DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 61 - KEADAAN YANG MENCEKAM


__ADS_3

Malam ini suasana terasa hening. Kami beribadah jauh lebih khusu'. karena sepertinya semua orang lebih banyak diam tak seperti biasanya.


Jordan dan Jonathan pun nampak tidak terlalu berlebih-lebihan memperlakukan seperti biasa. Walau mereka sesekali melirik curi-curi pandang. Tetapi masih terlihat menjaga sikap. Mungkin khawatir aku akan kabur lagi.


"Liana mau tambah lagi makannya?" tawar Mama Tiur membuatku menggeleng sembari tersenyum.


"Terima kasih, Ma. Ini sudah kenyang!" jawabku berusaha sesopan mungkin.


Citra tak henti-hentinya menatap wajahku dengan pandangan kekaguman yang membuatku malu.


"Kak... Kamu kurusan, makin cantik! Ya Allah, aku yang perempuan saja lama-lama bisa naksir kamu, Kak kalau terus-terusan lihat Kakak!"


Citra tidak tahu rupanya. Kalau kakak beradik tampan yang ada dihadapannya adalah orang yang sama-sama menyukaiku.


Aku hanya bisa menghela nafas dan tersenyum kecut. Terlebih ketika Mas Jo berdehem seolah tersudut dengan perkataan Citra yang ngasal itu.


Selepas Isya, aku ingin kembali ke kamar tetapi pangkal lenganku ditarik Jonathan.


"Liana!"


"Mas Jonathan..."


"Bisa kita berbincang di balkon tempat biasa?"


Aku terdiam. Berusaha memikirkan apa yang akan terjadi setelah kami mengobrol berdua nanti.


Namun tiba-tiba...


Prak prak prak


Klotrak klotrak...


Prak prak prak


Suara-suara seperti angin sedang memutar di atas atap rumah yang terbuat dari genteng yang kokoh.


"Astaghfirullahal'adziiim!!!" pekik Mas Jo.


"Gegeee! Jordaaan!!! Ada angin besar!"


"Bosss, atap genteng sama flavon dapur terbuka kena angin!"


Mama Tiur, Citra berlarian menghampiri kami. Tak lama Jordan dan juga Genta datang dengan langkah cepat tergesa-gesa.


"Ayo, keruang tengah!" perintah Jonathan seperti biasa. Menjadi leader bagi kami semua.


Aku dan Citra saling berpegangan tangan. Mama Tiur menengahi kami, lalu ia mengapit lenganku dengan tangan dingin berkeringatnya.


Aku merespon dengan balik merengkuh bahunya agar hatinya lebih tenang.


"Genta, tolong dampingi Jordan!"


"Boss mau kemana?" tanya Genta melihat Jonathan berjalan ke luar ruang tengah.


"Boss, aku ikut!" pekikku.

__ADS_1


"Aku ikut juga, Gege!"


"Kita semua ikut!" Kini Mama Tiur ikutan juga.


Akhirnya kami berjalan beriringan melihat apa yang sedang terjadi di luar sana.


Batinku tak henti meminta perlindungan Allah Ta'ala. Hanya Dia-lah tempat kita mengadu dan meminta. Allah sebaik-baik tempat mengadu.


Surat Al-Falaq tiga balik dilanjut ayat kursi yang terus menerus kudawam dalam hati meskipun debaran jantung berpacu cepat sekali.


Mataku membulat melihat makhluk-makhluk berpakaian putih bersliweran terbang di atas dengan cepat sambil tertawa-tawa cekikikan.


Hanya aku yang bisa mendengar suara-suara yang bikin bulu kuduk merinding.


Lalu... Mataku lebih terkejut lagi ketika sesosok makhluk hitam besar sekali seperti raksasa dengan wajah dipenuhi jenggot hitam panjang. Bahkan bulu-bulu itu menutupi seluruh bagian wajahnya. Hanya dua mata yang tersisa menyorot tajam dengan tangan seolah sedang bermain rumah-rumahan membongkar genteng rumah besar keluarga Mas Jonathan.


Astaghfirullahal'adziim...


Astaghfirullahal'adziim...


Maha Suci Allah atas segala ciptaan-Nya.


Aku berusaha mempertajam telepatiku pada makhluk-makhluk yang sedang bermain-main menakut-nakuti kami.


"Siapa kalian? Siapa yang menyuruh kalian untuk mengganggu keluarga pemilik rumah ini? Kumohon... Kembalilah ke tempat asal kalian!


"Hihihi... Waaah, ternyata kau bisa melihat dan berkomunikasi dengan kami! Hihihi..."


"Jangan mengganggu kami. Karena kami tidak mengganggu kalian!"


"Pergilah! Kami tidak punya salah pada kalian!"


"Tuan kami menyuruh kami untuk tinggal di sini! Kau tidak tahu, kami sudah bertahun-tahun menguasai rumah ini! Tetapi kalian masih terus berdoa dan berdoa! Kami kesal. Doa kalian membuat kami panas. Dan Tuan kami menyuruh kami untuk merusuh. Itu hak kami! Hihihi... Hihihiii!!!"


Aku menelan saliva. Wajah-wajah putih yang kadang cantik bagai manekin kemudian berubah wujud dengan kedua mata yang hilang bijinya dan hidung rusak dipenuhi belatung sebesar butiran nasi briyani mendekat padaku, membuatku bergidik ngeri juga takut.


"Hihihi... Hihihiii... Hihihiii!!!"


Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyum


Aku berlindung kepada Allah dari gangguan setan yang terkutuk.


Prak prak prak


Wuss wusss wusss...


Mereka makin menjadi dengan memutar tubuh semakin kencang membuat putaran angin yang sangat besar. Bahkan mampu mengangkat pohon-pohon buah cangkokan yang ada di halaman luas depan rumah Jonathan.


Aku berinisiatif, mencoba lebih menenangkan fikiran. Memfokuskan konsentrasiku lebih khusu lagi. Dan... Meminta Allah Ta'ala izin serta ridho-Nya agar bisa mengusir makhluk-makhluk itu pergi dari sini.


Ya Allah Pemilik Seluruh Alam dan isinya! Kumohon... Izinmu untuk meminta mereka semua pulang.


Aku mengangkat kedua tanganku. Lalu mendawamkan satu ajian pengasihan yang sudah kuhafal. Ajian yang bisa melunakkan dan membuat para makhluk nakal merasa kesakitan setelah mereka membuat onar.


Kwaaak kwaaak kwaaak

__ADS_1


Aaa... Nguiknguik nguik


Mereka berjatuhan satu persatu seperti lalat yang terkena semprot cairan pestisida.


Tiba-tiba tubuhku dijinjing oleh makhluk hitam besar itu. Membuat semua orang memekik kaget. Mereka hanya melihat tubuhku yang melayang terangkat di udara. Tak bisa melihat makhluk tinggi besar sebesar rumah itu duduk di hadapan mereka.


"Lianaaa!!! Astaghfirullahal'adziim!"


"Bantu dengan ayat kursi! Baca ayat kursi semuanya!" seru Genta berusaha membantu. Sepertinya ia teringat Wak Hardi ketika mengobati Jonathan tempo hari.


Aku sengaja mengelus tangan besar makhluk itu sambil berkata, " Siapa yang menyuruhmu, makhluk perkasa?"


"Nyai Ratu... Maaf! Aku...! Aku di suruh Tuan Besarku Eyang Subur!"


"Hm... Ternyata, kakek tua itu masih begitu penasaran ingin menghancurkan aku! Katakan padanya, apa salahku? Apa maunya? Apa karena pasangan Irsyad dan Katliya yang menyembahnya hingga terus menerus menekanku?"


"Nyai Ratu! Tuanku juga memiliki urusan dengan pemilik rumah ini atas permintaan wanita bernama Mirna! Mereka ingin keluarga ini hancur! Apalagi ternyata tali pengikat mereka telah hancur. Ada yang melepasnya! Jadi... Aku dan lima kuntianak itu mendapat mandat untuk menghancurkan rumah ini!"


"Kenapa kalian mau?"


"Tuanku memberiku makan, Nyai Ratu!"


"Makan apa?"


"Tumbal manusia setahun sekali!"


"Astaghfirullahal'adziim...!"


"Panas Ratu!"


"Pulanglah ke tempat asalmu di hutan sana, makhluk perkasa!"


"Hutanku habis dibabat manusia durjana, Nyai Ratu! Aku tidak bisa pulang! Disini aku dipelihara Eyang. Dikasih makan walau harus tunduk pada perintahnya seperti kacung!"


"Sayang sekali, kau tercipta dari api...tapi bisa tunduk pada makhluk yang tercipta dari tanah! Kenapa kau tidak melawannya? Dia telah memperbudakmu! Dia menyuruhmu mengganggu orang-orang yang tidak berbuat salah padamu! Kembali padanya! Kau berhak marah padanya! Jangan mau diperintah seenaknya! Kau harus minta pertanggung jawaban dia yang memperbudakmu!"


"Tapi Nyai Ratu..., aku... Harus makan untuk,"


"Kau jahat karena makan darah manusia! Kau adalah makhluk ciptaan Allah yang bahkan derajatnya jauh lebih tinggi karena dicipta dari api. Pulanglah! Allah sudah menyediakan tempat dan makanan yang lebih baik dan bersih daripada darah manusia yang kotor! Pulanglah!"


"Baik, Nyai! Baik!... Terima kasih, Nyai! Aku permisi! Sembah sujudku padamu, Nyai Ratu Agung!"


"Jangan! Jangan sujud padaku! Kau dahulu adalah makhluk yang taat pada Allah. Sujudlah pada Allah, pada Tuhan Pencipta kita. Jangan sujud pada manusia!"


"Baik, Nyai! Aku pamit!"


Tubuhku melayang pelan turun ke tanah. Kembali menginjak bumi.


Alhamdulillah wa syukurillah.


"Liana!!!"


"Kakak!!!"


Aku merasa tubuhku lemah dan kesadaranku menghilang. Aku pingsan setelah itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2