DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 98 - SEPERTI ADEGAN FILM THRILLER


__ADS_3

Tok tok tok...


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam! Siapa?"


Dadaku berdesir. Suara bariton seorang pria terdengar dari dalam.


Krieeet...


Pintu dibuka si empunya rumah. Dan... seketika mata kami saling beradu pandang.


"Pak Hari?"


"Ya, saya sendiri. Mbak ada perlu dengan saya?"


Aku mengangguk. Berusaha fokus dengan doa-doa didalam hati.


Seorang pria sekitar sepantaran Genta mempersilakanku untuk duduk di kursi ruang tamu rumah dinasnya.


Sepintas pembawaannya biasa saja. Tak ada yang aneh apalagi mencurigakan. Sikapnya juga terlihat sopan.


Tetapi memang aku merasakan hawa yang aneh ketika memasuki rumah dan menatap kedua matanya lebih dari satu menit.


Kata tukang bakso itu tampan. Tapi... Maaf, tampankah pria model begini? Apa karena suamiku orang yang super tampan sehingga dimataku pria mulus dan berkuku jari lentik ini justru terlihat aneh?


Aku tetap waspada. Doa-doa terus kudawamkan hingga...


"Ada perlu apa ya Mbak?" Dia mulai bertanya.


Sebelum kujawab, senyuman fenomenal-ku yang biasa kupakai memikat lawan jenis kusunggingkan.


Hm... Ada yang aneh.


Aku merasa penasaran sekali dengan aura misterius pria ini. Sama sekali tidak bisa kubaca dengan mata batin.


Dan sikap biasanya itu semakin buat kucuriga. Terlebih setelah melihat lorong rumahnya yang gelap juga sedikit berasap seperti kabut di pagi hari.


"Pak Hadi melihat adik laki-laki saya?" tanyaku langsung pada inti.


"Adik laki-laki Mbak? Murid SMA Pegassus juga kah?"


"Bukan. Dia sudah 18 tahun dan sudah lulus tahun kemarin. Katanya dia kemari menemui Pak Hari!"


Kutatap wajahnya lekat untuk mengetahui reaksinya.


Mimik wajahnya natural. Kaget dan bingung yang sewajarnya. Tidak berlebihan. Tapi... Ada kernyitan di pelipisnya. Hhh... Apa aku menuduhnya terlalu jauh? Walaupun ia memang memperkosa dan membunuh Stella, tapi dia belum tentu menculik.... Tunggu!!!


Mataku menatap makhluk aneh yang berdiri di lorong rumahnya yang gelap. Matanya menyorotku bak sinar lampu senter. Dia..., dia mendesis.

__ADS_1


Makhluk apa itu???


Astaghfirullahal'adziiim...


Aku terus mendawamkan ayat kursi. Hampir fokusku buyar. Dan kuulang lagi hafalan doaku.


Ya Allah ya Karim, tuntun aku. Bantu aku. Bimbing aku, ya Allah!


Entah kegugupanku kali ini jauh lebih besar. Ada misteri yang jauh lebih kuat di belakang semua ini.


Penciumanku mulai merasakan aroma yang tidak asing. Seperti..., bau bukur yang di bakar tepat di lubang hidungku. Sangat menyengat. Dan...


Gubrak.


Aku jatuh pingsan tak sadarkan diri.


..............


..............


Ya Allah! Dimana aku?


Gelap dan gelap. Aku tidak melihat apapun selain kegelapan yang membuat dadaku sesak.


Ya Allah! Kumohon jagalah aku dari kejahatan jin dan manusia.


Surat An-Nas berkali-kali kubaca dalam hati.


Mulutku disumpal kain dan tangan serta kakiku juga di ikat.


Ya Allah! Ini sudah masuk kategori penculikan!


Kandunganku! Semoga calon anakku tidak apa-apa!


Ya Allah! Jaga kami ya Allah! Tolong jaga kami! Mas... Mas Jonathan! Maafkan aku yang pergi tanpa izin dulu darimu! Aku baru sadar, aku istri yang bertindak melebihi batas tanpa memberitahukan suami. Ini dosa. Perbuatanku mengandung dosa. Hik hik hiks...


Aku terisak sedih dan menyesal. Kebodohanku kembali menjadi duri dalam pernikahan.


Jika terjadi sesuatu padaku juga janin yang dikandung, apa yang akan suamiku lakukan.


"Hik hik hiks..."


Duk duk duk


"Mmmm... mmmm ... hhhh...."


Suara hentakan kaki. Suara itu terdengar samar-samar.


Jedug jedug.

__ADS_1


Aku mencoba turut menghentak.


"Uuugh...!!!" Perutku terasa tidak enak.


Maaf sayang! Maafkan Ibumu yang bodoh ini, Nak! Terlalu gegabah dalam mengambil langkah!


Ah... Aku teringat Mas tukang bakso itu!


Semoga saja Ia amanah dan segera mendatangi rumah guru biadab itu!


"Mmm... mmmm... mmmh!!!"


Airlangga!!!


"Mmmm... Nggmmm...!!!"


Kami mencoba bertelepati walaupun sulit sekali.


Tapi aku merasa, Angga juga mengetahui keberadaanku di ruangan gelap pengap ini juga.


Angga! Angga!!! Angga, kaukah itu???


Aku dan Angga bukan orang sakti. Kami bukan orang yang memiliki ilmu tinggi. Bukan.


Hanya sedikit lebih peka dan punya kelebihan melihat makhluk halus karena keadaan serta ilmu keturunan. Tapi kami tidak bisa berinteraksi dari hati ke hati. apalagi di dalam keadaan seperti ini. Gelap. Tak bisa saling pandang mata sebagai kode.


Akhirnya aku mencoba untuk tenang dan konsentrasi. Sepertinya Angga juga membaca langkahku.


Suasana kini hening.


Laa Ilaha Illa anta subhana inni kuntum-minadzoolimiin...


Aku berlindung kepada Allah. Tiada Tuhan selain Allah yang Maha menjaga kami dari orang-orang yang dzalim.


Al-fatihah adalah surat pembuka. Dua puluh satu kali kudawam ulang kemudian surat An-Nas, Al-Ikhlas juga sama.


Angga seperti halnya aku.


Kami terus menerus meminta perlindungan Allah Ta'ala. Karena saat ini, hanya Dia-lah tempatku bersandar dan meminta.


Allah, Allah, Allah. Tiada Tuhan selain Allah.


Entah sampai kapan kami dalam keadaan seperti ini. Diculik dan disekap di ruang gelap pengap. Dalam khayalan pun tak pernah kubayangkan.


Ikatan tangan dan kakiku begitu kencang. Sehingga agak sulit untuk melakukan apapun kecuali berdoa. Berharap orang-orang yang kusayang menemukan kami berdua di sini.


"Mmmm... Mmmm... Mmm... Rrrrrrr! Rrrrr... Rrrrrr...!"


Angga! Sepertinya anak itu mulai,...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2