
"Wak pamit juga ya, Liana?"
Aku sedih. Satu persatu anggota keluargaku mulai berpamitan undur diri kembali ke kediaman masing-masing.
Wak Hardi dan Wak Wati, mas Jonathan antar dengan mobilnya. Kali ini Jordan bersama Genta yang turut serta mendampingi Pak Saleh supir pribadi setia.
"Tetaplah menjadi pribadi yang menyenangkan, Liana!" pesan Wak Hardi sebelum beliau masuk mobil.
"Jaga Liana baik-baik, Gege! Dia adalah putri kesayangan kami!"
"Iya, Wak! Mohon doakan pernikahan kami selalu ya Wak?" jawab suamiku penuh harap.
"Pasti. Kalau ada apa-apa, cepat kabari Wak! Wak menunggu kabar gembira dari kalian selanjutnya!"
"Hehehe..."
Aku dan Mas Jonathan tertawa kecil dengan tangan saling menggenggam. Kami mengerti maksud pembicaraan Wak Hardi.
"Hati-hati di jalan, Pak Saleh. Genta, Jordan... Antar Wak Hardi dan Wak Wati sampai rumah ya?"
"Siap, Boss! Laksanakan!"
Jordan dan Genta terlihat akrab satu sama lain. Syukurlah. Aku agak tenang melihat keduanya bisa duduk berdampingan dan rukun.
Sempat khawatir Genta akan menjauh pada Jordan karena permasalahanku tempo hari. Nyatanya, mereka jauh lebih dewasa dari yang kubayangkan.
Baru saja Mas Jonathan menutup pintu pagar pabrik, mataku menangkap sesosok hitam mengerikan dengan lidah merah menyala menjulur ke luar.
Astahfirullahal'adziiim...
Sontak kutarik lengan suamiku. Memeluk pinggangnya seraya berkata...," Baca ayat kursi, Mas!"
Jonathan tampak kebingungan. Ia menoleh ke kanan kiri.
"Ada...apa?" tanyanya terlihat linglung.
Setan kiriman Eyang Subur masih berkeliaran di sekitaran rumah dan pabrik Mas Jonathan.
Ya Allah gusti... Kumohon bantuanmu!
Aku teringat perkataan Wak sebelum hari pernikahan. Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin menerpa.
Hhh... Inikah maksud perkataan beliau?
"Liana? Ayo, kita masuk..."
Suara Mas Jonathan kembali melembut seiring rangkulan tangannya meraih pinggangku.
Astaghfirullahal'adzim!!!
Aku terpekik. Teriak keras ketika melihat makhluk itu masuk ke dalam tubuh suamiku.
Sontak aku meronta dan melepas rengkuhan tangan Mas Jonathan di pinggulku.
"Liana..."
Aku mundur beberapa langkah.
Jantungku bergetar hebat. Mata Mas Jonathan menatapku sayu. Ada makhluk lain yang menggerakkan tubuhnya mendekat padaku.
"Liana, Sayangku!"
Aku mundur. Menjauh dan berusaha menghindar dengan berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
Aku takut. Itu bukan Mas Jonathan! Itu adalah setan kiriman Eyang Subur!
Astaghfirullahal'adziiim
Astaghfirullahal'adziiim...
Citra dan Mama Tiur tertawa-tawa melihat kami saling berkejaran. Fikir mereka, kami sedang bersenda gurau. Padahal...
Aku masuk kamar dan bermaksud mengunci dari dalam, namun tenaga Mas Jonathan yang dirasuki setan hitam berlidah panjang jauh lebih kuat hingga mampu mendorongku mundur. Nyaris terhempas ke atas ranjang.
__ADS_1
"Sayang! Nyai Ratu-ku tersayang! Ini aku, pujaan hatimu, belahan jiwamu, sayang!"
Ya Allah ya Robbi! Itu... Itu ternyata Eyang Subur! Laa ilaaha illallah... Rupanya manusia itu sudah berubah menjadi dajjal!!!
Aku membelalakkan mata.
Mas Jo membuka seluruh pakaiannya. Yang tinggal kini hanyalah pakaian dal*m saja.
"Astaghfirullah, Mas! Istighfar, Mas! Istighfar... Sebut nama Allah Yang Maha Melindungi kita dari makhluk-makhluk jahat yang hendak menghancurkan kita!"
Aku panik. Mas Jonathan lepas kendali karena ulah makhluk seram yang menguasai raganya.
"Allahu laa Ilaha Illa anta subhana ka ini kuntum-minadzoolimiin... Allahu laa Ilaha Illa huwwal hayyul qoyyuum. Laa ta'khudzuhuu sinatuwwalaa nawm..."
Aku terus berusaha fokus membaca ayat-ayat Allah agar suamiku kembali tersadar dari hasutan iblis jahaman yang merasukinya.
Mataku sengaja kupejamkan. Bibirku terus berdawam Asmaul Husna meminta semoga Allah menghentikan kejahatan setan yang menguasai mas Jonathan.
Jujur aku sangat takut.
Suamiku masih dalam pengaruh roh jahat. Kini ia membuka seluruh pakaiannya hingga polos. Tentu saja aku berteriak dan lari keluar kamar sambil memanggil Mama Tiur juga Citra.
"Liana, ada apa?"
Mama kaget melihatku menangis. Beliau lebih kaget lagi tatkala Mas Jonathan keluar kamar dalam keadaan bug*l.
"Ya Allah, Gege! Bercandamu keterlaluan! Pakai bajumu!!!" pekik Mama histeris.
Citra yang baru datang turut terpekik sembari menutup kedua matanya melihat Bossnya dalam keadaan telanjang.
"Astaghfirullah...! Gegeee, istighfar Gege!!!"
Diluar ruangan tatapan mataku membias melihat pantulan kalung platinum yang dipakai suamiku.
Kalung hadiah dari Mama Farida!!!
Seketika aku memiliki firasat tidak enak.
Segera kuambil selimut besar yang ada di ranjang dan melemparnya tepat ke tubuh Mas Jonathan.
Brett!!!
Kalung yang melingkari leher suamiku terputus dan berhamburan dilantai.
Mas Jonathan langsung jatuh tersungkur. Suamiku pingsan dengan tubuh terbalut selimut.
Aku depresi. Sampai tanpa sadar berteriak-teriak histeris menanyakan kepada Sang Pencipta, mengapa jalan hidupku seperti ini.
Mama memeluk tubuhku erat.
Aku hanya bisa menangis sesenggukan dibahu Mama.
"Jonathan sepertinya dapat serangan gaib lagi ya, Lian?" tukas Mama yang juga ikut terisak.
Setelah agak lama, baru kami mengevaluasi Mas Jonathan ke dalam kamar.
"Mama... hik hik hiks...! Mama, kenapa Liana terus-terusan diuji dengan keadaan yang seperti ini!"
"Sabar ya sayang! Allah Maha Baik. Allah mencintaimu lebih banyak dari makhluk yang lainnya. Allah ingin memberimu lebih banyak kenikmatan di surga-Nya nanti. Yang sabar ya sayang hik hiks..."
Kami menunggu Mas Jonathan kembali siuman.
Aku menutupi tubuhnya dengan selimut. Membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an di atas kepalanya. Juga meniupkan ke seluruh wajahnya. Berharap suamiku segera sadar.
Hampir seperempat jam kami menunggu.
Akhirnya Mas Jonathan bangun. Terkejutnya ia melihat tubuhnya yang tertutup rapat selimut dan tampak polos di dalamnya.
"Mama? Liana? A-ada apa aku sampai tidur di kasur dan ditemani kalian berdua?"
Aku langsung memeluknya. Menangis sesenggukan menenggelamkan wajah di dada bidangnya.
"Kenapa, Sayang? Ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa... Apa kamu menceritakan yang semalam pada Mama?" tanyanya, mulai terlihat panik.
__ADS_1
Aku menggeleng keras.
"Kamu... kerasukan! Hik hik hiks..."
"Apa? Kapan???"
Kuceritakan kejadian tadi lengkap setelah mobil yang ditumpangi Wak Hardi pulang. Mas Jonathan dirasuki setan Eyang Subur.
Mas Jonathan menelan ludah. Antara panik, bingung dan tidak bisa berkata apa-apa, hanya diam terpaku mendengar ceritaku dihadapannya juga Mama Tiur.
"Haruskah kita pergi meminta bantuan orang pintar, Liana?" ujar Mama Tiur membuat mataku mengerjap beberapa kali.
Haruskah aku jujur soal kemampuan ilmu supranatural yang kumiliki? Tapi..., apakah Mama akan percaya padaku? Atau, justru akan illfeel mendengar ceritaku?
Untuk sementara, kubungkam dahulu mulutku untuk membuka jati diri ini. Hanya berkata, "Mungkin ibadah kita kurang sempurna ya, Ma? Sebaiknya kita perbaiki dulu sholat kita, mungkin ya,?!"
Tidak. Tidak boleh, Liana! Kamu tidak boleh berkata apapun tentang kemampuan yang ada dalam dirimu! Jangan jumawa! Jangan lupakan nasehat Wak Hardi! Ingat selalu pesan beliau!
Baru saja aku menghela nafas, handphone ku berdering.
"Hapemu, sayang!"
Aku mengambilnya. Sementara Mas Jonathan langsung masuk kamar mandi untuk memakai kembali pakaiannya.
"Mama? Hallo, assalamualaikum, Ma?"
Belum lama Mama keluar dari rumah keluarga suamiku ini, namun kini beliau menghubungiku lagi.
"Ma? Hallo, Ma?"
Tidak terdengar suaranya.
Apa... jangan-jangan ini ada kaitannya dengan kalung platinum hadiah pernikahan Mama untuk Mas Jonathan? Ya! Pasti seperti itu!
"Mama! Mama ada apa, Ma?"
Tut Tut Tut Tut...
Sepertinya dimatikan.
"Mama ada apa ya?" gumamku cemas.
"Ada apa, Mama Yang?" tanya suamiku yang baru saja keluar dari kamar mandi. Mama Tiur sendiri telah keluar kamar barusan karena masih ada orang yang sibuk bekerja di luar membongkar tenda pelaminan.
"Mama Farida, Mas!"
Aku merasa gelisah. Entah mengapa fikiranku tampak kacau dan tidak dapat difokuskan untuk melakukan apapun.
Kucoba telepon balik. Tapi ternyata handphonenya justru tidak aktif.
Aku langsung menelpon hapenya Intan. Berdering, namun kemudian dimatikan juga sepertinya.
Ada apa ini? Mama, Intan? Kenapa kalian mematikan hape ketika aku sedang menelepon. Aku ingin tahu keadaan kalian.
Tiba-tiba kepalaku pusing. Tercium aroma bau amis yang menyengat hingga perutku mual sampai ingin muntah.
Mama!!! Mama Farida!!! Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Mamaku!!!
"Mas!!! Bisa tolong aku, Mas?" pekikku panik.
"Ada apa, Yang?"
"Ayo ke rumah Mama, Mas! Hik hik hiks..."
"Ada apa?"
"Entah! Aku...aku mencium bau amis darah! Darah yang banyak berceceran dimana-mana!"
Aku semakin panik. Penglihatanku begitu jelas.
Aku menangis. Suamiku akhirnya menuruti juga melihat diri ini yang cemas dan berlinang air mata.
Mama Tiur pun memberikan izin setelah aku menangis memohon pergi di antar Mas Jonathan yang baru saja sadar dari kejadian aneh barusan.
__ADS_1
Ya Allah ya Tuhanku! Tolong jaga Mama! Please..., please ya Allah!
BERSAMBUNG