
Dokter memperbolehkan Aku pulang setelah diprediksi hanya kontraksi palsu.
Sementara Bianca masih harus menginap semalam karena dokter meng-indikasikan wanita itu menderita kanker otak stadium akhir.
Mama Tiur yang pernah divonis penyakit yang sama setahun lalu tapi masih stadium awal hanya bisa menatapku bergantian dengan Mas Jonathan.
Bahkan dokter bilang, kemungkinan besar umur Bianca hanya mampu bertahan beberapa bulan lagi.
Aku sedih mendengarnya. Tapi lebih sedih lagi ketika akhirnya Mertua dan Suamiku luluh pada permohonan terakhir Bianca untuk ikut tinggal sampai malaikat maut menjemput.
Aku juga tidak tega melihat wanita itu akhirnya menderita.
Tapi..., Aku takut Mas Jonathan akan lemah juga karena masih menyimpan perasaan di masa lalu.
Mungkin cemburuku berlebihan.
Mungkin ketakutanku terlalu lebay.
Tapi..., tapi aku sungguh takut membayangkan sesuatu hal yang belum terjadi. Dan Aku tak ingin itu sampai terjadi.
Bianca akan tinggal sementara di rumah keluarga kami.
"Sayang! Cuma beberapa hari saja. Sampai Aku bisa menitipkannya di yayasan kanker Indonesia. Aku tidak bisa membiarkan dia begitu saja di jalanan. Sebagai sesama hamba Allah, rasanya kejam sekali jika itu kulakukan. Kamu pasti mengerti, Sayang!"
Aku mengerti, Mas,! Itu sebabnya aku hanya diam padahal hati ini campur aduk kacau balau.
Mas Jonathan merangkul bahuku. Tapi kini pelukannya terasa hambar bagiku.
Aku lelah.
Atau mungkin ini karena hormon kehamilan yang semakin meningkat menjelang proses persalinan.
Harusnya Mas Jonathan lebih memperhatikan aku dan juga calon buah hatinya. Tapi dia kini mulai membagi fikirannya untuk memikirkan kehidupan Bianca juga.
Apa aku salah jika aku cemburu? Apakah cintaku ini bisa disebut cinta buta? Kecemburuanku membabi buta?
Tuhanku Allah Azza Wajalla, tolong Aku dari kelemahan hati ini.
Kenapa harus kalian yang bertanggung jawab atas hidup Bianca? Kenapa tidak memasrahkan saja pada Negara? Atau, mencari keluarga besarnya yang kurasa pasti jauh lebih berhak mengurus Bianca juga ibunya? Kenapa harus Mama Tiur ikut campur mencari keluarganya?
"Ma! Seingat Liana, Bianca memiliki seorang Nenek! Dan juga saudara sepupu dari Ibunya."
"Iya? Liana tahu dimana rumahnya?"
__ADS_1
Aku menggeleng pelan.
Tapi aku pernah mendengar perkataan Bianca tempo hari sewaktu Mama Farida, Intan dan Nadya masih ada.
"Kenapa tidak tanyakan langsung pada Bianca?" tanyaku membuat Mama Tiur berdecak dan menghela nafas.
"Bianca tidak mau bicara soal keluarganya!"
Ada apa dibalik itu semua? Apa rencana Bianca? Haruskah suamiku juga Mamanya menyadari kalau ada konspirasi terselubung yang sedang Bianca mainkan?
"Ma! Apa Mama tidak punya kecurigaan?"
"Sayang..., Bianca sudah divonis dokter dengan umur yang tinggal beberapa bulan lagi. Mana mungkin masih berfikir untuk berbuat jahat? Kamu tidak mendengar sendiri tangisan kesedihannya kemarin. Bahkan Bianca sampai mengatakan Demi Allah meminta maaf dari hati yang paling dalam. Kemarin pas Liana ke toilet dan kontraksi palsu."
Hanya helaan nafas dan tatapan mata yang menunduk.
Kenapa jadi seperti ini? Kenapa ya Allah? Kenapa Kau coba lagi hatiku untuk merapuh? Padahal aku butuh perhatian menjelang hari-hari yang mendebarkan. Ya Allah ya Karim... Tolong hamba-Mu ini!
.............
Menjelang persalinan dokter kandungan memberi saran agar Aku mulai rutin memeriksakan diri.
Tentu saja untuk mengetahui kondisi kesehatan serta keadaan janin yang ada dalam kandungan.
"Ayo, Sayang! Hari ini jadwal periksa khan?" kata suamiku dengan antusias.
Tapi berbanding terbalik denganku.
Justru aku malah seperti illfeel untuk jalan bareng bergandengan tangan seperti dulu. Padahal Bianca masih belum tinggal bersama kami
Ting tong
Ting tong
"Paket!"
Terdengar suara dari luar rumah.
Citra tak lama kemudian membuka pintu.
"Boss Gegee!"
"Ah, datang ya Cit?"
__ADS_1
Aku hanya bisa menelan ludah. Raut wajah suamiku terlihat begitu sumringah. Bahkan setengah berlari keluar menemui Citra yang memanggilnya.
"Sayang! Bagaimana?"
Kucing? Kucing gembul Persia?
"Lihat! Bagaimana menurutmu, Yang?" tanya Mas Jonathan dengan antusias.
Luluh hati ini melihat suami yang akhirnya mengizinkanku memelihara seekor kucing Persia-Anggora.
Aku memang pernah mengutarakan keinginan memiliki seekor hewan peliharaan. Menurutku kucing adalah hewan yang imut.
Tapi Mas Jonathan melarang karena khawatir kehamilanku berisiko terkena parasit toksoplasma.
Rupanya Ia diam-diam sering berkonsultasi dengan dokter kandungan yang menjadi dokter pribadiku selama hamil. Dan sepertinya, dokter memberi pencerahan sehingga kekhawatiran Mas Jonathan hilang bahkan memesan sendiri seekor kucing cantik yang gemoy untuk diberikan padaku.
Apa... Ini termasuk sogokan agar hatiku luluh dan menerima keinginan Mama Tiur merawat Bianca?
Entah mengapa, hatiku terlalu dipenuhi kecemasan dan ketakutan yang belum tentu terjadi.
Aku takut sekali.
Takut Bianca akan merebut Mas Jonathan dari hati ini.
"Liana! Kenapa malah menangis? Kamu tidak suka dengan kucing yang kupesan via online ini? Tidak bagus ya? Tidak sesuai dengan harapanmu kah?"
Tangisku pecah.
Kenapa pertanyaan bodoh itu yang harus keluar dari bibirmu, Mas? Kenapa?? Kenapa bukan permintaan maaf karena tanpa sadar kebaikanmu dan Mama yang ingin menolong Bianca-lah yang telah menorehkan luka dihatiku.
"Hik hik hiks..."
Grep.
Seseorang menarikku kedalam pelukannya.
"Jangan menangis, Liana! Memang pria ini kejam. Tidak punya perasaan!"
Jordan?
BERSAMBUNG
__ADS_1