Mas Jonathan pelan.
Dua puluh orang yang terjebak dan selamat satu persatu mendapat pertolongan bantuan pernafasan dari mobil ambulan yang juga di datangkan.
"Kakak, maaf... Pak Thamrin tidak bisa Angga selamatkan! Hik hik hiks..."
Angga menangis dan terduduk di trotoar.
Aku dan mas Angga segera memeluknya. Kami menangis bersama.
"Boss, maaf... Kebakaran tidak bisa Angga pindahkan! Angga sudah berusaha supaya kejadian ini tidak terjadi di pabrik Boss Gege, tapi..."
"Terima kasih Angga, terima kasih!"
__ADS_1
Suamiku yang ikut menangis memeluk erat tubuh Angga. Dini hari pukul dua ini kami semua berduka.
Pabrik besar suamiku kebakaran dengan sebab yang masih diselidiki.
Satu orang pihak keamanan pabrik meninggal dunia. Sehingga kami semua turut berkabung atas wafatnya beliau menjadi korban kebakaran.
Hari ini benar-benar hari yang mencekam. Membuat lemas semua penghuni rumah juga pabrik.
Kami hanya bisa terduduk pasrah di teras, termangu menatap gedung pabrik yang hitam kotor habis terbakar.
"Bosss!!! Kakak!!!"
Genta berlari menerjang sisa-sisa bekas kebakaran dan melesat menghampiri kami.
Tangisannya pecah seketika dihadapan kami semua yang terlihat lemah, lesu tidak bergairah.
"Andaikan saja aku tidak egois kemarin dan mendengarkan Angga, mungkin semua kejadian ini bisa ditanggulangi bersama! Hik hiks... Kakaaakk! Pukul aku, tampar aku! Adikmu ini sungguh tidak berguna!!! Hik hik hiks..."
Genta menciumi tanganku memohon maaf karena kepergiannya hanya dilandasi emosi sesaat.
"Aku marah, Angga justru meminta uang gaji dua kali lipat dengan alasan yang tidak masuk akal! Angga ingin membeli tabung pemadam kebakaran dan ingin disimpan di gudang pabrik! Aku kesal kenapa dia bertingkah laku seperti itu! Gayanya sok mengaturku dengan bilang untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak terduga! Ketika Aku menolak secara tegas, dia malah kasbon pada Bu Febri pinjam uang lima juta dengan jaminan potong gaji selama setahun! Aku malu juga kesal saat itu! Kakak juga seolah tak peduli bahkan lebih terkesan memihak Angga tanpa memberikan penjelasan yang bisa kumengerti!"
"Kamu tahu sebesar apa sayang Kakak padamu! Kamu bahkan sebenarnya merasakan sendiri seperti apa rasa sayang Kakak selama ini sama kamu! Sekarang, tiba-tiba kamu ragukan? Karena Kakak terlihat lebih sayang Angga sekarang? Ya Allah ya Tuhanku... Kamu sudah tahu, Genta! Kamu paling tahu kakak! Hik hik hiks... Kenapa setega ini kamu sama Kakak!"
"Maaf, Kak! Hik hik hiks..."
"Kita dari kecil selalu sama-sama. Kita bahkan merasakan sesak yang sama. Kamu, Aku... sakit, pahit, menderita dan bertahan menghadapi dunia! Bahkan ketika aku mau menikah untuk pertama kali, aku dilema karena kamu lebih memilih tinggal terpisah dengan nge-kost jauh dari Kakak! Aku diceraikan suamiku,"
"Stop, Sayang! Aku suamimu sekarang! Jangan ungkit-ungkit lagi masa lalu! Aku tidak akan pernah menceraikanmu sampai akhir nafas hidupku!"
"Hik hik hiks..."
Tangisku pecah dipelukan Mas Jonathan. Suamiku tak ingin aku kembali mengenang masa lalu yang pahit.
Dia mengusap air mataku. Menatapku dengan tatapan sendu sembari bilang, "Lupakan pria itu! Lupakan! Jangan diingat-ingat lagi! Aku tidak ingin mendengar Kau menceritakan kisahmu lagi dengannya!"
__ADS_1
"Maaf, maaf Mas! Aku... hanya ingin Genta mengerti perasaan ini! Hik hik hiks..."
"Sekarang kamu adalah istriku. Istriku, Liana! Cukup pikirkan aku seorang saja! Tidak boleh terbagi fikirkan pria lain!"
Aku mengangguk. Mengusap air mata yang terus berderai basahi pipi.
Apapun yang terjadi di belakang, kujadikan pelajaran hidup sebagai pengalaman.
Terlebih kini keadaanku jauh lebih baik daripada yang lalu.
Juga suamiku yang kini berbeda seratus delapan puluh derajat Celcius dari yang dulu.
Sejatinya doaku selalu hanya ingin menikah satu kali. Tetapi rupanya Allah berkehendak lain. Setelah begitu banyak peristiwa dalam hidup ini, aku mensyukuri semua prosesnya.
"Genta, Angga! Kakak sayang kalian berdua. Tidak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk diantara kalian. Kalian punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aku sudah cukup banyak kehilangan orang-orang yang kucintai. Papa, Mama, Intan juga Nadya... kemudian Wak Hardi juga. Itu sudah cukup membuatku trauma ditinggalkan mendadak di saat hatiku mulai terbuka. Tinggal kalian berdua saudaraku! Kita ini adalah saudara se-Ayah. Darah Papa mengalir kuat di tubuh kita! Selalu ingat pesan Wak Hardi, jangan putuskan tali silaturahmi antar saudara meski apapun yang terjadi!"
"Hik hiks... maaf, Kak! Maaf Angga! Maafkan aku!"
"Dan Genta!... Jadilah pria gentleman yang tidak mempermainkan perasaan perempuan! Kau meninggalkan Citra tanpa pesan, apa kamu pikirkan perasaanya bagaimana? Apa kamu tidak punya rasa takut kalau terjadi sesuatu pada Citra? Itu hanya perbuatan lelaki bajingan dan pecundang! Adikku yang tampan ini bukan pecundang!"
"Maaf...! Aku tidak bermaksud begitu Kak. Aku akan hubungi Citra setelah perasaanku kalutku berkurang."
"Mintalah maaf pada Citra! Kasihan Citra sampai menangis karena kelakuanmu!"
Hubungan Genta dan Citra adalah hubungan dua orang dewasa. Bukan hubungan mainan layaknya anak ABG yang hanya sekedar guyonan belaka.
Untuk itu aku tidak ingin ada hati yang terluka.
Citra menangis sesegukan ketika Genta meminta maaf dengan luapan emosi dan tangisan.
Akhirnya keduanya saling membuka diri dan Genta berjanji untuk bersikap lebih dewasa lagi dalam segala hal.
Diantara kesedihan yang baru saja kualami, ada secercah kebahagiaan karena Genta dan Angga kini bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain.
Doaku pada Allah Ta'ala, semoga saudara-saudaraku selalu dalam Rahmat dan lindungan-Nya. Aamiin...
__ADS_1
BERSAMBUNG