DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 35 - HARI PERTAMA KERJA


__ADS_3

Aku berjalan perlahan di belakang Citra menuju ruang makan.


Wajahku agak bersemu merah. Malu dipandangi Boss Gege sedemikian lekatnya.


"Boss! Hati-hati! Mata laser Boss bisa melelehkan hati Kak Liana!" kata Citra menggoda Boss kami itu.


Terdengar suara Boss Gege batuk tersedak karena menahan tawa.


"Uhuk uhuk!"


Citra lebih cepat bergegas menyodorkan segelas air dibandingkan aku.


"Hahaha..., aku sepertinya harus sering-sering tersedak untuk mendapatkan banyak perhatian!" katanya sambil tertawa.


Aku terpana melihat keindahan raut wajahnya yang benar kata Citra, jauh lebih cerah dari sebelumnya. Bahkan usia 40 tahunnya jadi tersamarkan lewat kaos biru dan celana jeans katun warna krem menjadi lebih muda.



"Ah, Boss mulai genit nih sama aku! Atau... Sama Kak Liana kah?" goda Citra lagi.


Sontak jantungku berdebar kencang.


Untungnya Boss Gege hanya tersenyum penuh misteri memancing rasa penasaran Citra makin besar lagi.


"Apakah...ada yang terlewatkan sehingga Saya sendiri yang tidak tahu ada apa ini?"


"Boss? Kenapa saya harus memakai salah satu dress yang Boss berikan lewat Mbak Citra?" tanyaku menyela pertanyaan Citra setelah keadaan hati ini jauh lebih tenang karena serangan tawa Boss tampan.


"Kenapa panggil Boss Gege lagi? Bukankah semalam kita sudah sepakat?"


Wajahku memerah. Terlebih setelah netra Citra dan senyum nakalnya menggodaku lewat tatapan penuh arti.


Citra perlahan melipir menjauh dan menghilang tinggalkan kami berdua.


"Duduklah, Liana! Hari ini adalah hari pertama kau jadi asistenku!" kata Mas Jonathan dengan lembut.


Aku menurut. Menaruh bok*ngku di kursi yang ia tarik untukku.


"Ini!"


Sebuah kotak Mas Jo berikan padaku membuat hati ini kebat-kebit tak karuan.


"Mas..."


"Iya, Liana?"


Suara jawabannya membuat dadaku berdebar.

__ADS_1


"Tolong..., jangan sanjung dan manjakan saya sedemikian rupa. Saya...terus terang merasa risih karena belum lama menyandang status,"


Mas Jonathan langsung menaruh jari telunjuknya di bibirku. Sepertinya sengaja agar aku tak melanjutkan ucapan. Tapi segera ia menarik kembali jarinya dan tersenyum malu.


"Baiklah. Maaf, kalau baju-baju yang kukirim lewat Citra ternyata tidak berkenan di hatimu. Aku... Ingin kau tahu, aku serius ingin memulai hidup denganmu!"


"Mas!"


Mas Jonathan tersenyum tipis. Ia memintaku membuka kotak hadiahnya.


Dengan hati-hati kubuka perlahan. Isinya, sebuah ponsel Iphone 14 plus berwarna putih. Bagus sekali. Tetapi...hati ini merasakan seperti ada ganjalan.


"Ini... Terlalu berlebihan, Mas!"


"Kamu memang unbreakable, Liana! Dan aku tidak salah jika jatuh hati padamu!"


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Aku menundukkan kepala.


"Simpan ponsel itu. Sudah kutaruh SIM Card juga pulsa kuota. Untuk membantu kerjamu, Liana! Hari ini kita ada jadwal perjamuan para pengusaha ke Ibukota!"


"Ya, Liana! Tolong dampingi aku lagi ya? Febri akan stay di kantor pabrik, karena akan ada orang dari PT Mika Food yang datang survey barang."


"Apa Saya tidak terkesan sedang menggeser posisi Bu Febri, Mas?" tanyaku penuh rasa takut.


"Justru Febri senang, aku tidak lagi menyusahkannya pergi keluar kantor pabrik. Secara dia adalah orang introvert yang tidak suka jika kuajak keluar!"


"Bolehkah saya berkenalan dahulu dengan Bu Febri? Saya... Terus terang merasa tidak enak hati!"


"Tentu boleh, Liana!"


"Tapi Saya mohon, jangan katakan apapun dulu tentang hubungan kita saat ini pada siapapun termasuk Bu Febri. Bolehkah aku memohon itu padamu, Mas?"


Mas Jo menatap mataku. Dia mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Belum ada yang tahu, kalau aku akan melamarmu dua bulan lagi. Tapi perlahan mereka akan tahu juga, Liana! Karena aku tidak suka bermain petak umpet diusiaku sekarang. Namun demi kamu, kuusahakan itu!"


"Terima kasih."


"Sayang sekali, tadinya aku berencana mampir ke rumah orangtuaku di Jakarta. Mengenalkanmu secara pribadi pada Mama dan adik laki-lakiku."


"Saya butuh waktu untuk mengenalmu, Mas! Saya malu. Saya takut mengecewakan dan belum bisa beradaptasi dengan Mas serta keluarga!"

__ADS_1


"Aku mengerti, Liana!"


Satu yang kurespek darinya, semanis apapun tutur kata bahasa Mas Jo, dia tidak pernah mengambil kesempatan untuk menyentuhku berlebihan. Hanya semalam ia mengusap kepalaku. Itupun terlihat canggung dan takut-takut.


Mas Jonathan adalah muslim yang taat. Walau dia masih terbilang baru mendalami agama Islam, ia tahu apa itu bukan muhrim dan mahrom. Sentuhan demi sentuhan yang kami lakukan bisa membawa dampak pastinya bagi kami berdua. Baik dampak psikologis maupun sosial.


Kami adalah dua orang insan dewasa. Meskipun Mas Jonathan bujangan, tetapi umurnya sudah matang. Empat puluh tahun. Sedangkan aku, janda usia tiga puluh dua tahun.


Rawan bagi kami untuk melakukan sentuhan meski sekecil apapun itu. Berbahaya bagi kesehatan jantung juga biologis kami pastinya.


"Febri, ini Liana Wulandari. Asisten pribadiku. Liana, ini Febri Angraeni 34 tahun. Febri sudah bekerja selama enam tahun bersamaku."


Seorang perempuan cantik berhijab tersenyum manis padaku. Penampilannya anggun, tubuhnya ramping. Tentu saja membuatku langsung down kena mental.


Bagaimana bisa Mas Jo memilihku jadi istri sementara dia punya sekretaris pribadi yang sangat paripurna! Sangat jauh jika dibandingkan denganku yang gendut, bodoh dan...


"Jangan berfikir macam-macam yang buruk, Liana!"


Aku tertohok dengan suara berbisik dari bibir Mas Jo.


"Febri sudah menikah dua tahun lalu. Dan sekarang sedang menjalani proses bayi tabung dengan suaminya!"


Oh, sudah menikah rupanya.


Tanpa sadar aku menghela nafas. Membuat Mas Jo tersenyum melirikku nakal.


Ya ampun! Bodohnya kau, Liana! Kenapa bisa-bisanya menampakkan kedunguanmu lewat helaan nafas. Itu membuat pria itu bisa melihat ketakutanmu bersaing dengan sekretarisnya.


"Boss Gege itu, kulkas tiga pintu, Bu Liana! Saya ini, sudah pernah berusaha menaklukannya selama tiga tahun. Karena lelah dengan pengejaran saya yang sia-sia, akhirnya saya memutuskan menikah dengan pria yang jatuh cinta dan mengejar-ngejar saya dari masih kuliah!"


Ah, cerita Bu Febri yang lucu mencairkan suasana hatiku. Sempat galau dan gamang pada diri sendiri yang kurang percaya diri, tetapi perlahan obrolan santai membuatku jadi lebih nyaman.


Mas Jo meninggalkanku mengobrol bersama Bu Febri. Dia seperti sengaja memberiku ruang untuk bisa bersosialisasi dengan para karyawan pabriknya. Dan aku terbantu oleh Bu Febri yang cantik juga ramah itu.


Bu Febri mengajakku keliling pabrik. Mengenalkan satu persatu ruangan demi ruangan produksi pabrik kami yang mulai ramai sejak kesepakatan kontrak kerja baru tiga hari lalu.


"Bu Liana! Apa...aku tidak salah lihat dengan perubahan diri di Boss Gege?" goda Febri berbisik sambil mengapit lenganku akrab.


"Ah, Bu Febri bisa saja! Saya tidak mengenal Boss Gege sebelumnya. Jadi tidak bisa menilai apa yang berubah!"


"Dia lebih hidup. Dia... Dia jauh berbeda dari yang lalu-lalu. Yang paling kontras itu adalah sudut bibirnya. Lihat deh lihat! Perhatikan! Dia terus-terusan tersenyum walau tidak ada yang mengajaknya senyum. Itu sangat aneh, tahu ngga'?!"


Aku tersipu. Sesekali kulirik Mas Jonathan yang sedang mengontrol dan memantau kerjaan para karyawannya.


Iya. Mas Jo memang jauh lebih manis kini.


Eh? Koq bisa-bisanya aku memperhatikan perubahan bossku itu atas provokator bu Febri?

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2