DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 8 - JADI KORBAN KDRT


__ADS_3

"Mau kemana?" tanya Bang Irsyad melihatku sudah berdandan rapi dan wangi.


Untuk kesekian kalinya, aku tak menjawab pertanyaan suamiku itu. Hanya melengos, membuang muka tak lagi pedulikan Dia.


"Aku ini masih suamimu, Liana!" tegurnya dengan menarik pergelangan tanganku.


"Aku tahu! Tapi kau sendiri sudah tidak lagi menghargaiku sebagai istrimu!"


"Hahhh!!!"


Lagi-lagi dia menghela nafas. Sepertinya makin kesal dengan tingkahku.


"Apa yang kamu mau sekarang, Liana?" tanyanya, seolah sedang menantangku.


Aku rasa suamiku sedang memancingku untuk mengatakan MINTA CERAI. Tapi maaf, aku tak akan ucapkan dua kata itu, Bang! Tidak! Bukan cerai yang kuinginkan, tapi pembatalan nikahmu dengan si Katliya itu! Haruskah kusebut WANITA ****** kepada gadis yang kukira lugu itu? Apa kau tidak akan panas dan kebakaran jenggot jika kulabeli TUNANGAN RAHASIA-mu itu? Huh!!!


"Kau boleh pergi, tapi tanda tangani ini dulu!"


Licik!!! Dia memberiku dua pilihan yang menyakitkan!


Kuraih kertas bersegel itu. Dan...


Srek srek srek


Sontak Bang Irsyad melotot, melihat surat keterangan izin menikah laginya telah terbagi menjadi beberapa bagian karena telah kusobek-sobek.


Plak


Tangannya kembali ringan menempeleng pipi kiriku.


"Bunuh aku! Langkahi mayatku dulu, kalau kau benar-benar ingin tanda tanganku!"


Kalimat yang sangat menakutkan akhirnya terlontar juga dari bibirku yang bergetar menahan amarah, karena Bang Irsyad kini mulai terbiasa menamparku.


Bruk


Bahkan ia kini juga berani mendorong tubuh besarku sampai mundur beberapa langkah hingga terbentur lemari pakaian kami.


"Aku sudah sangat baik padamu, ya? Lelaki lain, mana ada yang sebaik aku...meminta izin menikah lagi pada istrinya!" komennya membuatku tertawa menyeringai.


"Baik dari Hongkong! Kalau kau baik, tak akan pernah berani menyakiti istri lahir batinnya! Tapi ternyata kau malah lebih hina dari hewan liar di hutan belantara! Kau menginginkanku menyetujui permintaanmu menikah lagi! Kau marah karena aku menolak keras keinginanmu berpoligami! Kau juga melakukan kekerasan fisik setelah psikis padaku!" teriakku melampiaskan emosi.


"Kenapa kau mau lapor Polisi? Pergilah ke Komnas HAM! Buat laporan tindakan KDRT! Biar puas hatimu, Liana! Itu khan yang kamu mau? Seperti artis yang viral kemarin itu! Permalukan suamimu sendiri! Biar seluruh Indonesia bahkan dunia mengetahui!"


Aku tersekat. Rupanya kini Bang Irsyad menjadi lebih gahar dan garang berkali-kali lipat.


Ya Tuhan! Siapakah pria yang ada dihadapanku ini? Apakah dia orang yang sama yang menikahiku sepuluh tahun yang lalu?

__ADS_1


"Kau sudah gila, Bang! Suamiku yang menikahiku sepuluh tahun lalu ternyata sudah mati!!!" teriakku tak kalah kerasnya.


Dan...


Plak! Zig!


Hari itu, pipiku lebam kiri dan kanan. Bahkan bibirku bengkak juga berdarah diujungnya.


Benar-benar Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang berhasil menghancurkan rasa percaya diriku yang awalnya cukup tinggi.


Selama ini Aku dibuai kata-kata mesra nan merdu merayu darinya. Namun ternyata Dia jua-lah yang mendorongku terjun ke dasar lembah bernama pengkhianatan berujung kata-kata tajam menyayat hati serta perasaan.


Ambruk seketika kekuatan jiwa ragaku yang dulu berdiri tegak meski hujan badai menerpa dari arah kiri kanan.


Teringat pada suara-suara sumbang orang yang seringkali meremehkan rumah tangga kami karena belum juga dikaruniai anak.


Belum lagi ada beberapa kerabat yang juga ikut campur merecoki dengan memberi saran seolah dia adalah si maha benar melebihi Tuhan Azza Wazzalla.


"Coba diurut di tempat Mbah Kartono. Banyak lho yang berhasil sampai langsung hamil!"


"Jangan langsung bangun kalau habis hubungan int*m!"


"Iya tuh! Coba posisi bok*ng dinaikkan setelah selesai bercocok tanam deh! Aku dulu suka gitu soalnya! Kata orangtua dulu, biar sel sperm* bercanda dulu dan berenang-renang plesiran cari sel indung telur yang terbaik!"


"Banyakin makan sayur tauge sama makan buah alpukat. Itu bagus buat kesuburan rahim!"


Bla bla bla dan bla bla bla.


Tapi hasilnya, nihil.


Karena Tuhan sepertinya punya rencana lain dalam kehidupanku dan Bang Irsyad.


Apakah rencana Allah yaitu dengan mengizinkan Bang Irsyad memiliki dua istri sah? Yakni aku dan Katliya?


Aku menangis. Meraung memasuki kamar dan menghempaskan tubuh besar ini ke atas ranjang.


Tetapi,


Brak gubrak


Bahkan ranjang tidurpun seperti sudah tak kuat menahan beban tubuh serta deritaku yang sangat berat juga banyak ini. Hingga papan kayu penahannya pun ikut rusak semakin membuatku frustasi lebih tinggi lagi.


Sakit hatiku kian pedih bagaikan luka menganga yang ditabur bubuk garam. Perih, tatkala gendang telinga ini menangkap suara tawa Bang Irsyad yang terdengar lepas.


Kau mentertawaiku, Bang? Kau bahagia diatas deritaku, Bang? Inikah yang namanya suami sayang istri?


Tubuhku besar. Memang. Karena bobotnya telah mencapai puncak, sekitar 89 kilogram. Tapi aku merasa tubuhku ini tidak berat yang menyusahkan. Karena terbantu oleh tinggi tubuhku yang lumayan, yakni 156 sentimeter. Menurutku.

__ADS_1


Pukul sebelas kurang. Aku kembali teringat dengan janji bertemu Mang Dasri. Aku harus menemui Katliya segera. Mencoba mengajaknya bicara empat mata sekaligus ingin mengetahui apa maksudnya selama ini bisa sampai menyelingkuhiku dengan Bang Irsyad.


Kulihat Suamiku itu juga sudah tak ada di ruang tengah. Mungkin ia sedang di bangunan sebelah. Sibuk mengurus usaha online kami yang semakin bagus prospeknya.


Pelan-pelan aku menyelundup keluar rumah. Berharap tidak terlihat pria kasar yang tadi menampar serta mentertawaiku karena ranjang kasur yang ambruk penahannya walaupun terbuat dari kayu jati Belanda asli.


Dengan terengah-engah dan wajah lebam tergambar jelas, Aku menunggu taksi yang lewat.


Berkat masker, aku bisa menutupi area wajah yang memar kena tampar Bang Irsyad.


Alih-alih lama menunggu di ujung jalan raya dan khawatir ada orang yang kenal melihatku, aku mencoba mendatangi pangkalan ojek.


Sadar diri, tubuhku ekstra large, ditambah tatapan bingung para tukang ojek, aku pun hanya melewatinya saja.


Bodoh kau, Lin! Mana ada tukang ojek yang mau membawa tubuhmu yang gemuk ini! Bahkan suamimu serta ibu mertuamu pun kini sudah sangat terbuka melakukan tindakan kekerasan verbal dan membully-mu terang-terangan dengan bahasa kasar yang diperhalus. Mereka adalah orang terdekat yang kau sangat sayangi, tetapi berani body shamming. Apalagi orang yang tidak mengenalmu! Bodoh, Kau Liana!


Aku yang tertutup masker menahan isak tangis.


Jangan menangis terus, Bodoh! Tahan airmatamu! Majulah! Jalan terus! Jangan lemah! Ayo, Liana!


Aku terus mem-push diriku sendiri untuk tetap tegar. Cobaan ini harus kulewati. Aku harus bisa melalui onak tajam yang penuh duri.


Sebuah bajaj kosong akhirnya mau juga membawaku ke tempat Mang Dasri.


"Assalamualaikum!"


"Mbak Liana? Saya kira Mbak tak jadi kesini!" sapa Bibi Yati, istri Mang Dasri.


Syukurlah, Bibi Yati masih mengenali walaupun aku memakai masker! Dasar kau bodoh, Liana! Tubuhmu itu istimewa! Bobotnya membuat hampir semua orang familiar dengan dirimu! Bukan dari wajah, tapi langsung lihat bodi!


Aku menelan saliva.


Mang Dasri yang baru keluar dari kamarnya hanya termangu melihatku dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Oh, Mbak yang namanya Liana?" tanyanya.


Aku mengangguk.


"Maaf Pak, Bu! Saya terlambat!"


"Mau langsung berangkat?" tanya Mang Dasri yang segera kujawab cepat dengan anggukan kepala.


Kami segera pergi, menuju kediaman orangtua Katliya dengan naik mobil engkel bak yang biasa Mang Dasri kemudi.


"Tak apakah kita naik mobil truk butut ini, Mbak?" tanya Beliau merasa tak enak hati.


"Tidak apa, Pak! Saya akan bayar full sehari!"

__ADS_1


Aku memberikan uang kertas dua ratus ribu pada Mang Darsi. Berharap sidak ku berhasil dan pernikahan Bang Irsyad dengan Katliya bisa kugagalkan.


BERSAMBUNG


__ADS_2