DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 105 - DILEMA


__ADS_3

Menunggu waktu persalinan yang semakin mendekati semakin membuatku tegang.


Walau di awal aku terlihat enjoy, tapi ternyata semakin kesini semakin terasa debaran panas dinginnya.


Usia kandunganku sudah memasuki minggu ke-35.


Pemeriksaan terakhir Dokter Spesialis Obstetri menyarankan untukku ambil langkah caesar jika kejiwaan merasa ragu. Bukan menolak, tapi aku ingin merasakan dahulu persalinan normal. Setelah merasa proses normal agak kesulitan, baru aku akan pasrahkan diri di meja operasi. Menjadi bahan praktek para dokter bedah.


Terlihat sok jagoan memang. Tetapi konon katanya melahirkan normal jauh lebih cepat pemulihannya ketimbang melahirkan Caesar.


Aku berusaha tenang. Dokter kandungan pribadiku memasang badan akan stand by jika waktuku melahirkan telah tiba.


Ini baru minggu ke-35. Kemungkinan besar melahirkan normal akan berlangsung sekitar tiga minggu lagi.


Seperti biasa, Aku diajak Mas Jonathan bergantian Mama jalan keliling sekitar perumahan.


Kali ini Mama Tiur yang menemani karena suami sedang ada di luar kota selama dua hari.


Mama Tiur selalu antusias mengajakku jalan-jalan supaya proses lahirannya nanti lancar tanpa hambatan.


"Liana, di ujung jalan raya itu ada pasar tumpah! Kita kesana yuk? Mama kepingin makan kue ape'. Tempo hari Mama sempat lihat ada gerobak mamang-mamang yang berdagang kue itu!"


"Kue ape'? Waah, itu kue kesukaan Liana juga, Ma! Ayo, ayo... Mau Ma!"


Kami bergandengan tangan berjalan menyusuri trotoar pinggiran jalan. Tinggal beberapa meter lagi untuk sampai di tikungan jalan yang ramai orang dan kendaraan karena dijadikan pasar tumpah.


Mobil, motor lalu lalang. Bercampur dengan puluhan orang yang juga hilir mudik menyebrang jalan. Semua itu menimbulkan kemacetan dan suara klakson sana sini.


"Hati-hati, Liana!"


"Iya, Ma!"


Kami semakin eratkan pegangan tangan. Bahkan Mama Tiur mengapit lenganku agar tidak terlepas jauh.


Betapa terkejutnya kami ketika seorang perempuan bertubuh tinggi kurus dan berpakaian tak terawat mendorong Mama hingga hampir saja jatuh ke selokan.


"Hati-hati bawa motornya!" hardik perempuan itu pada seorang pengendara motor.


Ternyata Mama Tiur hampir saja tersenggol dan tertabrak motor jika tidak didorong perempuan itu.


Mama Tiur hampir saja hendak memaki. Tapi untungnya belum sempat karena melihat motor yang disamping kami juga terjungkir ke pinggir jalan.


Perempuan itu membawa sebuah karung beras berisi gelas dan botol plastik bekas air mineral.

__ADS_1


Ketika kuperhatikan lagi wajah perempuan itu,


Bianca??? Bianca??? Benarkah???


Aku masih ingat dengan jelas pipi kirinya yang menghitam karena kena tamparanku tempo hari.


"Bi-Bianca?"


Perempuan itu menoleh.


"Bianca?" Kini Mama Tiur turut kaget dan berseru bahkan lebih keras dari suaraku.


Ya Allah Gusti! Bianca hidup dengan keadaan yang miris bahkan tragis seperti ini!


"Kamu?"


Dia seperti malu dengan keadaannya. Sangat berbeda 180° Celcius dari Bianca di masa lalu.


Dia segera menarik karung berasnya dan berjalan tergesa-gesa. Sampai Ia kehilangan kendali dan menyebrang tanpa tengok kanan-kiri.


Jeduggg...


Bianca terkapar terserempet mobil yang lewat. Kami semua memekik berteriak kaget.


Otomatis Aku dan Mama Tiur menjadi orang yang bertanggung jawab atas keadaan Bianca kini termasuk pemilik kendaraan yang menyerempetnya.


Kami terpaksa ikut ke rumah sakit tempat Bianca di rawat.


Genta kutelepon agar segera datang menjemput kami di rumah sakit.


Setelah dokter jaga di UGD Rumah sakit memeriksa Bianca yang pingsan, kami sedikit lega. Karena keadaannya tidak terlalu mengkhawatirkan. Hanya pingsan dan luka memar di bagian lutut, tangan dan dahi. Tapi tidak parah meskipun dokter mengindikasikan Bianca justru menderita penyakit dalam yang cukup parah. Itu sebabnya tubuh Bianca kurus kering terlihat jelas tulang selangkanya.


Aku dan Mama terlihat bingung. Hanya bisa saling berpandangan. Menunggu Bianca sadar atau meninggalkan ia begitu saja di rumah sakit sendirian.


Tapi lagi-lagi kelemahan kami adalah tidak bisa melihat orang lain menderita.


Bianca juga sudah mendapatkan balasan dari Allah SWT.


Ternyata Bianca sudah keluar dari penjara dan hanya menjalankan hukuman selama satu tahun potong masa tahanan.


Akhirnya aku dan Mama memutuskan menunggu Bianca siuman.


.............

__ADS_1


"Bianca..."


Wanita yang usianya kurang lebih 38 tahun itu telah membuka matanya.


"Tante..."


Riak di bola matanya membias dan pecah menjadi rintihan tangis yang terdengar memilukan.


Ia berusaha merengkuh jemari Mama Tiur dan terisak terus dengan kepala tertunduk malu.


Kesombongannya di masa lalu menguap entah kemana.


Melihat Bianca yang seperti itu rasanya hati ini jadi tak tega. Apalagi pipinya yang menggosong. Semakin membuatku memikul kesalahan yang cukup berat.


Mama Tiur tidak bereaksi. Beliau diam seribu bahasa. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa selain menyaksikan tangisan Bianca dan juga cerita kehidupannya yang kini mengkhawatirkan.


Hidup menggelandang tidak jelas tujuan. Rumah mereka telah dijual dan uangnya pun habis tak bersisa.


Padahal rumah almarhum Papa Bambang juga jatuh ke tangan keluarga mereka tanpa berkompromi atau pun melibatkan aku dan Genta sebagai ahli waris Mama.


Suamiku sendiri memang melarangku ikut campur urusan keluarga pihak suami Mama Farida dan tidak boleh mengambil apapun walau aku termasuk ahli waris Mama yang sah.


Harta kadang bisa menjadi bencana. Walau memang harta menjadi penolong kita dikala kesusahan.


Rupanya hasil penjualan rumah dan aset-aset keluarga besar mereka habis tak bersisa untuk mengurus Tante Mirna dan biaya hidup Bianca sehari-hari setelah lepas dari sel penjara.


Terbiasa hidup mewah dan berfoya-foya, membuat uang yang seharusnya bisa dipakai lebih lama itu ternyata hanya cukup untuk waktu sebentar saja.


Bianca benar-benar menjadi gelandangan. Sementara Mamanya kini ia titipkan di rumah yayasan karena kondisi kejiwaan yang terguncang.


Miris dan tragis.


Begitulah hidup orang-orang yang memilih untuk melakukan persekutuan dengan setan. Tak akan pernah bahagia diakhirnya.


Kini permasalahan baru muncul di keluarga baruku.


Bianca memohon pertolongan Mama Tiur. Ia ingin mengabdikan hidupnya untuk bekerja dan melayani Mama sebagai penebus dosa. Begitu katanya di sela isak tangisnya.


Aku..., tidak tahu bagaimana meluapkan perasaan ini. Karena aku tahu, Mama Tiur juga dilema.


Meninggalkan Bianca begitu saja, rasanya seperti kami menjadi orang yang tega. Hhh...


Dan Mama Tiur hanya bisa diam seribu bahasa. Dengan fikiran kalutnya. Menunggu persetujuan dua putranya yakni Mas Jonathan dan juga Jordan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2