
Usia kandunganku mulai memasuki jalan tujuh bulan.
Mama Tiur ingin mengundang teman-teman serta relasinya untuk mengadakan acara tujuh bulanan. Namun Mas Jonathan lebih inginkan pengajian sederhana saja seperti waktu empat bulanan.
Kala itu kami hanya sedekahan di masjid dekat pabrik saja.
Aku juga tidak terlalu memikirkan hal-hal yang besar untuk si jabang bayi yang akan hadir. Cukup doa sehat, selamat dan bahagia itu bagiku sudah lebih dari cukup.
Meskipun ini adalah anak pertama bagiku juga mas Jonathan, namun tidak serta merta eforia kami jadi berlebihan.
Apalagi saat ini fikiran Mas Jonathan juga sedang mumet memikirkan langkah dalam mengembangkan kembali pabrik yang belum lama ini terbakar.
Sejujurnya suamiku tidak melarang. Dia bahkan selalu bilang, lakukan saja apa yang pantas. Urusan keuangan dia pasti ACC.
Mama dan Citra bahkan sudah merencanakan acara baby shower dan maternity shoot.
Aku sendiri tidak begitu faham ide-ide kreatif yang saat ini sedang booming. Bahkan bisa dibilang kuper alias kurang pergaulan sampai tidak mengerti hal-hal yang justru kuanggap pemborosan.
Hadiah demi hadiah yang Suamiku serta orang-orang terdekat berikan rasanya sudah lebih dari cukup.
Bahkan kamar calon bayi kami yang Dokter prediksi berjenis kelamin perempuan itu pun sudah penuh barang perintilannya.
Alhasil demi kebahagiaan Mama Tiur dan juga semua keluarga, Aku hanya duduk manis menikmati pesta yang digelar mereka dalam menyambut kehadiran sang buah hati yang memang begitu dinanti.
Serangkaian acara demi acara setelah pengajian dan juga tujuh bulanan digelar dengan suka cita.
Bahkan suamiku yang biasanya menghindari pakaian warna pink, kali ini mengalah demi untuk acara maternity shoot sekaligus baby shower yang memang dibuat spesial oleh Citra.
Kami kembali bagaikan Raja dan Ratu. Duduk cantik dan manis di atas pelaminan walaupun perutku makin terlihat buncit.
Kebahagiaan ini setimpal dengan semua kesedihan dimasa lalu.
Harapanku, hari esok akan cerah ceria dengan kehadiran bayi kami yang cantik. Aamiin...
"Sayang!"
__ADS_1
"Hm?"
"Aku sayang kamu, Istriku!"
"Aku juga sayang kamu, Suamiku!"
"Hahaha... Kita ini pasangan jadul ya? Ish, aku kurang ngerti hal-hal jaman sekarang! Yang penting bagiku, Istri dan anakku lahir sehat, selamat dan kita semua hidup bahagia. Masalah apapun pasti akan bisa kita atasi jika selalu bersama."
"Iya, Mas! Aku juga tidak faham. Itu hanyalah bentuk rasa syukur keluarga kita dalam menyambut calon bayi yang masih dalam kandungan ini. Hehehe... Mereka semua turut bahagia! Alhamdulillah!"
Aku mengangguk.
Senangnya, berada dalam pelukan hangat suami yang begitu mencintai diri ini.
Mataku terpejam. Berdoa khusu' berharap kebahagiaan ini akan terus terjaga.
Seperti biasa Mas Jonathan selalu mengelus-elus perutku.
Geli rasanya. Apalagi kini urat-urat syaraf mulai terlihat disekitar perut buncitku. Dokter bilang, itu adalah linea nigra. Dan juga garis Stretch Mark. Bahkan kini mulai menyebar di sekitar area payud*ra juga.
Beruntung Mas Jonathan tidak mempermasalahkan. Bahkan suamiku sampai menjelaskan kalau Aku justru semakin cantik dan menggemaskan karena telah memberinya kebahagiaan kesempurnaan cinta.
Mirip rayuan, tapi matanya berbinar indah menunjukkan bahwa dia tidak berbohong.
"Kamu jauh lebih indah dari wanita-wanita cantik dan seksi yang wara-wiri di luaran sana, Sayang! Kamu itu segalanya bagiku! Tiada dua. Cuma kamu seorang!"
Bagaimana perasaanku tidak melumer mendengar penuturannya yang seperti seorang pecinta gila. Sungguh rasanya aku jadi bagaikan putri raja yang tercantik di dunia. Mendapat pujian setinggi bintang di langit bahkan sampai tembus ke langit ketujuh.
Masya Allah...
Menjadi ibu hamil ternyata tidaklah mudah.
Badan sakit, pinggang nyeri. Kaki juga mulai bengkak-bengkak.
Rasanya, sangat luar biasa. Tapi aku berusaha menerima proses ini dengan lapang dada.
__ADS_1
Suamiku selalu memberikan pijatan lembut di punggung juga betis setiap kali mau tidur. Seringkali kutolak melihat dirinya yang kadang tampak lelah setelah seharian bekerja.
Namun penolakanku justru berimbas pada mulutnya yang jadi mencucus bak kukusan.
"Ini momen yang tidak akan datang setiap saat, Sayang! Jadi biarkan aku melayanimu yang sudah mulai keberatan membawa calon putriku setiap hari sampai masa persalinan!" Begitu biasanya Ia mendumel.
Aku senang, terharu juga kadang takut.
Aku selalu takut jika mengingat betapa manisnya perlakuan suamiku padaku. Aku takut Aku akan lupa diri.
"Jangan selalu berfikir semua laki-laki itu buruk! Jangan berfikir begitu, Sayang!"
"Tidak. Kamu itu pengecualian! Kamu adalah pria langka yang seribu satu sulit kutemukan. Tapi aku tidak bisa mengenyampingkan hal-hal yang pernah terjadi dalam hidupku begitu saja. Banyak peristiwa,"
"Stop it! Malas lanjut ngobrolnya!"
Begitulah Mas Jonathan. Dia kalau merajuk lebih mirip bocah cilik yang menggemaskan.
Dan ujung-ujungnya, aku akan berusaha merayunya agar kembali moodboster nya dengan...hm.
Senyumku mengembang, malu memikirkan hal yang mes*m padahal sedang berbadan dua.
"Aku tahu nih, kenapa senyum-senyum sendiri gitu! Hehehe... Ayo, ayo Papa tengok dulu sebentar!"
"Kyaa... Hihihi ya ampun, Papa! Ish... apa coba emang yang Mama senyumin tadi?"
"Hahaha...! Jangan ja'im! Kita ini sudah jadi pasangan halal. Sah-sah saja kalau istriku yang cantik ini memikirkan ingin membahagiakanku selamanya! Iya khan? Hm? Kita lakukan pelan-pelan!"
Ya ampun hehehe, malu rasanya isi hatiku terbaca olehnya.
Cinta, rumah tangga, dan kehidupan... ada kalanya mood turun naik. Terlebih dengan cobaan hidup yang silih berganti mendera.
Tapi Aku, Liana Wulandari. Akan selalu berusaha menjaga kebahagiaan keluarga kecilku bersama suami tercinta.
Harapan bahagia, selalu untuk selamanya. Aamiin...
__ADS_1
BERSAMBUNG