DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 65 - UJIAN KESABARAN


__ADS_3

Katliya masih hamil? Dan Irsyad masih bebas melenggang tanpa ada kepastian hukum soal kasusnya? Hm?


Aku dan Mama Tiur mengantri di belakang.


Tapi jujur aku penasaran.


Bukankah terakhir kali kami bertemu di rumah sakit? Waktu itu Katliya pendarahan dan harus memilih bayi atau kiret. Dan kalau tak salah, jika diteruskan...bayinya akan... Hhh.


Rupanya Katliya benar-benar mengambil keputusan yang aneh. Demi mempertahankan hubungan rumah tangganya dengan si Irsyad, dia rela terus hamil walau nanti melahirkan bayi yang diprediksi cacat. Astaghfirullah! Cintanya ternyata begitu besar pada mantan suamiku. Dan bodohnya si Irsyad itu, demi ingin mendapat sanjungan serta pengakuan kalau dia adalah pria perkasa yang berhasil membuahkan anak, dia tak memikirkan masa depan mereka semua terutama anaknya nanti. Ya Allah ya Tuhanku!


Dadaku nyeri, hatiku sakit.


Aku masihlah wanita biasa yang normal karena kecewa dan terluka oleh pengkhianatan cinta mereka.


Jahatnya mereka. Bahkan masih bisa menari-nari di atas penderitaanku yang bertubi-tubi ia hancurkan lewat dukun kesayangan mereka si tua Eyang Subur itu!


Ya Allah, bolehkah aku balas dendam? Bolehkah aku jadi orang jahat untuk mereka? Secara aku kini bukan lagi Liana yang dulu!


Tapi lagi-lagi aku teringat perkataan Wak Hardi. Aku harus selalu mengingat Allah. Tidak boleh jumawa dan mengumbar apalagi mengobral kebisaan ku ini pada banyak orang.


Aku harus silent. Aku tidak punya ilmu apa-apa. Aku hanyalah insan biasa, hamba Allah yang pasrah pada Kehendak-Nya.


Allah tidak tidur. Tidak. Suatu hari nanti, suatu saat pasti. Apa yang mereka tabur, pasti akan mereka tuai.


Ya Allah, tapi aku penasaran!


"Mama... Kita ganti filmnya yuk? Liana mau lihat ke depan loket, Mama duduk tunggu dulu sebentar ya?" kataku setelah menuntun Mama Tiur.


Aku dengan langkah cepat berhasil berdiri dihadapan mereka.


Dan pandanganku ternyata menangkap sesuatu.


Irsyad, seperti diikat dan sesekali ditutup mata juga telinganya oleh makhluk jelek menyeramkan.


Sementara Katliya, didampingi dua makhluk penghisap aura wanita yang sedang menstruasi di dalam gedung bioskop ini.

__ADS_1


Astaghfirullahal'adziim...


Astaghfirullahal'adziiim... Pantas saja. Jasad Irsyad ternyata didiami setan bomat. Setan bodo amat yang suka menutup mata dan telinganya hingga tak lagi bisa melihat serta mendengar yang baik-baik. Matanya hanya bisa melihat Katliya seorang saja. Sementara Katliya selain memasang susuk di atas kiri bibirnya, dia juga memelihara dua setan pemakan aura perempuan yang sedang PMS.


Astaghfirullahal'adziim... Dunia ini benar-benar bobrok oleh manusia-manusia bejad yang rela melakukan apapun demi yang diinginkan tercapai.


Ya Allah! Aku berlindung kepada Allah dari syetan-syetan yang bergentayangan!


Dengan menahan debaran hati karena rasa sakit dan panas mendalam, aku kuatkan diri untuk menghampiri mereka yang telah mendapat tiket setelah mengantri.


"Bang Irsyad!" sapaku sengaja dengan suara kulembutkan.


Mata Irsyad membelalak. Binarannya memblundar seiring ia dan setan disampingnya lupa karena terpikat ajian pelet yang kudawamkan.


Aku penasaran. Sehebat apa pelet tanah leluhurku yang tersohor itu.


Dan... Reaksinya membuktikan bahwa memang benar, ajimat sakti dari jampi-jampi tanah Banten tidak bisa dipandang enteng.


Ayo Katliya, kita adu ilmu! Siapa yang lebih unggul, kau atau aku! Tapi maaf... Aku tidak bermaksud memungut sampah seperti si Bangs*t Irsyad darimu. Hanya sekedar mencobanya saja.


Rupanya dia masih penasaran. Terlanjur terkewer-kewer cintanya pada si Irsyad karena sedang hamil. Bahkan dengan lebih gigih lagi melapor pada aki-aki peyot yang sudah bau tanah itu untuk kembali diperkuat tali ikatannya pada si Irsyad. Ck ck ck...


"Li liana?"


Mata Irsyad mengerjap. Berbanding terbalik dengan tatapan mata Katliya yang kaget setengah mati.


"Hai bumil! Sedang me time nonton sebelum lahiran ya? Berapa bulan kandunganmu, Liya?" tanyaku pura-pura santai. Padahal hatiku hancur berkeping-keping.


Sementara Irsyad seperti melihat keindahan yang baru pertama kali. Ia terus menatapku dengan bibir sedikit menganga. Bahkan tangannya yang tadi menggelayut mesra dipundak Katliya langsung dilepasnya.


"Mas..." seru Katliya. Dia panik dengan perubahan suaminya.


Hm! Katliya... Ayo, lapor dukun cabul kesayanganmu itu! Biar kita bisa bertemu dan adu ilmu, siapa yang paling unggul diantara kita.


(Ya Allah Gusti! Aku jumawa. Aku terbawa perasaan padahal Wak sudah berkali-kali menasehatiku. Bahkan Wak Hardi hanya memberiku kesempatan tirakat lima hari saja. Karena ia mendapatkan mimpi, aku bisa semakin mengharumkan tanah Banten, tetapi bisa juga menghancurkannya. Naudzubillah tsumma naudzubillah.)

__ADS_1


"Liana! Sama siapa di bioskop ini? Sendiri? Mau kutemani? Mau nonton apa? Sudah beli tiketnya belum? Biar aku belikan!"


Aku tersenyum tipis.


Bajingan ini..., benar-benar!


Katliya mendes*h resah. Sorot matanya seolah memohon padaku untuk tidak mengganggu kebahagiaannya dengan si Irsyad.


"Mas! Kita sudah beli tiket. Beberapa menit lagi pintu theater kita akan dibuka, Mas! Mas Irsyad!..."


"Diam kamu! Aku tidak mau menonton film bersamamu!" hardik Irsyad membuat bola mata Katliya membias. Kesedihannya nampak jelas terlihat.


Katliya berusaha mengambil alih dan merayu suaminya. Lewat setan yang mendampinginya tentunya.


Setan buruk rupa itu meniup-niupkan nafasnya di wajah Irsyad.


Aku terkekeh pelan. Tapi segera tersadar kalau ada Mama Tiur yang sedang menunggu.


"Kak...! Maafkan aku. Tapi kumohon, jangan ganggu keluarga kecilku!" kata Katliya seperti orang yang tidak bermuka.


"Astaghfirullahal'adziim! Kau takut, mantan suamiku tertarik lagi padaku, Katliya? Hm... Kasihannya dirimu! Kau jadi bodoh karena cinta yang salah tempat! Jangan khawatir,... Aku tidak minat pada pria ini lagi! Seleraku kini bukan dia lagi! Ambil! Puaskan dirimu dan makan dia!"


Perkataanku pelan, tapi jelas. Jelas pasti menohok hatinya.


Tapi tubuhku gemetar meski aku puas membuat Katliya gelagapan.


Dia yang jahat, tapi kenapa dia merasa dirinya korban? Ternyata dunia ini kini dipenuhi manusia-manusia minim otak sehat. Pantas saja, kekacauan merajalela. Bencana alam mulai timbul dimana-mana. Itu karena para manusianya yang lebih sadis dari para iblis. Astaghfirullahal'adziim...


Kulangkahkan kaki ini dengan hati masih geregetan. Tak mau tanganku jadi kotor jika harus lanjutkan perselisihan hanya karena sibajingan yang tidak terlalu tampan itu.


Tapi jiwa isengku timbul. Kusentil mulut dua setan yang berdiri disamping Katliya.


Setan-setan itu berteriak kesakitan, lalu kabur menghilang tinggalkan Nyonya Besarnya yang masih berusaha mengambil hati suami tercintanya lagi.


Selamat menikmati pilihanmu sendiri, Katliya!

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2