DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 90 - PACARAN SETELAH MENIKAH


__ADS_3

Kukira Katliya tidak akan menyerah untuk menghubungiku. Ternyata, sampai keesokan harinya dan esoknya lagi, dia tidak meneleponku juga tidak menchat.


Ada rasa syukur, tapi penasaran juga ingin tahu apa yang sedang mereka alami. Dan bantuan apa yang Katliya inginkan dariku.


Tapi, ya sudahlah. Aku bersyukur tidak lagi mendengar kabar tentang pasangan ular dan buaya itu lagi.


Selain memang tidak ingin berurusan dengan mereka lagi, aku juga sudah melupakan rasa sakit hatiku yang teramat besar.


Toh mereka sudah hidup bersama. Aku pun sudah bahagia. Urusan karma atau hukum tabur tuai, cukup Allah saja tempatku meminta.


Tante Mirna akhirnya kini menjadi tahanan titipan di RSJ Ibukota. Bianca, masih jadi pesakitan karena divonis dua tahun penjara dengan pasal ikut andil dalam pembunuhan Mama dan dua adikku.


Wajah Bianca juga kini hitam sebelah. Akibat tamparanku tempo hari di rumah Papa Bambang. Tepat setelah beberapa saat mereka buron dari hari naas kematian Mama, Intan juga Nadia.


Padahal kala itu aku hanya ingin meluapkan emosiku saja tanpa ada niatan menyakiti lebih. Bahkan sampai meninggalkan noda bekas di wajah cantiknya.


Aku tak menyangka efek tamparanku akan berdampak terus bahkan kini semakin menghitamkan sebelah wajah Bianca.


Allah Maha Tahu isi hatiku. Tiada niat melukai terlalu banyak, namun...mungkin juga balasan dari keluarga Jonathan atas semua kejahatan keluarganya di masa lalu.


Cukup puas, walaupun kecewa karena pembunuh yang sebenarnya justru bunuh diri dengan cara menggantung leher di motel sewaan karena terus dikejar rasa bersalah.


Papa Bambang meninggal dunia dengan rasa takut yang terus menghantuinya.


Itulah hukum Allah. Cepat atau lambat, kita akan menemukan balasan dari apa yang pernah kita buat. Baik dengan jalan cepat serta doa dari orang yang kita aniaya, ataupun mungkin jalan yang lambat bahkan sampai orang yang dianiayanya lupa dan ikhlas pada akhirnya.


Tuhan tidak tidur.


Tuhan Maha Mendengar.


Sekecil apapun kejahatan yang kita perbuat, Tuhan akan berikan balasan. Begitu juga dengan kebaikan. Itu sebabnya aku selalu ingin menebar kebaikan. Ingin mendapatkan kebaikan pula dalam hidupku kedepannya.


Bukan bermaksud ingin balas budi. Bukan. Tetapi aku ingin berusaha jadi orang baik. Tidak terlalu mendendam juga tidak ingin hidupku dikuasai ambisi balas dendam.


Lebih baik menyingkir dan menjauh daripada terus menerus berada dalam circle lingkungan yang tidak sehat. Itu prinsipku.


............


Bulan ketiga rumah tangga kami.


Semua keluarga pindah ke kota C dan menempati sebuah rumah yang tak jauh dari pabrik baru Mas Jonathan yang baru.


Alhamdulillah. Hidup kami semakin baik dan rezeki mengalir dengan derasnya.


Jordan bahkan kini membuka kantor cabang baru di pusat kota.


Jordan kini sering ziarah ke makam Maharani atas saranku. Kami juga sempatkan menyedekahkannya di mesjid demi ketenangan almarhumah di alam barzakh.


Meskipun kita berbeda keyakinan, tapi tiada salahnya juga mendoakan kebaikan Maharani yang pernah menjadi murid les private Jordan di masa muda.


Sementara Mas Jonathan masih menjadi leader pengelola pabrik dan juga semakin sibuk dengan kegiatan seminar-seminar di luar kota.


Dulu suamiku lebih sering didapuk sebagai moderator. Kini, dia naik tingkatan sebagai bintang tamu atau pengisi acara. Benar-benar pencapaian luar biasa.

__ADS_1


Jordan sedang dekat dengan putri pak Samsul, tukang urut tuna netra yang waktu itu.


Kupikir dia hanya iseng saja karena memang Habibah sangat manis dan polos juga orangnya.


Habibah berusia 23 tahun. Sedangkan Jordan 32 tahun. Perbedaan usia mereka seringkali jadi guyonan kami yang meledeknya suka daun muda.


Jordan sampai menanyaiku di dapur apakah aku cemburu.


Aku tersenyum kecil. Aku bahagia jika Jordan bahagia.


Kami tidak boleh punya perasaan karena sejatinya kita ini adalah saudara. Itu kukatakan lagi pada Jordan agar Ia mengerti kalau Aku telah memiliki kakaknya lahir batin.


Dulu aku salah.


Walaupun begitu, pada saat itu aku hanya ingin menjaga perasaan Jordan agar tidak kembali terluka seperti di masa lalu. Dan aku juga terbawa perasaan karena kebaikan hati seorang Jordan. Dia selalu bisa membuatku jadi orang yang dihargai.


Tapi ternyata langkah yang kuambil salah.


Semakin jauh meneruskan hubungan yang tanpa kejelasan, justru akan semakin menyakiti hati Jordan lebih dalam lagi pada akhirnya.


Minggu ini Jordan minta izin padaku untuk mengajak Habibah main ke sini.


Aku dan Mas Jonathan tentu saja senang. Bahkan diam-diam kami turut do'akan semoga ini jodoh Jordan.


Selain manis, Habibah juga pintar dan berhati baik.


Semoga saja Allah mengabulkan doa kami untuk menurunkan jodoh secepatnya pada Jordan.


Dia sudah cukup dewasa. 33 tahun umurnya kini. Sudah mapan pula dan sudah mampu untuk memberikan nafkah lahir batin pada sosok wanita yang mendampinginya.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam."


Sungguh aku, Mas Jo, Mama juga Citra sangat terkejut dengan perubahan drastis seorang Habibah.


Gadis sederhana yang sebulan lalu kami kenal di rumah dan pabrik lama kini bermetamorfosis bak kupu-kupu dewasa yang cantik sekali.



Mama Tiur bahkan sampai tak berkedip memandang pacar putra bungsunya yang terlihat begitu cantik ayu menawan.


Bahkan Jordan terlihat mengumbar senyum puas melihat reaksi kami yang senang sekaligus takjub. Perubahan yang sangat signifikan.



Walau wajah Habibah terlihat semakin cantik, tetapi itu hanya casing. Hatinya tetap baik dan sifatnya masih malu-malu seperti di awal ketemu.


"Cantiknya!" puji Mama disambut anggukan kepalaku. Kami semua terpesona sementara Bibah hanya tersenyum malu dengan wajah bersemburat merah muda.


Penampilan Jordan juga kali ini jauh lebih aneh lagi. Alih-alih ingin terlihat lebih muda dan mengimbangi dandanan sang pacar, justru aku sedikit kecewa pada tampilannya kini.


Entahlah, aku suka Jordan yang apa adanya. Sederhana walau kadang suka juga nyentrik sesekali.

__ADS_1


Tapi kali ini lebih berlebihan menurutku.


"Sttt...! Jangan komentar penampilan mereka, Liana!"



"Aku kaget lihat Jordan, Mas... Hehehe!"


"Biarkan saja. Kita doakan saja mereka bahagia! Hm?"


"Pasti, Mas! Cuma,"


"No! Tidak ada cuma-cuma!"


Bibir manis suamiku mendarat tepat di ujung bibirku.


Seketika semburat merah mewarnai wajahku.


Aku tahu, Mas Jonathan cemburu karena aku mengomentari penampilan adiknya. Pertanda dalam keadaan tidak sadar aku sedang memperhatikan Jordan. Begitu fikirnya. Dan aku baru tersadar akan sikapku yang agak posesif juga pada Jordan.


Ciuman singkat Mas Jonathan menyadarkan aku untuk tidak melampaui batas pada adik kandungnya.


Kami saling berangkulan. Lalu kembali berjalan ke depan menuju ruang tamu tempat Jordan dan Habibah sedang berduaan.


Sayang, maaf... Aku hanya khawatir saja. Tidak ada niat lebih pada Jordan.


"Kami pergi ya? Liana ingin makan seafood di pusat kota!" kata Mas Jonathan seperti ingin mengajakku pergi keluar cari udara segar.


"Aku ikut, ya Ge! Kami juga ingin berguru pada kalian dalam hal menyiasati suasana yang kadang kaku!"


"Maaf Jordan! Kami mau mojok berduaan! Hehehe..."


"Bukankah double date lebih asyik!?" gerutunya memprotes penolakan kami.


"Ajak pacarmu nonton bioskop!" bisik Mas Jonathan membuat Jordan menatapku minta pendapat.


"Iya. Bioskop awal yang baik untuk mencairkan suasana, Jordan! Pacarmu cantik. Siluetnya pasti makin menarik di dalam gelapnya ruang teater!" tambahku yang langsung disambut jempol Mas Jonathan.


"Oke, kalau itu pendapatmu, Liana!"


"Sip! Have fun, ya?"


Aku dan Mas Jonathan berpegangan tangan. Pamit dahulu pada Mama kalau kami juga akan pergi berkencan.


Pacaran setelah menikah itu jauh lebih mengasyikkan. Dan suasana ini pastinya tidak akan kami dapat lagi jika memiliki momongan.


Bicara soal momongan, aku ingin sekali mengajukan opsi adopsi pada Mas Jonathan.


Seperti yang pernah beliau kata, tak punya anak bukan berarti dunia kiamat.


Masih banyak anak-anak yang tidak beruntung terlahir di dunia tanpa kasih sayang orang tua.


Aku ingin adopsi bayi mungil dari yayasan panti asuhan. Tapi... Rasanya belum saatnya juga mengutarakan niatku pada suami. Secara rumah tangga kami masih seumur jagung. Baru tiga bulan lebih. Masih masa bulan madu dan juga transisi pengenalan sifat, karakter serta pribadi masing-masing.

__ADS_1


Mungkin setelah satu tahun, baru opsi itu kukemukakan pada Mas Jonathan.


BERSAMBUNG


__ADS_2