
"Si_siapa kamu? Siapa kalian?"
"Apa???"
"Ibu? Ini Aprilia, Ibu!"
"Aprilia???"
Jonathan, Aprillia, dan para medis yang menangani Liana hanya bisa saling berpandangan. Bingung dengan keadaan Liana yang sekarang.
Tubuh Liana masih lemah. Gerak motorik tangan dan kakinya juga belum berfungsi layaknya orang normal.
Setahun lamanya tertidur dan hanya hidup dengan bantuan alat pernafasan. Akhirnya Liana terbangun dengan jati diri yang mundur beberapa tahun kebelakang.
"Dokter! Kenapa dengan istri saya?"
Jonathan sangat khawatir walaupun hatinya begitu senang atas kembalinya Liana.
Sementara Liana, seperti ketakutan dan linglung berada di antara orang-orang yang tidak dikenalinya.
"Istri anda mengalami koma selama satu tahun, Pak! Ini adalah kondisi yang wajar bahkan bisa disebut suatu mukjizat. Kondisi Ibu Liana bahkan terlihat banyak kemajuan dengan keadaan jaringan sel-sel tubuh tetap masih bisa berfungsi dengan sangat baik. Mohon beri waktu seminggu minimal untuk recovery memori ingatan beliau dan kembali hidup normal seperti dahulu. Saya, saya sebagai tenaga medis yang menangani perkembangan Bu Liana sangat bangga dan bahagia. Ini adalah pencapaian luar biasa setelah begitu banyaknya asumsi kalau kemungkinan kecil Ibu Liana bertahan sampai sejauh ini. Bahkan kini, beliau siuman!"
Betul kata Dokter Braga! Aku harusnya bersyukur. Banyak-banyak bersyukur kepada Allah SWT yang telah mengembalikan kesadaran Liana.
Jonathan yang takjub berurai air mata menatap Liana dari balik kaca ruang ICU yang tidak bisa dilihat Liana dari dalam.
Sementara Liana, terlihat bingung ketika Aprilia mendekati dan berusaha merangkul tubuhnya.
"Ibu..."
"Siapa namamu, gadis cantik?"
"Ibu, ini aku, Aprillia! Aku Beby-nya Ibu!"
"Maaf... Saya, saya tak bisa mengingatmu, Nak!"
"Ibu..."
"Liana..." Jonathan kembali masuk ke ruang kamar Liana. Tangannya ingin meraih jemari Istri yang begitu dirindunya.
Tapi, Liana justru menepis seraya berkata, "Maaf..., siapa Anda?"
"Liana..., Aku suamimu, Jonathan Harvest!"
__ADS_1
"Su suami? Suamiku namanya Irsyad. Irsyad Fadel Islami. Dan bukan... kamu!"
Seketika bagaikan tersengat aliran listrik, Jonathan termangu dengan wajah sendu.
"Bang Irsyaaaad! Baaang!!!" teriak Liana memanggil-manggil nama suami pertamanya.
Tiur yang mendengar kabar Liana telah siuman baru saja datang bersama Citra yang sedang mengandung anak pertama pernikahannya dengan Genta.
"Liana!? Alhamdulillah... terima kasih ya Allah, akhirnya menantuku kembali sehat!"
"Si siapa lagi? Maaf... kepalaku pusing! Hik hik hiks... Tolong, tolong panggilkan suamiku! Hik hik hiks..."
"Ini suamimu, Liana! Ini putrimu, Aprillia!" tutur Tiur berusaha menjelaskan.
Liana yang semakin shock menggeleng kebingungan.
"Bang Irsyaaaad!!! Baaang!!! Hik hik hiks... Kenapa Aku berada di antara orang-orang yang tidak kukenal sama sekali?" isak Liana panik. Tentu saja menularkan kepanikan juga pada semua anggota keluarga besar mereka termasuk Citra.
Citra keluar mencari Genta yang masih di luar rumah sakit karena harus memarkirkan kendaraannya lebih dahulu.
Citra masuk kamar Liana kembali dengan ditemani Genta.
"Genta! Gentaaa!!! Genta hik hik hiks..."
"Kakak, Alhamdulillah... Allah telah menyehatkan dirimu kembali, Kak!"
"Genta, mana Bang Irsyad? Mana dia, Genta? Kenapa dia tidak kunjung datang selama aku sadar dan ada di rumah sakit ini?"
"Hah?"
Genta mengernyitkan dahi, kebingungan.
"Kakak, istighfar! Kenapa kau tanyakan orang itu lagi?"
"Apa maksudmu, Genta? Orang itu apa? Tidak sopan sekali bahasamu pada Bang Irsyad! Tidak boleh begitu!"
"Kakak! Itu suamimu. Boss Gege, Boss Jonathan! Ngapain Kakak tanya-tanya si bangs*at itu dihadapan suami yang begitu sayang dan setia padamu?"
Liana mendorong tubuh Genta dengan kekuatannya yang masih lemah.
Jonathan menggeleng pelan pada Genta. Dia mengerti. Dia berusaha memberi kode agar Genta tidak membuat Liana kembali panik dengan situasi yang dihadapinya.
"Genta, aku bingung! Kepalaku sakit, Genta! Ada apa ini? Kenapa tubuhku kini begitu kurus? Apa rahimku akhirnya diangkat dokter sampai Aku bisa berada di ruang perawatan ini?"
__ADS_1
"Kakak, kakak tenangkan dulu fikiranmu. Kamu sudah kembali, itu adalah kebaikan Allah Ta'ala! Aku sangat bersyukur sekali. Sebaiknya Kakak beristirahat dulu ya? Aku tunggu di luar! Kalau kamu butuhkan sesuatu, panggil saja aku, Oke?"
Genta berusaha menenangkan kembali Liana yang histeris dan berteriak keras sambil melirik cemas pada semua orang yang ada di ruangannya.
Genta, Jonathan, Tiur dan Citra bahkan juga Aprilia keluar kamar karena dokter dan beberapa orang suster perawat hendak kembali memeriksa kondisi Liana.
Jonathan menangis dengan tubuh berjongkok dan tangan menutupi seluruh wajahnya.
Hatinya sangat sedih.
Ia kembali teringat kejadian terakhir kenapa Liana sampai jatuh pingsan dan koma dalam wanita yang begitu lama.
Kini istrinya tersadar dengan kondisi kejiwaan dan memori ingatan jauh sekali bahkan Liana masih merasa kalau dia adalah istri seorang Irsyad. Pria yang telah menceraikan dan menikahi gadis muda yang pernah ditolongnya.
Tiur mendekap Jonathan dengan penuh kelembutan.
Aprillia turut menangis, juga ikut memeluk Sang Ayah yang sedang dilanda kegalauan.
"Hik hik hiks... Ayah! Ini semua karena Aku telah jahat pada Ibu! Aku anak durhaka, Ayah. Aku menyalahkan Ibu karena Daddy Didi sakit waktu itu!"
"Hik hik hiks..., bukan Sayang! Ini bukan salah Beby! Ini salah Ayah, Nak! Ayah yang salah! Ayah yang menyakiti hati Ibumu! Ayah berhak mendapatkan hukuman dari Allah, tapi Ayah tidak sanggup melihat Ibumu terlihat bingung seperti itu! Hik hik hiks..."
"Kita doakan Ibu segera sadar dan bisa mengingat kita semua! Ya? Ya Sayang? Sudah, sudah. Sudahi kesedihan ini!"
Tiur ikut menangis meskipun kata-katanya memberi ketenangan.
Jonathan kembali ke ruang dokter yang mengobservasi keadaan Liana pasca siuman dari komanya.
"Dokter, apa istri saya akan kembali mengingat kami? Butuh waktu berapa lama untuk Liana bisa mengingat masa-masa hidupnya yang saat ini, Dokter?"
"Semua kita kembalikan pada Sang Kuasa, Pak! Tapi saya yakin, Ibu Liana akan kembali sehat dan pulih juga memori ingatannya melihat progres kesehatannya saat ini."
Jonathan mengangkat kedua telapak tangannya. Berdoa dan mengamini ucapan sang dokter.
Jordan yang baru datang hanya termangu mendengarkan cerita Tiur yang sesekali ditimpali Citra dan Aprillia.
Apa yang terjadi dengan Liana!? Mengapa setelah kesadarannya pulih, justru kini masalah baru muncul dengan keadaan yang lebih membingungkan lagi. Ada apa?
"Kakak Liana mengalami amnesia?" tanya Airlangga yang baru saja muncul tiba-tiba.
"Coba kamu masuk ke dalam kamar Kakak, Ngga! Kakak paling sayang kamu! Siapa tahu memori ingatannya akan langsung kembali setelah melihat kamu, Angga!" tutur Genta mencoba mencari jalan agar Liana segera kembali ingatannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1