DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 7 - PENCARIANKU BERBUAH HASIL


__ADS_3

Tiga belas hari lagi. Tiga belas hari lagi, Suamiku akan mempersunting Katliya menjadi istri mudanya.


Tapi rupanya pihak KUA setempat masih mempermasalahkan status Bang Irsyad yang adalah suami orang.


Secara hukum, jika Dia ingin menikah lagi dengan resmi, harus memiliki surat izin dari istri pertama. Dan itu adalah mutlak tanda tanganku. Sedangkan sampai detik ini, aku tidak bersedia memberinya tanda tangan walau suamiku itu meminta setengah mengiba.


Kalaupun mereka tetap menikah, pernikahan itu hanya bisa dilakukan siri atau di bawah tangan saja. Karena aku tidak memberinya izin.


Tapi sampai kapanpun. Aku tetap tidak akan mengizinkannya. Meskipun aku sadar diri, aku punya banyak kekurangan yang setiap saat Dia ingatkan semua kelemahanku satu persatu.


Dia yang telah menyanjungku setinggi langit, kini Dia pula yang menenggelamkanku bahkan sampai ke dasar lautan yang paling dalam. Demi untuk bisa memiliki istri lagi.


.............


Hari ini, Aku kembali melakukan penyisiran dan penelusuran.


Tentu saja, target utamaku adalah Katliya.


Aku tidak boleh gegabah. Jangan sampai sembrono apalagi bertingkah tanpa pikir panjang yang justru berimbas pada tuduhan yang makin memojokkanku pada akhirnya.


Apalagi kini aku sudah tahu, kalau ternyata Bunda Agis dan Ayah Idham, kedua orangtua Bang Irsyad pun turut andil sekongkol dalam perselingkuhan putra sulungnya.


Aku, tentu saja harus lebih berhati-hati dalam memutuskan langkah yang ingin kuambil.


Kali ini, aku kembali ke kost-an Katliya.


Mencari keterangan demi keterangan lebih banyak lagi. Guna mengungkap dan membukanya nanti, jika sudah tiba saatnya aku untuk membeberkan kejahatan suami serta kedua mertuaku.


"Dengan Pak RT wilayah sini?" tanyaku sopan pada seorang pria paruh baya se-usia Papaku.


"Betul. Ada perlu dengan Saya kah?" Beliau balik bertanya.


"Iya."


"Oh, mari, silakan masuk, Mbak!"


Aku mengikuti langkahnya memasuki rumah Ketua Rukun Tetangga tempat Katliya dulu kost.

__ADS_1


"Bapak turut menjadi saksi di acara pertunangan Katliya waktu akhir bulan lalu ya?" tanyaku setelah cukup lama berbasa-basi mengobrol santai dengan Beliau.


"Katliya? Yang kost di tempatnya Bu Soimah ya?"


"Iya, Pak! Waktu tanggal 28 September kemarin itu di aula gedung serba guna warga Cempaka Wangi!"


"Oh, iya iya. Saya ingat, Saya dan istri turut hadir juga disana!"


"Boleh Saya bertanya lebih detil lagi, Pak?"


"Aduh, kapasitas Saya hanyalah tamu undangan saja saat itu, Mbak Liana! Kurang faham juga walau Saya adalah Ketua RT nya. Mereka juga mengadakan acara tertutup. Hanya sedikit tamu yang hadir, itupun katanya pihak keluarga keduanya saja dan teman-teman Katliya serta tunangannya. Sebaiknya Mbak Liana tanya langsung saja pada Katliya!"


"Justru itu, Pak! Saya kehilangan jejak Katliya. Dia berhenti kerja dan juga pindah dari kostan. Makanya Saya minta tolong bantuan Bapak! Maaf ya, Pak... Saya terkesan mengikutcampurkan Bapak pada permasalahan Saya dengan Katliya!"


"Baiklah, Saya akan ceritakan apa saja yang Saya ketahui ya, Mbak!"


"Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak! Bapak mau tahu, siapa tunangan Katliya? Dia adalah suami Saya, Pak!"


"Hah?!?"


Seperti pak RT tempat kost Katliya. Beliau bahkan sempat menjadi tamu kehormatan pertunangan Katliya dengan Bang Irsyad. Sudah pasti akan terkejut mengetahui tunangan Katliya adalah suami dari majikan tempatnya bekerja.


"Kenapa bisa begitu?"


"Begitulah, Pak! Bahkan Saya sendiri baru tahu kabar pertunangan mereka dua hari yang lalu. Dari Mas Yoyo, tetangga kostan Katliya."


Aku ceritakan semuanya. Semuanya pada Bapak RT itu. Bukan untuk membuka aibku sendiri. Tapi demi membongkar kedok kejahatan Bang Irsyad dan keluarganya, juga Katliya yang sok polos padahal buaya betina.


"Sungguh Bapak tak bisa berkata apa-apa... Hanya turut prihatin pada apa yang kini sedang Mbak Liana alami!"


"Terima kasih banyak, Pak! Saat ini Saya sedang berusaha mencari alamat rumah Katliya dan kedua orangtuanya yang sekarang. Katanya mereka sudah pindah ke daerah Pangeran Jayakarta Kota."


"Tunggu, tunggu! Saya baru ingat, Mbak! Sewaktu Katliya pindah, semua barangnya diangkut Mang Dasri ke rumah orangtua Katliya. Mungkin bisa kita tanya, apa alamatnya itu di daerah Pangeran Jayakarta!"


Air mataku merebak. Tuhan Maha Baik. Dikirimkannya orang-orang baik yang mau menolongku satu persatu.


Pak RT Riswan mengantarkanku ke rumah Mang Dasri. Sopir engkel yang biasa menerima jasa angkut barang dengan mobil engkel milik sepupunya itu.

__ADS_1


Sayangnya, mang Dasri sedang tak ada di tempat. Beliau sedang bekerja, kata istrinya.


"Begini saja, Bi! Apa Bi Yati bisa telepon sebentar Mang Dasri? Mbak Liana ini ada perlu penting sama Mang Dasri!"


Beruntung sekali Aku dibantu Pak Riswan. Pantas saja warga memilihnya menjadi Ketua Rukun Tetangga. Beliau adalah orang yang sangat baik dan tulus serta pintar juga kompeten mengurus permasalahan warga.


Aku, walaupun bukan warganya, turut serta menerima kebaikan hati Pak Riswan.


"Hallo! Mang Dasri? Ini Saya Pak Riswan! Mamang sewaktu mengantar pindah Katliya ke daerah mana, Mang?" tanya Pak Riswan lewat handphonenya.


...[Hallo? Katliya? Oh, neng yang kost di rumah Bu Soimah itu ya? Yang seminggu lalu Saya antar pindahannya?]...


"Iya, betul, Mang! Pindahnya ke daerah mana si Katliya itu? Apa di daerah Kota? Pangeran Jayakarta?"


...[Lha? Ternyata Pak Riswan tahu juga toh! Betul, Pak! Ada apa ya? Koq tanya alamatnya Neng Liya?]...


"Ini, ada orang yang mencari Katliya. Penting katanya! Bisa saya minta alamat jelasnya, Mang?"


...[Aduh, notesnya sudah saya buang, Pak! Tapi saya masih hafal koq jalannya! Untuk alamat detilnya saya lupa!]...


"Boleh saya berbicara dengan Mang Dasri, Pak?" Aku meminta izin pak Riswan untuk berbicara langsung.


Pak Riswan memberikan ponselnya padaku.


"Pak Dasri, Saya Liana! Bisa saya minta tolong Bapak antarkan ke rumah Katliya? Apa sekarang Bapak masih sibuk?" tanyaku dengan dada berdebar.


...[Hari ini Saya masih ada dua tempat lagi antar barangnya, Mbak! Besok kemungkinan Saya bisanya!]...


"Besok? Tidak apa-apa, Pak! Saya akan bayar jasa sewa sehari kerja Bapak! Besok pukul sepuluh pagi, Saya akan kesini menemui Bapak, ya?"


...[Oh begitu. Baik, Mbak! Besok Saya antar Mbak ketempat Neng Katliya]...


Aku menangis. Ada haru dan kelegaan, karena akan bisa menemui Katliya. Aku bisa menggagalkan pernikahan mereka sebelum tiba waktunya.


Harus kugagalkan! Harus! Mereka tidak boleh menikah! Aku tidak terima dimadu! Apalagi oleh Katliya yang sudah seperti adik kandung bagiku. Bahkan usia Genta adikku, setahun lebih muda dari Katliya. Kalaupun Katliya mau menikah, sebaiknya mencari pria yang sepadan dengannya dan single alias lajang. Bukan dengan Bang Irsyad yang notebenenya adalah suamiku. Atasannya sendiri.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2