DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 60 - AKU 'PULANG'


__ADS_3

Langkah kakiku agak melambat karena gedung pabrik semakin dekat.


Duh! Koq deg-degan gini ya!? Apakah keadaan akan semakin panas jika aku datang kembali ke sana? Tapi..., Aku harus menyelesaikan masalahku yang menggantung pada Mas Jonathan dan juga Jordan!


Hhh... Bismillah. Niatku baik. Pasti akan Allah permudah! Aamiin...


Citra membelalakan matanya.


"Kak Liana? Kak Liana pulang! Boss Gegeee! Boss Gegeee, Boosss!!!"


Aku terkejut melihat respon Mbak Citra yang histeris.


"Liana!!!"


"Mama...Tiur!?"


Feeling-ku tepat. Mamanya Mas Jordan sepertinya sekarang tinggal di pabrik.


Beliau menuruni anak tangga dengan cepat. Dan...


Jantungku seperti berpacu dengan waktu. Agak tegang khawatir diperlakukan tidak baik lagi oleh beliau. Tapi aku telah siap dengan segala kemungkinan.


"Liana! Liana kamu dari mana saja?"


Aku berdiri berusaha tenang.


Beliau merengkuh bahuku. Lalu memeluknya erat.


"Alhamdulillah! Akhirnya kamu pulang, Liana!"


Suara yang sudah kuhafal betul pemiliknya terdengar dari lantai atas membuatku menolehkan wajah melihat ke arahnya. Mas Jonathan berdiri tegak dengan senyuman khasnya yang menyejukkan.


"Mama, bagaimana keadaan Jordan?" tanyaku langsung pada beliau.


"Jordan..., sekarang sedang istirahat di kamarnya setelah mengamuk selama dua hari kamu menghilang. Tapi perlahan kini keadaannya membaik, Liana!" jawab Mama Tiur dengan suara bergetar.


Sepertinya kali ini Beliau mulai kembali menerimaku dengan ketulusan. Karena kurasakan getaran hatinya yang begitu senang karena aku sudah kembali pulang.


"Mama...! Maafkan Liana, pergi tanpa pamit dan menghilang tanpa kabar!" ucapku sembari mencium punggung tangannya.


"Iya. Hapemu mati total selama ini. Genta bahkan sampai ingin pergi juga. Tapi Gege larang karena yakin, kamu pasti pulang!" tukas Mama.

__ADS_1


Mas Jonathan yang telah berada di sampingnya langsung mengusap pucuk kepalaku dengan helaan nafas lega.


"Dasar nakal! Pergi tanpa bilang-bilang! Kabur dari rumah! Itu ajaran siapa?" katanya dengan nada bercanda karena senyuman lebarnya membuatku langsung merangsek kedalam pelukan hangatnya.


Mas Jo sudah seperti Kakak bagiku. Sungguh perasaan nyaman ini adalah karena sifat ngemong serta kedewasaan sikapnya yang gentlement.


"Mas! Maaf..."


"Selamat kembali pulang, adikku yang cantik!"



Aku tersenyum. Senang tapi bingung. Mas Jo mengatakan kalimat yang menggelitik telinga.


Adikku yang cantik? Adik? Apakah... Apakah dia...


Hm.


Aku tak lama memeluknya. Karena kini pelukanku jatuh pada tubuh sintal Mama Tiur.


"Jonathan dan Jordan akan bekerja bersama mengurus pabrik ini! Yuk?! Kamu pasti lapar dan belum makan!"


Aku mengangguk.


Mas Jo tersenyum melihat kedekatan kami kini. Semoga hatinya lega, aku sudah kembali.


"Kakak!!!"


Aku kaget, teriakan Genta memekakkan telinga.


Adikku itu langsung menubrukku dan menangis tanpa rasa malu lagi.


"Darimana kau? Teganya kau pergi tinggalkan aku! Hik hiks..."


Jujur aku terharu. Tapi bibirku tertawa menyeringai sambil berkata, " Genta sadarlah! Usiamu sudah dewasa. Kenapa mirip anak TK yang sangat takut ditinggal Kakaknya pergi begitu saja? Hehehe..."


"Dasar! Kau nih, Kak! Berfikir itu pakai otak. Jangan pakai dengkul dan main kabur begitu saja! Kau yang kekanak-kanakan, tahu!?"


Aku menepuk bahunya yang lebar. Tertawa kecil seraya mengucapkan kata maaf, karena telah membuatnya begitu khawatir.


"Jangan seperti itu lagi, tahu? Kau bisa dipotong gaji karena alpa tak masuk kerja tanpa izin!"

__ADS_1


"Hehehe...! Iya!"


Mama dan juga Jonathan tersenyum melihat kedekatan kami. Memang agak lebay. Tapi beginilah adanya.


Hubungan persaudaraan kami memang sangat erat. Karena keadaan yang membuat kami seperti menempel satu sama lain.


Sempat merenggang ketika aku menikah dan Genta menolak ikut serta tinggal bersamaku juga Irsyad dengan alasan ingin mandiri.


Tapi justru Genta menjadi salah bergaul dan terperosok pada kehidupan bujangan liar. Judi online dan penggila games.


"Liana!!!"


Aku kembali terkejut. Jordan melihat kearahku. Wajahnya pucat pasi, tatapannya tajam menusuk hati.



"Jordan!"



Mata kami saling menatap. Kemudian...


"Liana! Maaf...! Karena aku, kamu sampai pergi! Maaf...!"


Jordan menundukkan kepala. Matanya merah. Bibirnya bergetar.


"Aku yang salah, Jordan! Aku...salah. Aku minta maaf padamu juga pada Mas Jonathan!"


Jordan memegang satu tanganku. Kemudian melepasnya lagi setelah matanya bersirobok dengan mata Mas Jonathan.


Kami duduk bersama di depan meja makan. Ternyata Mbak Citra sudah menghidangkan makanan berat padahal baru pukul enam kurang menjelang maghrib.


"Kami hari ini berpuasa sunnah, Liana!" kata Mama Tiur seperti bisa menebak jalan fikiranku yang bingung karena belum waktunya makan malam.


"Oh, iya. Maaf... Liana minta maaf pada semuanya terutama Mama Tiur karena Lian sudah membuat kegaduhan!"


"Kita tutup lembaran hitam di masa lalu. Mari kita buka lembaran baru. Bagaimana? Liana? Gege? Jordan? Genta, Citra?"


Kami semua mengangguk. Tersenyum sembari mengucap hamdalah terlebih setelah azan maghrib berkumandang dari toa masjid yang tak jauh dari lokasi pabrik.


Alhamdulillah... Terima kasih ya Allah atas segala nikmat dan kebaikan-Mu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2