DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 67 - MENENTUKAN PILIHAN


__ADS_3

"Niatku kemari ingin menanyakan kembali keseriusan Jonathan melamar Liana. Seperti dua bulan lalu, aku pernah bilang...akan datang ke sini untuk kepastian hubungan kalian!"


Semua diam. Semua menyimak perkataan Wak Hardi yang begitu berkharisma.


"Wak...!"


"Liana...,diamlah dahulu. Sebelumnya aku ingin menanyakan dahulu pada Jonathan. Apakah niatnya masih sebesar dua bulan lalu, atau sudah berubah seiring waktu?"


Aku hanya bisa menelan saliva.


Wak Hardi memang tak bisa dibantahkan ketegasan kharismanya. Dan kulihat Jonathan juga duduk tenang pertanda ia telah siapkan segalanya.


"Hati saya, masih seperti diawal, Wak! Saya... Menyukai Liana. Semuanya. Kepribadian serta sifat-sifatnya. Semua Jonathan kagumi."


Aku tertunduk malu.


Kini tak terlalu kuhiraukan lagi perasaan Jordan. Aku yakin, perasaanku kali ini agak terlindungi Wak Hardi sebagai penengah. Wak pasti bisa mencari jalan keluarnya dari permasalahan kami dari cinta segitiga ini.


Dan siapa yang mengalah. Entahlah. Atau mungkin, mundur kedua-duanya. Wallahu.


Aku percaya, kalau jodoh tak kan kemana. Karena semua itu ada di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa.


"Wak! Perkenalkan, saya Jordan Ardian. Saya adik Gege Jonathan. Walaupun kami berbeda ayah, tetapi sayang saya padanya tidak perlu diragukan. Saya juga teman Sekolah Dasar Liana. Dan saya...mencintai Liana. Saya menyayanginya, Wak! Tidak lebih tidak kurang."


"Maksudmu, kamu juga...mempunyai perasaan yang sama seperti kakakmu Jordan, wahai anak muda?"


Aku deg-degan ketika Wak menanyakan hal yang cukup serius. Tetapi Jordan mengangguk jelas.


"Iya."


"Apa kamu tahu, kalau kakakmu sudah pernah mengajukan lamaran pada Saya di kampung dua bulan yang lalu? Ketika Papanya Liana meninggal dunia?"


"Wak, dalam hal ini Liana yang salah! Liana yang bersalah. Baik Jordan maupun Mas Jonathan tidak mengetahui hal itu. Liana menutupinya dari mereka!" selaku membela kedua kakak beradik yang begitu gentle mengatakan kebenaran pada Wak Hardi.

__ADS_1


Tentu saja aku jadi malu sendiri. Apalagi di sini aku-lah biang keladinya. Hingga terjadi hubungan segitiga yang semrawut ini.


"Hhh... Baik. Wak sudah bisa melihat benang merahnya. Sekarang Wak tanya, apa Jonathan kecewa dengan tingkah laku Liana? Secara...Liana telah berbuat tidak baik dengan menjalin hubungan juga pada adikmu!"


"Di sini bukan hanya Liana saja yang bersalah, Wak! Saya juga. Saya tahu, Liana tinggal dan bekerja di pabrik kami. Tetapi Saya justru menutupi jati diri kalau saya adalah adik Gege Jonathan! Saya turut andil atas kesalahan Liana!"


"Jadi sekarang bagaimana? Kalian bertiga yang harus memutuskan, dan bagaimana endingnya! Apa sudah ada pembicaraan lagi sebelumnya?"


Aku menunduk. Merem*s-rem*s jari jemariku yang dingin karena hati yang berdebar tak karuan.


"Kami... Menunggu keputusan Liana, Wak!"


Aku tidak bisa mengangkat wajahku. Aku...malu dan takut.


"Liana! Seorang perempuan yang masih muda sebaiknya tidak menjanda terlalu lama. Kenapa? Karena khawatir dengan keadaan dirinya yang bisa menimbulkan fitnah dunia. Jika kamu segera menikah setelah lewat masa iddah, akan ada laki-laki yang menjaga dan melindungimu dari hal-hal sedemikian itu! Kamu faham maksud Wak?"


"Iya, Wak!"


Aku menela'ah setiap kalimat demi kalimat ucapan Wak Hardi. Semua benar, semua sesuai kenyataan. Aku memang harus mengakhiri ini semua. Dengan perasaanku yang murni dari hati, siapa yang kupilih.


"Wak...!"


"Pada siapa kamu menjatuhkan pilihan? Jonathan atau Jordan?"


Pertanyaan tegas Wak Hardi membuatku menunduk.


"Walaupun Tuhan memberikan kita cobaan dalam rumah tangga, bahkan sampai menghancurkan hati, mimpi serta cita cintamu kemarin, bukan berarti karakter serta tabiatmu harus kau rubah, Liana! Kau pasti berfikir kau yang polos, jujur dan setia saja sampai di selingkuhi suamimu. Jadi kau men-cap semua pria di dunia ini rata-rata sama, hingga kau dengan mudahnya mempermainkan perasaan laki-laki. Begitukah?"


"Genta pernah menasehati Kak Liana seperti itu, Wak!" sela Genta membuatku semakin tenggelamkan wajah dalam tekukan.


"Bukan, Wak! Bukan niat Liana untuk jadi perempuan seperti itu. Demi Allah demi Rosulullah, Liana bersumpah. Bukan..."


Aku mulai terisak, walau kepala masih menunduk.

__ADS_1


"Jordan, adalah teman SD Liana. Kami bertemu lagi karena pertemuan Liana dengan Mama Tiur yang baik hati. Dulu..., sewaktu kecil Liana adalah pribadi ceria yang suka bicara blak-blakan apa adanya. Sering membully dan body shaming Jordan. Bertemu kembali setelah 20 tahun, ternyata nasib buruk Liana adalah karmanya mungkin. Liana yang bertubuh gendut, bulat bahkan sedang jadi perempuan yang dibuang suaminya karena memiliki selingkuhan. Liana merasa malu. Tidak enak hati dan ingin merubah diri dengan menjadi teman yang baik. Liana... Selalu berusaha ada untuk Jordan! Tapi ternyata takdir membawa Liana bertemu boss Gege Jordan. Beliau adalah orang baik yang menolong dan membawa Liana serta Genta hingga ke rumahnya ini. Untuk bekerja di pabriknya. Kejadian demi kejadian aneh membuat kami dekat. Bahkan semakin dekat ketika boss menganggap Liana adalah pembawa keberuntungan perusahaan. Kami akrab satu sama lain karena saling tolong menolong. Boss Jonathan mengenalkan Liana dunia baru, pabrik mendapat kontrak kerja sama. Kami sama-sama semakin dekat sampai ketika Papa meninggal dunia, Boss mengantar kami ke Kampung Halaman Papa. Disitu semua semakin nyata. Walau begitu, Liana belum menjawab ajakan nikah Jordan dan Boss Jonathan. Belum ada yang Liana jawab, Wak!"


"Sekarang..., apa jawabanmu?"


Aku menelan saliva. Menghela nafas pendek sambil menatap Jonathan.


"Mas Jo...! Bu Bianca kini sudah bercerai dari Pak Jacky. Apa...mas masih memiliki perasaan padanya? Ini kesempatan Mas. Bianca sekarang statusnya janda!" kataku pada Jonathan.


Tetapi pria dewasa itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Itu hanya kisah masa lalu, Liana! Kisahku dan Bianca, sudah lama usai. Tidak ada lagi harapan untuk bersama."


"Tapi..., Mas cinta dia khan?" tanyaku malu-malu. Tapi wajib kuketahui isi hatinya.


"Dulu, ya. Sejak kami putuskan hubungan, tidak ada yang tersisa, Liana! Kenapa tanyakan itu? Apa kamu takut aku masih memendam perasaan lebih pada Bianca?"


Aku tak menjawab. Hanya menunduk. Lama terdiam.


"Jordan..."


"Ya, Liana!"


"Maafkan aku. Aku dulu selalu jahat padamu. Bahkan mungkin sampai kini pun masih berbuat jahat padamu!"


"Kamu sudah ucapkan kata maaf berkali-kali, Liana! Sudahlah. Itu hanyalah kenakalan anak kecil yang wajar-wajar saja! Aku juga sudah melupakan masa lalu!" jawab Jordan membuatku menghela nafas lagi.


"Jordan, maafkan aku. Aku... Aku ingin menerima pinangan Kakakmu! Hik hik hiks...! Jangan salah faham, Jordan! Jangan benci aku! Aku menerimanya bukan karena dia lebih mapan dan lebih segala-galanya dari kamu. Bukan, Jordan! Tapi aku merasa Mas Jonathan lebih mengenalku akhir-akhir ini. Dia tahu aku. Semuanya. Latar belakang hidupku. Kedukaanku di masa lalu. Mas Jo bahkan tahu seperti apa diriku. Tapi bukan berarti kamu tidak lebih baik, Jordan. Tidak! Kamu justru adalah teman pria yang sangat manis. Kita chattan setiap malam. Kita dekat dan akrab sampai video callan. Tapi..., aku,... Aku kini memilih Mas Jonathan untuk jadi pendampingku! Hik hik hiks..."


Aku takut sekali dengan ucapanku. Tapi aku harus jujur pada perasaanku sendiri dan juga rasa bersalahku yang terus berkembang jika tidak segera mengambil keputusan.


Aku tak berani menatap wajah Jordan. Hanya menunduk dengan air mata berlinang di pipi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2