DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 48 - AKU MENDADAK GILA


__ADS_3

Sholat Maghrib adalah momen yang paling kutunggu. Selain bisa mengadu dan bersujud minta ampun pada Sang Penguasa Jagad Raya, aku juga minta diberikan jalan yang terbaik untuk meluruskan kekeliruanku ini.


Genta yang tadi antusias ikut nimbrung mengobrol sebelum datang Jordan, kini terlihat lebih pendiam. Aku tahu apa sebabnya. Pasti dia juga khawatir dan cemas dengan kegundahan hatiku.


Aku diajak Mama Tiur (Jonathan memintaku turut memanggil Bu Tiur dengan sebutan Mama, jangan Ibu) duduk lesehan di ruang keluarga.


Album foto-foto masa kecil dua pria tampan itu menghiasi isinya.


"Ini Jonathan, Ini Jordan! Lihat, ini Jordan sewaktu berumur dua bulan dan Jonathan berulang tahun yang ke-delapan! Mereka sangat imut sedari kecil!"


Aku mengangguk. Agak terlupa masalah melihat gambar diri mereka berdua di saat balita.


Senyumku perlahan mengembang.


"Mama, Mas Jo waktu kecil wajahnya agak mirip orang Chinese ya?" tanyaku pelan.


"Hehehe... Papanya Australia-Taiwan, Lian!"


"Ohh..."


"Papi Jordan Australia asli!"


Hm... Pantas. Ternyata, keduanya satu ibu beda bapak. Seperti aku dan Nadia, Intan. Dan aku juga ingat Jordan waktu kecil kesulitan berkomunikasi karena kosakata bahasa Indonesianya yang terbatas. Karena Papanya yang warga negara asing rupanya. Tapi..., bisa-bisanya sakit terkena ilmu sihir Mamanya Bianca. Hm?


"Papa Jonathan sahabatnya Papi Jordan sedari muda. Mereka mahasiswa yang melakukan pertukaran pelajar dan tinggal di Indonesia. Karena jatuh cinta dengan negara kita ini, mereka memilih menetap lanjut kuliah ambil jurusan ganda dengan matkul bahasa Indonesia untuk mempermudah hidup di sini."


Aku serius sekali mendengarkan Mama Tiur bercerita, tanpa menyadari kalau ada Mas Jonathan duduk disamping aku sembari menatap lekat wajahku.


"Husss, sana! Ngapain sih ikut gosip bareng kita?" goda Mama Tiur membuatku kaget karena Mas Jo ada di sebelahku.


"Masa' anak sendiri diusir, Ma! Hehehe..."


Aku tersenyum malu. Tapi seketika terkesiap ketika menangkap basah Jordan sedang memandangku serius dari depan pintu kamarnya.


"Pak Saleh,... "


Aku mengangguk hormat pada pria paruh baya yang baru saja masuk dan memberikan kunci mobil pada Jordan.


"Nona Liana! Apa kabar?"


"Baik, Pak! Bapak sendiri bagaimana kabarnya?" tanyaku dengan senyum mengembang.


"Alhamdulillah. Bapak permisi, Non! Mari..."


"Iya, Pak! Silakan!"


"Jordan! Mau kemana?"


"Keluar, Mi! Pacar Jordan sepertinya sedang sibuk. Biasanya chatku dibalas, tapi kali ini ternyata diabaikan!"


Aku lagi-lagi merasa sesak.


Jordan marah dan kecewa padaku sepertinya. Bahkan dia terang-terangan mengakui kata 'PACAR' pada orang yang biasanya dia chat. Dan mungkin orang itu adalah AKU.


Kutelan saliva, menunduk sambil meremas jari. Gugup dan cemas kalau Jordan benar-benar marah padaku.

__ADS_1


"Jordan! Mau kemana? Boleh nebeng ke Alfamidi gak?"


Tanpa sadar aku langsung melontarkan pertanyaan pada Jordan. Ingin ikut dan memberinya penjelasan tentang semua ini.


Aku benar-benar sudah gila!!!


Aku merasa sangat sesak, tak enak hati.


"Boleh ya, Mas?" tanyaku pada Mas Jordan.


"Mau beli apa ke Alfamidi?" tanya Mas Jo lembut. Tetapi kepalanya mengangguk dan seperti biasa, ia tersenyum manis.


Aku bangkit dari duduk dan bergegas menghampiri Jordan yang raut wajahnya menjadi cerah.


"Alfamidi ya?" tanyanya dan langsung kujawab, "Iya!"


"Mama..., Liana ikut Jordan sebentar ya? Boleh, Ma?"


"Pergilah, tapi jangan lama-lama. Cepat kembali, jangan lewat Isya! Mbak Sum dan Cici sebentar lagi siapkan makan malam."


"Iya, Ma!"


"Iya, Mi!"


Aku dan Jordan menjawab berbarengan. Membuatku terdiam sementara Jordan tertawa.


"Kakak! Aku ikut!" Genta yang keluar dari toilet setelah buang air kecil ikutan mengekorku.


"Genta, aku tak akan lama. Cuma mau beli pembalut. Sepertinya...agak," tuturku pelan meminta pengertiannya.


Andai hubunganku dengan Mas Jonathan berlanjut, setidaknya hubungan pertemanan kami tidak rusak dan tidak terus berlanjut mesra lagi. Hanya ingin meminta maaf pada Jordan, itu tujuanku.


Aku bersalah. Tidak terbuka dan jujur soal kedekatanku dengan Jonathan. Ternyata Tuhan membuka aibku sekarang. Mereka adalah saudara beda ayah dan kini aku nelangsa dilanda gelisah.


Jordan membukakan pintu mercedes benz-nya yang berwarna merah metalik.


Jordan...! Maaf...


Genta mengantarku sampai masuk mobil.


"Kak, jangan pake lama!" katanya terlihat ketar-ketir.


"Iya, Genta! Pesananmu pasti kubelikan!" jawabku berusaha menenangkannya. Sepertinya anak itu memiliki firasat kurang enak.


Benar saja...


Baru beberapa meter mobil keluar dari rumah besar keluarga Jordan, tiba-tiba...


Wusss


"Jordan, pelan-pelan!"


"Biar kita mati bersama! Itu jauh lebih baik daripada melihatmu menikah dengan kakakku!!!"


Jordan!!! Jordan, please maaf Jordan!

__ADS_1


"Maaf, Jordan! Aku mengecewakanmu, Jordan! Tapi bukan begini!!!"


"Memang bukan begini yang kumau!!!"


"Jordan hentikan mobilnya, Jordan! Jordan!!! Jordan, please...!!! Kumohon ampunan dan maaf darimu! Aku rela sujud dikakimu, Jordan! Hik hiks... Jordaaan!!!"


Cekiiit


Bug. Tiiit...


Jordan mengerem kendaraan mahalnya. Ia juga meninju dashboard sampai klakson mobilnya berbunyi membuat kegaduhan dipinggir jalanan perumahan yang lengang.


"Hik hik hiks..."


Kami terisak menangis.


Menyalahkan nasib dan takdir yang tak berpihak. Sementara aku hanya bisa sesegukan dengan telapak tangan menutupi wajah.


"Kenapa harus Gege, Liana? Kenapa???" teriak Jordan lagi dengan mata basah berlinang.


Aku tak bisa menjawab. Aku juga tak tahu kalau mereka adalah adik dan kakak.


"Pria lain, aku bisa bantai! Aku rela berjuang mendapatkan cintamu sampai mati sekalipun. Tapi bersaing dengan kakakku, itu tidak mungkin Liana! Aku tidak bisa jahat pada Gege-ku! Hik hik hiks..."


"Maaf... Maaf! Maaf, Jordan!"


"Kau tahu? Aku berjuang ingin sembuh demi bisa bersamamu! Aku berjuang ingin mendapatkan hatimu yang kupikir masih terluka karena mantan suamimu! Tapi ternyata, Kau memilih Gege tanpa memberitahukannya padaku! Kau kejam, Liana!"


"Bukan begitu, Jordan! Semua serba begitu cepat! Bahkan aku sendiri merasa ini seperti mimpi! Mas Jonathan juga telah memilihku untuk menjadi pasangan hidupnya! Hik hik hiks..."


"Kenapa kau tidak tegas menolaknya? Kenapa??? Apa karena dia Boss sedang aku tidak punya pekerjaan? Aku si cacat yang duduk di kursi roda, hanya membuat lukisan jelek yang bahkan cicak pun enggan melihat lukisanku! Hik hik hiks... Liana! Liana!!! Teganya kamu padaku! Tega!"


"Jordan, maaf... Hik hiks, maaf..."


Aku menangis. Turun ke bawah dan bersungkur memegangi kedua kakinya namun segera Jordan raih bahuku agar kembali duduk di atas jok mobil disampingnya.


"Aku tidak tahu, Jordan! Aku tidak tahu harus bagaimana! Aku... Aku sayang kamu, tapi Mas Jonathan adalah pria baik yang selalu melindungiku dari orang-orang jahat termasuk Irsyad! Aku tidak bermaksud menyakitimu juga membohongi Mas Jonathan. Kenapa kamu juga tidak cerita kalau dia kakakmu ketika aku bilang kerja di CV JAVA FOOD HARVEST. Kau pasti tahu sejak saat itu khan? Tapi kau juga menutupinya dan bohong padaku!"


"Kupikir nanti setelah tiga bulan kamu kerja, aku bisa datang dengan gagah perkasa sambil membawa bunga tanda cinta. Kupikir akhirnya akan jadi indah, Liana! Kupikir kakakku tidak akan tertarik kepadamu. Kupikir, kita yang akan menjadi pasangan bahagia!"


Kami saling bertatapan, lama. Dengan linangan air mata penyesalan demi penyesalan pada takdir cinta yang berakhir kejam.


"Ini gila!!! Ini gila!!! Ya Allah, andaikan ini mimpi, segera bangunkan aku dari tidur panjang ini!!!"


Jordan memukul-mukul kepala bagian kanannya. Membuatku teriak histeris sambil menarik tangannya.


"Jangan seperti ini, Jordan!!! Hik hik hiks, Jordan huaaahik hik hiks... Ampuni aku, kumohon, ampuni segala kesalahanku!"


"Andai kutahu begini jadinya, aku bilang langsung kalau aku juga salah satu pemegang saham terbesar di CV JAVA FOOD HARVEST, Liana! Hik hiks... Biar kau tahu, bahwa aku juga pantas kau hargai. Bukan kakakku saja!"


Aku membentur-benturkan kepalaku ke besi pintu mobil. Berharap aku mati saat itu juga karena kesalahan fatalku membuat Jordan terluka. Karena aku merasa mendadak jadi gila.


Ya Allah ya Tuhanku! Aku selama ini menyepelekan nasehat Genta. Aku tidak mengindahkan ucapannya agar tidak terus berlanjut melakukan kelalaian yang semakin menjadi kesalahan. Ini ternyata balasannya. Baik aku apalagi Jordan, kami sama-sama kecewa. Dan entah apa lagi jika sampai Mas Jonathan tahu kalau aku selama ini menjalani hubungan dengannya dan adiknya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2